BAB 5

1078 Words
Ayaka tiba-tiba menyadari dirinya sangat lelah dan lapar ketika ia berjalan melewati pintu restoran kecil berdesain modern keesokan harinya. Aroma steak yang kuat langsung memenuhi ruangan dan membuat kepalanya sedikit berputar. Ia tidak tidur semalaman karena harus menyelesaikan artikel yang dijanjikannya kepada Miho. Begitu artikel selesai, ia segera mengirimkannya lewat email, lalu menatap jam dan sadar hanya ada satu jam tersisa sebelum ia harus berangkat ke lokasi syuting. Dihadapkan pada pilihan antara tidur sebentar atau sarapan, Ayaka memilih tidur. Ia tahu satu jam itu tidak cukup, tetapi tubuhnya sudah terlalu letih. Ketika pagi tiba dan ia hendak keluar dari flat, telepon dari Miho masuk. Miho meminta bertemu saat makan siang. Ayaka menjelaskan bahwa artikelnya sudah dikirim, namun Miho tetap bersikeras. Ada hal penting yang ingin dibicarakan, katanya, mengenai perancang busana baru yang akan ditampilkan di edisi mendatang. Ayaka memahami sifat Miho yang tidak suka ditolak. Ia juga merasa tidak tega menolak permintaan temannya. Akhirnya ia menyerah dan menyetujui pertemuan itu. Sambil menunggu makanan di restoran, Ayaka memikirkan jadwalnya yang padat. Syuting, pertemuan, dan pekerjaan menumpuk membuatnya hampir tidak punya waktu untuk beristirahat. Ia meneguk air dingin, mencoba menenangkan diri. Ia tahu hari itu akan panjang, tetapi ia berusaha menjaga fokus. Pertemuan dengan Miho mungkin akan menambah beban, namun ia tidak punya pilihan selain menepati janji. Ayaka melirik jam tangan dan mengerang dalam hati. Perutnya yang menyedihkan terpaksa harus bertahan tanpa makanan siang ini. Ia harus cepat-cepat kembali ke lokasi syuting. Tadi Ayaka hanya sempat memberitahu Yoon bahwa ia akan pergi sebentar sementara para kru makan siang. Ia tidak memberitahu Sutradara Shin karena tadi pria itu terlihat sedang sibuk bicara dengan asisten sutradara. Si asisten sutradara ... Ayaka menarik napas dan mengusap pelipisnya sejenak. Ia tidak tahu apa yang harus dipikirkannya tentang William Park. Mereka belum sempat berbicara hari itu karena keadaan di lokasi syuting sangat sibuk dan karena hari ini tidak ada adegan yang melibatkan dirinya, William Park selalu berada di belakang kamera bersama Sutradara Shin. Tapi besok adalah hari terakhir syuting. Setelah itu Ayaka tidak akan melihat William Park lagi. Lalu semuanya akan kembali seperti semula. Semuanya akan baik-baik saja. Harus baik-baik saja. Lamunannya buyar ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Ayaka menoleh dan menatap salah satu meja kecil di tengah ruangan. Miho Nakajima melambai ke arahnya sambil tersenyum lebar. Selain nama dan wajahnya, tidak ada kesan Asia lain dalam diri Miho. Karena dilahirkan dan dibesarkan di London, cara berpikir, cara bicara, dan gayanya sangat mirip orang Eropa. Walaupun masih keturunan Jepang, ia praktis tidak bisa berbahasa jepang. Kemampuan berbahasa Iepang-nya benar-benar payah sampai Ayaka selalu berbicara dengannya dalam bahasa Inggris. “Maaf, aku agak terlambat. Sudah lama menunggu?” tanya Ayaka begitu ia duduk dan melirik piring salad yang sudah hampir habis di depan Miho. Perutnya kembali berbunyi. Miho mengibaskan rambut panjangnya yang dicat pirang ke belakang. “Aku bersedia menunggu lama asal kau datang ke sini. Aku benar-benar butuh bantuanmu,” katanya sambil tersenyum lebar. Walaupun ia kini adalah editor-in-chief—jabatan yang dulunya dipegang oleh ibunya sebagai pemilik perusahaan—ia masih sering bergantung pada pendapat Ayaka tentang berbagai hal. “Baiklah. Apa yang bisa kubantu?” tanya Ayaka langsung. Miho tersenyum dan mengeluarkan sebuah folder dari tasnya yang besar. “Ini adalah perancang-perancang baru dan berbakat yang menurutku cocok diperkenalkan di edisi mendatang. Tentu saja kita tidak bisa menampilkan semuanya, jadi aku ingin mendengar pendapatmu. Menurutmu siapa yang paling oke?” Ia membuka folder itu dan mendorongnya ke arah Ayaka. “Kita harus memutuskannya sekarang juga karena aku harus pergi selama seminggu atau bahkan lebih.” “Memangnya kau mau pergi ke mana?” tanya Ayaka sambil terus membaca data yang disodorkan Miho. Miho tersenyum masam. “Aku harus terbang ke Korea malam ini untuk menghadiri perayaan ulang tahun kakekku yang kedelapan puluh. Semua keluarga besar berkumpul untuk acara itu.” la mendesah panjang. “Asal kau tahu, aku tidak pernah suka acara keluarga seperti itu. Aku tidak dekat dengan kerabat-kerabatku, baik yang di Korea maupun yang di Jepang. Sama sekali tidak dekat. Bagaimana bisa dekat kalau aku tidak mengerti apa yang mereka katakan dan mereka sama sekali tidak mengerti bahasa Inggris? Membosankan. Tapi, tentu saja orangtuaku memaksaku hadir. Mereka tidak mau aku dianggap kurang ajar.” Kali ini Ayaka menatap Miho dengan alis terangkat heran. “Kan punya keluarga di Korea?” Kenapa akhir-akhir ini ia merasa seolah-olah melihat orang Korea di mana-mana? “Tentu saja,” sahut Miho sambil mendorong piring salad-nya yang isinya masih bersisa. “Ibuku keturunan Korea. Kau tidak tahu?” Ayaka menggeleng. “Ternyata ibumu orang Korea?” Sepertinya Miho tidak mendengar. Keningnya berkerut samar, memikirkan waktu-waktu panjang dan membosankan yang akan dihabiskannya di Korea. Ia sudah mengajukan seribu satu alasan kepada ibunya untuk tidak ikut, tetapi ibunya bersikeras dan Miho tidak punya pilihan lain yang tersisa selain menurut. Ia mendesah panjang dan menatap ke sekeliling restoran, lalu berkata, “Sepertinya aku butuh sedikit puding cokelat untuk mempersiapkan diriku menghadapi hari-hari suram yang menantiku. Kau mau memesan sesuatu?” Ayaka melirik jam tangan dan mengembuskan napas panjang. “Aku kelaparan setengah mati, tapi tidak ada waktu untuk makan.” Ayaka menunjuk salah satu kertas di hadapannya. “Menurutku yang ini saja. Desain pakaiannya sangat unik, bukan? Aku suka warna-warna yang dipakainya. Bagaimana menurutmu?” “Aku setuju saja denganmu,” sahut Miho dan mengangguk-angguk. “Kau memang punya selera yang bagus, Ayaka. Apa jadinya aku tanpa dirimu?” Ayaka tertawa singkat. “Aku yakin kau akan baik-baik saja,” katanya, lalu melirik jam tangan. “Kalau tidak ada lagi yang lain, aku harus pergi sekarang.” Miho menggeleng. “Tapi setelah aku kembali ke sini nanti aku ingin kau menemaniku pergi menemui perancang ini.” “Baiklah,” kata Ayaka cepat sambil bangkit dari kursi dan meraih tasnya. “Selamat bersenang-senang di Korea. Telepon aku kalau kau sudah kembali. Aku ingin tahu bagaimana kau berhasil melewati hari-hari suram yang kausebut-sebut itu.” Miho tersenyum masam. “Itu juga kalau aku belum mati kebosanan di sana,” gerutunya. “Atau mati kesal karena harus menghadapi kerabat-kerabatku yang suka ikut campur dalam kehidupan pribadiku. Kau tahu, kudengar dari ibuku mereka sekarang berniat menjodohkan aku, seolah-olah aku sudah melakukan dosa besar karena masih melajang di usiaku yang sekarang.” Ayaka kembali melirik jam tangan. Ia harus segera kembali ke lokasi syuting. “Itu tandanya mereka peduli padamu,” katanya cepat, lalu tertawa ketika melihat raut wajah Miho. “Jangan muram begitu. Maksudku, siapa tahu kau suka calon yang mereka ajukan?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD