Penthouse tertinggi di Jakarta itu masih gelap kecuali cahaya kota yang menyelinap dari kaca setinggi langit-langit. Lift dengan akses pribadi baru saja terbuka, Kavin melangkah masuk terlebih dulu, aura dinginnya langsung memenuhi seluruh ruangan. Wanita itu, yang seluruh gedung hari ini memanggil dengan hormat sebagai calon istri Kavin Alexei Romanov, masuk belakangan.
BRAK!
Kavin menutup pintu penthouse dengan kasar. Tanpa menoleh, ia melepas jas mewahnya dan melemparkannya begitu saja ke sofa. Jas itu jatuh tepat mengenai paha wanita itu. Lalu Kavin membuka kancing kemejanya satu per satu, tapi gerakannya sama sekali tidak sensual … ini seperti orang yang menahan ledakan emosi.
Klik Klik Klik.
Sampai akhirnya ia cabut dasinya, menggenggamnya erat seperti ingin meremas leher seseorang. Sebelum wanita itu sempat bicara, Kavin menyerbu. Tangannya menahan kedua sisi sofa, mengurung wanita itu, napasnya menghantam wajahnya. Bibir Kavin langsung menyambar, melumat bibir wanita itu kasar, seperti lelaki yang kehilangan akal sehat karena rasa yang ia sendiri benci akui.
“Mmmf-Kavin!”
Di sela ciuman yang basah dan tak beraturan, Kavin menggeram, suara yang sekeras badai tapi sekeruh pria yang baru melihat sesuatu yang membuatnya hilang akal.
“I hate you …,” desisnya di bibir wanita itu, “dasar wanita jalang.”
Wanita itu terkekeh kecil. Napasnya sudah sesak, tapi bibirnya tetap menantang bibir sang pewaris Romanov. Ia meraih dasi dari genggaman Kavin, lalu melingkarkan dasi itu ke leher pria bertubuh kekar itu seperti tali kekang. Dasi itu dia tarik keras ke arahnya, membuat bibir mereka kembali menempel.
“Mmm …,” bisiknya manja menggoda, “kamu … lagi cemburu, K?”
Tarikan itu membuat otot rahang Kavin menegang. Serius, kalimat itu membuat dia tersenyum bengis. Bak senyum seorang pangeran es yang mau meledakkan kerajaan. Tangan Kavin meraih pergelangan wanita itu, memindahkannya dan meletakkannya tepat di lekukan lehernya sendiri. Seolah berkata … “Sentuh aku. Sekarang.”
Wanita itu menggeser jari-jarinya, mengelus sendi-sendi leher Kavin, turun sedikit ke tulang selangka. Dan tubuh pria itu, yang seluruh bawahan bisnisnya gemetaran hanya mendengar namanya, mentah-mentah menikmati sentuhannya.
Begitu menikmati sampai …
PLAK!
Wanita itu menampar pipinya pelan.
Kavin mengerang pendek, rahangnya berpaling ke samping mengikuti tamparan itu. Iris abu-abunya perlahan menoleh kembali ke wajah wanita itu. Lapisan hasrat yang cuma keluar pada satu perempuan di dunia ini.
“Kamu tahu kan …,” gumamnya serak, “cuma kamu yang berani sekasar ini padaku?”
Wanita itu menyeringai kecil, membelai pipi yang tadi dia tampar.
“You love it.” jawabnya pelan.
Gelak tawa Kavin lolos. Ia menyelipkan jemarinya ke belakang rambut wanita itu, menggenggamnya, lalu menarik kepala wanita itu ke belakang, membuat lehernya terlihat seluruhnya.
“A-ahh …!” Wanita itu menggigit bibirnya, bukan lirih kesakitan, tapi kenikmatan yang sangat mengundang.
Kavin menunduk sedikit, menatap garis leher itu seperti pria yang sudah menunggu seharian.
“Sekarang …,” bisik Kavin di kulitnya, “jawab aku.”
Wanita itu membuka mata setengah. “Apa?”
Kavin mendekat ke bibirnya hingga hanya sehembus napas memisahkan. “Bagaimana rasanya bertemu suamimu lagi tadi?”
Wanita itu hanya menahan senyum yang hampir lolos.
“Rasa lama bersemi kembali, Callara?” Nada Kavin rendah tapi jelas menuntut jawaban. “Jangan buat aku muntah. Careful with your answer.”
Wanita itu tiba-tiba … tertawa. Tawa kecil yang justru seperti bensin disiram ke bara.
PLAK!
Ia menampar pipi Kavin lagi, kali ini sedikit lebih keras. Kavin tidak menepis, tidak juga marah. Ia justru menyeringai. Senyum tipis yang sangat berbahaya, seperti serigala yang menikmati permainan kecil mangsanya.
“Callara.”
Wanita itu, dengan wajah yang sama sekali bukan wajah wanita yang pernah ditangisi Jeff di makamnya, mengangkat dagu elegan.
“Hmm?” Ia menyeringai. “Mau lagi?”
Kavin berdiri perlahan dari sofa. Tapi bukan menjauh, justru semakin mengurung Callara dengan tubuh tinggi kekarnya. Napasnya keras dan lapar. Bagai pria yang menemukan hantu yang ia jadikan miliknya.
Urat di lehernya tampak tegang ketika ia menjilat bibir bawahnya sedikit. Gerakan kecil, tapi penuh intensitas. Lalu tiba-tiba, Kavin menunduk, menyampirkan tangannya di bawah paha Callara, dan mengangkat tubuh wanita itu.
Callara terkesiap kecil. “Kavin!”
“Kamu pikir aku akan biarkan suamimu menyentuhmu dengan tatapan itu di ruang meeting tadi?” gumamnya gelap, “not a f*****g chance.”
Ia menggendong Callara dengan cara yang sama sekali tidak lembut. Namun tangannya tetap kokoh, seolah ia membawa sesuatu yang rapuh tapi berharga. Mereka berjalan ke arah balkon besar penthouse itu. Pintu kaca terbuka otomatis. Angin malam menerpa kulit mereka, membawa aroma kota yang bercampur dengan aroma air kolam biru berkilau.
Kavin melangkah ke tepi kolam, lalu … perlahan turun ke air sambil tetap menggendong Callara erat, seakan air pun tidak boleh menyentuh wanita itu tanpa izin darinya. Begitu air mencapai pinggangnya, ia berhenti.
Callara memandangnya dari atas, rambutnya sedikit berantakan, bibirnya berkilau bekas ciuman kasar. “Lembut sekali malam ini, Mr. Romanov?” ejek Callara pelan.
Kavin menatapnya beberapa detik terlalu lama.
“Kalau kamu sampai jatuh cinta lagi pada lelaki b******k itu,” katanya datar, “aku habisi dia duluan tanpa menunggu balas dendammu dimulai.”
Kalimat itu serasa membentur d**a Callara keras. Senyumnya melemah, terlihat getir sekarang.
“Rasa, ya?” gumam Callara, “ada.”
Kavin tidak langsung menjawab, ia menatapnya tajam, dan menurunkan tubuhnya perlahan ke dalam kolam. Iris abu-abu itu tidak bergerak, seperti sedang menembus sisa-sisa jiwa yang Callara sembunyikan. Dan di situ, di sorot mata itu, Callara melihat seluruh definisi dari nama Kavin Alexei Romanov.
Pria itu berdiri hanya satu jengkal darinya, tubuhnya bagian atas basah oleh guncangan air kolam, setiap garis ototnya tegas bagaikan pahatan hidup. Cahaya kota memantul di bahunya, mempertegas ketampanan lelaki blasteran Indonesia–Rusia itu.
Kavin memiliki wajah yang terlalu simetris untuk disebut manusia biasa. Rahangnya sangat tegas, garisnya membentuk bayangan maskulin yang memantul di permukaan air. Hidungnya tinggi dan lurus, ciri khas darah Rusia yang dominan, namun melembut oleh nuansa Asia di lekuknya. Kulitnya tan pucat, perpaduan eksotis yang hanya dimiliki sedikit orang di dunia, tidak gelap, tidak putih, tapi warna yang seperti dipahat dari musim dingin dan matahari tropis sekaligus.
Alisnya tebal secara pas, bentuknya rapi alami, membingkai mata abu-abu dingin yang bisa membuat siapa pun merasa telanjaang tanpa disentuh. Bibirnya penuh, terbentuk sempurna, tidak terlalu merah, tidak terlalu pucat, bibir yang terlihat seperti diciptakan untuk dosa dan ancaman. Rambutnya hitam gelap, sedikit bergelombang, jatuh berantakan karena air, membuatnya terlihat lebih … buas.
Jika Kavin diam saja, ia terlihat seperti karya seni mahal. Jika ia marah, ia terlihat seperti badai yang tidak bisa dihentikan. Tapi saat ia menatap Callara seperti ini, dengan mata yang terlalu tajam, terlalu hidup, terlalu menginginkannya, ia terlihat seperti ancaman yang mematikan akal sehat seluruh kaum hawa.
Callara menelusuri garis rahangnya dengan jemari basah. “Kalau maksudmu … rasa lama itu,” bisiknya, “ya. Ada.” Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Kavin. “Rasa ingin sekali menghancurkan laki-laki itu sampai tidak berbentuk. Sepertiku … enam bulan yang lalu.”
Kavin memejamkan mata sejenak. Ia tahu. Ia tahu semuanya. Luka itu, malam itu. Tubuh yang hancur. Napas yang hampir hilang. Karena di malam Callara ditemukan di pinggir pantai Flores, tubuhnya patah, wajahnya rusak, identitasnya … hilang.
Air menyentuh kulit mereka, mengalir pelan. Callara melingkarkan lengannya di leher Kavin, sehingga tubuh mereka nyaris menempel. Mereka … berdansa.
Dalam air yang berkilau, di bawah cahaya kota, seolah waktu kembali ke tempat pertemuan pertama mereka.
“Ingat dansa ini?” tanya Kavin pelan.
Callara tersenyum kecil. “Ingat.”
Ia menarik Kavin sedikit mendekat. “Tapi beberapa bulan lalu,” bisiknya, “kita melakukan ini di laut. Lebih romantis di sana.”
Kavin menempelkan dahinya ke dahi Callara. “Sebentar lagi,” gumamnya, “kita akan kembali ke sana.”
Callara menatapnya dalam. “Untuk berdansa lagi?”
“Bukan,” jawab Kavin, suaranya pelan tapi penuh kegelapan tersirat, “untuk menghancurkan cerita yang belum selesai.”
Napas Callara tercekat. Ia mencium bibir Kavin lembut sekali sampai … !!
“Arghh! Callara,” desis Kavin, rahangnya menegang saat gigi Callara menggigit bibir bawahnya dengan gemas, “dasar wanita binal.”
Callara tersenyum. Tapi … air matanya jatuh. Setetes. Lalu dua. Lalu tiga. Mengalir pelan ke pipinya. Tanpa bisa disembunyikan, tanpa bisa ditahan.
Rasa sakit enam bulan lalu … malam gelap, udara asin, rasa takut akan kematian, rasa hancur dikhianati oleh dua cinta sekaligus, semua naik ke permukaan. Tanpa perisai. Tanpa wajah lama. Hanya luka.
Kavin menatap air mata itu. Lalu tanpa mengalihkan pandangannya, ia menunduk dan menjilat air mata Callara.
Perlahan, seperti menikmati sesuatu yang sangat terlarang.
“Aku akan membakar mereka …,” bisik Kavin tepat di bibir Callara,
“Untukmu.”