Ruangan itu sunyi, terlalu sunyi. Kini seisi rumah tengah duduk diruang keluarga, yang kini rasanya seperti ruangan sidang untuk Samudra dan Kinara. Kinara duduk di ujung sofa dengan kedua tangan saling menggenggam di pangkuannya. Wajahnya pucat, bukan karena sakit yang belum sepenuhnya pulih, melainkan karena tatapan Ratna yang sejak tadi tak lepas darinya. Samudra duduk disisinya, badannya sedikit menyamping menghadap orangtuanya, membiarkan Kinara berada di belakang punggungnya seolah ingin melindungi. Tubuhnya duduk dengan tegak, walau kepalanya menunduk, rahangnya mengeras dengan lengan berada diatas pangkuannya seolah siap menghadapi apapun. Terdengar helaan nafas panjang Ratna yang memecah suasana. “Kinara, masuklah ke kamar. Bereskan barang-barangmu. Mulai hari ini kamu pi

