Suasana di ruang IGD sore itu kacau. Suara tangisan anak-anak bercampur dengan langkah kaki para perawat yang berlari, bunyi tandu yang didorong tergesa, juga teriakan panik para guru dan orang tua yang baru saja tiba setelah kabar kecelakaan bus study tour itu tersebar. Beberapa anak mengalami luka ringan. Namun beberapa lainnya harus segera ditangani dengan serius. Di salah satu sudut ruangan, tangisan paling keras datang dari seorang anak laki-laki kecil. Rafandra. Anak itu meraung kesakitan, tangannya mencengkeram baju Sinta dengan kuat seolah takut dilepaskan. Darah mengalir dari luka di jidatnya, menetes hingga membasahi pakaian Sinta. “Rafa… Rafa… tidak apa-apa… tidak apa-apa…” Suara Sinta bergetar saat ia mencoba menenangkan. Tangannya gemetar. Ia menekan luka di dahi Raf

