"Berhenti minum ini sekarang juga, Tiara!" desis Netty dengan napas memburu, membuat Tiara tersentak di kursinya.
Suasana di meja restoran itu mendadak mencekam. Tiara hanya terpaku, menatap botol obat yang kini dicengkeram erat oleh Netty hingga buku-buku jari sahabatnya memutih. Kalimat Netty barusan terus berdengung di telinganya, menuntut penjelasan yang mendadak membuat otaknya membeku.
"Maksud kamu apa, Ty?" tanya Tiara akhirnya, suaranya pelan, hampir menyerupai bisikan. "Itu obat penguat kandungan dan kesuburan yang diresepkan langsung sama Dokterku. Ibu mertua dan Andika bahkan selalu nemenin aku nebus obat itu ke apotek kliniknya."
"Dokter kamu itu b******n!" Netty menggebrak meja dengan tertahan, matanya memerah menahan amarah yang membumbung tinggi. "Ini obat penahan kehamilan dosis tinggi, Tiara! Aku ini dokter kandungan, aku tahu luar dalam jenis obat ini meskipun label botolnya diganti dengan nama vitamin! Dokter itu sudah dibayar untuk membohongi kamu!"
Kata-kata Netty bagaikan petir yang menyambar tepat di atas kepala Tiara. Detik itu juga, dunia di sekitar Tiara seolah runtuh tanpa sisa. Tubuhnya mendadak kaku, darahnya terasa berhenti mengalir, dan rasa dingin yang ekstrem menjalar dari ujung kaki hingga ke dadanya.
Selama hampir tiga tahun ini ….
Setiap kali selesai pemeriksaan, dokter yang sangat dia percayai itu selalu tersenyum ramah, menyodorkan resep ini, sementara Andika dan ibunya mengangguk-angguk seolah paham, prihatin atau apapun yang tak membuat Tiara protes selain semakin menumbuhkan harapannya. Lalu setiap malam di rumah, ibu mertunya akan mengomel, memastikan Tiara tidak lupa meminum obat dari dokter agar rahimnya subur.
Tiara percaya semua karena Dokter Vitta adalah sepupu dari suaminya, tapi, siapa yang sampai hati melakukan itu padanya?
Lalu kilasan memori lain berputar kejam di otaknya. Hinaan yang dia terima dari mulut ibu mertuanya, tatapan kecewa Andika, sebutan wanita mandul yang melekat padanya, hingga kedatangan Adelina yang hamil dan merebut posisinya sebagai istri sah, semuanya karena dia dianggap gagal memberikan keturunan.
Tapi ternyata, dia tidak mandul. Dia sengaja dimandulkan lewat tangan dokter itu entah atas rencana siapa, atas permintaan siapa, Tiara tidak tahu. Siapapun itu, telah berhasil menghancurkannya.
Rasa syok yang teramat sangat menyumbat tenggorokan Tiara. Air matanya bahkan menolak untuk keluar. Dadanya begitu sesak hingga rasanya mau mati, tetapi anehnya, tidak ada jeritan dan tangisan yang keluar dari mulutnya. Tiara hanya terdiam dengan tatapan mata yang mendadak kosong, menatap lurus ke depan seolah jiwanya baru saja direnggut paksa dari tubuhnya.
Melihat Tiara yang berubah menjadi seperti mayat hidup dalam sekejap, amarah Netty yang meledak-ledak tadi langsung luruh, berganti dengan rasa bersalah dan kesedihan yang teramat sangat melihat kehancuran sahabatnya.
Netty langsung bangkit dari kursinya, melangkah cepat memutari meja, dan langsung merengkuh tubuh Tiara ke dalam pelukannya. Dia mendekap kepala Tiara erat-erat di dadanya, menangis sesenggukan.
"Sorry, Ra. Maafkan aku," bisik Netty dengan suara parau yang basah oleh air mata. "Aku maksud buat bentak kamu, gak maksud buat marah. Tadi itu ….” Netty bahkan tak sanggup menyampaikan katanya sekali lagi. Dia sama sekali tidak bermaksud. Melihat obat yang membunuh harapan sahabat terbaiknya, bagaimana mungkin dia diam saja, bukan?
Tapi Tiara hanya diam saja. Bak boneka mati di dalam dekapan Netty yang justru menangis. Rasa bersalah itu menyusupi perasaan Netty.
“Andai … aku gak pergi ke Jepang waktu itu, dan tetep di sini saat kamu menikah dulu. Andai aku ada di sini menemani kamu periksa, dokter itu gak akan bisa menipumu seperti ini. Aku pasti bakal jaga kamu, Ra. Maafkan aku."
Netty terus terisak, berharap Tiara akan menangis, memaki, atau setidaknya membalas pelukannya untuk meluapkan rasa sakit yang luar biasa itu.
Namun, Tiara tetap diam. Punggungnya tegak kaku, matanya yang kosong menatap lurus pada dinding restoran tanpa ekspresi sedikit pun. Tidak ada air mata, tidak ada suara. Dan diamnya Tiara saat ini justru terasa jauh lebih mengerikan dan menakutkan bagi Netty, karena dia tahu, sesuatu di dalam diri Tiara telah mati seutuhnya, dan badai besar sedang bersiap untuk menggulung siapa saja yang telah menghancurkan hidupnya.
***
Kemarahan dan teguran tegas dari Netty di restoran tadi masih membekas di benak Tiara. Jiwanya masih belum kembali seutuhnya, bahkan sampai Netty mengantarkannya pulang hingga ke depan pintu gerbang rumah pun Tiara hanya diam saja membuat Netty jadi was-was.
“Makasih buat hari ini, Ty,” ucap Tiara, menoleh pada Netty yang menatapnya dalam diam, dengan rasa bersalah yang tercetak jelas di wajahnya.
“Ra, aku ….”
“Nggak apa-apa, Ty. Aku paham. Hanya saja, aku nggak tau harus apa. Cuma, makasih udah hentikan aku, Ty. Andai hari ini nggak terjadi, aku sampe kapanpun tak akan pernah tau obat itu,” katanya.
Netty menatapnya dengan dahi berkerut dalam.
“Ayolah, jangan kayak gini. Aku takut kamu lakuin hal konyol, Ra,” ujar Netty, paham pola kemarahan dan kecewanya Tiara.
“Liat aja. Aku pasti bakal lakuin apapun,” katanya membenarkan dugaan Netty. “Tapi tenang aja, bukan hal yang bakal lukain aku sendiri, kok,” lanjutnya. Tapi Netty tak percaya. “Ya udah, aku turun dulu. Kamu hati-hati di jalan nyetirnya ya. Salam sama Mamih. Aku cerita nanti kalo udah lebih tenang.”
Usai mengatakan itu Tiara membuka pintu mobil Netty tanpa memberi kesempatan pada sahabatnya itu untuk menghentikannya. Dia bahkan berjalan memasuki halaman rumah tanpa menoleh sama sekali.
“Apapun itu, aku dukung selama itu gak bikin kamu terluka, Ra. Aku tunggu.” Pada akhirnya, Netty bicara sendiri, menatap pintu gerbang rumah Tiara itu yang tampak dingin. Pintu menjadi batas yang tak akan bisa Netty lewati untuk saat ini.
Setelah menghela napas, dia akhirnya melanjutkan perjalanan, membawa mobilnya menjauhi rumah itu. Rumah yang akan menyambut Tiara dengan luka, dengan sayatan hati yang tak akan pernah bisa disembuhkan oleh maaf sekalipun.
Tiara berdiri di teras rumah, pintunya tertutup rapat. Tidak ada suara aneh yang terdengar dari dalam. Tiara menerka, apa yang sedang mereka lakukan? Dia akan masuk, tapi rasa sakit di perutnya mendadak muncul, merayap membuat ulu hatinya kembali sakit, lambungnya terasa dikocok, memaksanya untuk memuntahkan isi perutnya yang sudah menyantap makanan lezat di restoran tadi.
“Nggak apa-apa. Ini mungkin reaksi mag aja. Besok aku periksa,” bisiknya pada dirinya sendiri.
Dia menghela napas panjang, bersiap untuk menghadiri apapun yang ada di balik pintu itu. Begitu dia membukanya, tidak ada apa-apa selain sayup suara dari ruang tengah.
“Bagus sekali, Vit. Wanita itu pasti tidak akan pernah mengandung anaknya Andika. Membayangkannya saja sudah membuat aku jijik.”
Sekali lagi Tiara merasa tersambar petir tepat di atas kepalanya mendengar apa yang baru saja dia dengar dari mulut ibu mertuanya.
Tubuhnya limbung ke belakang, dia seolah tak berpijak pada bumi. Pikirannya kabur, tubuhnya seperti tak bertulang. Dia gemetar mendengar apa yang baru saja Rita katakan. Dadanya terasa begitu sesak mengetahui bahwa wanita yang dia anggap ibu kedua, yang dia hormati sepenuh hati meski caci maki selalu terlontar dari mulut wanita itu. Tapi, dia sama sekali tak pernah berprasangka buruk terhadapnya.
“Kenapa?” Tiara tak habis pikir bahwa ibu mertuanya persengkokolan dengan Vitta, dokter yang memeriksanya, dokter yang dia percaya akan memberikan arahan terbaik untuk harapannya menjadi ibu.
Namun kini, semua itu pupus seketika.