Bab 7. Bermalam dirumah Kinara

1162 Words
“Mas , cobain deh! Gak usah pake tambahan keju atau apapun, pisang goreng mama itu enak banget! Pisangnya manis, renyah diluar lembut didalam,” ucap Karina menyodorkan piring pisang goreng itu ke arah Samudra, membuat pria itu merasa sedikit lega karena mengalihkan tawaran Yulia untuk menginap dirumah. Samudra segera mengambil sebuah pisang goreng ukuran kecil dan langsung menggigitnya perlahan. Ada perasaan lega di hati Kinara ketika melihat Samudra mengangguk tampak setuju kalau pisang goreng buatan ibunya enak. “Gara-gara pisang goreng ini kami bisa sekolah!” celetuk Kartika bangga, langsung memeluk sang ibu. “Tunggu tiga tahun lagi ya,” gumam Yulia sambil mencium kepala anak bungsunya. “Kalau mama pensiun, kita buka toko pisang goreng.” “Kok nunggu tiga tahun, Tante?” tanya Sam spontan. “Sekarang belum bisa maksimal,” jawab Yulia tenang. “Masih ngantor. Kalau dipaksa, hasilnya malah setengah-setengah.” Samudra terdiam. Senyum Yulia sederhana, tapi penuh ketabahan. “Ma, apa kata pak Wahyu soal bocor ini?” tanya Kinara tiba-tiba. “Siapa pak Wahyu?” tanya Samudra reflek ingin tahu. “Pak Wahyu ini adalah pemilik rumah. Kami mengontrak sudah lama disini,” jawab Yulia sambil menuangkan teh panas dari teko ke gelas kosong Samudra. “Dia bilang akan membantu memperbaiki kebocoran ini tapi hanya bisa seadanya karena kondisi rumah ini memang sudah tua. Mau gimana lagi? Kami terasa berat jika harus pindah dari rumah ini,” Yulia menambahkan. “Kenapa tante? Masih banyak rumah yang lebih layak,” tanya Samudra mencoba memahami. “Walau rumah ini rumah tua, tapi cukup besar untuk kami berempat. Lokasi rumah ini pun berada di tengah kota, sehingga memudahkan kami untuk kemana-mana dan menghemat waktu. Tante hanya perlu bertahan sampai anak-anak mandiri,” ucap Yulia sambil menghela nafas panjang seolah mengeluarkan rasa lelahnya tapi terasa ikhlas. Samudra hanya diam, ia merasa tersentuh dengan perjuangan Yulia untuk anak-anaknya. Mereka tidak miskin tapi memang kebutuhan mereka lebih besar dari apa yang mereka dapatkan sehingga harus terus berjuang agar bisa tercukupi. “Kartika, ayo bersihkan kamarmu. Mas Samudra akan menginap disini malam ini,” ucapan Yulia membuat Samudra kembali tersedak. “Gak usah ma! Mas Samudra sudah memesan hotel, sayang kalau tidak ditempati,” ucap Kinara cepat. “Tapi sudah lebih dari jam 11 malam, lebih baik menginap saja, besok baru ke hotel.” “Tapi–” “Baik tante, semoga saya gak merepotkan menumpang semalam,” potong Samudra tiba-tiba. “Mas!” “Kamu kok pelit gitu sih, Kir?! Samudra nya sudah mau, kamu malah melarang. Tenang saja, tidak merepotkan. Malah kami yang sering merepotkan ibumu dan kemarin Kinara yang merepotkan dengan tinggal dirumah kamu. Ayo Kartika bersihkan kamarnya, dan Karina ayo bawa barangmu ke kamar mama, malam ini kita tidur ber 3.” Kinara hanya bisa diam menatap Samudra cemas. “Mas, rumahku …” “Kenapa? Rumahmu baik-baik saja. Aromanya sedikit lembab karena dari bocor, tapi bersih dan terawat. Kok kamu gak bisa serapi ini kemarin?” goda Samudra sambil mencubit pipi Kinara. “Kamu tidur dimana?” tanya Samudra sambil mencomot pisang goreng sambil bersandar disofa. “Kamarku di depan sana,” jawab Kinara pendek. Pembicaraan mereka terhenti saat Kartika memberitahu bahwa kamar tidur untuk Samudra sudah siap. Kedua gadis itu akhirnya berpamitan pada Samudra untuk tidur dan yang tertinggal hanya Kinara. “Di dalam kamar kartika dan Karina ada kamar mandi sendiri. Kamar mandi itu bersih dan kering. Kasurnya mungkin agak sedikit keras tapi sprei nya …” “Stt, Tidur sana. Mata kamu sudah merah,” usir Samudra sambil mendorong pelan Kinara keluar dari kamar yang akan ia gunakan untuk tidur. “Mas–” “Aku juga capek. Selamat istirahat,” pamit Samudra tersenyum pada Kinara sebelum ia menutup pintu. Kinara berdiri terpaku sesaat, menatap pintu yang tertutup. Entah sejak kapan, kehadiran Samudra membuat rumah sederhana itu terasa berbeda. *** Samudra terbangun perlahan ketika ia mendengar suara tivi diluar kamar. Perlahan ia menyadari bahwa ia tengah menginap dirumah Kinara dan baru terlelap hampir dua jam. Samudra membuka pintu kamar perlahan hanya ingin mengintip siapa yang masih bangun. Wajahnya terkejut dan merasa heran ketika ia melihat Kinara tengah meringkuk disofa, berselimut sambil menonton tivi. “Kinara.” “Mas? Kok bangun? Suara tivinya terlalu keras ya?” Samudra berjalan perlahan menghampiri Kinara, dan menatap bantal dan selimut disofa. “Kamu tidur disini?” “Iya. kamarku bocor tepat diatas ranjang. Jadi tak bisa kutiduri.” Samudra segera menarik selimut dan bantal Kinara perlahan dan mematikan tivi. “Ayo, kamu tidur dikamar adikmu saja.” “Loh, mas Samudra?” “Aku tidur disini.” “Jangan mas! Lebih baik mas Samudra tetap tidur didalam. Aku terbiasa kok tidur di sofa.” Kali ini Samudra tak bicara tetapi menarik tangan Kinara perlahan untuk mengikutinya. Kinara menahan langkahnya ketika Samudra mengajaknya masuk ke dalam kamar Kartika dan Karina. “Ayo tidur,” suruh Samudra sambil menutup pintu kamar sehingga mereka berdua berada dikamar yang sama. “Mas–” “Aku tahu kamu gak bisa tidur disofa itu sebenarnya. Sofa itu terlalu kecil untuk bisa selonjoran. Kita tidur bergantian saja. Aku sudah tidur barusan dan ingin mengerjakan pekerjaan sedikit. Kamu tidur duluan, menjelang subuh aku akan membangunkanmu.” Kirana terdiam. Samudra benar, sofa itu terlalu kecil untuk bisa membuatnya tidur nyaman. Tubuhnya lelah, matanya mengantuk dan tawaran Samudra menggiurkan untuknya. Ia juga tahu Samudra sering begadang karena pekerjaan. Ibunya tak akan mengetahui kalau mereka berada dikamar yang sama bergantian untuk tidur. “Tapi kalau mas Samudra sudah mengantuk, bangunkan saja aku. Biar aku pindah lagi ke sofa,” ucap Kinara sambil berbaring ragu. Sedangkan Samudra sudah sibuk mengambil laptop dan membukanya di meja belajar kecil milik adik-adik Kinara. Melihat Samudra mulai sibuk dengan laptopnya, Kinara pun memejamkan mata dan dalam hitungan detik, ia sudah terbang ke alam mimpi. Rasanya baru sekejap saja ia tidur, kini gadis itu sudah mendengar sayup-sayup suara Azan. Kinara menggeliat perlahan dan menyadari bahwa kepalanya membentur sesuatu. Matanya langsung terbelalak saat ia melihat Samudra tengah tidur sambil memeluknya dari belakang diatas ranjang yang sama. “Mas!” panggil Kinara panik sambil membangunkan Samudra. Samudra terbangun tampak terkejut dan menatap Kinara sambil mengantuk. “Kok aku gak dibangunin?! Kita sudah deal kalau kamu ngantuk, aku akan dibangunkan?” tanya Kinara panik sambil segera bangkit dari tidur dan melompati tubuh Samudra yang kembali berbaring karena masih ingin tidur. Samudra hanya diam, dan kembali memejamkan mata sedangkan Kinara segera merapikan rambutnya lalu perlahan keluar dari kamar. “Kinara? Kok kamu keluar dari kamar Samudra?” Panggilan seseorang membekukan langkah Kinara dan segera menoleh kearah suara. Ada Yulia yang tengah berdiri masih mengenakan mukena tampak baru selesai sholat subuh. “Aku tadi mau bangunin mas Samudra, dia minta dibangunin subuh,” jawab Kinara spontan. “Sudah bangun Samudranya?” “Belum.” “Bangunkan pelan-pelan, setelah sholat subuh kalau dia mau tidur lagi biarkan saja, mungkin dia masih lelah.” Kinara hanya mengangguk pelan, kembali masuk ke dalam kamar perlahan tanpa merapatkan pintu untuk membangunkan Samudra. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD