Setelah makan siang kecil itu, suasana halaman rumah Mama Lidia menjadi lebih riuh daripada biasanya. Ivan mengusap tangannya, lalu berjalan mendekat ke Marthen yang sedang menepuk pasir dari sarungnya. “Pak Marthen,” panggil Ivan santai. Marthen menoleh. “Iya, Nak Ivan?” Ivan menunjuk ke arah kapal phinisi mewah yang masih berlabuh gagah di pinggir pantai, kapal berukuran hotel butik dengan ukiran kayu mahal dan layar putih menjulang megah. “Kapal itu,” ujar Ivan dengan nada santai seolah sedang menunjuk sepeda, “untuk Pak Marthen dan Mama Lidia.” Marthen dan Mama Lidia menoleh bersamaan. Diam satu detik. Dua detik. “APA??” Keduanya berseru bersamaan. Ivan mengangguk tenang, seolah ini hadiah biasa. “Dulu, kalian menampung kami tanpa bertanya. Merawat luka kami sampai pulih. Ja

