Alih-alih mengegetkan ibu mertuanya, Tiara lebih memilih masuk ke kamar tamu, mengambil beberapa barang penting, lantas keluar dari rumah itu tanpa pamit. Dia pergi dengan senyap, dengan luka yang kian membesar di dalam hatinya. Fakta bahwa dia mandul karena sabotase licik mertuanya, fakta bahwa dia akan segera punya madu, fakta bahwa setiap malam terdengar sayup-sayup orang b******u itu cukup menjadi alasannya pergi, bukan?
Tiara tidak peduli dengan apapun yang akan terjadi lagi setelah ini. Tapi dia harus pergi ketika hatinya berbisik tak mampu lagi untuk bertahan. Tiara tahu, keputusan yang dia ambil itu gegabah, tapi bertahan di sana dengan hati yang hancur tak menjamin dia akan tetap tenang tanpa bertindak. Dia khawatir akan melukai.
Langit perlahan menutup tirai petang, kegelapan mulai merambat menyelimuti kota Bandung. Dalam perjalanan pulang ke suatu tempat itu Tiara hanya diam. Duduk bersandar pada jendela taksi. Pikirannya terus berkelana, membuat skenario untuk jawaban dari pertanyaan yang mungkin akan terlontar begitu dia tiba di tujuannya.
Dua puluh menit kemudian, ketika langit gelap dengan sempurna, lampu-lampu menyala di setiap bangunan dan taman, taksi yang ditumpangi Tiara tiba di depan sebuah bangunan tua dengan halaman luas yang hijau.
“Terima kasih Pak,” ucap Tiara pada sang sopir yang tampak sudah tua. Dia menyelipkan beberapa lembar uang dan menolak kembaliannya.
Setalah taksi itu pergi menjauh, Tiara menatap bangunan tua yang masih berdiri dengan kokoh itu, perasaannya campur aduk.
Rumah berlantai satu yang terasnya cukup luas, ada sofa kayu dan meja tersemat di sudutnya. Bangunan bergaya minimalis kuno itu masih mempertahankan arsitektur era 80-an dengan jendela-jendela besar dan halaman rumput yang tertata rapi. Sunyi. Hanya suara jangkrik yang bersahut-sahutan memecah keheningan malam kota Bandung.
Tiara menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa kekuatan yang dia punya sebelum melangkah menaiki undakan teras. Tangannya yang dingin membuka pintu depan yang kebetulan tidak dikunci, dia mengucap salam pelan, suaranya seperti tertahan di tenggorokan.
Begitu melangkah masuk ke ruang tengah, aroma teh melati yang familier langsung menyambut penciumannya. Di sana, di atas sofa rotan bermotif bunga, duduk seorang wanita tua dengan rambut yang sebagian besar telah memutih itu terbalut mukenah putih bersih. Dia adalah Puspa Nareswari. Wanita keturunan Sunda asli yang kini menginjak usia 65 tahun itu sedang membaca kitab suci dengan kacamata yang bertengger di hidungnya. Televisi dibiarkan menyala, menonton sang tuan yang tampak khusus membaca setiap bait kalam suci Tuhan.
Mendengar suara langkah kaki, Puspa mendongak. Matanya seketika membelalak melihat putri tunggalnya berdiri di sana, menjinjing sebuah tas besar dengan wajah sepucat kapas.
"Ya Allah, Ra? Kenapa datang malam-malam begini?" Puspa bangkit berdiri, langkahnya agak lambat tapi pasti mendekati Tiara.
Tiara tidak menjawab. Dia hanya menatap ibunya dengan pandangan kosong. Rasa lelah yang teramat sangat membuat lidahnya kelu untuk sekadar mengarang alasan yang sudah dia siapkan di taksi tadi. Dia menyambut ibunya, menarik tangan tua yang keriputan itu dan menciumnya takjim dengan perasaan berat yang dia bawa. Airnya mendesak untuk keluar, sesak memenuhi relungnya tapi Tiara harus bertahan.
Tapi, sebagai seorang ibu, Puspa jelas menangkap ada sesuatu yang sangat salah. Tas besar di tangan Tiara dan tatapan mata anaknya yang mati rasa adalah jawaban yang cukup. Namun, Puspa memilih untuk tidak mencecar. Dia tahu kapan harus bertanya dan kapan harus memberi ruang.
"Bi Asih! Bi!" panggil Puspa dengan suara lembut tapi tegas.
Tak lama, seorang wanita paruh baya dengan celemek batik keluar dari arah dapur. Itu Bi Asih, pembantu setia yang bertugas membereskan rumah, memasak, sekaligus merawat Puspa sehari-hari.
"Eh, Neng Tiara? Belum alih-alih sudah datang, Neng?" Bi Asih terkejut, tapi segera tanggap begitu melihat kode lirikan mata dari Puspa.
"Bi, tolong bawakan tas Tiara ke kamar lamanya. Setelah itu, siapkan air hangat untuk dia mandi, ya. Sama tolong hangatkan sayur di dapur, kita makan malam bersama," perintah Puspa tenang.
"Baik, Ambu. Mangga, Neng, tasnya Bibi bawakan," Bi Asih mengambil alih tas besar dari tangan Tiara yang lemas, lalu bergegas menuju koridor kamar.
Puspa mengelus bahu Tiara lembut.
"Mandi dulu, Ra. Segarkan badanmu. Setelah itu kita makan. Ibu tunggu di meja makan."
Tiara hanya mengangguk patuh. Dia melangkah menuju kamarnya dengan tubuh yang terasa sangat ringan, seolah-olah raganya sudah tidak memiliki bobot lagi.
Di rumah ini, untuk sementara, dia bisa bernapas tanpa harus mendengar suara sayup-sayup suaminya b******u dengan wanita lain di kamar sebelahnya, kamar atas atau ruang apapun yang ada di sana seolah sengaja dilakukan untuk memanasi Tiara yang memilih bungkam, tuli dan buta walau hatinya mencatat semua itu menjadi luka l.
***
Sementara itu, kontras dengan ketenangan di kediaman Nareswari, suasana di rumah mewah yang semula ditempati Tiara itu justru sedang memanas.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tetapi meja makan di rumah itu masih menyisakan makanan yang mendingin.
Rita berjalan mondar-mandir di ruang keluarga dengan wajah tertekuk masam. Tangannya bersendekap di d**a, dan setiap embusan napasnya terdengar seperti dengusan kesal.
Andika baru saja turun dari lantai dua setelah mengantar Adelina beristirahat. Begitu kakinya memijak anak tangga terakhir, suara lengkingan ibunya langsung menyambut.
"Andika! Mana istri mandulmu itu?! Jam segini belum pulang juga!" semprot Rita tanpa memedulikan volume suaranya. "Dia pikir ini hotel? Bisa keluar masuk sesuka hati tanpa izin, hah?!”
Andika mengusap wajahnya yang tampak lelah.
"Mungkin Tiara masih di jalan, Bu. Tadi katanya mau ketemu Netty yang baru pulang dari Jepang."
"Ketemu teman sampai selarut ini? Nggak tahu diri!" Rita mendengus kasar, berkacak pinggang di depan anak laki-lakinya. "Harusnya dia itu tahu posisi! Sudah tidak bisa kasih cucu, sekarang malah berlagak sok sibuk di luar rumah. Siapa yang mau urus keperluan Adelina kalau dia keluyuran terus? Kamu itu suami, Andika! Jangan terlalu lembek jadi laki-laki, makanya dia ngelunjak!"
Andika hanya terdiam, menerima rentetan omelan ibunya dengan kepala berdenyut penat. Dia melirik ke arah pintu depan yang masih tertutup rapat, mulai merasa ada yang tidak beres karena ponsel Tiara sama sekali tidak bisa dihubungi sejak sore tadi.
Namun di hadapan ibunya yang sedang naik pitam, Andika hanya bisa menelan kekesalannya sendiri. Tidak akan pernah berani membantah dan hanya membiarkan kedua telinganya panas oleh ucapan ibunya yang tak berhenti.
“Ada apa dengannya?” Andika membetin, bertanya-tanya. Tidak biasanya Tiara di luar pada jam sembilan malam, tidak memasak juga padahal dia bilang kalau akan pulang. “Tapi kemana?” Dia seolah buntu tempat yang akan dituju Tiara.