Tiga tahun menikah, Andika sangat jarang cuti dari kantor. Dia selalu bekerja entah apapun kondisinya. Dalam satu tahun terbilang berapa kali Andika cuti. Sebab itu, ketika hari ini dia mengatakan akan di rumah menjaga Adelina, Tiara hanya bisa diam. Tatapannya datar. Sejak ibu mertuanya menghina karena mandul, mengatakan kalau dia iri pada kehamilan Adelina, Tiara memutuskan untuk tidak melakukan apapun yang biasa dia lakukan.
Penghianatan itu tidak bisa diterima, terlebih ketika sampai membuat wanita lain hamil. Tiara tidak sudi, tapi dia tidak bisa membantah ibu mertuanya.
“Kamu mau ke mana?” Andika bertanya setelah banyak diam dari kemarin, hanya fokus pada Adelina yang sensitif, banyak sekali keluhannya yang membuat Tiara muak melihat sikap manjanya.
“Itu …,”
“Mas ….”
Bola mata Tiara melirik ke arah Adelina yang berbaring di sofa. Panggilan manja itu lagi membuat Tiara menahan diri untuk tidak muntah di depan Andika.
“Iya, Sayang, sebentar.” Andika menyahut dengan nada yang tak pernah didengar oleh Tiara. “Kamu jangan ke mana-mana, bantuin aku,” katanya kembali melirik pada sang istri lantas pergi ke sofa sambil membawa s**u ibu hamil untuk Adelina.
Masa bodoh. Tiara hanya mendengus, dan dia memilih untuk tetap pergi. Tak lagi mengindahkan permintaan suaminya, yang bagi Tiara sendiri dia sudah mati sejak mengetahui bahwa dia menghamili wanita lain.
“Tiara!”
Tiara tak menghentikan langkahnya, hanya berkata, “urus saja urusanmu. Aku ada urusan. Jadi jangan libatkan aku atas apa yang tidak aku perbuat.” Lantas membuka pintu dan pergi begitu saja.
Namun, begitu kakinya melewati ambang pintu dan angin luar menerpa wajahnya, pertahanan yang sejak tadi dia bangun seolah retak. d**a Tiara terasa begitu sesak, seakan oksigen di sekitarnya mendadak habis. Langkahnya melambat saat mendekati gerbang besi rumahnya. Matanya mulai memanas, dan cairan bening mulai menggenang, siap untuk tumpah.
Tiara berhenti tepat di balik gerbang. Tangannya mencengkeram besi dingin itu dengan erat. Rasa sakit akibat pengkhianatan Andika, hinaan ibu mertuanya, dan kenyataan bahwa posisinya telah digantikan begitu saja, berputar-putar di kepalanya. Air matanya hampir saja luruh ke pipi.
“Jangan menangis, Tiara. Jangan di sini,” bisik hatinya dengan tegas.
Dia menengadah, menatap langit pagi, lalu menarik napas dalam hingga beberapa kali. Dia menolak menjadi lemah. Menangis di depan gerbang ini hanya akan membuat orang-orang di dalam sana merasa menang. Andika tidak layak mendapatkan air matanya, dan ibu mertuanya tidak boleh melihatnya hancur. Tiara mengusap sudut matanya yang basah dengan kasar. Dia memantapkan hatinya, mengunci rapat-rapat segala rasa perih itu, dan mengubahnya menjadi ketenangan yang dingin.
Dengan gerakan pasti, Tiara membuka gerbang dan melangkah keluar. Dia tidak menoleh lagi ke belakang. Fokusnya kini tertuju pada jalanan di depannya. Di tengah langkahnya yang konstan, ulu hatinya kembali berdenyut nyeri, sisa dari rasa mual dan sakit perut yang belakangan ini kerap menyiksanya. Namun, Tiara mengabaikannya. Rasa muak pada kepalsuan di dalam rumah itu jauh lebih mendominasi ketimbang rasa sakit di tubuhnya.
Dia berjalan menuju jalan raya untuk mencari taksi. Tiara tahu dia harus pergi sejauh mungkin dari atmosfer beracun itu hari ini.
Di balik sikap diam dan tenangnya sekarang, pikiran Tiara justru sedang bekerja keras. Dia mulai menyusun rencana tentang apa yang harus dia lakukan ke depan. Dia tidak akan membiarkan dirinya diinjak-injak lebih lama lagi sebagai pajangan mandul di rumah itu. Sambil terus melangkah, Tiara meraba ponsel di sakunya, bersiap menghadapi apa pun yang akan terjadi setelah kepergiannya yang tanpa izin ini.
***
Langit sudah hampir redup saat Tiara pulang ke rumah sore itu dan ketika Tiara mendorong pintu rumah, pemandangan di ruang tengah langsung menyambutnya. Bungkus camilan plastik, sisa makanan, dan botol minuman kosong berserakan di atas lantai marmer yang biasanya dia pel hingga mengilap.
Di atas sofa, Andika sedang duduk memangku kaki Adelina sambil memijatnya lembut. Mereka berbisik mesra lalu tertawa kecil. Sementara di sofa tunggal, ibu mertuanya santai saja menggulir layar ponsel, mengabaikan kekacauan di sekeliling mereka.
Begitu derit pintu terdengar, ketiganya menoleh. Ibu mertuanya langsung meletakkan ponsel dengan wajah mengetat penuh amarah, lalu berdiri menghampiri Tiara.
"Bagus ya! Jam segini baru pulang!" bentak ibu mertuanya langsung menyemprot Tiara. "Istri macam apa kamu ini, Tiara? Meninggalkan rumah berjam-jam tanpa izin, membiarkan suami dan tamumu kelaparan! Kamu lihat itu rumah sampai berantakan begitu, kamu sengaja menelantarkan kami, hah?”
Tiara menghentikan langkah di dekat pembatas ruang. Tatapannya datar menyisir sampah di lantai, lalu beralih pada Andika.
Andika ikut menimpali dengan nada menuntut, "Kamu ke mana aja sih, Ra? Ibu benar. Kamu pergi gak bilang-bilang, handphone dihubungi gak bisa. Adelina dari tadi pusing dan butuh istirahat, tapi rumah berantakan begini karena kamu gak ada, jadi gak ada yang beresin!"
Adelina hanya diam, memasang wajah sayu yang dibuat-buat sambil semakin merapatkan tubuhnya pada Andika.
Melihat rentetan omelan itu, Tiara tetap berdiri tegak. Dia tidak tampak panik atau gemetar. Tatapan cokelat lembutnya justru sangat tenang, mengamati setiap jengkal kepalsuan di depannya dengan saksama. Sikap diamnya kali ini adalah cara Tiara menilai sejauh mana mereka menganggapnya sebagai pembantu, bukan istri sah.
Setelah ibu mertua dan suaminya selesai meluapkan kekesalan, Tiara baru membuka suara.
"Aku ada urusan pribadi yang harus diselesaikan," sahut Tiara pelan tapi tegas, memotong napas gusar ibunya. "Dan untuk sampah-sampah ini, yang membuat kekacauan itu kan kalian. Kalian juga yang punya tangan dan kaki sehat. Jadi, silakan bersihkan sendiri."
"Kurang ajar! Kamu berani menjawab?" pekik ibu mertuanya kaget. Matanya melotot dengan apa yang Tiara katakan, sungguh berani sekali.
Andika juga melotot. "Tiara, jaga bicaramu!"
Tapi Tiara tidak memedulikan gertakan itu. Dia melangkah melewati mereka dengan tenang menuju kamar tamu, mengabaikan rasa perih di ulu hatinya yang kembali berdenyut samar. Bersamaan dengan pintu kamar yang tertutup, Tiara tahu posisinya kini jauh lebih kuat karena dia sudah melihat batas akhir dari rasa hormatnya pada mereka.
“Apa salahku?” Dia berbisik pada sunyi kamar tamu yang tak satupun miliknya di sana.
Bersandar pada daun pintu, Tiara menengadah menatap langit-langit kamar dengan kosong, mengingat kembali apa yang telah dia lakukan selama tiga tahun menikah dengan Andika.
Menarik napas dan menghembuskan perlahan, Tiara berjalan ke tempat tidur dan duduk di sana. Tubuhnya terasa begitu lelah setelah seharian sibuk di luar. Padahal, selama ini Tiara jarang keluar rumah, tapi hari ini dia harus pergi demi mengamankan sepotong hatinya yang hancur atas fakta yang terjadi, pengkhianatan suami yang dia hormati dan cintai setulus hati.
Perhatian Tiara tertuju pada ponsel yang dia taruh di atas meja nakas samping tempat tidur. Ada satu notifikasi masuk.
[Tiara.]
Hanya satu pesan yang menyebut namanya dari nomor asing yang anehnya Tiara tahu siapa pengirimnya.