Bab 8. Teman kencan

1420 Words
Kinara tampak termenung menatap handphonenya dalam. Matanya terpaku pada pesan link konfirmasi kehadiran untuk undangan reuni akbar fakultas Ekonomi Universitas dimana Kinara kuliah. Link kehadiran ditunggu sampai jam 10 pagi hari ini untuk memastikan berapa banyak undangan yang akan hadir karena berhubungan dengan banyaknya tempat duduk dan makanan yang harus disediakan. Kinara ingin sekali hadir. Ia ingin bertemu Fey, walau hanya melihatnya dari jauh. Hatinya terlalu rindu. Tetapi ia juga memikirkan ucapan Delia sahabatnya yang paling keras menentangnya untuk datang–karena Delia tahu, Kinara belum bisa move on dari sosok Fey. Kinara hanya menghela nafas panjang dan mengalihkan perhatiannya dan kali ini matanya tertuju pada meja makan dimana ibu dan adiknya yang lain sedang asik bercerita pada Samudra yang tengah sarapan bersama. Undangan reuni itu untuk 2 orang, jika ia datang bersama orang lain, pasti tak akan canggung jika bertemu dengan Fey. Tapi tak mungkin Kinara mengajak sang ibu, ia harus mengajak seseorang yang bisa dijadikan alasan untuk menutupi perasaannya pada Fey. Seseorang yang bisa mengalihkan pikiran orang bahwa dirinya masih tergila-gila pada mantan kekasihnya. Seseorang yang tampak lebih dari Fey. Seseorang yang dewasa, tampan, mapan dan bisa diajak kerjasama. Pandangan matanya terhenti pada Samudra. “Mas!” panggil Kinara spontan. Yang dipanggil hanya menoleh sesaat kearah Kinara dan seolah menunggu Kinara melanjutkan ucapannya. Tapi Kinara hanya diam dan memandang Samudra penuh arti. “Ya?” tanya Samudra saat Kinara tak jadi meneruskan perkataannya. “Gak jadi,” jawab Kinara pelan sambil menarik mundur tubuhnya yang tadi duduk dengan tegak. Nyalinya tiba-tiba ciut sebelum ia sempat mengatakan apapun pada Samudra. “Saya pamit dulu ya, tante,” pamit Samudra menyadarkan lamunan Kinara. “Terimakasih loh, sudah mau meluangkan waktu untuk mengantarkan Kinara. Tante mohon maaf ya kalau tadi malam kamu tidurnya kurang nyaman. Salam untuk ibumu dari tante,” ucap Yulia sambil berdiri dan berjalan mengantar Samudra yang telah berdiri lebih dulu dan mengambil tas ranselnya. Tiba-tiba saja Kinara merasa panik melihat Samudra hendak pergi meninggalkan rumahnya. Wajahnya semakin pucat ketika saat sebuah mobil hitam besar berhenti di depan rumah keluarga Kinara. “Siapa itu?” tanya Karina ketika ikut mengantar dan melihat sebuah mobil berhenti. “Itu supir kantor yang datang menjemput– biar memudahkan kalau mau jalan-jalan di seputaran Bandung,” jawab Samudra sambil tersenyum dan mengacak-acak rambut Karina. “Aku pamit ya,” ucap Samudra menoleh ke arah Kinara yang sedari tadi hanya diam. “Tunggu!” ucap Kinara tiba-tiba menahan langkah Samudra dengan menarik tangannya perlahan. Samudra menatap Kinara heran, gadis itu seperti ingin mengatakan sesuatu dari tadi tapi tak terucap. “Kenapa Kin?” tanya Yulia yang heran melihat sikap anak sulungnya yang tiba-tiba kikuk. “Gimana kalau kamu ikut aku sebentar? Aku mau cari toko oleh-oleh,” pinta Samudra tiba-tiba. Kinara segera menganggukan kepalanya seraya berkata, “Tunggu sebentar , aku ganti baju dulu.” Kinara segera berlari kedalam dan dalam waktu sekejap ia telah kembali lalu berpamitan pada ibu dan kedua adiknya sebelum ikut masuk ke dalam mobil yang menjemput Samudra. Di dalam mobil Kinara duduk dengan kaku, sedangkan Samudra segera menarik topi yang dikenakannya menutupi muka untuk tidur. Ia masih merasa mengantuk dan tak sabar untuk sampai di hotel agar bisa melanjutkan tidur. “Ada apa?” tanya Samudra tanpa menoleh kearah Kinara yang diam membisu. Ia sengaja mencari alasan agar Kinara bisa ikut dan menceritakan apa yang ingin sedari tadi gadis itu ingin katakan tapi ia tahan. “Mas, hari ini aku ada reuni kuliah. Aku mau minta tolong sama mas Sam buat nemenin aku dateng ke acara itu nanti malam,” ucap Kinara dengan suara pelan. Samudra segera menoleh dan menatap Kinara dalam. “Hanya itu?” tanya Samudra pendek. Ia merasa heran, untuk mengajaknya pergi saja Kinara begitu gugup. “Kenapa mengajakku? Kamu gak ada teman lain yang bisa diajak pergi?” tanya Samudra menambahkan. “Aku harus pergi dengan seseorang yang lebih dari Fey,” jawab Kinara spontan. Mendengar nama Fey, Samudra langsung teringat dengan notifikasi yang muncul di handphone Kinara kemarin. “Oke.” Jawaban pendek Samudra membuat Kinara terbelalak. Dengan mudahnya pria disampingnya ini mengiyakan tanpa menanyakan alasannya. “Mas, beneran mau, kan?” ulang Kinara seolah ingin memastikan ucapan Samudra. “Ck, iya. Jam berapa acaranya? Yang jelas aku harus tidur dulu dan jangan ganggu aku.” Mendengar ucapan Samudra, Kinara tersenyum senang dan segera mengkonfirmasi link undangan untuk menyatakan bahwa ia akan hadir. Sekilas ia menatap ke arah Samudra penuh rasa terimakasih lalu duduk dengan tenang mengikuti mobil ini pergi entah kemana. *** “Halo,” sapa Kinara pelan dengan suara parau karena baru bangun dari tidur siangnya. “Tukang tidur, ayo bangun! Katanya mau pergi ke acara reuni?” Kinara segera membuka matanya ketika mendengar ucapan Samudra. Ia segera menatap handphonenya cepat. “Mas, acaranya masih jam 7 malam. Ini masih pukul 1 siang,” keluh Kinara karena tidur siangnya terganggu. Setelah mengantar Samudra sampai hotel, Kinara memutuskan untuk kembali pulang agar bisa memiliki waktu banyak untuk menyiapkan diri sebelum acara reuni. Tetapi ia tak bisa bohong bahwa ia merasa mengantuk, apalagi tidurnya hanya sebentar dan tak nyenyak sehingga memutuskan untuk tidur siang. “10 menit lagi aku sampai depan rumah, aku tunggu kamu di depan.” Klik. komunikasi itu pun terputus dan membuat Kinara benar-benar terjaga. Ia sedikit merasa panik, lalu segera mandi dan mengganti pakaiannya. Benar saja, mobil hitam itu sudah berada depan rumahnya, terbuka dengan otomatis dan terlihat Samudra duduk dengan santai seraya berkata, “Naik.” “Mau kemana kita mas?” tanya Kinara ragu. “Katanya kamu harus pergi dengan seseorang yang lebih dari Fey, jadi aku harus berbelanja pakaian karena aku tak membawa baju yang cocok untuk acaramu nanti.” Mendengar ucapan Samudra, Kinara segera masuk ke dalam mobil. Ia merasa setuju dengan ucapan Samudra, pria ini harus terlihat keren ketika datang bersamanya. Akhirnya mereka berhenti di salah satu Mall dan dengan cepat Samudra berbelanja pakaian untuknya. “Acaranya semi formal, kan?” tanya Samudra memastikan pada Kinara. Gadis itu pun hanya mengangguk. Setelah puas dengan belanja pilihannya, Samudra segera menoleh ke arah Kinara dan mengambil sebuah dress berwarna pastel lalu menempelkannya pada tubuh Kinara. “Saya ambil ini ukuran M, ” ucap Samudra sambil memberikan dress itu tanpa menyuruh Kinara mencobanya. “Mas, gak usah! Aku sudah menyiapkan pakaian yang akan aku gunakan untuk malam nanti,” bisik Kinara cepat merasa tak enak hati. “Aku harus lebih dari Fey, bukan? Kalau aku tampilannya lebih baik dari Fey, tandanya kamu harus berpenampilan yang serasi denganku. Kalau penampilan kita jomplang, kelihatan palsunya,” bisik Samudra sambil mengedipkan sebelah matanya pada Kinara. Kinara terdiam. Ia belum menceritakan apapun tentang Fey pada Samudra, tetapi pria ini seolah sudah bisa menebak apa yang terjadi. “Mas, boleh kalau nanti ada yang bertanya jangan bilang kalau kamu sepupuku?” tanya Kinara perlahan. “Ok.” Kinara menundukan wajahnya sesaat, ia merasa malu karena niatnya terbaca oleh Samudra, pria itu pasti menyangka ia sangat kekanak-kanakan, tapi ia benar-benar ingin bertemu Fey. “Saatnya mencarikan sepatu untukmu, setelah itu kita ke salon,” ajak Samudra. “Sa.. salon? Akh, aku cukup dandan sendiri saja mas.” “Sudah tak ada waktu. Setelah dari salon kita ganti pakaian lalu berangkat ke tempat reuni. Jalanan Bandung kalau weekend gini ternyata sangat ramai dan macet.” Kinara hanya bisa diam menatap Samudra tak menyangka pria itu malah telah memikirkan semua hal dengan serius padahal hanya untuk menemaninya datang ke acara reuni. Samudra tampak puas dan senang melihat Kinara yang kini terlihat cantik dan anggun ketika selesai di dandani dan berganti pakaian. Sambil menunggu Kinara, Samudra pun telah berganti pakaian dan tampak rapi dengan pakaian barunya. “Kamu cantik!” puji Samudra sambil mengelus wajah Kinara bangga. Kinara hanya tersipu malu dan berjalan mengikuti langkah Samudra dibelakang. Samudra menghentikan langkahnya seolah menunggu Kinara agar berjalan sisinya. Melihat Kinara yang cantik, spontan Samudra merangkul pinggang Kinara perlahan, sedangkan Kinara hanya melirik ke arah Samudra dengan pandangan bingung. Tetapi pria itu segera membalas pandangan Kinara lalu berkata, “Malam ini aku kerja buat kamu. Jadi pacar sewaan untuk satu malam.” “Pacar sewaan?” “Itu kan yang kamu butuh dariku? Ayo kita bikin si Fey itu cemburu,” bisik Samudra menggoda Kinara. Entah mengapa ia menikmati permainan ini. Ada rasa penasaran di hati Samudra tentang sosok Fey, sampai Kinara memintanya menemani. “Bukan itu rencananya, aku gak berniat begitu,” jawab Kinara mencoba meluruskan arah pikiran Samudra. Tapi pria itu tampak tak peduli, dengan santainya ia merangkul leher Kinara sambil terus berjalan menuju mobil mereka. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD