BAB 3

1117 Words
Hari pertama syuting sangat melelahkan karena seharian itu Sutradara Shin memutuskan untuk mengambil adegan di luar ruangan. Lokasi syuting hari itu berkisar di Hyde Park dan West End, terutama di Piccadilly Circus. Tentu saja syuting di tempat umum bukan hal yang gampang karena sisa-sisa musim dingin masih terasa dan banyak orang berlalu-lalang. Namun Sutradara Shin adalah sutradara yang perfeksionis. Ia sangat memperhatikan gerak-gerik Ayaka di depan kamera, dari ekspresi wajah, posisi tubuh, langkah kaki, gerakan tangan, bahkan sampai tatapan mata. “Cut!” seru Sutradara Shin untuk yang kesekian kalinya. Ayaka menegakkan tubuh dan menoleh ke arah si sutradara. Langit sudah berubah gelap sejak berjam-jam yang lalu. Mereka pun sudah mengulangi adegan di depan toko barang antik bercat merah cerah ini sedikitnya enam kali dan tidak ada satu adegan pun yang memuaskan bagi Sutradara Shin. “Kali ini coba kau menyeberang jalan dari sana ke sini,” kata Sutradara Shin ketika ia sudah berada di samping Ayaka, “Lalu berhenti sebentar di depan toko ini, melongok ke dalam, seolah-olah kau ragu, lalu kau masuk. Oke? Kita coba yang ini.” Ayaka tersenyum dan mengangguk walaupun rasa lelah mulai menjalari tulangnya dan tubuhnya menggigil. Ditambah lagi kakinya terasa sakit dalam sepatu bot yang kekecilan. Tentu saja ini bukan pertama kalinya ia merasakan semua itu. Sebagai model pekerjaannya sangat menuntut waktu dan tenaganya. Ia pernah pulang ke rumah pada pukul dua pagi setelah tampil di London Fashion Week sepanjang hari dan harus keluar lagi dari rumah pada pukul empat pagi untuk acara pemotretan di Cornwall. Jadi rasa lelah sama sekali tak asing baginya, malah kadang-kadang ia merasa ia membutuhkan perasaan lelah itu. Sutradara Shin mengangguk. “Kita akan mulai lima menit lagi,” katanya, lalu berjalan ke salah seorang kamerawan di sana. Yoon bergegas membawakan jaket untuk Ayaka. “Terima kasih,” gumam Ayaka sambil mengenakan jaketnya dan menjejalkan tangan ke saku. “Duduk di sini,” kata Yoon sambil mendorong Ayaka ke salah satu bangku di dekat cahaya lampu dan mulai memperbaiki riasannya. Ketika Yoon pergi mengambil peralatannya yang lain, Ayaka memejamkan mata sejenak. Waktu istirahat yang didapatkannya hanyalah sedikit waktu di sela-sela pekerjaan seperti ini. Ayaka tidak tahu apakah ada orang yang pernah menghargai lima menit waktu luang seperti dirinya. Tiba-tiba ia mencium aroma yang enak. Matanya terbuka dan langsung dihadapkan pada secangkir teh yang mengepul. “Capek?” Mendengar suara rendah dan asing itu, Ayaka mengangkat wajah dan langsung bertatapan dengan mata gelap William Park yang ramah. Sejak pertemuan pertama mereka pagi tadi, sepanjang hari itu mereka sama sekali belum sempat saling bicara. Mereka sama sekali belum melakukan adegan bersama dan adegan mereka masing-masing diambil secara terpisah. Dan setiap kali tidak berada di depan kamera, William langsung kembali pada perannya sebagai asisten Sutradara Shin, sibuk di belakang kamera. Ayaka tahu dari Yoon bahwa tujuan utama William datang ke London sebenarnya memang untuk bekerja dengan Bobby Shin dan laki-laki itu hanya setuju menjadi model di video musik ini tanpa dibayar adalah karena si penyanyi adalah teman baiknya. Karena Ayaka tetap bergeming, William meraih tangan Ayaka, ingin membuatnya menerima cangkir kertas yang disodorkan. Tetapi Ayaka langsung tersentak dan secepat kilat menarik kembali tangannya. William mengerjap dan menatap Ayaka dengan alis terangkat heran. Walaupun udara terasa dingin, Ayaka merasa pipinya memanas. Selama beberapa detik tidak ada yang bergerak. Lalu William menghela napas dan menempelkan cangkir kertas yang hangat itu ke tangan Ayaka. “Ini. Minumlah. Kau akan merasa lebih baik,” katanya ringan. Ayaka menggenggam cangkir kertas yang disodorkan itu dengan kedua tangan. Ia mendesah pelan ketika merasakan kehangatan menjalari ujung jari dan tangannya. Sedikit ketegangan pun menguap dari pundaknya. “Sutradara Shin memang agak keras, tapi dia selalu berhasil mendapat gambar yang bagus,” kata William sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana. “Kau akan lihat nanti.” Ayaka menatapnya sejenak, lalu mengangguk singkat. Tepat pada saat itu terdengar suara Sutradara Shin yang menyatakan syuting akan dimulai lagi. William menoleh ke arah si sutradara, lalu kembali menatap Ayaka. “Bertahanlah sebentar lagi,” katanya sambil tersenyum menghibur sebelum berbalik dan meninggalkan Ayaka. Ayaka menatap punggung William yang menjauh sejenak, lalu menunduk menatap cangkir teh yang masih penuh dan bergetar dalam genggamannya. Ia menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya, dan meletakkan cangkir itu ke tanah. *** Akhirnya syuting hari itu selesai juga. Ayaka mengusap-usap bagian belakang lehernya sambil mengumpulkan barang-barangnya. Ia menatap jam yang tertera di layar ponsel. Kalau ia bergegas, ia bisa naik kereta bawah tanah yang terakhir. Besok ia harus bangun pagi-pagi karena ia diminta tiba di lokasi syuting jam delapan pagi. Sekarang ini ia hanya ingin tidur. “Ayaka.” Ayaka berbalik ketika mendengar Sutradara Shin memanggilnya. “Ya?” “Kan akan pulang sendirian?” tanya Sutradara Shin. “Ya,” sahut Ayaka dan tersenyum. “Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa. Aku masih sempat naik kereta terakhir.” Sutradara Shin mengerutkan kening sejenak. “Sekarang sudah terlalu larut. Tidak baik membiarkan seorang gadis berjalan sendirian,” katanya. Kemudian ia memandang berkeliling, ke arah para staf produksi yang sedang sibuk mengumpulkan dan merapikan perlengkapan. Matanya berhenti pada William Park. yang sedang membantu mengangkat perlengkapan ke mobil van. “Oi, William,” seru Sutradara Shin. William Park menoleh. “Ya?” “Kau bisa mengantar Ayaka pulang?” tanya Sutradara Shin dalam bahasa Inggris kepada William. “Aku tidak mau dia pulang sendirian malam-malam begini.” Mata Ayaka melebar. “Tidak,” katanya cepat. Terlalu cepat dan terlalu keras sampai kedua pria itu menoleh memandangnya. Ayaka menggoyang-goyangkan tangan dan tersenyum gugup. “Tidak perlu repot-repot,” katanya dengan suara yang diusahakan tidak terdengar panik. “Aku bisa sendiri. Sungguh.” William berjalan menghampiri mereka. “Aku tidak keberatan,” katanya. “Lagi pula, aku setuju dengan Hyong. Sekarang sudah malam dan sebaiknya ada yang mengantarmu pulang. Kau tinggal di mana?” Ayaka menggoyangkan tangannya lagi. Kali ini lebih cepat. “Sungguh, aku tidak perlu diantar. Aku bisa pulang sendiri. Aku sudah terbiasa pulang sendiri,” katanya sambil meraih tas dan topinya. Ketika ia melihat William membuka mulut seolah-olah ingin mengatakan sesuatu, Ayaka cepat-cepat membungkuk. “Selamat malam,” katanya cepat, lalu berbalik tanpa menunggu jawaban dan berjalan pergi. Mengamati punggung Ayaka yang menjauh, Bobby Shin bergumam, “Rasanya tidak benar membiarkannya pulang sendirian malam-malam begini.” William menoleh. “Tapi dia sendiri tidak mau ditemani,” balasnya. Lalu ia mengangkat bahu. “Hyong tidak perlu cemas. Tidak akan terjadi apa-apa.” Bobby Shin mendecakkan lidah dengan pelan. “Tapi tetap saja ...” gumamnya enggan. Ia menghela napas dan berbalik. “Ya sudahlah. Ayo, William. Kita bereskan tempat ini dan pulang.” “Ya. Tentu saja,” gumam William. Namun ia tidak beranjak dari tempatnya berdiri sampai sosok Ayaka menghilang di belokan di seberang jalan sepi itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD