Bab 10. Tidak punya pilihan

1283 Words

Sinta sampai di rumah hampir pukul sembilan malam, seperti hari-hari sebelumnya. Lelah menempel di bahunya, namun ia justru menyukai rasa itu. Lelah membuatnya tidak perlu berpikir. Lelah membuatnya bisa tidur tanpa mimpi. Setelah membersihkan diri, ia merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Rambutnya masih sedikit basah, aroma sabun memenuhi kamar yang sunyi. Lampu hanya dinyalakan setengah, menciptakan bayangan temaram di dinding. Ponselnya ia ambil. Galeri terbuka. Foto-foto dirinya dan Rafa siang tadi memenuhi layar. Rafa yang tertawa lepas. Rafa yang memeluk lengannya erat. Rafa yang menyuapinya kentang goreng dengan wajah penuh saus. Sinta tanpa sadar tersenyum. Senyum yang jarang muncul jika bukan karena anak itu. Ia memilih beberapa foto. Menggeser kontras, memperhalus pencaha

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD