"Kenapa? Sakit?" Nathan menyambutnya dengan pertanyaan.
"Kembung," dusta Tiara.
Dia memilih mengabaikan fakta kalau Nathan tidak akan percaya sebagai dokter. Tiara tahu, Nathan bisa melihat wajah pusatnya, dan jika Nathan menarik tangannya untuk mengecek nadi, dia pasti akan tahu dan menyeretnya ke rumah sakit. Tiara tidak mau itu dan dia sangat ingin pulang lalu istirahat.
Meski rasanya tak nyaman, Tiara tetap menyiapkan makanan itu ke mulutnya, memaksa tenggorokannya menelan spaghetti itu dan membiarkan perutnya bergolak. Dia makan sambil sebisa mungkin mengabaikan tatapan Nathan yang terasa menusuk.
"Gak usah liatin aku kayak gitu juga kali, Than. Makan aja, aku harus pulang," kata Tiara tanpa mengangkat wajahnya.
Nathan menurut, ikut makan walau tidak selera. Dia tahu ada yang disembunyikan Tiara. Tapi Nathan juga tahu perempuan di depannya itu keras kepala.
Tidak ingin membuat Tiara semakin menjauh setalah bertahun-tahun jarak di antara mereka terbentang begitu besar. Nathan benci itu, dan penyesalan tanpa ujung selalu membayangi. Jadi kali ini dia diam, menuruti keinginan Tiara.
Setalah beberapa menit makanan itu tanda tanpa sisa. Nathan masih menatap Tiara untuk beberapa saat, memastikan dia baik-baik saja. Sebagai dokter, dia tahu tapi juga tidak bisa memastikan secara sembarangan.
"Aku pulang dulu, sebelum suamiku pulang," ujar Tiara.
"Aku antar kamu pulang, Ra," sahut Nathan.
"Nggak usah. Aku bisa pulang sendiri pake taksi atau apa," tolaknya sambil membuka dompetnya untuk membayar makanan.
"Nggak. Janji ya janji, kamu tau aku gak bakal biarin gitu aja kan. Jadi aku anter pulang, dan aku gak bakal terima uangmu. Paham?" Setalah mengatakan itu dia pergi dari sana, ke meja kasir untuk membayar.
Tiara terdiam di tempatnya. Matanya tiba-tiba terasa begitu panas.
"Sial. Kenapa dia gak berubah? Pengorbanan aku empat tahun lalu itu sia-sia kah?" Tiara membatin, menatap punggung Nathan yang kian menjauh.
Rasa sesak itu datang seiring dengan kenangan empat tahun lalu muncul, saat Tiara memutuskan untuk menjauh dari Nathan, kekasihnya kala itu karena suatu alasan. Sebelum akhirnya dia menikah dengan Andika Pradana.
Nathan menunggu di samping mobilnya begitu Tiara keluar dari restoran.
"Gak usah perlakukan aku kayak tuan putri, Than. Kita udah jadi mantan." Tiara menekankan kata mantan.
"Siapa peduli? Ayo masuk, aku anter pulang." Nathan memang tidak peduli.
Tiara menghela napas, memilih masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibuka oleh Nathan. Di kabin depan sudah ada sopir yang menunggu. Nathan sendiri duduk di sampingnya.
"Ayo jalan, Dri," katanya dengan nada perintah.
Pria muda yang duduk di balik kemudi itu hanya mengangguk patuh. Mobil bergerak dan berbaur dengan kendaraan lain di jalanan yang cukup lenggang siang itu.
Keheningan menyergap kabin. Tiara menatap keluar jendela, lalu-lalang kendaraan lebih menarik daripada Nathan yang sejak masuk ke mobil terus menatapnya, mengulitinya perlahan.
"Mbak, alamatnya di mana?" Andri, sopir Nathan bertanya, memecah hening di dalam mobil itu.
"Emp. Itu ...," Tiara melirik Nathan ragu. Dia tidak ingin pria itu tahu rumahnya dan berakhir sering datang. Pria itu selalu nekad jika sudah menemukan sesuatu yang berhubungan dengannya.
"Katakan aja, aku gak bakal datang sesuka hati," kata Nathan seolah bisa membaca isi pikirannya Tiara.
Tiara mendengus tak percaya.
"Di depan sana ada belokan, belok ke kanan. Saya bisa turun di situ, depan pos penjaga," jawab Tiara pada Andri.
"Baik, Mbak."
"Kenapa? Takut?"
Tiara mendelik.
"Iya takut. Takut banget kamu bakal bertamu dan bikin gak nyaman di rumah," jawab Tiara ketus.
"Nggak gitu juga kali, Ra. Aku juga kan mau liat rumahmu."
"Nggak usah. Cukup di sini aja," tegas Tiara.
Mobil berhenti tak lama kemudian di depan pos penjaga perumahan. Dia segera membuka pintu mobil.
"Pak, tolong jangan biarkan dia menyusul saya." Tiara berpesan pada Andri setelahnya dia menutup pintu mobil cukup keras dan berjalan dengan cepat menjauhi mobil itu seolah takut Nathan akan mengikutinya.
Tapi Nathan diam saja di dalam mobil. Tatapannya mengiringi kepergian Tiara. Dia tidak memberikan perintah apapun pada sopirnya, hanya diam di sana sampai sosok Tiara menghilang dari pandangannya.
"Ayo pergi, Dri," katanya seraya memejamkan mata, meredam gejolak yang muncul dalam dadanya.
Nathan ingin tahu bagaimana kehidupan Tiara setalah pernikahannya itu. Empat tahun, setahun mereka putus karena Nathan harus pergi ke London untuk kariernya. Walaupun dia hancur karena Tiara memutuskan hubungan mereka setelah bertahun-tahun terjalin, dia harus tetap pergi untuk alasan lain. Begitu mendapat kabar bahwa Tiara akan menikah dengan pria lain, tidak ada yang tahu apa yang dia lakukan saat itu. Namun yang pasti, dia sudah membuat keputusan begitu kembali dan bertemu lagi dengan Tiara, perempuan yang dia cintai sepenuh hati.
Sementara itu, Tiara baru saja menapakkan kakinya di teras rumah tapi langkahnya terhenti di depan pintu yang tertutup rapat.
Tiara berdiri kaku di depan pintu rumah. Suara keras dari dalam membuat jantungnya berdegup tak karuan. Suara ibu mertuanya, lantang, penuh amarah.
“Tiara lagi! Istri kamu tuh nggak becus, Dika! Masa udah tiga tahun menikah belum juga kasih cucu? Malu aku sama keluarga besar!”
Tiara menutup mata sejenak, menahan air yang mulai menggenang. Tangannya bergetar saat menyentuh gagang pintu. Dia tahu, begitu pintu itu terbuka, dia harus berhadapan dengan kenyataan yang pahit.
Dengan tarikan napas panjang, Tiara akhirnya mendorong pintu. Suasana mendadak sunyi. Semua mata di ruang tamu beralih padanya. Ibu mertuanya berdiri dengan tangan terlipat di d**a, wajah penuh kebencian dan amarah. Di sampingnya ada seorang perempuan muda, wajahnya tampak pucat.
“Mulai sekarang, Adel tinggal di sini. Sampai kandungannya kuat,” ucap ibu mertuanya dingin.
Tiara tertegun. Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk dadanya.
“Bu … maksudnya apa?” suaranya bergetar.
Ibu mertuanya mendengus.
“Maksudnya jelas. Kamu nggak bisa kasih cucu, jadi aku izinkan Adelina tinggal di sini. Adelina sedang mengandung, tapi kandungannya masih lemah, jadi biar dirawat di sini. Sekalian biar kamu belajar, gimana caranya jadi perempuan yang berguna.”
Tiara menelan ludah, matanya beralih ke arah wanita yang menunduk malu. Tapi rasa malu itu tak cukup menutupi kenyataan bahwa kehadirannya adalah tamparan keras bagi Tiara.
“Bu, saya … saya berusaha. Saya sudah berobat, sudah cek kesehatan. Tapi belum ada hasil. Mohon jangan begini,” Tiara mencoba menahan suaranya agar tidak pecah.
Ibu mertuanya melotot.
“Berusaha? Tiga tahun itu bukan berusaha, Tiara. Itu kegagalan. Kamu bikin anakku menunggu sia-sia. Kalau bukan karena Andika sabar, aku sudah suruh dia cari perempuan lain.”
Tiara terdiam. Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada teriakan. Dia menunduk, menahan air mata agar tidak jatuh.
Adelina, wanita itu mencoba bicara, suaranya lirih.
“Bu, aku nggak enak kalau harus tinggal di sini. Takut ganggu Mbak Tiara.”
Wanita itu menatapnya dengan pandangan yang berbeda, mendadak menjadi lembut.
"Nggak apa-apa, Sayang. Lagi pula, Dika pasti bakal jagain kamu, karena di dalam perutmu ada calon bayinya."
Tiara tertegun mendengar apa yang baru saja ibu mertuanya katakan itu. Calon bayi? Suaminya? Apa maksudnya itu? Tiara melirik suaminya, Andika hanya diam, menundukkan kepalanya, menghindari tatapan mata dengan istrinya yang baru saja merasa tersambar petir di siang bolong.
"Kandungan itu ... Tidak mungkin."