BAB 2

1122 Words
William melangkah keluar dari flat-nya di Mayfair dan menarik napas dalam-dalam. Ia mengeluarkan iPod dan memasang earphone ke telinga, lalu berjalan ke stasiun kereta bawah tanah. Suasana hatinya saat itu sangat bertolak belakang dengan langit yang cerah. Wajar saja. Ia baru saja berbicara dengan ayahnya di telepon. Setiap kali ia selesai berbicara dengan ayahnya, dadanya selalu terasa berat. Tadi ia menelepon orangtuanya hanya untuk mengabarkan bahwa ia sudah tiba di London dengan selamat. Orangtuanya selalu mencemaskannya, selalu khawatir apabila pekerjaan William menuntutnya pergi ke luar negeri. Sering kali William merasa tertekan dengan kekhawatiran yang berlebihan terhadap dirinya itu. Karena itulah ia juga harus terus-menerus mengingatkan diri sendiri untuk memaklumi perasaan orangtuanya. “Kau tahu benar kenapa mereka mengkhawatirkanmu, Hyun-Sik,” kata Bianca dulu ketika William pertama kali mengungkapkan perasaan tertekannya kepada kakak perempuannya. “Aku tahu, Noona*,” gerutu William, lalu mendesah. “Aku tahu.” William tahu benar bahwa semua kekhawatiran itu bermula dari kecelakaan lalu lintas yang menewaskan kakak laki-laki mereka, putra sulung keluarga Park, ketika sedang berada di luar negeri. “Ayah dan Ibu sudah tua,” kata Bianca sambil menatap William yang saat itu memandang kosong ke luar jendela. Ia mengerti apa yang dirasakan William dan ia juga bisa merasakan perasaan tertekan adiknya itu, tetapi bagaimanapun juga William sendiri harus mengerti perasaan orangtua mereka. “Karena Oppa* sudah tidak ada, yang tersisa hanya kau. Hanya kau anak laki-laki yang bisa mereka andalkan untuk menjaga keluarga.” Saat itu William hanya diam, tidak tahu harus berkata apa, dan kembali memandang ke luar jendela. Kereta berhenti di stasiun Hyde Park Corner, menyentakkan William kembali ke alam sadar. Ia menarik napas panjang. Waktunya meninggalkan masalah pribadi dan mulai bersikap profesional. Ketika William tiba di lokasi syuting, ia melihat para staf produksi sibuk bersiap- siap memulai proses syuting. Ia menyapa beberapa staf yang dikenalnya dan pergi mencari Bobby Shin. “Hyong*,” panggilnya ketika ia melihat si sutradara sedang mengobrol dengan salah seorang kamerawan. Bobby Shin yang berusia empat puluhan terlihat seperti penampilan sutradara pada umumnya. Ia bert-ubuh kurus, agak bungkuk karena terbiasa duduk membungkuk menatap monitor, berkacamata, bertopi, dan tidak ada ciri khusus di wajahnya yang ramah. Mendengar panggilan William, ia menoleh dan tersenyum lebar. “William boy, senang bertemu denganmu lagi,” sahutnya ramah dan mengulurkan tangan. “Kau baru tiba kemarin, bukan? Kuharap kau tidak jet-lag. Kita hanya punya waktu tiga hari untuk syuting. Seharusnya itu bukan masalah besar, tapi jadwal kita akan sangat padat.” William menjabat tangan Bobby Shin yang terulur. “Aku baik-baik saja,” kata William. “Hyong tidak perlu khawatir.” “Bagus.” Bobby Shin mengangguk-angguk. “Ngomong-ngomong, lawan mainmu sudah datang. Kurasa dia sedang dirias. Kau bisa memperkenalkan diri nanti. Dia orang Jepang, jadi kau jangan berceloteh kepadanya dalam bahasa Korea,” katanya. “Sebaiknya kau juga bersiap-siap. Kita akan mulai setengah jam lagi.” William pergi menyapa beberapa staf produksi yang sudah dikenalnya. Tiba-tiba ia mendengar seseorang berseru memanggilnya. Ia menoleh ke arah salah satu tenda dan melihat Yoon, penata rias selebriti yang sudah dikenalnya, bersama seorang gadis berambut hitam panjang yang belum pernah dilihatnya. Nah, gadis itu pasti lawan mainnya. “Apa kabar, Noona?” sapa William sambil menghampiri Yoon. Ia berhenti di depan Yoon dan menatap wanita bertubuh agak gempal itu dari ujung kepala sampai ke ujung kaki, lalu menyipitkan mata. “Ada sesuatu yang berubah di sini. Hmm ... Noona lebih kurus ya?” Yoon meringis, lalu tertawa. “Omong kosong. Aku tahu berat badanku tidak turun-turun walaupun aku sudah mencoba segala macam diet.” “Tapi Noona tetap cantik,” kata William dan menyunggingkan senyumnya yang terkenal. Kemudian ia mengalihkan perhatian kepada gadis yang satu lagi, yang duduk diam sambil menggenggam cangkir kertas dengan kedua tangan. William mengulurkan tangan dan berkata dalam bahasa Inggris, “Dan kau pasti gadis yang membuatku jatuh cinta.” Gadis itu tersentak, mendongak dan menatap langsung ke arah William. Hal pertama yang terlintas dalam pikiran William ketika ia melihat wajah gadis itu dengan jelas adalah bahwa gadis itu mirip boneka. Bukankah Sutradara Shin berkata gadis ini orang Jepang? Tetapi gadis ini tidak benar-benar mirip orang Jepang. Mungkin matanya yang besar itulah yang membuatnya tidak mirip orang Jepang. Dan mata itu menatap William dengan kaget dan gugup. Dan ... takut? *** Ayaka mendongak dan menatap laki-laki berambut hitam dan bertubuh jangkung yang berdiri di dekatnya itu tanpa berkedip. William Park memang tepat seperti yang digambarkan Yoon tadi. Dan Ayaka memang merasa hampir pingsan, walaupun alasannya jauh berbeda dengan perkiraan Yoon. Sebelum Ayaka sempat membuka mulut, William Park cepat-cepat berkata, “Dalam video musik ini, maksudku. Kau akan berperan menjadi gadis yang membuatku jatuh cinta dalam video musik.” Ia berhenti sejenak, lalu bertanya ragu, “Kau yang akan menjadi lawan mainku, bukan?” Ayaka mengerjap satu kali, seolah-olah baru tersadar dari lamunan. Perlahan-lahan ia mengembuskan napas yang ternyata ditahannya sejak tadi dan bergumam, “Ya.” William tersenyum. “Namaku William. William Park,” katanya sambil menggerakkan tangannya yang masih terulur, mengundang Ayaka menjabatnya. Ayaka menunduk menatap tangan William, kemudian ia meletakkan cangkir kertasnya di atas meja dan berdiri dari kursi. Ia membungkuk sedikit sebelum menjabat tangan William—itu salah satu kebiasannya sebagai orang Jepang yang tidak bisa dihilangkannya—dan bergumam, “Ayaka Nakamura.” “Ayaka,” kata William, senyumnya melebar, “Senang berkenalan denganmu.” Tepat pada saat itu terdengar seseorang berseru memanggil William dan mengatakan sesuatu dalam bahasa Korea. William menoleh ke belakang dan balas menyerukan sesuatu. Kemudian ia kembali menatap Ayaka. Matanya bersinar geli. “Itu penata riasku,” jelasnya dalam bahasa Inggris karena tahu Ayaka tidak bisa berbahasa Korea. “Dia menyuruhku segera bersiap-siap karena kita akan segera mulai syuting. Aku tidak mengerti kenapa aku harus dirias kalau wajahku tidak akan disorot sepanjang video musik ini.” Ia mengangkat bahu. “Tapi sebaiknya aku menurutinya. Percayalah padaku, kau tidak mau melihat penata riasku mengamuk. Aku pernah melihatnya dan itu bukan pemandangan yang bagus.” Setelah melambai singkat kepada Ayaka, William membalikkan tubuh dan bergegas menghampiri penata rias yang sudah menunggunya. “Dia baik sekali, bukan?” kata Yoon ketika Ayaka kembali duduk dan menatap cermin. Ayaka menarik napas dalam-dalam dan memaksa dirinya tersenyum kepada bayangan Yoon di cermin. “Ya,” gumamnya, menunduk menatap jari-jari tangannya yang saling meremas. Entah berapa lama Ayaka duduk di sana dan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia baru tersadar dari lamunannya ketika seseorang berseu menyuruh para model berkumpul karena syuting akan segera dimulai. Ayaka mendongak dan menarik napas. Saatnya meninggalkan masalah pribadi dan mulai bersikap profesional, pikir Ayaka dalam hati. Ini adalah pekerjaannya dan ia tahu ia bisa melakukannya. Lakukan dan selesaikan. Hanya tiga hari. Ia hanya perlu bertahan tiga hari. Lalu semua ini akan segera berakhir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD