KONTRAK NIKAH YANG BERUBAH

788 Words
Pagi ini mereka berangkat ke Kampus bersama. Kebetulan Aruna ada kelas pagi dan Aksara seperti biasa hanay ingin nongkrong di tangga lobi Kampus. Aruan sudah bersiap dnegan tas yang menyelempang di pundaknya. Ia memakai celana jeans dengan ujung bawah yang agak cutbray dipadukan dnegan kemeja kuning ala korea. Rambutnya diikat hingga leher jenjangnya terlihat mulus dan sangat menggairahkan. Aksara masih duudk di meja makan sambil menikmati kopi hitam dan koran pagi yang selalu datang saat subuh. Sudah mirip seperti bapak -bapak berkarir yang ikut -ikutan menyukai politik. Aksara melirik sekilas ke arah Aruna yang baru saja datang dan langsung duduk di kursi makan. Seperti biasa, Aksara sudah menyiapkan sarapan untuknya. Kali ini, roti bakar yang masih hangat dengan s**u segar di gelas panjang. Lagi -lagi Aruna terpana melihat sarapan pagi kali ini yang terlihat sangat manis sekali. "Makasih sarapannya, Kak," ucap Aruna dengan senyum manis lalu melahap roti bakar itu dengan nikmat. Aruna nampak seperti orang kelaparan membuat Aksara menggelengkan kepala. "Lo laper ya?" tanya Aksara mengejek. "Sangat. Kenapa? Kan udah disediain, jadi Runa makan dong," ucap Aruna begitu santai. "Hmmm ... Lo kuliah sampai jam berapa?" tanya Aksara lagi sambil menutup koran yang sudah selesia ia baca. "Full time. Bakal sampai sore terus rapat sama anak senat. Jadi gak tahu sampai jam berapa. Tenang aja, nanti Runa naik ojek pas pulang. Runa minta alamatnya aja," ucap Aruna begitu mantap. Aksara mendekatkan wajahnya pada wajah Aruna dan bicara dnegan gerak bibir yang begitu tegas. "Gak ada naik ojek atau angkutan lain atau nebeng sama temen kamu.. Gue yang berhak anter jemput lo. Lo kudu paham itu. Kita ini sudah suami istri," jelas Aksara dengan suara semakin tegas seperti mengintimidasi. Tapi lihat, wajah Aksara benar -benar sangat tampan sekali. Rambutnya yang sedikit acak -acakan itu malah membuat Aksara semakin terlihat mempesona. Pantas saja, banyak wanita mengagumi sosok Aksara. Sayang, ia hanay menjadi berandal Kampus yang tidak akan pernah lulus karena kesalahannya sendiri. "Ta -tapi, Runa pulangnya lama dan malam," jelas Runa tergagap. Wangi Aksara itu khas sekali membuat hidungnya tak bisa melupakan wangi itu. "Gak masalah. Gue gak keberatan nungguin istri gue sampai malam seklai pun," jelas Aksara. Kedua mata Aruan membola mendegar kata istri dari mulut Aksara, "Kak Aksa gak bakal buka rahasia ini kan?" ucap Aruna ragu. "Soal pernikahan lo sama gue?" tanya Aksara memastikan dan menatap lekat dua bola mata Aruna yang juga sedang memandangnya. Mulutnya bergerak karena mengunyah roti bakar yang baru saja digigitnya. Aruna mengangguk pasti. Aksara malah tertawa dan mengacak rambut Aruna dengan gemas. "Tentu saja, kabar bahagia ini akan gue sebarkan di Kampus. Biar semua orang tahu, kalau mulai detik ini lo itu punya gue. Milik gue seorang. Kalau sampai ada yang berani nyentuh lo, maka orang itu akan berurusan sama gue. Gak peduli laki atau perempuan. Jadi, gue harap lo itu jujur sama gue. Lo gak bakal nutupin apapun. Karena semakin lo sembunyikan, semakin lo merasa bersalah sama gue. Dan pastinya, gue bakal tahu apapun itu," jelas Aksara kemudian. Aksara sudah berdiri dan memakai jaket jeans berwarna biru muda. Jaket hitam miliknya akan selalu dipakai oleh Aruna mulai sekarang. Aruna diam dan menelan sisa kunyahan roti yang ada di mulutnya. Uh ... Rasanya malah keluar dari kandang singa masuk kandang macan. "Hmm ... Kak Aksa ... Kita menikah kontrak berapa lama? Sampai Runa lulus?" tanya Aruna lagi. "Se -la -ma -nya," jawab Aksara sambil emmegang helm baru dan diletakkan di meja makan. Helm pink yang imut dan sanagt cocok dipakai oleh Aruna. "Apa? Bukannya cuma sampai lulus saja?" tanya Aruna memastikan. "Kayaknya gak ada tuh, tulisannya sampai lulus aja. Lo mau lihat kontraknya?" tanya Aksara menyeringai puas. "Mau. Mana?" tanya Aruna lagi. Aksara mengambil salinan kontrak pernikahannya dan memberikannya pada Aruna. "Baca dan pahami dengan seksama. Toh, lo sudah tanda tangani itu. Tidak ada kata berdebat. Cepat habiskan sarapan paginya dan segera keluar, keburu siang," titah Aksara pada Aruna. Aruna mengangguk paham dan segera membaca beberapa poin di kontrak pernikahan itu. Kedua matanya melotot dan tidak percaya jika isinya seperti ini. Perasaan, kemarin pas baca awal, poin -poinnya tidak seperti ini. Sepertinya ada yang salah ini. "Kak Aksa!" teriak Aruna kesal sekali. Sepertinya ia ditipu habis -habisan oleh Aksara. Ini namanya modus bukan kerja sama yang saling menguntungkan. Aruna keluar dari rumah denga wajah cemberut. Helm pink itu masih di gendong di tangannay. Bibirnya mengerucut kesal dan itu membuat Aksara semakin gemas pada istri kontraknya itu. "Kenapa cemberut sih. Ayo naik," titah Aksara cepat. Aruna menutup pintu rumah dan menguncinya. Kunci rumah itu diberikan kepada Aksa dan Aksa meminta Aruna yang memegang kunci itu dengan alasan ia gampang lupa. Aruna memakai helm pink dan mengaitkan tali helmnya lalu naik ke atas motor itu dan memegang pada jaket Aksara agar tidak terjatuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD