Sementara itu Ayaka meragukan keputusannya sendiri. Jalanan sudah sepi. Stasiun kereta bawah tanah juga tiba-tiba terlihat remang-remang dan menakutkan. Hanya ada segelintir orang yang berdiri menunggu kereta. Ayaka tidak suka tempat sepi.
Kepanikan mulai meresapi otaknya dan membuat tubuhnya menggigil. Apakah tadi sebaiknya ia menerima tawaran William Park untuk mengantarnya pulang? Tapi ditemani laki-laki yang baru ditemuinya hari ini juga sama sekali bukan pilihan yang pantas dipertimbangkan.
Sepanjang perjalanan pulang Ayaka menyibukkan pikirannya dengan mengingat jadwal kerjanya selama sebulan ke depan, berusaha mengabaikan keadaan kereta yang hampir kosong dan dua pria berpenampilan kusam yang berdiri di dekat pintu sambil mengobrol dan menenggak bir. Ketika ia akhirnya tiba di Hampstead, Ayaka baru bernapas sedikit lebih lega. Hanya sedikit. Karena sekarang ia harus berjalan kaki ke flatnya. Memang tidak jauh dari stasiun, tapi ia tetap merasa paranoid kalau harus berjalan sendirian malam-malam.
Sambil terus menyibukkan pikirannya sehingga tidak berpikiran macam-macam, Ayaka berjalan cepat menyusuri jalan dari bebatuan yang mengarah ke flatnya. Ia baru bisa benar-benar bernapas lega ketika sudah mendekati gedung flat. Robin's Nest di lantai satu gedung itu masih buka dan masih ramai. Cahaya lampu yang terang, suara orang tertawa, bercakap-cakap dan bunyi denting gelas membuat Ayaka merasa santai.
Baru saja ia merasa lega, tiba-tiba bunyi keras di belakangnya membuatnya terperanjat, disusul suara yang mengumpat. Ayaka terkesiap, berputar cepat, dan membelalak.
“Oh, sialan,” gerutu sesosok bayangan gelap di bawah salah satu pohon yang berjejer di tepi jalan. Bayangan itu sepertinya sedang membungkuk dan mengangkat sesuatu dari tanah.
Ayaka seakan terpaku di tempat. Tidak bisa bergerak, tidak bisa bersuara, tidak bisa bernapas. Dengan mata terbelalak ia menatap bayangan itu membetulkan letak ... tong sampah?
“Jangan panik. Ini aku. Aku menabrak tong sampah. Tapi tidak perlu khawatir. Tong sampahnya baik-baik saja.”
Ayaka mengerjap mengenali suara itu sementara bayangan gelap tadi melangkah ke bawah sinar lampu jalan sambil mengangkat kedua tangan. Mata Ayaka melebar setelah wajah laki-laki itu terlihat jelas. “Kau ...?”
William Park menurunkan tangan dan tersenyum lebar.
“Sedang apa kau di sini?” tanya Ayaka heran bercampur curiga. Ia memandang berkeliling, lalu kembali menatap William. Matanya disipitkan. “Kau mengikutiku?”
William tidak langsung menjawab. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Lalu ia berkata dengan nada merenung, “Kau tahu, ini pertama kalinya kau mengucapkan lebih dari dua kata padaku. Dan aku baru tahu kau punya logat London yang jelas. Sebenarnya sudah berapa lama kau tinggal di sini?”
Ayaka terdiam sejenak dan tetap menatap laki-laki di hadapannya. Lalu, tanpa menjawab pertanyaan William, ia bertanya sekali lagi, “Sedang apa kau di sini?”
William Park menjejalkan kedua tangan ke saku jaket abu-abunya dan mengangkat bahu. “Karena kau tidak mau diantar pulang, aku memutuskan untuk mengikutimu.”
Kening Ayaka berkerut tidak mengerti. “Kenapa?”
“Hanya untuk memastikan kau baik-baik saja. Memastikan kau tiba di rumah dengan selamat,” sahut William ringan. “Hyong—maksudku sutradara kita itu —takut sesuatu terjadi padamu.”
Ayaka mengerjap bingung. “Oh.”
“Jadi,” kata William sambil mendongak memandang gedung di depannya, “Kau tinggal di sini?”
Ayaka menoleh, mengikuti arah pandang William, lalu kembali menatap laki-laki itu. “Ya.”
Mendengar nada suara Ayaka, mata William beralih kembali kepada Ayaka dan ia tertawa pendek. “Tidak perlu curiga begitu. Aku tidak minta diajak masuk,” katanya. Ia menatap Ayaka dari kepala sampai ke kaki, lalu kembali ke wajahnya dan berkata, “Lagi pula kau bukan tipeku.”
Ayaka mengerjap kaget, membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Otaknya berkutat mencari balasan yang cocok, tetapi tidak ada satu pun yang terpikirkan olehnya. Otaknya mendadak kosong. Ia hanya bisa menatap laki-laki yang tersenyum lebar itu dengan sebal.
“Baiklah. Karena kau sudah sampai di rumah dengan selamat, aku pergi dulu,” kata William sambil mengangkat sebelah tangan. “Sampai jumpa besok.”
Ketika laki-laki itu berbalik dan mulai melangkah pergi, Ayaka baru berhasil memikirkan selusin cara membalas kata-kata William tadi. Tapi tentu saja sudah terlambat. Dengan jengkel Ayaka membalikkan tubuh sambil menggali tasnya, mencari kunci pintu tangga depan.
“Siapa laki-laki itu?”
Jantung Ayaka hampir jatuh ke tanah ketika Alexa tiba-tiba sudah ada tepat di depan wajahnya. “Ya Tuhan, Alexa!” Ayaka menempelkan tangan ke d**a. “Sedang apa kau di sini?”
Alexa memberi isyarat dengan ibu jarinya ke arah Robin's Nest yang ramai. “Aku sedang bersama teman-temanku,” katanya. “Kebetulan aku melihatmu dengan laki-laki itu. Siapa dia?”
“Rekan kerja,” sahut Ayaka, masih merasa sebal pada diri sendiri karena membiarkan dirinya terlihat seperti orang bodoh di depan William Park.
Alis Alexa terangkat. “Dan dia mengantarmu pulang? Ayaka, aku tidak pernah melihatmu diantar pulang oleh laki-laki.”
“Tidak, dia tidak mengantarku,” sela Ayaka cepat, “Dia mengikutiku.”
Kali ini alis Alexa berkerut. “Dia mengikutimu sampai ke sini? Untuk apa?”
Ayaka tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke belakang. William Park sudah tidak terlihat. Ia menggeleng dan mendesah. “Entahlah. Aku lelah sekali dan aku mau tidur,” katanya sambil mengeluarkan kunci dari tas dan berjalan melewati Alexa. “Sana, kembalilah kepada teman-temanmu.”
“Oh ya, Ayaka,” panggil Alexa. “Miho menelepon mencarimu berkali-kali hari. Katanya ponselmu tidak bisa dihubungi.”
Ayaka baru teringat ia mematikan ponselnya selama proses syuting agar tidak mengganggu. Ia mendesah berat. “Miho. Oh, dear, aku hampir lupa. Aku berjanji akan menyerahkan artikelnya besok.” Ia mengembuskan napas panjang. Bahunya melesak. “Kurasa aku harus membatalkan rencanaku untuk tidur.”
Selain bekerja sebagai model, Ayaka juga bekerja sebagai editor freelance di salah satu majalah fashion populer di lnggris. Ia sangat suka dan tahu banyak soal dunia fashion, jadi ketika Nakajima Miho, mantan teman seprofesi dan putri pemilik majalah itu, meminta bantuannya menulis artikel fashion untuk majalahnya, Ayaka dengan senang hati menerima pekerjaan itu.
Namun sekarang ia mulai mempertanyakan keputusannya sendiri untuk membantu Miho karena sepertinya ia sekarang hanya bukan hanya bertugas menulis artikel fashion, tetapi juga sering diminta mengerjakan tugas yang seharusnya dikerjakan Miho sendiri sebagai editor-in-chief karena temannya itu bukan tipe orang yang bisa mengambil keputusan sendiri.
Alexa menatapnya dengan tatapan prihatin. “Kurasa sudah waktunya kau memilih salah satu, Ayaka. Model atau editor majalah. Kau tidak bisa melakukan dua-duanya dengan jadwalnya yang sekarang. Memangnya kau tidak capek?”
Ayaka memutar kunci dan membuka pintu, lalu ia berbalik menatap temannya. “Jangan khawatir. Aku bisa mengatasinya,” katanya sambil tersenyum.
Ia tidak pernah memberitahu siapa-siapa, tetapi kesibukan adalah perlindungannya. Kesibukan bisa mengalihkan perhatiannya. Kesibukan bisa membuatnya tidak memikirkan hal-hal yang tidak ingin dipikirkannya. Misalnya hal-hal yang berhubungan dengan William Park.