Siang itu Ayaka masih merasa khawatir. Ia ingin menelepon William tetapi takut mengganggu istirahat laki-laki itu. Selama beberapa menit terakhir, ia duduk di meja tulisnya yang menghadap jendela di kamar tidurnya. Ia tidak punya jadwal kerja hari ini. Ia memang sengaja mengatur agar hari ini ia bisa berlibur. Sudah lama ia ingin pergi ke kota untuk melihat-lihat dan berbelanja, namun tentu saja ia tidak bisa menikmati acara belanjanya kalau terus memikirkan William. Ia sedang memutuskan apa yang sebaiknya dilakukannya ketika ponselnya tiba-tiba berbunyi. Ia melirik layar ponsel yang tergeletak di meja dan cepat-cepat menjawabnya. “William?” “Kau bisa datang ke sini?” Suara William terdengar lirih dan lemah. Napasnya juga terdengar berat, seolah-olah butuh usaha besar hanya untuk berbi

