Marissa:
Calla~ aku ada surprise buat kamu nihhh
Nanti temui aku di lokasi ini yaa (lokasi dibagikan)
Tapi jangan kasih tahu Jeff ya
Kamu kan tahu dia kurang suka sama aku
Mukanya tiap lihat aku aja selalu nyeremin
Girls time aja, ok?
Callara membaca pesan itu perlahan. Senyum kecil mengembang di wajahnya. Hari ini terasa seperti hari penuh kejutan. Kejutan manis dari Jeff … dan sekarang dari sahabatnya sendiri.
Ia mengetik balasan singkat.
Callara: Hehe oke, Mar :)
Ponsel itu ia letakkan kembali ke meja, tanpa sedikit pun rasa curiga. Matanya kembali menatap laut yang mulai gelap, lampu-lampu resort menyala satu per satu.
Tak lama kemudian Jeff kembali, duduk di sampingnya, meletakkan piring baru. “Udangnya diganti. Yang ini matang.”
Callara tersenyum manis. “Makasih, Sayang.”
Jeff mengangguk, kembali memusatkan perhatian padanya, tanpa tahu bahwa sebuah pesan sederhana baru saja membuka pintu menuju sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
*
*
Angin malam Labuan Bajo menusuk lembut kulit, membawa aroma asin laut yang menghantam bebatuan di bawah tebing. Ombak memecah di bawah sana, suara deru yang biasanya menenangkan, tapi malam ini … terdengar seperti peringatan untuk Callara.
Callara memegang perutnya sambil terengah, langkahnya hati-hati menyusuri jalan setapak sempit berbatu itu.
“Mar … serius kamu nyuruh aku ke sini?” keluh Callara sambil berusaha menjaga keseimbangan.
Dari atas batu tebing, Marissa melambai ceria. “Calla! Disiniii!”
Seolah-olah yang mereka lakukan hanyalah girls night out biasa … bukan pertemuan rahasia di tempat paling sepi di Labuan Bajo.
Callara menghela napas panjang, menyipitkan mata ke arah sahabatnya itu. “Aku hamil lima bulan, Mar. Capek banget jalan kaki aja hiks.”
Marissa turun sedikit, menyambut Callara dan membantu menarik tangannya naik. Callara hampir tergelincir, tapi Marissa menahan lengannya. “Hati-hati dong, sayang,” ujar Marissa sambil terkekeh, “kalau kamu jatuh, aku yang bakal disalahin Jeff, lho.”
Callara akhirnya duduk dengan susah payah di batu besar. “Mar, yang bener aja … masa ketemuannya di tempat gini? Tadi supir resort sampai bilang, ‘Bu, yakin turun di tempat jin buang anak?’” Callara mengulang nada supir itu sambil tertawa geli.
Marissa ikut tertawa, tapi matanya … tidak ikut tertawa.
“Yah … kalau tempatnya biasa aja, nanti surprisenya kurang seru dong,” katanya sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, “kamu duduk manis ya, Calla. Biar aku yang bikin kamu ter-wow wow malam ini.”
Callara tertawa lembut. “Apa sih ini? Kamu mau kasih hadiah? Atau prank?”
“Anggap aja … hadiah seumur hidup,” jawab Marissa sambil menepuk-nepuk tangan Callara.
Langit malam di atas mereka luas dan gelap, hanya ditembus cahaya bulan setengah yang mengintip di balik awan. Tidak ada suara manusia lain. Tidak ada lampu vila. Tidak ada deru mobil. Hanya mereka berdua … dan deburan ombak yang menghantam tebing.
Callara merapatkan cardigan tipisnya, merasa dingin aneh menjalar di punggung. “Mar, jadi surprisenya apa? Kok … suasananya agak creepy ya.”
Marissa menatap laut sejenak. Tatapannya kosong sebentar, lalu ia tersenyum, senyum manis, tapi tidak seperti biasanya. “Calla,” katanya pelan, “aku cuma mau ngobrol sebentar. Curhat perempuan ke perempuan.”
Callara mengangguk polos. “Oh, ya boleh dong. Kamu kenapa?”
Marissa memalingkan wajah, menahan senyum yang lebih mirip getir daripada senang.
“Kamu sayang banget sama Jeff, kan?”
Pertanyaan itu membuat Callara seketika menegang. “Tentu.” Ia tersenyum bingung. “Memangnya kenapa?”
Marissa menatap Callara lama. Terlalu lama untuk sebuah tanya retoris. Tatapan yang tidak pernah Callara lihat sebelumnya. Dingin, berbahaya, dan … putus asa? Atau justru obsesif?
“Aku cuma mau pastikan,” bisik Marissa, “bahwa kamu benar-benar mencintai Jeff.”
Callara mengangguk kecil, masih tidak mengerti arah pembicaraan ini. “Tentu, Mar. Aku cinta dia sepenuh hatiku.” Ia menepuk ringan tangannya sendiri, gugup. “Apa sih? Kamu bikin aku deg-degan.”
Marissa tersenyum kecil. Senyum itu akhirnya pecah manis, namun ada pecahan kaca di baliknya. “Bagus, Calla.” Ia berdiri pelan, mendekat ke tepi batu, lalu menatap Callara dari atas. “Karena malam ini … aku juga mau ngomong sesuatu tentang Jeff.”
Ombak menghantam tebing lebih keras. Angin malam mengangkat rambut Callara. Sebuah firasat gelap merambat ke tengkuknya.
“Mar … kamu bikin aku ngeri, deh.” Callara berusaha tertawa, tapi suaranya pecah. “Aku lagi hamil, lho. Bayiku bisa sawan di dalam kalau kamu—”
Marissa mendengus pelan, lalu mengangkat tangannya, gerakan kecil yang menghentikan Callara tepat di tengah kalimat.
“Calla,” katanya datar, “aku mau cerita. Jangan potong.”
Nada suaranya bukan lagi nada bercanda. Ada sesuatu yang berat dan tajam di sana, seperti luka lama yang akhirnya dibuka.
“Ada seorang gadis,” lanjut Marissa pelan, menatap laut tanpa berkedip, “sejak kecil, dia selalu dibuli di sekolahnya.”
Callara mengernyit, tubuhnya sedikit condong ke depan.
“Karena keluarganya,” ucap Marissa singkat, “broken home. Kaya raya, tapi rusak dari dalam.” Ia terkekeh kecil. “Ayahnya terkenal suka main perempuan. Ibu kandungnya? Gundik. Entah perempuan keberapa.”
Callara terdiam. Ada sesuatu di cara Marissa bercerita yang membuat sesuatu di dalam dirinya mulai mengeja arah cerita ini.
“Setiap hari,” lanjut Marissa, “anak itu dengar bisikan. Tatapan. Cemoohan. ‘Anak haram.’ ‘Anak simpanan.’ ‘Anak nggak jelas.’”
Jari Callara refleks menggenggam ujung cardigan-nya.
Marissa menoleh, menatap Callara. Matanya gelap dan dingin. “Belum selesai.”
Ia kembali memandang laut.
“Sampai suatu hari,” katanya pelan, “datang seorang gadis.”
Callara menahan napas.
“Gadis itu bersinar,” Marissa melanjutkan, “Seperti matahari. Punya keluarga utuh. Ayah ibu yang menyayanginya. Hidupnya … penuh tawa.”
Callara menelan ludah.
“Gadis matahari itu,” ujar Marissa, “melihat si anak broken home dibuli. Dia kasihan, lalu membela. Berdiri di depannya. Bilang ke semua orang, ‘Stop!’”
Marissa tersenyum tipis. “Dan untuk pertama kalinya … dunia terasa mulai hangat.”
Callara berbisik pelan, “Mereka jadi teman?”
Marissa mengangguk. “Teman dekat.”
Angin berhembus lebih kencang. Ombak menghantam batu di bawah tebing dengan suara berat.
“Awalnya indah,” lanjut Marissa, “mereka tertawa bareng. Belajar bareng. Berbagi mimpi.” Ia berhenti sejenak. “Dan di sanalah masalahnya mulai.”
Callara mengernyit lebih dalam. “Masalah?”
Marissa tertawa pelan, tawa yang pahit. “Lama-lama, si gadis broken home mulai bertanya-tanya.”
Ia menatap Callara lagi, kali ini tanpa senyum. “Kenapa dunia sebaik ini sama kamu … tapi sekejam ini sama aku?”
Dada Callara terasa mengencang.
“Kenapa kamu dikasih segalanya,” Marissa melanjutkan, suaranya merendah, “sementara aku harus berjuang cuma buat dianggap manusia?”
Callara menggeleng pelan. “Mar … ini—”
“Diam,” potong Marissa cepat. Nada itu membuat Callara tersentak.
“Mereka sama-sama manusia,” lanjut Marissa dingin. “Sama-sama perempuan. Sama-sama punya mimpi.” Ia mendekat satu langkah. “Jadi letak perbedaannya di mana, Calla?”
Callara terdiam. Jantungnya mulai berdetak liar.
Marissa tersenyum kecil. “Di keberuntungan,” bisiknya. “Atau mungkin …,” ia memiringkan kepala, “di siapa yang lebih pantas bahagia?”
Ada sesuatu di cara Marissa menatapnya sekarang, bukan lagi tatapan sahabat.
Callara merasakan dingin menjalar dari tulang ekor ke tengkuk.
“Mar …,” suaranya bergetar. “Cerita ini … tentang siapa?”
Marissa tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Callara lama, lalu berkata pelan, penuh tekanan.
“Kamu pikir … gadis broken home itu bakal terus tersenyum, melihat matahari bersinar terang setiap hari … tanpa pernah ingin memadamkannya?”
Angin malam menderu. Debur ombak menggema seperti jawaban yang tak ingin didengar Callara.
Dan di detik itu, Callara tahu, cerita ini bukan dongeng.
Ini pengakuan!