Jeff mengangkat tubuh istrinya dengan lembut, seolah membawa sesuatu yang terlalu berharga untuk disentuh sembarangan. Dress putih lembutnya bergoyang ringan saat Jeff membawanya masuk ke kamar mereka yang mewah, terbuka ke arah balkon laut Labuan Bajo yang berkilauan.
Begitu tubuh istrinya menyentuh kasur, Jeff menunduk dan mengecup bibir Callara. Bibir mereka saling mencari, seperti dua orang yang tak butuh alasan apa-apa selain cinta. Ciuman itu turun perlahan ke lekukan leher mulus wanita itu.
“Mmmm, ahh … Jeff, geli,” gumam Callara sambil terkekeh kecil. Suaranya manja dan menggoda.
Jeff tertawa pelan, napasnya menyapu hangat kulit istrinya. “Ini yang bikin aku gemas sama kamu,” bisiknya rendah, “kamu selalu gelian di sini.” Mulutnya sengaja mengecup satu titik di bawah telinga Callara, titik yang membuat tubuh istrinya refleks menggelinjang kecil.
Dress tipis itu seperti menyerah dengan mudah. Hanya satu gerakan yang dibutuhkan dan dress itu merosot, mengekspos bagian tubuh Callara sempurna, yang mulai penuh karena kehamilan. Jeff terdiam sesaat, matanya menatap bagian itu dengan kekaguman yang tak bisa disembunyikan.
“Kamu cantik banget …,” desisnya pelan.
Tangannya menyentuh perlahan. Lalu bibirnya turun ke lekukan Callara. Ciumannya penuh pemujaan, menjelajahi setiap inci kulit yang terbuka, membuat Callara mendesah kecil.
“Jeff …,” suara Callara mulai berat.
Jari-jarinya menyelusup ke rambut suaminya. Tarikan napasnya jadi tidak beraturan saat Jeff membuka sisa dress yang sudah turun sampai ke pinggangnya.
“Ahhh …,” Callara menggigit bibir bawahnya, ketika Jeff menghisap puncak berwarna pink itu. Napas mereka kini sudah menyatu dalam satu ritme. Jeff menciumi perut istrinya dengan lembut, lalu perlahan … menurunkan ciuman itu ke bawah.
DING DONG!
Suara bel villa mendadak memecah suasana. Jeff langsung berhenti. Kedua matanya membelalak, kepala terangkat tajam. “Siapa itu?” gumamnya, napas masih memburu.
Callara panik. “Eh? Kamu pesan room service?” Mereka saling tatap. Detik yang menggantung di antara gairah dan kegelisahan. Jeff mendengus pelan.
“Nggak, siapa sih yang datang,” desisnya kesal karena quality time dengan sang istri terganggu.
Callara menarik dressnya cepat-cepat sambil berkata, “Mungkin … staf villa?”
Jeff tidak menjawab. Tapi ada firasat tajam menusuk perutnya. Ia bangkit, mengambil kemeja, dan mengenakannya asal sambil berjalan ke arah pintu depan dengan langkah cepat. Pria itu membuka pintu dengan satu tarikan cepat.
Dan bak disambar petir, Marissa berdiri tepat di depan mereka, senyum lebar terpasang seolah ia memang tamu yang paling wajar untuk muncul di sana. Sebelum Jeff sempat berkata apa pun, Marissa sudah melangkah maju dan memeluk Callara dengan hangat.
“Hai, Calla!” serunya ceria.
Callara terbelalak. Refleks tubuhnya kaku sesaat sebelum akhirnya membalas pelukan itu dengan bingung. “Lho? Marrr?” suaranya meninggi, jelas kaget, “kok kamu bisa di sini?”
“Iya nih! Kebetulan banget. Aku lagi ada survei lokasi proyek di daerah sini,” katanya ringan, lalu menoleh sebentar ke arah Jeff, “terus sekretaris Jeff bilang kalian lagi liburan ke Labuan Bajo. Jadi aku sekalian aja mampir.” Ia tertawa kecil. “Nggak ganggu, kan?”
Otot di wajah Jeff menegang. “Kita lagi quality time keluarga, Marissa,” katanya dingin tanpa basa-basi, “tolong pengertiannya.”
Callara menoleh ke Jeff, lalu kembali ke Marissa, jelas masih berusaha mencerna situasi. Marissa, sebaliknya, tampak sama sekali tidak tersinggung. Ia malah mengangguk pelan, seolah memahami, padahal matanya justru mengunci Jeff dengan pandangan yang hanya mereka berdua tahu artinya.
“Oh, tentu,” katanya lembut. Lalu, seakan baru teringat sesuatu, ia membuka tasnya. “Ah ya, Jeff, hampir lupa.” Ia mengeluarkan map tipis berisi beberapa dokumen. “Aku bawa beberapa dokumen milikmu. Yang deadlinenya urgent. Tiga hari lagi.”
Nada suaranya turun sedikit, mengandung tekanan halus. “Walaupun kamu cuti, tetap nggak boleh lalai, kan?” Senyum kecil muncul di sudut bibirnya. “Nanti … ada hukumannya, lho.”
Jeff tahu persis apa maksud kalimat itu. Perutnya terasa mual, ia menoleh ke Callara dan tatapan bersalah itu tak sempat ia sembunyikan sepenuhnya.
Callara menangkapnya, ia tersenyum kecil. “Nggak apa-apa, Jeff,” katanya lembut, “kamu selesaikan dulu kerjaan kamu. Kita kan masih lama di sini.”
Kalimat itu seharusnya melegakan … tapi bagi Jeff, itu justru terasa seperti vonis.
Jeff menghela napas panjang, seperti ingin membuang seluruh sisa hasrat dan amarah yang tercekat di dadanya. Matanya mengunci Marissa tajam, lalu berkata pelan namun tegas, “Ikut aku.”
Ia berbalik, melangkah ke ruang kerja kecil yang memang tersedia di villa itu, ruangan dengan satu meja kayu panjang, rak buku, dan jendela besar yang menghadap ke laut. Ia membiarkan Marissa masuk lebih dulu, lalu menutup pintu di belakang mereka.
Begitu pintu tertutup, Marissa langsung memeluk leher Jeff, tubuhnya menempel penuh, dan tanpa peringatan apa pun, bibirnya menekan bibir pria itu kasar.
Jeff terkejut. Seketika, ia mendorong tubuh Marissa menjauh dengan kekuatan penuh.
“Apa-apaan kamu?!!” bentaknya tajam. Napasnya berantakan karena amarah, bukan gairah.
Marissa terhuyung satu langkah ke belakang, tapi wajahnya tetap kalem. Bahkan matanya masih menyala dengan api yang berbahaya. “Sudah beberapa hari kamu hindarin aku,” ujarnya datar, “aku masih baik hati, lho, nggak langsung kirim video kita ke Callara.”
Jeff mengepalkan tangannya. “Kita dulu sepakat,” desisnya penuh tekanan, “kalau hari libur dan weekend adalah waktuku dengan Callara. TANPA kamu!”
“Ouch~” Marissa pura-pura tersinggung, mengelus dadanya pelan. “Kamu bikin aku sakit hati, Jeff sayang.”
Lalu tanpa malu-malu, Marissa menarik resleting dress kerjanya perlahan dari belakang. Suara resleting itu terdengar sangat nyata di ruangan sunyi. Dress itu jatuh membentuk kolam lembut di kakinya, memperlihatkan lingri satin merah darah yang menempel ketat di tubuhnya. Dia berjalan ke pintu dan menguncinya.
“Jangan,” pinta Jeff, suaranya rendah, hampir seperti permohonan. “Marissa, please … jangan hari ini.”
Tapi Marissa hanya tersenyum bengis. “Semakin kamu tolak aku, semakin aku terangsang,” bisiknya sembari melangkah mendekat, tubuhnya menempel kembali ke Jeff. Jemarinya mengusap d**a Jeff yang terbuka karena kemejanya belum dikancingkan rapat. “Aku tahu kamu kangen sama ini …,” ujarnya serak, tangan turun ke arah sabuk pria itu.
Jeff meraih pergelangan tangannya keras.
Marissa mencondongkan tubuhnya, mulutnya nyaris menyentuh telinga Jeff. “Kalau kamu gak mau, fine …” suaranya pelan, “tapi kamu tahu konsekuensinya, kan?”