6. RIyT

1108 Words
"Aku kenapa?" Tiara bertanya pada pantulan dirinya di cermin wastafel kamar mandi. Wajahnya pucat, matanya merah, dan bibirnya tampak begitu putih. Tiara merasa belakangan ini dia sehat, tapi kenapa tiba-tiba perutnya terasa begitu sakit. "Apa aku harus periksa?" Pikirnya. Dahinya berkerut dalam ketika mendengar suara itu lagi. Suara orang muntah dan derap langkah kaki yang repot di luar sana. Tiara hanya menatap pintu kamar mandi itu datar. Entah untuk ke berapa kalinya wanita itu membuat drama muntah semalaman. Tiara tak peduli, dia hanya diam di dalam kamar tamu karena kamarnya sendiri dipakai wanita yang katanya mengandung anak dari suaminya. "Peduli amat. Bukan tamuku," katanya datar. Dia membuka kran air, membasuh wajahnya sekali lagi. Pagi sudah menjelang beberapa menit lalu, matahari sudah bersinar terang di langit. Tiara baru keluar dari kamar ketika jarum jam menunjukkan pukul 6 lewat tiga puluh menit. Tidak seperti biasanya yang sudah siap jam segini. Hari ini dia malas. Begitu pintu dibuka, hal yang pertama dia lihat adalah sesuatu yang membuat hatinya seakan diremas kuat. Andika tengah berdiri di dekat meja makan, tangannya sibuk memijat tengkuk Adelina yang tampak kepayahan dengan wajah luar biasa pucat. Pria itu sesekali meniup ubun-ubun Adelina, membisikkan kata-kata penenang yang begitu lembut, itu adalah sesuatu yang bahkan tidak pernah Tiara dapatkan selama tiga tahun pernikahan mereka. "Masih mual, Sayang? Mau Mas suapi buburnya?" tanya Andika, suaranya sarat akan kekhawatiran yang teramat sangat. Adelina hanya menggeleng lemah, menyandarkan kepalanya di d**a bidang Andika dengan manja. "Lemas, Mas …." Bahkan terdengar begitu lemah tak berdaya. Tiara terpaku di ambang pintu, menatap pemandangan itu datar walau hatinya terasa seperti dihantam batu besar. Perubahan sikap Andika begitu kontras. Pria yang biasanya dingin, kaku, dan selalu beralasan sibuk dengan urusan kantor, kini menjelma menjadi sosok suami siaga yang begitu penuh perhatian. Tapi sayangnya, perhatian itu bukan untuk istri sahnya. Mendengar derap langkah kaki Tiara, Andika menoleh. Sejenak, tatapan mereka bertemu. Namun, alih-alih merasa bersalah atau menanyakan kondisi Tiara yang juga tampak pucat, sorot mata Andika seketika berubah dingin dan acuh. Pria itu kembali memalingkan wajah, mengabaikan keberadaan Tiara seolah perempuan itu hanyalah pajangan tak berharga di rumah itu. "Dika! Kamu itu gimana, sih? Istrimu lagi hamil muda kok dibiarin di luar kamar terus, kasihan kecapekan!" Suara melengking ibu mertuanya tiba-tiba terdengar dari arah dapur, memecah keheningan. “Istrimu itu, siapa?” Tiara membatin. Wanita paruh baya itu berjalan mendekat membawa secangkir teh hangat, lalu melirik Tiara dengan tatapan penuh permusuhan. "Dan kamu, Tiara! Jam segini baru keluar kamar? Bukannya siapin sarapan yang benar buat Adelina, malah enak-enakan tidur!" Tiara tidak membalas. Dia hanya meremas tangannya yang terasa dingin di balik saku daster, meredam rasa nyeri di ulu hatinya yang kembali merayap naik. Kenyataan bahwa suaminya lebih memilih manut pada ibunya dan memanjakan wanita lain di depan matanya sendiri, membuat Tiara benar-benar kehilangan selera untuk peduli. Dia melangkah melewati mereka begitu saja menuju dapur tanpa mengucap sepatah kata pun. Persetan dengan Andika, persetan dengan drama kehamilan Adelina. Tiara tahu, mulai detik ini, tidak ada lagi alasan baginya untuk bertahan di rumah yang sudah menjadi neraka ini. Tiara hanya menyiapkan sarapan seadanya tanpa banyak bicara, mengabaikan keberadaan wanita itu, suaminya dan ibu mertuanya yang masih sibuk menenangkan Adelina yang tampak ingin muntah lagi. “Huek. Ugh!” Keluhnya. Tiara sama sekali tidak menoleh, lebih memilih fokus ke irisan bawangnya untuk membuat sup. “Kamu kenapa Sayang?” Ibu mertua Tiara itu bertanya lembut, layaknya seorang ibu yang penuh kasih, lembut, dan tak biasanya. "Pusing, Bu. Baunya bikin mual lagi," keluh Adelina dengan suara yang sengaja dilemahkan, matanya melirik ke arah wajan tempat Tiara mulai menumis bawang. Ibu mertua Tiara langsung berkacak pinggang, menatap punggung Tiara dengan pandangan menghunus. "Tiara! Kamu sengaja, ya? Sudah tahu Adelina gak bisa cium bau masakan menyengat, kenapa kamu malah numis bawang sekarang? Sengaja mau bikin kandungan Adelina kenapa-kenapa?!" Tiara tetap tenang. Tangannya yang memegang spatula tidak berhenti bergerak, membiarkan bunyi desis tumisan memenuhi dapur. Dia tidak menjawab sepatah kata pun. Sikap diamnya ini bukan karena dia takut atau pasrah, melainkan karena dia sedang mengamati seberapa jauh kepalsuan dan kegilaan yang bisa dilakukan oleh keluarga suaminya ini. Tiara mencatat setiap perlakuan mereka dalam benaknya, mengumpulkan bukti betapa rendahnya moral orang-orang yang selama tiga tahun ini dia hormati. "Andika! Lihat itu istrimu! Diajak bicara malah budek, gak punya sopan santun sama sekali!" adu ibunya pada Andika yang baru masuk ke area dapur lagi. Andika menghela napas panjang, menatap Tiara dengan kening berkerut dalam. "Ra, bisa gak sehari aja kamu gak bikin Ibu darah tinggi? Kalau masak yang simpel aja, jangan yang baunya tajam." Tiara mematikan kompor dengan gerakan santai. Dia membalikkan tubuh, menatap Andika lurus-lurus dengan netra cokelat lembutnya yang kini terasa dingin dan kosong. Keheningan sesaat melingkupi dapur. Andika yang ditatap seperti itu mendadak salah tingkah dan membuang muka, ego lelakinya terusik melihat ketenangan Tiara yang tidak biasa. Biasanya, Tiara akan langsung meminta maaf, tapi hari ini tidak. "Aku masak untuk diriku sendiri," sahut Tiara datar, suaranya pelan tapi terdengar begitu jelas dan mutlak di antara mereka. "Kalau Adelina tidak cocok dengan baunya, silakan kalian cari makanan di luar. Rumah ini punya dapur, dan aku berhak menggunakannya." "Kurang ajar kamu ya, Tiara!" pekik ibu mertuanya, tidak menyangka menantu yang biasanya penurut itu berani menjawab. "Kamu sudah menumpang di rumah anakku, mandul, sekarang malah berani ngatur-ngatur?!" Tiara hanya mengulas senyum tipis yang sarat akan sarkasme. “Menumpang?” batinnya geli. Ibu mertuanya tidak pernah tahu saja siapa yang sebenarnya menopang keuangan tersembunyi yang membuat bisnis Andika tetap berjalan sampai sekarang. Tiara sengaja menyimpan kartu as itu rapat-rapat. Dia ingin melihat sampai di mana batas kesombongan wanita tua di depannya ini sebelum semuanya berbalik menghancurkan mereka. Namun, tepat saat Tiara hendak melangkah membawa mangkuk supnya, hantaman rasa nyeri yang luar biasa kembali meremas ulu hatinya. Rasa sakit itu datang begitu mendadak dan jauh lebih menyiksa dari sebelum-sebelumnya, membuat pandangan Tiara sempat menggelap sesaat. "Ugh.” Tiara mendesis lirih, sebelah tangannya refleks mencengkeram pinggiran meja konter dapur dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin kembali bercucuran di pelipisnya. Rasa mual yang hebat menyodok kerongkongannya, tapi Tiara sekuat tenaga menahannya. Dia menolak untuk terlihat lemah atau muntah di depan orang-orang ini. "Kenapa kamu? Mau akting sakit juga buat saingan sama Adelina?" sindir ibu mertuanya ketus, sama sekali tidak menangkap gurat kesakitan yang nyata di wajah pucat Tiara. Andika sempat melangkah maju satu jengkal, melihat jemari Tiara yang gemetar, tapi rengkuhan manja Adelina di lengannya kembali menahan pria itu untuk tidak peduli. Tiara menarik napas dalam-dalam, menguasai sisa tenaganya, lalu berjalan melewati mereka begitu saja menuju kamar tamu tanpa menoleh lagi. Rasa sakit di tubuhnya mungkin parah, tapi rasa muak pada kepalsuan mereka jauh lebih besar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD