Bab 5

1169 Words
Belum sampai Shanin menjawab, ponsel milik perempuan itu berdering. Bravendra menoleh cepat, kemudian tersenyum penuh arti ketika melihat nama yang tertera di atas layar. Ia memungutnya cepat dan menyodorkannya pada Shanin. “Angkat.” Shanin tertegun beberapa saat melihat nama itu. Pratama. Pria itu meneleponnya entah untuk apa. Pandangannya merangkak ke wajah Bravendra yang kembali kaku. “Biarin aja, Mas.” Shanin berusaha mengabaikan, mencoba untuk tidak memantik emosi suaminya. Namun, sialnya Bravendra tidak menerima penolakan. Ia menggeser ikon warna hijau tersebut, sebelum akhirnya mendekatkan spiker ponsel ke mulut Shanin. “Dari semalam kamu nggak balas pesanku, Shanin. Kamu baik-baik saja, kan?” Suara dari seberang sana terdengar khawatir. “A-aku ... baik, kok. Cuma—mmpphh.” Ucapan Shanin tidak selesai ketika Bravendra dengan sengaja membungkamnya dengan bibir. Ia sengaja membiarkan Pratama mendengar suara itu. “Shanin. Kamu kenapa?” Suara Pratama kembali terdengar. Rasa geram Bravendra makin menjadi. Satu tangannya meremas d.a.da sintal Shanin yang penuh luka akibat tindakannya semalam. Erangan keras terdengar, disusul dengan desahan dari pria tersebut yang dibuat sengaja. “Maaf kalau aku ganggu waktu kalian, Shanin.” Detik berikutnya setelah suara itu terdengar, Bravendra langsung mematikan ponsel tersebut kasar. Ia menggigit kuat lidah sang istri, sebelum akhirnya melepas ciumannya begitu saja. Pria itu berdiri beberapa langkah darinya. Rahangnya mengeras. Matanya tajam, dingin, dan asing. Tidak ada lagi kelembutan yang selama tiga tahun terakhir selalu Shanin kenal. “Mas?” suara Shanin terdengar kecil. “Kamu kenapa, sih?!” Ada sedikit kekesalan dalam nada bicaranya. Bravendra tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Shanin dari ujung kepala hingga kaki, seakan perempuan di depannya bukan istrinya, melainkan seseorang yang baru saja melakukan pengkhianatan yang sangat besar. “Senang?” tanyanya pelan. Shanin mengernyit, jelas dia bingung. “Maksud kamu?” “Senang ditelfon laki-laki itu?” Darah Shanin seperti berhenti mengalir. Ia seketika mengingat Pratama. Sahabat lamanya yang kemarin datang sebentar untuk memberi ucapan selamat. Tidak lebih lebih dari itu. Tidak ada sentuhan yang melewati batas. Bahkan tidak ada kata-kata yang pantas dicurigai. Namun, entah kenapa hal itu terus menjadi pembahasan Bravendra dan menjadikan dodok suaminya jadi semenakutkan ini? “Mas, Pratama Cuma telepon. Dia teman lama aku.” “Teman lama,” ulang Bravendra, lalu tertawa kecil seperti meremehkan. “Kemarin kamu tersenyum padanya, Shanin.” Shanin menelan ludah. “Aku tersenyum karena dia tamu kita, Mas.” “Tamu kita?” Bravendra melangkah mendekat. “Atau laki-laki yang pernah kamu simpan di belakangku?” “Mas!” Shanin menggeleng cepat. “Jangan bicara seperti itu. Kamu tahu aku nggak pernah—” Plak! Tamparan itu datang begitu cepat. Wajah Shanin terempas ke samping. Napasnya tercekat. Untuk beberapa detik, dunia seperti kehilangan suara. Yang ia rasakan hanya panas menyengat di pipi kiri dan dengung tajam yang menjalar ke telinganya. Bravendra tampak diam sesaat. Ada sesuatu yang berkedip di matanya. Sesuatu seperti penyesalan yang hampir muncul. Namun, dalam hitungan detik, bayangan itu lenyap, digantikan amarah yang lebih gelap. “Jangan buat saya terlihat bodoh di depan orang lain.” “Aku bahkan nggak melakukan apa-apa, Mas!” “Diam.” “Aku Cuma bicara sebentar sama Pratama kemarin! Apa itu salah?!” “Diam, Shanin!” Bravendra bergerak cepat. Tangannya mencengkeram lengan Shanin kuat-kuat, membuat perempuan itu meringis. “Mas, sakit.” “Sakit?” Bravendra menunduk, menatap wajah istrinya dari jarak yang begitu dekat. “Kamu tahu apa yang lebih sakit? Melihat istriku tersenyum pada laki-laki lain di hari pernikahan.” Air mata mulai menggenang di mata Shanin. “Aku istrimu. Aku di sini sama kamu. Kenapa kamu berpikir sejauh itu?” Bravendra menarik tubuh Shanin hingga perempuan itu terdorong ke dinding. Punggungnya membentur permukaan keras dengan cukup kuat hingga napasnya terputus. Kedua tangan Bravendra menahan sisi tubuhnya, mengurungnya tanpa celah. Untuk pertama kalinya, Shanin merasa takut pada suaminya sendiri. Entah kenapa Bravendra seperti orang berbeda. Bukan seperti lelaki yang ia kenal. Rasa canggung yang sempat ia rasakan sebagai pengantin baru berganti total. Ketakutan yang merayap dari daada, naik ke tenggorokan, lalu membuat seluruh tubuhnya gemetar. “Lihat saya,” perintah Bravendra. Shanin tidak sanggup. Pandangannya turun ke dadaa pria itu, ia menolak menatap mata yang kini terasa seperti lubang gelap. Namun, Bravendra mencengkeram dagunya, memaksa wajahnya terangkat. “Saya bilang, lihat saya.” Air mata Shanin jatuh. “Mas, kamu kenapa?” bisiknya lirih. “Ini bukan kamu.” Senyum tipis muncul di bibir Bravendra. Bukan senyum hangat yang dulu membuat Shanin merasa aman. Senyum itu dingin, pahit, dan penuh luka yang tidak ia pahami. “Kamu terlalu lama mengenal sisi saya yang saya izinkan untuk kamu lihat, Shanin.” Kalimat itu membuat daada Shanin makin sesak. “Jadi selama ini … kamu pura-pura sama kamu?” “Tidak.” Bravendra mendekatkan wajahnya. “Saya mencintaimu.” “Ini bukan cinta, Mas.” Mata Bravendra mengeras. Shanin sadar ia baru saja mengatakan sesuatu yang salah. Mungkin kalimat itu akan menyinggung suaminya. Kalimat yang terlalu jujur untuk diucapkan—seolah mungkin seperti meragukan cinta lelaki itu. Namun semuanya sudah terlanjur keluar begitu saja. Shanin bahkan tidak bisa menariknya kembali. Bravendra melepaskan dagunya, lalu tertawa pelan. “Bukan cinta?” tanyanya. “Tiga tahun saya menjaga kamu. Mengantar kamu. Membayar semua kebutuhanmu. Membantu ayahmu mendapatkan pengobatan terbaik. Memastikan tidak ada satu pun orang berani merendahkan kamu. Lalu kamu bilang ini bukan cinta?” Shanin menggeleng dengan napas terputus-putus. “Cinta nggak menyakiti, Mas.” “Cinta juga tidak membuat suaminya cemburu di malam pernikahan.” “Aku nggak sengaja membuat kamu cemburu.” “Tapi kamu melakukannya.” Bravendra mundur satu langkah. Untuk sesaat, Shanin mengira pria itu akan berhenti. Ia mengira amarah Bravendra akan reda. Namun, dugaannya salah. Bravendra meraih ponselnya dari saku jas, lalu melemparkannya ke atas meja kecil di dekat ranjang. Layar menyala, menampilkan foto Shanin dan Pratama yang tertangkap kamera salah satu tamu. Mereka sedang saling berhadapan. Shanin tersenyum. Pratama menunduk sedikit, tampak mengatakan sesuatu. Sebuah foto yang seharusnya tampak biasa. Namun di mata Bravendra, entah kenapa tampak seperti pengkhianatan. “Lihat.” Suaranya rendah. “Cantik sekali senyummu di sana.” Shanin mendekati meja itu dengan gemetar. “Mas, ini Cuma foto. Kamu salah paham.” “Saya tidak pernah salah paham.” “Kamu salah.” Tatapan Bravendra langsung terangkat. Shanin menyesalinya saat itu juga. Pria itu berjalan mendekat, lalu dengan gerakan kasar menyambar vas kaca di meja. Dalam satu detik, benda itu hancur menghantam lantai. Pyar! Shanin menjerit, menutup mulut dengan kedua tangan. Pecahan kaca menyebar di dekat kakinya. Beberapa kelopak mawar basah oleh air yang tumpah, berubah kacau di atas lantai marmer. “Jangan pernah meninggikan suara pada saya, Arshanin!” “Aku nggak meninggikan suara, Mas.” Shanin menangis. “Aku Cuma ingin kamu dengar penjelasanku.” “Saya sudah mendengar cukup banyak.” Bravendra mendekat lagi. Shanin mundur, tetapi pecahan kaca membuatnya berhenti. Kakinya gemetar. Ia takut bergerak. Takut salah langkah. Takut membuat pria itu semakin marah. “Mulai saat ini, kamu harus mengerti satu hal,” ucap Bravendra. “Kamu sudah menjadi istri saya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD