JIJIK

1194 Words
Lebih dari dua puluh menit berlalu sebelum pintu ruang kerja itu akhirnya terbuka. Jeff keluar lebih dulu. Wajahnya pucat, pandangannya kosong, pandangan seseorang yang baru saja menambah satu lapis lagi dosa yang sebenarnya sudah terlalu berat untuk dipikul. Napasnya pendek, seperti paru-parunya menolak bekerja. Kemejanya kusut, dua kancing terbuka, rambutnya sedikit berantakan. Di belakangnya, Marissa melangkah keluar dengan langkah ringan. Senyumnya manis, bahkan terlalu manis, seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah dua puluh menit tadi hanya ngobrol soal pekerjaan. “Calla~ aku pulang dulu ya,” ucap Marissa ceria sambil menghampiri Callara yang duduk di ruang tamu, “nanti aku hubungi kamu lagi. Villa aku dekat kok dari sini.” Callara tersenyum polos dan tulus. “Eh, oke, Mar. See you.” Marissa melambaikan tangan manis lalu pergi. Jeff berdiri mematung sampai suara langkah Marissa menghilang sepenuhnya dari teras villa. Baru setelah itu dia seperti bisa bernapas sedikit, tapi napasnya terdengar berat. Suaranya nyaris pecah saat berkata, “Sayang … aku ke kamar mandi sebentar ya.” Callara menoleh. “Loh? Kamu kenapa? Sakit perut?” Jeff membuang pandangan, menunduk. “Iya. Perut aku … mules.” Callara mencoba bercanda, membuat suasana ringan. “Kerjaannya bikin mules?” Tapi Jeff justru memejamkan mata sesaat, seperti tertusuk. Pandangan itu kosong, redup, penuh jijik pada dirinya sendiri, melintas sekilas sebelum ia paksa tersenyum. Senyum tipis, dipaksakan dari seseorang yang baru saja melakukan hal yang ingin ia hapus dari dunianya. “Iya,” lirih Jeff, “aku muak sama kerjaan aku.” Lalu, dengan suara pelan yang hampir terdengar seperti bisikan pasrah, “kadang aku mikir … apa aku pensiun dini aja, ya, Sayang?” Callara mendengus tertawa kecil. “Heh! Jangan gitu. Kamu ngomong apa sih—” Ia mendekat, mengangkat tangan, niatnya sederhana ingin mengelus pipi suaminya, menenangkan, mungkin tanpa sadar ingin memberikan sentuhan yang selalu membuat Jeff merasa diperhatikan. Tapi Jeff menghindar. Pria itu memiringkan wajah. Callara membeku, heran. Terluka sedikit, tapi berusaha tidak menampilkan itu. “Jeff?” tanyanya pelan. Jeff menelan ludah. Tidak sanggup menatap mata istrinya. “Nanti ya, Sayang …,” suaranya pecah tipis, “aku … ke kamar mandi dulu.” Ia berlalu cepat, hampir seperti melarikan diri, meninggalkan Callara berdiri bingung di tengah ruangan. Dan di balik pintu kamar mandi, Jeff meraih botol sabun di rak kamar mandi. Ia menggosok tubuhnya berkali-kali dengan kasar, seolah kulitnya bisa ikut terkelupas bersama rasa jijik yang menempel. Air mengalir deras, busa sabun memenuhi telapak tangannya, tapi bau itu … rasa itu … tidak pergi. “Br3ngsek … br3ngsek …,” bisiknya parau. BRAKK Kulitnya perih, dadanya terasa sesak. Jeff menghantam wastafel dengan telapak tangan, satu kali … lalu sekali lagi … hingga bunyinya menggema di ruang sempit itu. Ia menunduk, napasnya bergemuruh, air mata jatuh tanpa suara. Akhirnya, kakinya tak lagi sanggup menopang. Jeff merosot duduk di lantai kamar mandi, punggung bersandar ke dinding dingin. Lututnya ditarik ke d**a dan tangannya menutup wajah. Benaknya berputar liar. Ini nggak bisa … nggak bisa begini terus. Wajah Marissa melintas. Senyumnya, tatapan mengancam yang dibungkus manis. Video. Tekanan yang makin hari makin berani, makin tak terkendali. Kalau dia tetap ada … dia nggak akan pernah melepaskan aku. Dan Callara … juga bisa dalam bahaya lama-lama. Nama itu membuat dadanya nyeri. Wajah istrinya yang polos, percaya, penuh cinta itu seperti pisau yang menusuk berulang kali. Aku harus melakukan sesuatu! Pikirannya meluncur ke tempat gelap yang bahkan ia tak kenali sebelumnya. Bukan rencana, hanya niat mentah yang mengerikan, berdenyut bersama rasa takut kehilangan. Kalau dia lenyap … semua ini selesai. Semua bukti … semua ancaman … Jeff menutup matanya kuat-kuat, napasnya bergetar. Lalu aku bisa hidup bahagia dengan Callara. Keheningan kamar mandi menelan bisikan itu. Dan di luar sana, di balik pintu, Callara menunggu … tanpa tahu bahwa di dalam, suaminya baru saja melewati satu garis yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. * * Restoran Tepi Laut, Labuan Bajo Sore itu, angin laut berembus lembut. Jeff dan Callara makan malam di restoran resort yang langsung menghadap ke laut lepas. Mereka memilih meja paling pinggir, dekat pasir, sehingga kaki Callara bisa menyapu lembut butiran pasir yang masih hangat sisa matahari siang tadi. Langit Labuan Bajo sedang cantik-cantiknya. Gradasi jingga, merah muda, dan keemasan membentang luas, memantul di permukaan laut yang tenang. Jeff menatap istrinya beberapa detik sebelum berkata pelan, seolah takut momen itu pecah. “Makan yang banyak, sayang,” ucapnya lembut, “aku udah pesenin lobster, udang … pokoknya semua favorit kamu.” Callara terkekeh kecil, matanya berbinar. “Manisnya suami aku~” katanya sambil tersenyum lebar, “makasih ya, sayang.” Ia melirik ke meja. “Eh, kamu pesan kepiting juga? Kamu kan suka itu.” Jeff mengangguk ringan. “Iya. Sekalian.” Callara mencubit pipi Jeff gemas. “Good boy.” Jeff tertawa kecil, tapi matanya tak lepas dari wajah Callara yang diterangi cahaya senja. Dalam hati, ada rasa perih yang ia tekan kuat-kuat, perasaan bersalah yang ia bungkus dengan perhatian dan kasih sayang berlapis-lapis. Beberapa menit berlalu dalam obrolan ringan dan tawa kecil, sampai akhirnya Jeff meraih sesuatu dari saku jas tipisnya. Sebuah kotak beludru mewah berwarna biru tua. Callara langsung terkesiap. “Apa itu?” Jeff menatapnya, lalu perlahan membuka kotak itu. Di dalamnya terbaring sebuah kalung emas putih, dengan bandul matahari kecil—di tengahnya bertengger sebuah berlian yang berkilau lembut tertimpa cahaya sunset. Callara menutup mulutnya refleks. “Jeff … ini—” “Boleh aku pakaikan?” tanya Jeff pelan. Callara mengangguk sambil tersenyum, lalu menyibakkan rambutnya ke samping, menyingkap tengkuknya yang halus. Jeff berdiri sedikit, jemarinya berhati-hati saat mengaitkan kalung itu. Tangannya sempat bergetar, entah karena angin laut … atau hal lain yang hanya ia tahu. Setelah kalung itu terpasang, Jeff bersandar sedikit dan berkata dengan suara rendah, serius, nyaris seperti janji. “Callara,” katanya, “ingat ini … apa pun yang terjadi, aku cinta kamu. Cuma cinta kamu.” Ia menatap mata istrinya. “Kamu matahari di hidup aku. Kamu yang ngasih aku cahaya … dan alasan untuk tetap hidup dan berjuang.” Air mata langsung menumpuk di pelupuk mata Callara. “Jeff …,” suaranya bergetar. Jeff mengecup lembut tengkuk istrinya, menghirup aroma tubuh Callara yang selalu membuatnya merasa pulang dan sekaligus, merasa semakin bersalah. Tak lama kemudian, seorang waiter datang membawa hidangan khas Labuan Bajo. Lobster, udang, kepiting, tersaji cantik di meja mereka. Sang waiter tersenyum hangat. “Selamat menikmati, Pak, Bu,” ucapnya tulus. “Kalian kelihatan sangat mesra. Semoga malamnya berkesan.” Callara tersenyum malu-malu. Jeff membalas dengan anggukan sopan. Di bawah langit senja yang indah itu, mereka tampak seperti pasangan paling bahagia di dunia … tanpa siapa pun tahu, betapa rapuh kebahagiaan itu sebenarnya. Piring-piring di meja mulai terisi. Jeff dengan telaten membukakan kulit udang untuk Callara. “Tunggu,” katanya sambil mengernyit tipis, menatap daging udang itu, “kayaknya ini kurang matang.” Ia menoleh ke Callara. “Aku panggil waiter dulu ya, Sayang. Kamu lagi hamil, nggak boleh makan yang setengah mentah.” Callara tersenyum. “Oke, Sayang.” Jeff bangkit dan melangkah menjauh, mengangkat tangan memanggil pelayan. Saat itulah … Ting! Ponsel Callara bergetar di atas meja. Ia melirik layar sekilas. Nama Marissa muncul. Callara membuka pesannya tanpa curiga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD