“Duduk dan makanlah,” suruh Samudra sambil menyajikan sepiring steak diatas meja makan.
Kinara masih berdiri mematung, menatap Samudra yang sengaja memasak untuknya karena ia belum makan sama sekali dari siang. Samudra segera menarik tangan Kinara agar gadis itu segera duduk.
“Makan dan habiskan,” perintah Samudra dengan suara pelan menatap Kinara iba.
Gadis itu mengangguk lalu mulai makan. Matanya sembab, walau sudah tak menangis tetapi wajah itu masih basah dan tubuhnya masih sesegukan spontan. Samudra menghela nafas panjang sesaat.
Beberapa saat yang lalu gadis itu masih menangis tersedu-sedu dan Samudra segera mencoba menenangkannya, lalu menyuruhnya membersihkan diri sebelum bercerita apa yang terjadi.
“Aku malu mas, aku mengerti apa yang mereka katakan. Aku tahu apa solusinya, tapi entah mengapa otakku buntu. Aku berusaha bicara semampu yang aku bisa,tapi mereka hanya diam, dan langsung melemparkan pertanyaan pada tim lain tak menungguku menyelesaikan bicara.”
Samudra menghela nafas kembali ketika teringat cerita Kinara saat interviewnya tadi. Sudah terbayang bagaimana perasaan Kinara. Perusahaan yang memanggilnya adalah perusahaan besar dan multinasional. Ternyata tak hanya dia yang ada disana. Berada satu ruangan dengan beberapa pesaing membuatnya kepercayaan dirinya hancur.
Hanya karena ia bukan lulusan universitas luar negeri dan bahasa inggrisnya tak selancar yang lain, membuat Kinara merasa ia dianggap sebelah mata. Saat study case tak ada yang mau satu tim dengannya.
Ia terpaksa presentasi sendiri, dengan mengerahkan kemampuan yang ia punya. Tentu saja mentalnya drop ketika mendengarkan presentasi tim lain yang lebih bagus, bisa merespon pertanyaan penguji dengan lebih cepat. Sampai akhir interview Kinara akhirnya hanya banyak diam. Jika yang lain saling bertukar nomor handphone setelah wawancara, tak ada satupun yang mendekati Kinara dan berteman dengannya.
Awalnya Kinara tak peduli, toh ia datang untuk melamar pekerjaan bukan mencari kerja, tapi ia tidak bisa bohong kalau perasaannya terluka. Mimpi buruknya tak berakhir disitu. Saat selesai interview, waktu sudah sore, dan Jakarta tengah diguyur hujan lebat. Ia hanya bisa menunggu sampai hujan reda agar bisa segera pulang.
Tapi hujan tak kunjung reda, perlahan ia mulai berjalan menuju arah pulang berbekal maps online di tangannya. Payung yang ia bawa pun terbawa angin entah kemana karena tangannya yang kurus tak cukup kuat menahan. Sampai detik terakhir tak ada satupun kendaraan online yang mau mengantarnya. Naik taksi? Kinara tak mampu membayarnya. Sedangkan kendaraan umum sudah penuh sesak.
“Mas, biar aku saja!” ucap Kinara ketika Sam mengambil vacuum cleaner yang bisa untuk mengepel dan mulai membersihkan genangan air bekas tetesan di baju Kinara.
“Stt! Habiskan saja makananmu, “ suruh Samudra kembali mendorong Kinara ke meja makan lalu kembali menyelesaikan pekerjaannya untuk membersihkan jejak air di lantai.
Kinara pun menurut, sedangkan Sam kini sudah berada didepan pintu kamar Kinara lalu membuka pintu itu lebar-lebar kemudian mulai membersihkan lantai kamar. Kini yang tercium hanyalah aroma parfum yang Samudra berikan pada Kinara. Tak sengaja ia melirik kearah Handphone Kinara yang tiba-tiba menyala, tanda ada pesan masuk ke dalamnya.
“Fey, fix akan datang bersama Tasya, saranku lebih baik kamu tak usah datang Kinara.”
Notifikasi pesan itu terbaca oleh Samudra, membuat Samudra mengernyitkan dahinya sesaat. Tapi Samudra segera keluar dari kamar dan menemukan Kinara tengah mencuci piringnya.
“Sini, minum ini,” suruh Samudra membuatkan teh jahe untuk Kinara dan menyuruh Kinara untuk duduk bersamanya.
Kinara menurut dan menundukan pandangannya ketika Samudra mengusap matanya perlahan karena bengkak.
“Jangan menangis seperti ini lagi, dunia kerja memang keras, dan perusahaan besar seperti itu tak akan menunggu orang yang untuk menjadi layak, mereka akan mencari orang yang bisa cepat mengikuti keinginan mereka untuk bisa menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya. Tapi bukan berarti kamu jelek, tandanya jika kamu ingin masuk ke perusahaan seperti itu, standarmu dirimu harus lebih tinggi lagi.”
Kinara meremas celana piyamanya pelan.
“Jakarta bukan untukku mas,” gumam Kinara pelan.
“Jangan nyerah gitu dong, toh ada 2 perusahaan lain yang masih kamu tunggu jawabannya. Selain itu kamu juga masih bisa melamar ke perusahaan yang lain. Mana cv mu, coba aku lihat,” ucap Samudra menyemangati.
Kinara menggelengkan kepalanya perlahan dan menatap Samudra dalam.
“Aku mau pulang ke Bandung aja mas,” jawab Kinara pelan.
“Pulang?”
“Iya. Urusanku disini sudah selesai. Lebih baik aku pulang sambil mencari pekerjaan lain di Bandung. “
Mendengar ucapan Kinara, Samudra terdiam. Hampir 10 hari mereka tinggal bersama, tapi entah mengapa ia mulai terbiasa.
“Kapan kamu akan pulang?” tanya Samudra lagi.
“Besok.”
“Besok?”
“Iya, lebih cepat lebih baik.”
“Besok aku yang akan mengantarmu ke Bandung,” ucap Samudra tiba-tiba dan mendapatkan pandangan bingung dari Kinara.
“Biar aku yang mengantarmu besok malam, kita naik woosh saja,” ucap Samudra sambil menyambar handphonenya untuk mengecek jadwal keberangkatan.
“Gak usah mas, aku bisa pulang sendiri. Aku gak mau merepotkan lagi….”
“Stt, cepat ambil ktp mu, biar aku belikan tiketnya online sekalian,” ucap Samudra tak ingin di bantah. Kinara hanya diam menatap Samudra dalam sebelum ia berdiri untuk mengambil ktp di dalam kamar tidurnya.
***
Kinara sedikit berlari mengikuti langkah Samudra yang berjalan cepat sambil menyeret koper milik Kinara sedangkan pria itu hanya membawa tas ransel yang ia cantol di bahu.
Sebenarnya Jumat adalah hari yang paling sibuk untuk Samudra karena ia harus membereskan semua pekerjaannya agar akhir pekannya tak terganggu. Tapi ia sudah berjanji untuk mengantar Kinara pulang ke Bandung sehingga ia memesan tiket paling malam agar ia bisa membereskan urusannya terlebih dahulu. Malam itu stasiun KCIC ternyata sangat ramai, Samudra segera menarik tangan Kinara dan menggenggamnya erat agar tak terpisah.
Ini pertama kalinya Kinara naik kereta cepat sehingga Samudra merasa harus menuntunnya. Melihat Kinara sedikit bergidik karena kedinginan Samudra segera melepas jaketnya dan menutupi tubuh Kinara cepat. Kinara hanya diam tak menyadari karena terlalu asik untuk menikmati pengalaman pertamanya.
“Mana alamat rumahmu?” pinta Samudra sambil mengambil handphonenya.
Tawaran spontan untuk mengantarkan Kinara ke Bandung sebenarnya mengejutkan dirinya sendiri, tapi akhirnya Samudra memutuskan untuk menghabiskan akhir pekannya di Bandung sekalian. Menghilang sesaat dari hiruk pikuk kehidupannya yang padat.
Ia sudah memesan kamar di hotel yang agak menjauh dari kota Bandung. Ia sengaja melakukan itu agar ia bisa menikmati harinya walau hanya dihotel saja. Kinara segera memberitahu alamat rumahnya pada Sam, tak lama kereta pun berjalan dan selama 30 menit, kedua sepupu asik dengan dunianya sendiri.
“Ayo masuk mas,” ajak Kinara ketika mereka sampai didepan rumah Kinara. Samudra tampak memperhatikan rumah itu dalam-dalam. Rumah kontrakan ini berukuran sedang, dengan halaman juga masih ada garasi untuk mobil yang tampak kosong.
Terdengar suara ramai dari dalam rumah ketika mendengar suara Kinara mengucapkan salam.
“Ma, mbak Kinara pulang!” sambut Kartika sang adik ketika melihat kakak sulungnya.
“Loh, kok malam banget datengnya? Sama siapa?” tanya Yulia segera keluar dari kamar tidurnya menyambut anak sulungnya pulang dan melihat ada seseorang dibelakang tubuh Kinara.
“Assalamualaikum tante, saya Samudra,” ucap Samudra mengenalkan diri. Sudah pasti Yulia akan lupa pada dirinya karena mereka memang jarang sekali bertemu.
“Ya Allah! Samudra! Kamu sudah dewasa dan ganteng sekali! Mari duduk, mau minum apa? Kartika, Karina! Sini, ada mas Samudra yang rumahnya ditumpangi oleh Kinara,” ucap Yulia cepat dan ramai memanggil kedua anak gadisnya yang lain.
Samudra hanya tersenyum dan segera duduk di salah satu sofa yang berada di ruang keluarga.
“Nih, mbak bawain oleh-oleh,” ucap Kinara sambil mengeluarkan beberapa buah coklat dari tasnya untuk diberikan kepada kedua adiknya.
Ditraktir naik woosh oleh Samudra membuat dompetnya sedikit bernafas dan bisa memberikan oleh-oleh untuk kedua adiknya walau hanya berupa coklat yang ia beli diminimarket.
Samudra tampak tertegun ketika melihat reaksi Kartika dan Karina yang merasa senang dengan oleh- oleh yang mereka terima. Hadiah biasa tapi terlihat indah dimata mereka.
Diantara keriangan adik - adik Kinara, Samudra mencium bau lembab dan basah disekitar rumah, lalu melihat ada beberapa ember disudut - sudut rumah. Rumah ini ternyata bocor.
Tetesan itu kembali muncul karena tak lama kemudian, hujan kembali turun dengan derasnya.
“Waduh hujan lagi! Ayo cepat cek ruangan kalian, takutnya ada yang bocor lagi,” suruh Kinara segera berjalan menuju ember-ember untuk mengisinya dengan kain agar airnya tak terciprat keluar ember dan membasahi lantai.
Melihat hujan turun dengan deras, Samudra memutuskan untuk segera meninggalkan rumah Kinara. Lebih baik ia segera ke hotel agar tak mengganggu keluarga kecil itu lebih lama.
“Aku pamit ya,” bisik Samudra pada Kinara yang kembali menghampiri dirinya setelah membereskan urusan ember di sekitar rumahnya.
“Mau kemana? Masih hujan diluar, tante sudah buatkan teh panas dan sepiring pisang goreng. Ayo dicoba, mama kamu paling suka pisang goreng buatan tante,” ucap Yulia tiba-tiba muncul setelah menghilang cukup lama.
Samudra hanya tersenyum tipis, sedangkan Kinara tampak kikuk karena takut Samudra merasa tak nyaman berada dirumahnya, melihat pria itu hanya duduk kaku.
“Mas Samudra harus segera kembali ke hotel, ma. Soalnya dia belum check in,” jawab Kinara cepat mengingat cerita Samudra bahwa pria itu sudah memesan hotel saat di kereta tadi.
“Menginap disini saja! Ngapain di hotel, kamu bisa tidur dikamar Kartika dan Karina, biar mereka berdua tidur sama tante. Jangan boros.”
Mendengar ucapan Yulia membuat Samudra terbatuk-batuk sesaat, begitu pula dengan Kinara yang raut wajahnya terlihat cemas. Ia tahu Samudra tidak mungkin mau tinggal lama-lama dirumah mereka yang kondisinya seperti saat ini, apalagi menginap.
Bersambung