Marissa tersenyum. Senyum itu penuh kepuasan yang tidak lagi ia sembunyikan.
“Lanjutannya?” ucapnya ringan, seolah cerita yang baru saja ia bongkar bukan pisau yang menancap di d**a Callara, “oke, aku lanjut, ya~~”
Ia melangkah satu langkah mendekat, batu kecil di bawah kakinya berderak pelan.
“Suatu hari,” ujar Marissa, suaranya lembut tapi tajam, “saat mereka sudah kuliah … si gadis broken home itu jatuh cinta.”
Callara menelan ludah.
“Bukan cinta kecil,” lanjut Marissa, “tapi cinta pertama yang benar-benar bikin jantungnya merasa hidup.”
Ia tertawa kecil, getir. “Lucunya? Dia kenal cowok itu duluan. Ngobrol duluan. Ketawa duluan. Bahkan curhat duluan.”
Callara mulai merasa pusing.
“Cowok itu kakak kelas mereka,” kata Marissa santai. “Tampan, pintar, karismatik. Tipe yang kalau masuk ruangan, semua orang sadar.”
Marissa menatap Callara lurus. “Dan kamu tahu apa yang terjadi?”
Callara tidak menjawab, tenggorokannya terlalu kering.
Marissa tersenyum lebar. “Cowok itu … malah jatuh cinta sama gadis matahari.”
DEG!!!
Seperti ada sesuatu yang runtuh di dalam d**a Callara.
“Lihat?” Marissa mengangkat bahu ringan. “Lucu, kan? Si gadis malang kenal duluan, tapi tetap aja kalah.”
Ia tertawa kecil. Kali ini tidak ada getir, hanya kepuasan.
“Karena dunia memang begitu, Calla,” lanjutnya pelan. “Yang bersinar … selalu menang.”
Callara menggeleng pelan. “Mar … ini cuma cerita masa lalu—”
“Bukan,” potong Marissa cepat. Suaranya kini dingin. “Ini fondasi.”
Ia mendekat lagi. “Karena sejak saat itu,” bisiknya, “si gadis terbuli sadar satu hal.”
Marissa mencondongkan tubuh sedikit, sejajar dengan wajah Callara. “Kalau mau bahagia, dia nggak bisa nunggu dunia adil.”
Callara merasakan telapak tangannya dingin.
“Dia harus merangkai hidupnya sendiri,” lanjut Marissa, “dengan caranya sendiri.”
Ia berdiri tegak kembali, menatap laut. “Kamu tahu betapa mudahnya seorang perempuan dewasa dan menarik,” katanya ringan, “masuk ke kehidupan lelaki yang kelihatannya sempurna?”
Callara menahan napas. Marissa menoleh perlahan. “Apalagi kalau lelaki itu … rapuh.” Senyum Marissa melebar. “Capek,” lanjutnya, “penuh tekanan, ingin dipuja, dan merasa bersalah pada istri baik-baiknya.”
Callara mulai gemetar. “Mar …,” suaranya pecah, “kamu ngomong apa sih?”
Marissa terkekeh pelan. “Aku ngomong fakta.”
Ia melangkah satu langkah ke depan.
“Si gadis matahari yang sekarang lagi hamil lima bulan itu,” ucapnya perlahan, setiap kata seperti dijahit ke kulit Callara, “tidak tahu ….”
Marissa berhenti, menikmati detik itu.
“Kalau suami sempurna yang dia cintai,” lanjutnya dengan suara manis, “hampir setiap hari … bercinta dengan sahabatnya sendiri.”
Dunia seperti berhenti berputar, wajah Callara seketika memucat. Bibirnya bergetar. Tangannya refleks menahan perutnya.
“A—apa …?” napasnya tersengal,“Kamu bercanda, kan?”
Marissa tertawa, tertawa lepas.
“Hahahaha!” suaranya menggema di antara tebing dan laut. “Astaga, Calla … lihat ekspresi kamu. Aku suka banget~”
Ia menyeka sudut matanya. “Plot twist banget, kan?”
Callara berdiri terguncang, langkahnya goyah. “Bo—bohong …,” bisiknya lemah, “kamu bohong.”
Marissa mengeluarkan ponselnya. Menghidupkan layar.
“Sayang,” katanya lembut, “aku nggak bohong.”
Ia menggeser layar sedikit, memperlihatkan banyak video, bayangan dua tubuh, jas mahal yang Callara kenal betul, suara yang sudah ia dengar ribuan kali. Lalu dia memutar satu video.
Callara menjerit pelan. “Cukup!!!!!” isaknya. “Ini … ini nggak benar!”
Marissa mendekat. “Mau aku ceritain detailnya?” bisiknya ke telinga Callara. “Atau kamu mau lanjut nonton langsung? Ah, aku bahkan tahu ada mole kecil di ‘milik’ suamimu. Sexy.”
Callara menangis, tubuhnya gemetar hebat. “Kenapa …?” isaknya hancur,“kenapa kamu lakuin ini ke aku?”
Marissa menatapnya lama lalu perlahan tersenyum.
“Karena kamu matahari,” katanya pelan, “dan aku sudah lama ingin melihat matahari itu berubah menjadi senja.”
Ombak menghantam tebing keras.
Marissa menekan ikon volume itu tanpa ragu. Suara desahan langsung meledak lebih keras di udara malam melawan deburan ombak. Itu jelas suara Jeff.
“Ah—ffuck!!! Marissa …!”
SUARA ITU!
Callara menjerit. “MATIKAN!!!” Ia tersentak berdiri, air mata mengalir deras tanpa bisa dihentikan. Tangannya terulur liar. “MATIIN ITU SEKARANG!!!”
Marissa justru tersenyum puas. Ia mengangkat ponsel itu lebih tinggi, menjauhkan dari jangkauan Callara.
“Kenapa?” ejeknya ringan, “kamu nggak mau dengar betapa menikmatinya suami kamu di dalam aku?”
“BERIKAN!!” Callara menerjang.
Tangannya berhasil menyentuh ponsel itu, ujung jarinya hampir menggenggam, tapi Marissa refleks mendorong tubuh Callara keras ke belakang.
“Akh!” Callara terhuyung.
“Hati-hati dong,” Marissa terkekeh dingin, “kamu hamil, lho.”
Ucapan itu seperti bensin disiram ke api.
“PEREMPUAN GILA!!!” Callara berteriak histeris. Ia kembali menerjang, kali ini dengan seluruh tenaganya.
Mereka saling tarik. Ponsel itu terlempar ke udara sesaat, jatuh ke tanah dengan bunyi PRAKKK!
Tapi masih menyala, suara video tetap memekik tanpa ampun.
Marissa mencengkeram rambut Callara.
“Jangan sentuh aku!!!” jerit Callara. Dia meronta, kuku-kukunya mencakar lengan Marissa tanpa sadar. “KAMU UDAH HANCURIN HIDUP AKU!!!”
“Kamu punya hidup sempurna!” balas Marissa, mendorong Callara lagi, “aku cuma ngambil sedikit bagianku!!!”
Tubuh Callara terdorong ke belakang.
Satu langkah …
Dua langkah …
Sampai akhirnya, tumitnya menginjak tanah kosong.
“Mar …!” suara Callara mendadak berubah menjadi ketakutan, “Marissa … aku di pinggir teb—”
ZREKKK!!!
Debur ombak menghantam batu seperti raungan maut di tebing jurang. Angin malam berdesir kencang. Marissa mendekat ke bibir tebing, rambutnya tergerai liar ditiup angin, ia menunduk.
Di bawah sana gelap tak berujung. Ombak menghantam batu dengan suara mengeram, seperti menunggu.
“Calla—” napas Marissa tersedak.
Callara tidak jatuh. Dia masih di sana, tergantung di pinggir tebing, kedua tangannya gemetar mencengkeram akar-akar kecil yang menyembul dari dinding batu dengan seluruh sisa hidup yang ia punya. Kakinya terayun kosong.
“Haah … haah …,” napas Callara terengah, wajahnya basah air mata dan keringat, “Ma-Mar ….”
Tangannya gemetar makin hebat.
“To-tolong …,” suaranya nyaris hilang tertelan angin, “Mar, aku mohon ….”
Ia menelan ludah, matanya menatap ke atas, ke wajah sahabatnya. Wajah yang dulu ia percaya sepenuh hati.
“Aku … aku hamil,” isaknya pecah. “Tolong … bantu aku naik ….”
Angin malam mengibaskan rambut Callara ke wajahnya. Batu kecil runtuh dari tebing dan jatuh … tak terdengar sampai dasar.
Sesaat, untuk sesaat saja, pandangan Marissa meredup. Ada luka lama yang naik ke permukaan, ada keraguan kecil, ada ingatan masa lalu mereka, dua sahabat di taman sekolah, berpegangan tangan, saling melindungi.
“Kalau kamu jatuh …,” suara Marissa parau, “kamu akan mati.”
Callara terisak. “I-Iya … itu sebabnya aku minta kamu—”
Marissa berkedip pelan. Dan pada detik itu, kata “mati” bukan ancaman bagi Marissa.
Namun, sebuah jawaban. Ia menarik napas panjang dan wajahnya berubah.
Marissa mundur setengah langkah dan kemudian tumit sepatunya terangkat.
Callara melihatnya.
“JANGAN!!!” jerit Callara, suaranya hancur.
KRAKK!