Tumit itu turun menghantam jemari Callara, rasa sakit langsung meledak.
“AAAAAAGH!!!” jeritan Callara memecah bersama deburan ombak. Jari-jarinya tertekuk paksa, kulit mulai terkoyak dan darah menguar.
Marissa menatap ke bawah tanpa senyum, hanya tatapan kosong.
“Maaf …,” bisiknya lirih, entah untuk Callara … atau malah untuk dirinya sendiri.
Ia menekan lebih keras.
“AAAKH!!!”
Satu jari … terlepas. Lalu jari berikutnya sampai pegangan terakhir Callara akhirnya runtuh. Tubuh Callara terlepas dari tepi tebing. Satu detik ia melayang, tangannya terulur ke udara kosong.
Sampai, gelap menelan segalanya.
*
*
Enam Bulan Kemudian …
Cuaca Jakarta siang itu panas, tapi lantai 39 Kusuma Group terasa seperti masuk ke ruangan freezer. Mengapa? Karena semua orang … PANIK.
Di layar-layar besar sepanjang koridor, berita ekonomi internasional bergulir nonstop.
Breaking News
Pewaris Romanov International, KAVIN ALEXEI ROMANOV, resmi kembali ke Indonesia untuk ekspansi Asia Tenggara.
Foto Kavin terpampang di layar, sangat tampan dengan setelan serba hitam, wajah dingin, mata abu-abu membelah kamera, dan aura CEO muda yang jelas bukan rakyat biasa.
Staf-staf menangis batin sambil berlari-lari.
“Cepat!! Presentasi joint project-nya udah final belum?!” suara Rina, kepala bagian PR, hampir pecah histeris.
Staf lain mengibas-ngibaskan kertas, wajahnya merah. “Slide nomor 12 belum approve, Bu!! Pak Jeff belum tanda tangan—”
“Pak Jeff lagi ada meeting dengan Bumikarsa Group!”
“Gila kamu?! Ini Kavin Romanov! Kalau salah satu bullet point geser setengah piksel aja, kita semua bisa dipecat massal!!”
Printer di pojok tiba-tiba macet, lembar-lembar proposal berterbangan. Suasana seperti mau sidang narapidana ketimbang presentasi bisnis.
Ada tiga rumor yang membuat semua orang pucat pasi hari itu. Pertama, Kavin tidak mentoleransi ketidaksempurnaan. Kedua, Kavin membubarkan satu divisi lengkap di Dubai hanya karena laporan keuangan warnanya ‘terlalu pastel’. Ketiga, Kavin benci menunggu bahkan sedetik pun. Dan sekarang, mereka punya tepatnya satu jam sebelum pewaris Romanov itu menginjakkan kaki di gedung Kusuma Group.
“Semua orang cepat rapikan gedung! Romanov International itu standar kebersihan lobby mereka sampai level partikel debu!!”
“Tanaman hias! Siapa yang naruh tanaman hias miring BEGITU?!”
Koridor berubah jadi medan perang. Lift VIP dicek ulang lima kali, AC dinaikkan jadi dingin maksimal, seluruh lantai dibersihkan sampai aromanya seperti hotel bintang enam. Para staf marketing berdiri berjajar sambil menggenggam proposal tebal yang sudah dicetak ulang enam kali.
Di ujung ruangan, seorang staf muda menatap layar TV besar yang menampilkan foto Kavin lagi.
“Kalau dia bener-bener seperfeksionis itu,” suara staf itu lirih, ketakutan menyerang, “terus kalau ada yang salah salah ngomong dikit? Bisa batal semua kolaborasinya?”
Temannya menelan ludah.
“Katanya … kalau Kavin nggak suka partner bisnisnya … dia bilang langsung di depan muka mereka.”
“Bilang apa?”
“‘You’re a wasted investment.’ Terus dia tinggal pergi.”
Staf itu merinding sampai tulang ekor.
Dan saat kepanikan itu memuncak …
Ting!
Lift presdir terbuka.
Jeff keluar dalam setelan rapi, wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang sebentar lagi akan bertemu pewaris paling ditakuti di Asia-Eropa.
Semua staf spontan berdiri tegak. “Selamat pagi, Pak Jeff!”
Jeff mengangguk singkat, tapi matanya tampak kosong, hampa seperti biasanya. Seperti seseorang yang hidupnya masih terhantui sesuatu … atau seseorang. Mungkin juga karena penantian tanpa henti.
“Ada update?” suara Jeff pelan tapi tegas.
Rina maju setengah berlari. “S-semua sudah siap, Pak. Tinggal—”
BRAAAK!
Pintu utama Kusuma Group terbuka keras, seperti sengaja menunjukkan siapa yang baru tiba. Semua staf menoleh ke arah pintu dan tidak ada yang berani bergerak. Karena yang melangkah masuk bukan hanya satu pria, tapi rombongan yang auranya bukan kelas rakyat biasa.
Lelaki yang berjalan paling depan … sangat tinggi. Sekitar 193 cm mungkin? Tubuhnya tegap atletis, dibalut setelan mewah hitam yang jatuh sempurna di setiap lekuk bahunya yang lebar itu. Wajahnya perpaduan Rusia–Indonesia yang terlalu tampan. Iris abu-abu itu menyapu ruangan seperti ia bisa melihat kesalahan dari jarak dua puluh meter. Dialah Kavin Alexei Romanov.
Di belakangnya berjalan bodyguard-bodyguard setegap tembok China, lalu beberapa sekretaris dan project manager Romanov International yang wajahnya tegang seperti ikut ujian hidup.
Namun, ada seseorang yang terlihat sangat kontras di antara kekacauan ini. Wanita yang berjalan di samping Kavin. Tubuhnya semampai seksi, lekuk pinggangnya halus, lututnya terangkat elegan ketika melangkah, langkahnya anggun namun hentakkannya tegas. Rambutnya panjang tergerai, jatuh ke satu sisi bahu, ditata dengan gaya yang hanya bisa dilakukan hair artist profesional.
Wajahnya cantik. Malah terlalu cantik untuk sekadar sekretaris. Gaun kerja luxe body fit, warna soft champagne, jatuh memeluk tubuh wanita itu dengan elegan. Sepatu haknya berbunyi tuk … tuk … tuk seperti metronom maut.
Salah satu staf pria berbisik lirih pada rekan di sebelahnya, “Itu … itu sekretarisnya? Buset, cantik banget kayak supermodel.”
Temannya langsung menepuk pinggangnya cepat. “SSSTTT!!! Itu calon istrinya Kavin Alexei Romanov, bukan sekretarisnya!”
“Hah??”
“Rumor internasional … satu-satunya orang yang bisa menjinakkan Kavin cuma wanita itu. CEO buaya es tiba-tiba jadi jinak kalau dia yang turun tangan … katanya begitu.”
“Gila,” staf tadi mengelus d**a, “pantes auranya beda. Kelasnya agak laen ini.”
Dan saat rombongan itu mendekat, Jeff berdiri di depan mereka. Jeff yang mempunyai tinggi tubuh 188 cm, tampan, profesional, biasa menjadi pusat ruangan, tiba-tiba terlihat lebih kecil di depan pria yang auranya seperti badai salju itu.
Kavin berhenti tepat di depan Jeff dan iris abu-abu itu mengunci tatapan Jeff.
Jeff segera mengulurkan tangan. “Mr. Romanov.”
“Jeff Kusuma.”
Mereka berjabat tangan, tapi suara mereka sama-sama dingin dan waspada.
Jeff mempersilakannya. “Silakan masuk ke ruang meeting VVIP.”
Kavin mengangguk dan berjalan duluan. Tapi … saat wanita di samping Kavin lewat tepat di hadapan Jeff sambil tersenyum sedikit ke arahnya, ia tiba-tiba membeku. Tubuhnya seperti disambar listrik.
Bukan! Ini bukan karena wajahnya, bukan pula tubuhnya yang dapat membuat akal sehat para pria jadi gamang kalau berduaan dengannya di suatu ruangan. Lalu, apa karena senyuman itu?
Tidak … ini karena aromanya. Hembusan udara membawa aroma halus dari kulit wanita itu. Aroma itu, aroma parfum jasmine favorit Callara, istrinya, atau lebih tepatnya almarhumah istrinya. Aroma yang dulu selalu menempel di bantal, di sofa rumah, di pelukan pagi-pagi … ini aroma yang ia hafal sampai ke urat nadi … AROMA CALLARA!
Jeff tersentak. Jantungnya bak berhenti berdetak barang satu detik. Ini … tidak mungkin …
Wanita cantik itu tidak menoleh. Ia berjalan gemulai masuk mengikuti Kavin, tak menyadari Jeff hampir roboh oleh aroma samar yang terlalu menyesakkan dadanya itu.
Jeff berdiri terpaku, pandangan tertuju pada punggung wanita itu. Jantungnya mulai berdegup gila, bahkan kepalanya mendadak terasa ringan.
“Pa … Pak Jeff?” suara salah satu staf memanggil dengan panik.
Jeff tidak menjawab. Ia hanya menghela napas pendek penuh shock, bingung, dan campuran amukan rasa yang tak bisa ia jelaskan. Ia menelan ludah keras, suaranya sedikit pecah karena mencoba menenangkan dirinya. “Ayo, semua masuk, kita akan mulai rapatnya.”
*
*
Ruang meeting VVIP hari ini terasa jauh lebih dingin dari suhu AC yang sudah disetel maksimal. Semua orang telah duduk di posisi masing-masing, map proposal terbuka rapi, laptop menyala, dan layar presentasi siap digunakan.
Jeff berdiri di ujung meja. Slide pertama menampilkan visual Labuan Bajo. Laut berwarna turquoise, gugusan pulau, garis pantai yang bersih dan sunyi.
“Proyek ini bukan sekadar resort,” ucap Jeff tenang. “Kami menargetkan ultra exclusive destination untuk klien high net worth yang mencari privasi absolut.”
Para eksekutif Romanov International menyimak serius. Beberapa mengangguk tipis, salah satu project manager mencatat cepat.
Kavin duduk bersandar di kursinya, tangan terlipat santai di atas meja. Iris abu-abunya menatap datar ke layar, lalu Jeff, lalu kembali ke layar. “Semua developer mengklaim eksklusivitas,” katanya dingin, “apa bedanya dengan proposal Kusuma Group?”
Jeff tidak tersenyum. “Kami mengunci jumlah unit. Dua puluh villa. Tidak ada ekspansi lanjutan.” Ia menggeser slide ke peta zonasi. “Setiap unit punya private jetty dan akses laut langsung. Setiap villa juga mempunyai keunikannya masing-masing dalam segi interior dan fungsi. Scarcity adalah nilai jualnya.”
Kavin mengangkat alis tipis. “Return lebih lama.”
“Benar.” Jeff mengangguk. “Tapi brand value-nya lebih tinggi. Romanov International tidak butuh proyek cepat. Kalian butuh proyek ikonik.”
Hening sejenak menyapu ruangan.
“Lanjutkan,” kata Kavin singkat.
Jeff menggeser slide berikutnya. “Kami sudah mengamankan izin lingkungan. Tidak ada reklamasi. Tidak ada pelanggaran konservasi.” Ia berhenti sepersekian detik. “Kami menjual sensual experience, bukan sekadar kamar.”
“Jelaskan,” ucap Kavin.
“Tanpa resepsionis konvensional. Kedatangan via yacht atau helikopter. Staf terlatih khusus. Nama tamu tidak tercatat di sistem publik.”
Senyum tipis yang nyaris tak terlihat, menyentuh sudut bibir Kavin. “Paranoid.”
“Atau eksklusif,” balas Jeff tenang.
Namun Jeff tahu … pusat gravitasinya hari ini bukan Kavin. Pandangannya, meski berulang kali ia paksa kembali ke layar, entah bagaimana selalu melenceng ke satu titik yang sama.
Wanita di seberang meja itu.
Ia duduk di sisi kanan Kavin. Punggungnya tegak, kaki disilangkan rapi. Satu tangan memegang tablet, satu tangan bertumpu santai di meja. Setiap kali Jeff menjelaskan poin penting, wanita itu mengangkat pandangan, menatap langsung ke arahnya. Sebuah tatapan yang intens.
Seolah ia tidak hanya mendengar kata-kata Jeff, tetapi membaca sesuatu yang lebih dalam, celah kecil di balik sosok sempurna. Jeff hampir terpeleset di satu kalimat. Ia menarik napas pelan, mengatur ulang ritme, lalu melanjutkan. Denyut di pelipisnya mulai terasa.
“Pembagian saham?” tanya Kavin.
“Lima puluh lima persen Romanov International,” jawab Jeff tanpa ragu. “Kusuma Group akan menangani operasional lokal dan perizinan.”
“Kamu menyerahkan kontrol besar,” ucap Kavin sambil tersenyum sinis.
“Karena proyek ini butuh nama Romanov,” jawab Jeff mantap.
Tatapan mereka beradu, dua pria yang sama-sama terbiasa memegang kendali. Lalu, suara lembut itu masuk dengan tenang dan jelas.
“Mitigasi risiko alam?” tanya wanita itu, tanpa menaikkan nada, “Labuan Bajo rawan cuaca ekstrem.”
Jeff menoleh, beberapa detik terlalu lama dari seharusnya. “Kami bangun struktur semi elevated,” katanya akhirnya, lebih lembut dari sebelumnya, “setiap villa punya sistem evakuasi laut mandiri.”
Wanita itu mengangguk kecil sambil tersenyum. “Cerdas.”
Kata itu sederhana. Efeknya? Tidak.
Jeff merasakan panas halus merayap di d**a. Ini bukan hasrat liar, melainkan kegelisahan intim yang menggelitik. Ia sadar ini tidak pantas. Wanita itu adalah calon istri Kavin Romanov. Dan ia seharusnya fokus penuh pada bisnis. Namun tubuhnya bereaksi lebih cepat daripada logika.
Saat Jeff menjelaskan bagian terakhir, wanita itu menyandarkan punggung ke kursi. Cahaya lampu jatuh tepat di sisi wajahnya, menegaskan garis rahang dan mata yang kini tidak tersenyum.
Mata wanita itu bak menyimpan makna terlarang. Seolah bertanya tanpa suara “Masih pura-pura kuat?”
“That concludes our proposal for the joint expansion strategy,” tutup Jeff secara profesional.
Kavin mengajukan beberapa pertanyaan teknis. Jeff menjawab semuanya tanpa cela. Namun, bahkan saat menjawab Kavin, ia bisa merasakan kehadiran wanita itu, pandangan itu, naik turun dadanya ketika bernapas.
Rapat berlanjut, tetapi bagi Jeff, ruangan terasa menyempit. Udara semakin berat akan panas yang tidak kasat mata. Tidak ada sentuhan. Tidak ada hal yang melanggar batas. Namun ketegangan di antara mereka berdenyut nyata, seperti arus listrik yang terus hidup di bawah meja panjang itu.