Bab 5. Yang tak sepadan

1559 Words
Setelah Samudra dan Alina pergi, Kinara mulai keluar dari kamar dan melihat bu Irma sudah sampai untuk membersihkan rumah. “Kok baru keluar kamar, mbak? Kata mas Sam, mbak Kinara belum sarapan. Mau ibu buatkan apa?” tanya bu Irma ketika melihat Kinara keluar dari kamarnya dengan wajah sendu. Kinara hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya perlahan. “Gak apa-apa bu, biar nanti saya buat sendiri saja.” “Ibu hari ini datang lebih siang karena mas Sam minta ibu untuk berbelanja bahan makanan. Ibu juga sudah belikan buah-buahan buat mbak Kinara.” “Buat saya?” tanya Kinara heran. “Iya, disuruh mas Sam. Katanya lebih baik mbak Kinara banyak makan buah daripada makan instan terus. Jangan lupa dimakan buahnya ya mbak.” Mendengar ucapan bu Irma, hati Kinara kembali hangat. Ia merasa terharu karena Samudra perhatian padanya. Tiba-tiba matanya tertuju pada keranjang pakaian kotor yang terdapat kemeja wanita. Kemeja itu milik Alina yang tadi malam ia kenakan. “Mbak Alina sering menginap disini ya, bu?” tanya Kinara spontan. “Iya. Ibu gak ngerti deh hubungan mereka apa, tapi kalau hanya rekan kerja kayanya gak mungkin. Mereka terlalu akrab dan intim. Mbak Alina itu kata mas Sam adalah asistennya, tapi masa ada asisten bisa nginep dirumah atasan. Kalau gak pacaran, apa namanya. Lagi pula ibu juga gak mau terlalu cari tahu, gak enak. Anak jaman sekarang pada berani. Semoga bu Ratna gak pernah tahu–karena bu Ratna orangnya agamis, gak mungkin membiarkan anaknya begitu.” Mendengar komentar Bu Irma, Kinara hanya diam. Ada perasaan tak enak dihatinya, tapi perasaan itu segera ia tepis sambil tersenyum kecil ketika ia menyadari ia sedikit merasa cemburu. “Baru diperhatiin dikit aja, udah baper! Dasar hati recehan!” ejek Kinara dalam hatinya pada dirinya sendiri. Perlahan ia menghela nafas seolah mencoba kembali ke dunia nyata, bahwa ia ada disitu bukan untuk mendapatkan perhatian Samudra, tapi hanya menumpang sampai interview kerjanya selesai. Toh, mereka pun bersaudara walau sudah jauh. “Mbak Kinara memangnya gak punya pacar?” Pertanyaan Bu Irma membuat Kinara tiba-tiba tersedak. Pacar? Tentu saja ia pernah punya. Toh wajahnya cukup cantik dan ada beberapa pria yang naksir berat padanya. Tapi entah sejak kapan ia tak pernah tertarik lagi untuk jatuh cinta. “Pernah punya bu,” jawab Kinara pendek. “Kok gak cari lagi? Usianya sudah cukup dewasa untuk punya pasangan tetap,” tanya bu Irma sambil memasukan pakaian kotor ke dalam mesin cuci. Kinara hanya diam, tiba-tiba sebuah raut wajah melintas dibenaknya sesaat. Raut wajah itu milik Fey, pria yang pernah membuatnya jatuh cinta juga membuatnya tak ingin jatuh cinta lagi. “Nanti aja bu, saya cari kerja dulu. Kata orang kalau sudah jodohnya, gak dicari pun pasti ketemu.” “Gak gitu, mbak. Kita juga tetap harus berusaha, apalagi sekarang laki-laki makin sedikit dan saingannya juga laki-laki lagi! Ampunnn deh! Jaman memang sudah edan!” Kinara hanya bisa menghela nafas, duduk terdiam mendengar komentarnya tentang dunia, hubungan manusia versi pikiran bu Irma. Tapi pikirannya menerawang jauh. Saat ini Kinara harus menepis jauh-jauh keinginannya memiliki pasangan. Sepi? Apa itu sepi? Ada keluarga di Bandung yang menunggunya di bantu agar bisa tetap tinggal dirumah kontrakan, makan juga sekolah. Tak ada waktu untuk cinta. *** Samudra baru saja masuk ke dalam rumah dan segera meletakan kunci mobilnya di atas nakas yang tak jauh dari ruang keluarga. Tak sengaja ia melihat Kinara yang tengah duduk membaca tampak serius, “Kinara.” “Eh, mas.” “Kok baca ditempat temaram begitu, hidupkan saja lampunya,” suruh Samudra saat melihat Kinara membaca dibawa lampu kecil diatas meja. “Oh, sudah selesai kok mas, cuma baca sedikit untuk persiapan interview besok.” “Jam berapa interview nya? Biar aku antar,” tanya Samudra sambil melepaskan sepatunya menawarkan diri. “Gak usah mas, aku bisa berangkat sendiri. Hmm, sudah malam, aku pamit tidur dulu ya mas,” ucap Kinara sambil berdiri perlahan tampak sungkan. “Hmm, ok. Tidur yang nyenyak,” balas Sam sambil bergerak untuk meletakan sepatunya di lemari sepatu. Kinara hanya mengangguk dan segera masuk ke dalam kamarnya. Sudah hampir tiga hari Samudra tak berbincang panjang dengan Kinara. Selain karena kesibukannya sendiri, Kinara pun tampak sibuk dengan semua urusannya. Kemarin adalah hari interview kedua Kinara, tapi Samudra belum sempat menanyakan hasilnya. Dan tak terasa besok adalah interview ketiga untuk Kinara. Samudra menatap jam di dinding, waktu masih menunjukan pukul 8 malam, belum terlalu malam untuk makan cemilan kecil. Perlahan ia mengetuk pintu kamar Kinara dan Kinara pun membukanya. “Kata mama, kamu suka sekali martabak. Mau aku belikan?” tanya Samudra. Kinara hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya perlahan seraya berkata, “Gak usah mas, terimakasih. Aku mau tidur lebih cepat.” “Jam 8 malam, sudah mau tidur?” Kinara hanya mengangguk sambil menunduk, menghindari pandangan Samudra yang seolah mencari pandangan matanya untuk bertemu. “Ya sudah kalau begitu, kalau butuh sesuatu beritahu aku,” ucap Samudra sambil mengacak-acak rambut Kinara perlahan. Gadis itu hanya mengangguk lalu kembali menutup pintu kamarnya. Merasakan pintu kamar itu kembali ditutup, spontan Samudra menoleh kebelakang dan menatap pintu kamar Kinara sesaat, entah mengapa ia merasa Kinara menjaga jarak padanya. Tapi pikiran itu segera ia tepis dan segera menuju kamar tidurnya sendiri. Sedangkan di dalam kamar Kinara tengah mencoba membaringkan dirinya. Pikirannya tengah kacau. Seharian ini ia berusaha untuk konsentrasi untuk interviewnya besok tapi kabar dari Bandung mengacaukan hatinya. Adiknya baru saja memberi kabar bahwa hujan lebat membuat rumah mereka kembali bocor, tentu saja memperbaikinya perlu biaya. Dan disaat yang sama undangan reuni angkatan kuliahnya tiba-tiba muncul. Hasrat hati tiba-tiba ingin hadir karena akan ada Fey disana. “Fey mungkin akan datang bersama Tasya, kamu gak apa-apa?” pertanyaan Delia salah satu sahabat karibnya menghujam tajam langsung ke hati Kinara. “Aku tak ingin kamu kembali terluka karena mereka,” tambah Delia. Terluka? Sudah pasti! Dari dulu juga perasaannya sudah terluka dan mungkin belum sembuh sampai sekarang. Tetapi mendengar nama Fey disebut saja, air matanya sudah tergenang di pelupuk mata. Rasa sakit itu seolah terkubur oleh rasa rindu. Entah mengapa hati ini masih merindukan Fey, walau ia telah disakiti. Kinara segera memejamkan matanya ketika ia mendengar pintu kamarnya kembali diketuk. Kali ini ia tak ingin menjawab panggilan Samudra atau bangkit untuk membukakan pintu. Mata Kinara semakin terpejam dan di dalam hatinya ia menyesali mengapa ia tak langsung mengunci pintu kamarnya sehingga Samudra tak bisa masuk. Ia tak berniat untuk tidur lebih cepat, tapi ia pun tengah tak ingin berbincang dengan pria itu. Ia hanya ingin sendirian. “Kinara,” panggil Samudra perlahan. Tetapi gadis itu tetap diam, tubuhnya tampak berbaring kaku seperti patung. Samudra tahu sepertinya Kinara pura-pura tidur, tapi ia tak ingin memergokinya. Tampaknya gadis itu memang sedang tak ingin diganggu. Perlahan Samudra menarik selimut dan menyelimuti tubuh Kinara, meredupkan lampu dan mengelus rambut gadis itu perlahan sebelum akhirnya ia keluar dari kamar Kinara. Sedangkan di dalam selimut, Kinara hanya bisa semakin memeluk gulingnya erat. Sentuhan Samudra tiba-tiba membuatnya merasa sedih walau ia tak tahu apa alasannya. *** Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam ketika Samudra baru saja sampai kerumahnya. Ia segera masuk ke dalam rumah dan menyadari bahwa rumahnya terasa lebih temaram dan sunyi seolah tak ada siapa - siapa di dalamnya. Samudra segera menghidupkan beberapa lampu agar terang dan menoleh kearah pintu kamar Kinara. “Kinara,” panggil Samudra sambil mengetuk pintu dan tak ada jawaban. Perlahan Samudra membuka pintu kamar Kinara, tak terkunci dan begitu gelap. Samudra segera mengambil handphonenya dan menghubungi nomor kontak Kinara. Ada sedikit rasa cemas dan heran karena Kinara tak ada dirumah, tapi ia bisa melihat barangnya masih ada disana. Yang terdengar hanyalah nada sambung yang tak diangkat. Samudra mendengus sedikit gusar, tiba-tiba ia gelisah takut terjadi apa-apa pada gadis itu. Bagaimanapun ibunya yang menitipkannya disana dan ia harus bertanggung jawab untuk menjaganya. “Ck! Angkat handphone mu, Kinara!” gerutu Samudra mulai tak sabar karena terus mendengar nada tunggu dan terus menerus mencoba menghubungi Kinara sambil menatap keluar jendela. Malam itu hujan turun sangat deras, bayangan kemacetan, banjir dan chaos nya jalanan membuat membuat Samudra membuka kancing kemejanya sambil menelan ludah, cemas jika Kinara terjebak diantaranya. Samudra terus menerus menghubungi Kinara sambil mengirimkan pesan, tiba-tiba samar-samar ia bisa mendengar suara dering handphone berbunyi dari luar rumahnya. Samudra segera mendekati jendela dan melihat Kinara yang basah kuyup memeluk tas berjalan masuk melalui garasi rumah. Dering itu semakin jelas ketika Kinara masuk dengan tubuh gemetar kedinginan dan tak sengaja pandangan matanya beradu dengan pandangan mata Samudra. “Assalamualaikum mas, aku pulang,” ucap Kinara lirih. “Waalaikumsalam, darimana kamu?!” tanya Samudra terdengar kesal karena cemas. Kinara hanya diam dan menundukan wajahnya perlahan sebelum meletakan tasnya di lantai, membuka sepatu dan memeras pakaiannya sebelum masuk ke dalam rumah. Samudra segera membuka salah satu lemari, menarik handuk besar dan segera menyelimuti Kinara. “Kemana saja kamu? Kenapa baru pulang?” tanya Samudra. Tapi Kinara hanya diam, dan menundukan kepalanya semakin dalam. Samudra segera mengangkat wajah Kinara dengan salah satu jarinya, dan ia melihat mata gadis itu begitu sembab dan merah tampak habis menangis. “Kamu kenapa?” tanya Samudra terkejut. Ditanya seperti itu, tangisan Kinara pecah. Tiba- tiba saja ia berjongkok dan menangis sesegukan dengan tubuh gemetar yang kedinginan. Samudra segera memeluknya, tak peduli pakaiannya ikut basah, karena tangisan Kinara terdengar pilu. Kinara tak bergerak dipeluk Samudra, ia tetap menangis sedih seolah sudah tak tahan lagi dengan rasa sedih dihatinya. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD