5. RIYT

1096 Words
"Apa maksudnya? Sayang, kamu ---" Huek! Dahi Tiara mengerut ketika mendengar suara seseorang mau muntah. Dia menoleh pada wanita yang duduk di samping ibu mertuanya itu. "Kamu kenapa, Adel sayang?" Suara ibu mertuanya begitu lembut, penuh perhatian. "Dika, kok diem aja! Buruan bantu Adel ke kamar mandi." Denga gerakan yang kaku, Andika menghampiri wanita itu yang masih menutup mulutnya lalu memapahnya perlahan menuju kamar mandi di kamar tamu. Tiara terdiam, benaknya masih menerka ada apa? Kenapa? Bagaimana mungkin suaminya begitu. Tiara hendak pergi menyusul tapi suara ibu mertuanya terdengar dingin. "Kamu!" Tiara menoleh. Ibu mertuanya menghampiri. "Dengar ya. Adelina baru saja hamil satu bulan. Kandungannya masih sensitif. Jadi untuk sementara waktu, dia akan tinggal di sini." "Tapi kenapa, Bu? Bagaimana dia bisa ---" "Bisa. Adelina, kau tau siapa dia, bukan? Ya, mantan Andika. Mereka kembali bertemu sebulan lalu, dan Adel hamil anaknya Andika. Dasar perempuan tak becus. Kau malah kalah dengan mantan. Nyesel aku restuin kamu dulu." Kalimat tajam itu menghantam d**a Tiara, meninggalkan rasa sesak yang teramat sangat. Jadi, siluet Andika yang dia lihat di jalanan Bandung dan di rumah sakit beberapa jam lalu bukanlah kebetulan. Suaminya telah mengkhianatinya, bahkan sebelum wanita itu menginjakkan kaki di rumah ini. "Kenapa diam? Malu karena mandul?" ketus ibu mertuanya lagi, menatap Tiara dengan pandangan merendahkan yang selama tiga tahun ini selalu disembunyikan di balik topeng kepalsuan. Pikiran Tiara berkecamuk hebat. Rasa syok, kecewa, dan sedih berbaur menjadi satu, menciptakan tekanan batin yang luar biasa. Bersamaan dengan itu, hulu hati Tiara mendadak terasa seperti diremas dengan paksa. Rasa panas menyodok naik ke kerongkongannya, memicu gejolak mual yang jauh lebih hebat dari sebelum-sebelumnya. "Huekk!" Tiara refleks membalikkan tubuh, membekap mulutnya sendiri. Dia terbatuk-batuk di depan wastafel dapur, memuntahkan cairan bening berulang kali hingga matanya berair. Ulu hatinya terasa nyeri mematikan, membuat tubuhnya bergetar hebat. Mendengar suara muntah Tiara, ibu mertuanya bukannya iba, melainkan langsung menyala marah. Wajah wanita paruh baya itu memerah, matanya melotot tajam. "Tiara! Apa-apaan kamu ini?!" bentak ibu mertuanya kasar. "Kamu sengaja, ya? Mau pamer atau mau cari perhatian karena sirik melihat Adelina hamil?!" "Gak, Bu ... Tiara beneran mual---" "Halah, gak usah drama! Dasar wanita gak tahu diri!" makian itu meluncur tanpa beban. "Tiga tahun menikah gak bisa kasih cucu, sekarang saat ada wanita yang bisa memberikan penerus untuk keluarga Pradana, kamu malah mau menyaingi dengan pura-pura sakit? Kamu sengaja mau bikin Adelina stres dan mencelakai kandungannya, iya?" Di tengah makian yang bertubi-tubi itu, Andika keluar dari kamar tamu setelah selesai memapah wanita itu. Pria itu berdiri di ambang pintu, menyaksikan istrinya yang pucat pasi sedang disudutkan habis-habisan oleh ibunya sendiri. Tiara menatap Andika dengan sisa tenaganya, berharap ada setitik pembelaan atau setidaknya pertanyaan tentang kondisinya. Namun, Andika hanya diam membisu. Pria itu melangkah maju, tapi bukan untuk mendekati Tiara. Dia hanya berdiri di samping ibunya, membuang muka tak berani menatap mata cokelat lembut milik istri sahnya. Andika memilih manut, plin-plan, dan membiarkan ibunya memegang kendali penuh. "Ibu gak mau tahu! Mulai hari ini, rumah ini harus steril dari drama kamu. Adelina akan tinggal di kamar utama, dan kamu urus semua kebutuhannya. Jangan sampai dia kelelahan!" perintah ibu mertuanya telak. Secara tidak langsung, mereka baru saja menurunkan derajat Tiara menjadi pembantu di rumahnya sendiri. Tiara mencengkeram tepi wastafel, menahan rasa sakit di lambungnya yang kian menyiksa, bersamaan dengan runtuhnya seluruh rasa hormat yang tersisa untuk suaminya. Tiara diam, menunduk, menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang bukan dirinya. Dia harus tenang dan menanganinya dengan sebaik mungkin. Dia harus memastikan lebih dulu apa yang sebenarnya terjadi. Suara langkah kaki yang terseok-seok membuyarkan keheningan di antara mereka. Andika menenangkan ibunya untuk tidak memarahi Tiara karena bagaimanapun dia juga yang salah, tidak seharusnya merahasiakan itu. Tapi begitu melihat wanita tadi, sikap mereka berubah 180°. Mereka begitu panik menghampiri Adelina, memapahnya ke sofa dengan hati-hati seolah dia adalah benda rapuh yang jatuh sedikit saja akan mengalami retak atau bahkan pecah. Tiara hanya menonton perlakuan tak biasa dari suami dan ibu mertuanya pada wanita lain. Seorang wanita yang bahkan tidak Tiara kenal. "Mbak Tiara, maaf ya merepotkan. Padahal aku bisa mengurus diri sendiri tapi Tante tidak mengizinkan dan ...." Wanita itu tak melanjutkan perkataannya, hanya menunduk dengan perasaan bersalah yang teramat sangat karena sudah mengganggu rumah tangga Andika dan Tiara. "Kamu ngomong apa sih, Adel sayang? Gak gitu. Tiara pasti gak keberatan kalo kamu tinggal di sini." Ibu mertuanya menyambar, menenangkan wanita itu. Berbeda sekali saat menatapnya dengan tatapan yang penuh kebencian, amarah, dan ketidaksukaan akan dirinya, sikapnya pada wanita yang dikatakan sebagai mantan kekasih suaminya itu jauh sekali. Tiga tahun menikah, Tiara bahkan tak pernah sekalipun mendapatkan perhatian sebaik itu dari ibu mertuanya. Selalu ada saja hal yang membuat wanita paruh baya dengan penampilan glamornya itu membalas ucapan Tiara, menyudutkan, bahkan mengatakan hal-hal yang tak sesuai dengan faktanya. Dan hal yang membuat hati Tiara perih adalah diamnya sang suami. Meremas tangannya, Tiara tidak tahu apa yang harus dia lakukan setelah ini. Bisakah dia menerima kehadiran Adelina di rumah ini? Rumah yang dia rawat dengan sepenuh hati agar suaminya bisa pulang ke rumah dengan nyaman, melepas lelah, dan menyambutnya dengan keikhlasan yang dimiliki seorang Tiara. Tapi, apa yang dia dapat sekarang? Pengkhianatan? "Dika, bawa Adel ke kamar atas. Di sana lebih tenang dan sirkulasi udaranya bagus buat ibu hamil," perintah ibu mertuanya, memecah keheningan yang mencekik. Andika mengangguk patuh. Tanpa menatap Tiara sedikit pun, dia merangkul bahu Adelina dan menuntunnya melintasi ruang tengah menuju tangga. Langkah kaki mereka yang menjauh terdengar bagai dentum lonceng kematian bagi pernikahan Tiara. Rumah yang selama tiga tahun ini dia jaga dan rawat sepenuh hati, kini terasa asing dan dingin. Ibu mertuanya mendengus sinis sekilas ke arah Tiara, sebelum akhirnya ikut menyusul anak dan wanita yang tengah mengandung calon cucunya itu ke lantai atas. Tiara ditinggalkan sendirian di ruang tengah yang mendadak terasa begitu luas dan mencekik. Dia meremas dadanya yang sesak. Rasa kecewa dan pengkhianatan yang nyata ini menghantam psikologisnya dengan telak. Namun, bersamaan dengan runtuhnya pertahanan batin Tiara, sesuatu di dalam tubuhnya ikut bergejolak hebat. Ulu hatinya mendadak seperti ditusuk oleh ribuan jarum. Rasa nyeri yang teramat sangat menyerang perut bagian atasnya, membuat tubuh Tiara refleks membungkuk dalam. Keringat dingin sebesar biji jagung langsung membanjiri pelipisnya. "Akh ...." Tiara merintih lirih, kedua tangannya mencengkeram perutnya dengan sangat erat. Rasa sakit kali ini berbeda. Ini bukan sekadar mag biasa karena telat makan atau stres. Lambungnya seperti diremas, dicengkeram, dan dibakar dari dalam hingga pandangan mata Tiara perlahan mulai mengabur. Tubuhnya yang lemas tak lagi mampu bertumpu pada kaki, membuat Tiara jatuh berlutut di atas lantai marmer yang dingin, sendirian dalam sunyi yang menyiksa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD