Semalaman, Aruna tidak bisa tidur. Hatinya terus berdebar dan tubuhnya sesekali bergetar tak biasa. Aruna memegang bibirnya yang sore tadi dicium oleh Aksara. Bibirnya sudah disentuh oleh lelkai yang ia benci sekali namun sekarang menjadi suaminya dan ternyata sangat baik sekali. "Kak Aksa ..." ucap Aruna lirih sekali. Kamar yang ditempati Aruna gelap sekali. Aruna terbiasa tidur dengan lampu mati. Sedangkan Aksara tidur di sofa ruang tengah. Aksara tidak pernah tidur bersama Aruna. Dan Aruna juga tidak pernah mengajak Aksara untuk tidur bersamanya. Aruan salah tingkah sendiri. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Belum lagi, sore tadi mereka mampir makan di penyetan kaki lima yang mereka lewati sekalian arah jalan pulang. Mereka memilih duduk di trotora beralasakan tikar anyaman yan

