SUDAH SAH

814 Words
Hari ini akan menjadi hari bersejarah bagi Aruna dan tentunya untuk Aksara. Aruna memakia jaket kebesaran milik Aksara. Tadi saat akan naik motor gede Aksara. Aruna sempat bingung saat Aksara memakaikan jaket itu di tubuhnya. Padahal, Aruna tahu kalau jaket itu adalah jaket kesayangan Aksara. Jaket yang sering dipakai Aksara setiap hari karena memiliki logo khusus genk motornya. Aruna sempat bertanya kenapa jaket ini dipinjamkan untuk Aruna. Dengan santai dan tenang, Aksara bilang, "Hanya orang spesial yang boleh pake jaket ini." Apa itu artinya, aku juga spesial? Ahh, mana mungkin. Dia itu laki -laki tidak punya masa depan. Aruna memeluk tubuh Aksara dari belakang dengan erat. Ia hanya memberikan alamat kosnya pada Aksara. Tanpa bertanya lebih lanjut, Aksara langsung melajukan motor besarnya menuju kos Aruna. Tak berselang lama, motor itu sudah berada di depan kos Aruna. Aruna melihat dengan takjub. Hebat sekali Aksara bisa tahu letak persis kos -nya. Aruna turun dan masuk ke dalam. Aksara juga ikut masuk mengikuti Aruna. Tidak ada tulisan yang tidak memperbolehkan laki -laki masuk ke dalam. "Kos ini bebas ya?" celetuk Aksara. "Hu um ... " jawab Aruna cepat. "Sering ada yang nginep?" tanya Aksara dengan intonasi yang cuku tegas membuat Aruan menghentikan langkahnya di lorong. "Maksud Kak Aksa apa ya?" tanya Aruna menyipitkan satu matanya. "Ya ... Kamar lo pernah ada yang nginepin gak?" ucap Aksara cepat meluruskan maksudnya. "Gak ada! Jangan punya pikiran ada cowok yang nginep di kamar Runa! Itu pikiran picik!" ucap Aruna kesal. Secara tidak langsung, Aksara itu sedang menuduhnya. Aruna berbalik dan melangkah lagi menuju kamarnya. Senyum Aksara tak tertahan lagi. Ia mengulumnya dengan sempurna agar Aruna tak melihatnya. Lihat saja, gadis itu memakai jaket miliknya. Tubuhnya mungilnya tenggelam dalam jaket jeans kesayangannay. Semkain terlihat imut dan menggemaskan. Kecil, imut, lucu, tapi galak dan berani. Itu yang Aksara suka dari Aruna. Diam -diam, Aksara mulai kagum dan rasanya tidak menolak kalau hatinya berkata jujur bahwa ia sedang menyukai aktivis perempuan itu. Otaknya sedang melalang buana dan Aruna berteriak dengan keras. "Arghh!!" teriak Aruna keras sekali. Kebetulan kos itu sudah sepi. Smeua penghuninya mungkin sudah berangkat ke Kmapus. Kalau pun ada satu dua orang tentunya masih terlelap di atas kasur mereka sambil mendengarkan musik yang kencang atau mungkin sedang ena -ena bersama pasangan haramnya. Aksara menatap Aruna dan melihat ada sebuah kotak besar disana. Kotak yang sengaja tidak dibungkus dan bertuliskan SAMPOERNA. Mungkin itu kardus bekas sebuah paking rok0k. "Kenapa sih? Harus teriak -teriak, bikin kuping gue pengang," ucap Aksara kesal. Aruna tak mempedulikan kata -kata Aksara. Ia benar -benar kaget dengan kardus sebesar itu dnegan bau menyengat. Aruna menutup wajahnya dnegan kedua tangan dan berdiam ditempatnya. Aksara segera maju dan melihat apa isi di dalamnya. Ternyata isinya kepala anjing dnegan darah yang masih banyak dan sangat bau sekali. Anehnya kenapa bisa sampai disini? Memangnya tidak ada penjaga kos. "Lo masuk sekarang. Ambil smeua baju lo sama buku lo. Kita pergi sekarang dari sini. Udah gak bener ini," titah Aksara pada Aruna. Aruna begitu menurut dan langsung masuk ek dalam kamarnya. Ia mengambil tas ransel yang pernah ia pakai untuk hiking dulu saat pelantikan para aktivis kampus. Aksara ikut masuk ke dalam dan membantu Aruna membereskan pakaiannya. "Ini gak usah lo bawa. Yang begini bisa gue beliin nanti. Bawa aja yang penting -penting," titah Aksara lagi. Bau dari dalam kardus itu semkain menyengat dan Aruna masih berusaha memasukkan barang -barangnya yang penting. *** Urusan kos sudah selesai. Aruna dan Aksara pergi ke Kantor KUA untuk melaksanakan pernikahan yang telah mereka sepakati. Aruna hanya bisa mengukuti Aksara. Ia tidak tahu urusan birokrasi soal pernikahan. "Mana KTP, KK dan akte lahir lo?" pinta Aksara yang berdiri mendekati Aruna. Aruna duduk di sofa yang ada di lobi menunggu Aksara yang sdeang mengurus pernikahan mereka. "Ini," jawab Aruna yang memang sudah mempersiapkan dari rumah. Sejak di rumah, Aksara sudah meminta agar Aruna tidak lupa membawa persyaratan yang dibutuhkan. Beberapa menit kemudian, nama keduanya dipanggil dan disuruh masuk ke adalm ruangan yang berada di belakang ruang pelayanan. Ruangan yang memang berfunsi untuk menikahkan pasangan yang ingin menikah di KUA. Ijab kabul itu nampak sanagt serius dan berjalan dengan khidmat. Ada seorang penghulu dan kyai serta beberapa orang yang ditugaskan sebagai saksi perkawinan mereka. Pengucapan ijab kabul selesai dan keduanya menunggu surat nikah mereka jadi. Smeua proses itu tidak perlu waktu yang lama. Tapi cukup membuat jenuh kalau menunggu. Sekita pukul dua siang. Urusan mereka sudah selesai. Keduanya sudah SAH menjadi pasanagn suami istri. Aksara mengajak Aruna pulang ke rumah dan mereka muali membereskan smeua barang mereka. "Kak ... Yakin kita bakal tidur bareng?" tanay ARuna yang baru mulai merapikan pakaiannay di lemari pakaian besra yang ada di kamar utama. "Iya. Kita suami istri," jelas Aksara yang menumpuk pakaiannya di sisi kiri dan menyisakan tumpak sebelah kanan untuk pakaian Aruna. Aruna hanya mengangguk pasrah. Otaknya masih dipenuhi pertanyaan janggal yang siap ia tanyakan kepada AKsara. Tapi kemungkinan tidak sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD