Aruna pasrah dengan keadaannya saat ini. Setidaknya ia bisa menghindar dari teror misterius yang ia tidak tahu maksudnya.
Wajah Aruna terlihat cantik di balik helm pink yang khusus dibeli oleh Aksara kemarin saat ia membeli makanan untuk Aruna.
Aksara mengamati dari kaca spion. Ia melihat wajah sayu Aruna. Ia tahu, Aruna sudah lelah dengan teror itu. Mneikahinya adalah jalan satu -satunya agar Aruna terbebas dengan semua masalah yang bertubi -tubi menghampirinya. Bukan tanpa alasan juga ia menikahinya. Ia memang menyukai Aruna sejak dulu.
Motor gede itu masuk ke dalam parkiran kampus. Banayk orang melihat ke arah mereka. Suara knalpot motor Aksara yang begitu khas membuat smeua orang melihat ke arah mereka. Dan, kini banyak pasang mata yang semakin penasaran dengan kursi boncengan di belakang Aksara. Kursi itu tidak kosong lagi. Ada seorang cewek yang duduk di belakang Aksara sambil memeluk tubuh Aksara dengan nyamannya.
Siapa yang tidak iri?
Walaupun cap negatif itu memburu Aksara. Tetap saja, pesona lelaki yang disebut berandal kampus itu tidak pudar.
Kalau ada pepatah yang bilang tak kenal maka tak sayang. Nah itu tepat menggambarkan siapa Aksara yang sebenarnya.
Motor besar itu sudah berhenti dan masuk parkiran yang memang dikhususkan untuk Aksara. Tempat yang tidak bakal diganggu gugat oleh pengendara lain walaupun sudah tidak ada tempat parkiran yang lain.
Aruna turun dari motor dan berusaha membuka tali helm itu namun tak berhasil. Aksara membuka kaca helmnya dan mengulurkan tangannya untuk membantu Aruna membuka helm pink itu.
Aruna menurut dan membiarkan Aksara melakukan itu. Helm pink itu terlepas dan langsung dibuka oleh Aksara. Ia turun dari motornya dan meletakkan helm itu di jok dengan cara menggantungkannya. Helmnya juga dilepas dan diletakkan di spion.
Aruna merapikan rambutnya dan menguncir ulang rambutnya hingga naik ke atas. Rasanya gerah sekali karena Ia tidak biasa memakai helm.
Aksara berbalik dan langsung menatap Aruna tidak suka.
"Kenapa? Aku lepas jaketnya," ucap Aruna cepat. Ia tidak tahan kalau ditatap tajam begitu oleh Aksara. Seolah ia memiliki salah besar.
"Gak! Kalau kamu lepas, baju kamu aku sobek!" tukasnya begitu lantang.
Aruna tertawa dan membalas tatapan Aksara yang tak biasa itu.
"Kenapa ketawa? Ada yang lucu? Seharusnya kamu marah, Runa! Karena aku menyobek pakaianmu dan itu akan membuat kamu terlihat telanj4ng di muka umum! Kamu gak malu?" ucap Aksara cepat.
Aruna mengangguk -anggukkan kepalan pelan. Tadinya ia ingin marah. Normal dong? Kalau ia tiba -tiba dikuliti begitu saja, ia harus berontak dan marah.
Tapi ada kata yang membuat ARuna reflek tertawa. Kata yang tak biasa ia dengar dari mulut Aksara. Kata yang sepertinya bakal sulit diucapkan Aksara.
Aruna masih tertawa. Manis sekali. Tetapi Aksara harus berpura -pura marah dnegan tegas.
"Ngapain ketawa? Mau aku sobek pakaianmu itu?" ancam Aksara pada Aruna.
"Kenapa harus disobek? Jaketnya gak aku lepas, kok Kak. Terus Kak Aksa mau sobek baju Runa? Kakak yang bakal malu. Karena dikira ..." Ucapan Aruna langsung terhenti.
Jari telunjuk Aksara langsung menutup mulut Aruna hingga gadis itu terdiam.
"Kenapa ketawa?!" tanya Aksara dengan dahi yang berkerut. Ia merasa aneh pada Aruna.
Aruna menurunkan jari telunjuk Aksara yang menutup bibirnya.
"Kenapa manggilnya tiba -tiba berubah? Dari lo gue, jadi aku kamu?" tanya Aruna dengan tatapan tajam.
"Oh ... masalah itu. Kamu gak langsung ke kelas? Nanti telat lho," ucap Aksara mengalihkan tema pembicaraan mereka. Aksara terlihat salah tingkah di depan Aruna.
"Hemmm ... Aku masih nunggu jawaban Kak Aksa? Kenapa manggilnya berubah?" tanya Aruna masih penasaran.
"Terus? Kenapa kalau panggilannya berubah? Ada yang salah?" tanya Aksara menyipitkan satu matanay dan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Aruna.
"Atau jangan -janagn kamu berharap memanggilmu dengan panggilan Sayang? Oke akan aku lakukan. Karena semua demi kamu," jelas Aksara dengan santai.
"Apa?!" Kedua mata Aruna membola dan sambil berteriak keras. Tentu saja ini bukan Aksara yang Aruna kenal. Aksara tidak mungkin bertingkah seperti ini. Benar -benar aneh. Apa karena kedinginan jadi otaknya beku juga? Soalnya beberapa hari ini, Aksara harus tidur di sofa tanpa bantal dan sleimut. Ia dengan pengertiannya keluar dari kamar dan membiarkan Aruna tidur di kamar senidiran dengan nyaman.
"Kak Aksa gak lagi sakit kan?" tanya Aruna bingung.
"Gak sayang ...." jawab Aksara menahan tawanya demi sikapnya yang dingin.
Aruna memegang dahi Aksara dengan punggung tangannya. Ia takut Aksara sakit demam gitu hingga bicaranya ngelantur parah begini.
"Aku gak apa -apa. Habis kelas aku tunggu di Kantin ya, sayang ..." titah Aksara pada Aruna.
Aruna memejamkan kedua matanay. Mungkin dia perlu obat atau sebenarnya ia sedang pingsan karena dibawa ngebut tadi.
"Aku ke kelas dulu, Kak," ucap Aruna langsung berbalik dan melangkah ke arah lorong yang menghubungkan antara parkiran motor mahasiswa dengan kelas di lantai satu.
Aruna terlihat memegang kepalanya dan memijat pelan di dekat pelipis matanya.
Aksara mengikuti Aruna dan menarik kunciran rambut Aruna hingga rambut Aruna yang panjangnya sebahu itu terurai di jaket hitam milik Aksara.
Aruna langsung menoleh ke arah belakang Ia melihat Aksara dengan tatapan tajam seperti elang yang ingin menerkamnya.
"Kenapa sih, Kak? Panas tahu!" ucap Aruna kesal.
"Aku gak suka kamu memperlihatkan leher kamu yang seksi itu ke semua orang!" titah Aksara yang memegang karet rambut Aruna dan berjalan mendului Aruna. Seperti biasa, ia akan duduk di atas urutan anak tangga di lobi kampus.
Aruna menggelengkan kepalanya pelan sambil mengumpat kesal. "Dasar orang aneh."
Baru satu hari saja rasanya sudah aneh. Sikap dan sifat Aksara seperti ganda, dan sulit ditebak. Kadang manis, kadang terlihat bucin tapi kadang galak, keras dan tatapannya itu langsung mengena di jantung.
"Dasar berandal kampus," umpatnya lagi di dalam hati saat melihat Aksara bertemu dengan komunitasnya di lorong lantai itu. Lihat saja mereka ber- tos ria seoalh tak memiliki beban hidup. Padahal mereka itu tidak pernah lulus kuliah. Kerjaannya hanya nongkrong dan berfoya -foya.
Satu hal yang masih membuat Aruna bingung. DI rumah Aksara ada dua kamar. Tetapi, kamar yang satu itu selalu tertutup dan Aksara menitah Aruna untuk selalu ingat agar tidak tidak membuka kamar itu tanpa seijinnya.
"Ada apa sih, di dalamnya? Jangan -jangan dia sering mutilasi orang terus dikubur disana? Omegot ... Kenapa pikiranku jadi horor begini," batin Aruna yang sudah berada di depan kelasnya dan masuk ke dalam.
Kelas itu ada di pojok dan terlihat sangat sepi. Saat Aruna masuk ke dalam kelas itu, tiba -tiba saja pintu tertutup rapat.
Brak!
Aruna menoleh ke belakang dan berteriak keras.
"Siapa itu!" teriaknya keras. Aruna mencoba membuka pintu ruangan itu tetapi tidak bisa. Anak kunci terdengar berputar di lubang kunci.