Bab 4. Luka yang kusembunyikan

1121 Words
Malam itu, setelah seluruh rangkaian acara usai, Sinta memilih untuk langsung pulang. Ia menolak ajakan Niko yang ingin mengajaknya ikut merayakan pertunangan bersama beberapa teman dekatnya. Lelaki itu pun tak memaksa, justru terlihat lega bisa melepas penat dengan minum-minum, sementara Sinta pulang sendiri dalam diam. Di dalam mobil, Sinta menatap kosong ke luar jendela. Lampu-lampu kota berkelebat, namun tak satu pun benar-benar ia perhatikan. Kepalanya penuh, dadanya sesak. Senyum yang ia pakrakan sejak sore akhirnya runtuh, berganti dengan raut lelah yang tak bisa lagi ia sembunyikan. Setibanya di rumah, Sinta langsung masuk ke kamar. Ia menutup pintu perlahan, seolah tak ingin siapa pun mendengar langkahnya yang berat. Gaun pertunangan yang mahal dan indah itu ia lepaskan dengan tangan gemetar. Perlahan, ia menggantinya dengan piyama sederhana,pakaian yang jauh lebih jujur menggambarkan dirinya malam ini. Ia berdiri di depan cermin, menatap bayangan dirinya sendiri. Sinta mengambil kapas, menuangkan cairan pembersih, lalu mengusap wajahnya. Lapisan demi lapisan riasan mahal terhapus. Maskara, lipstik, foundation, semuanya luruh, memperlihatkan wajah aslinya yand pucat, mata sembab, dan garis lelah yang jelas terukir. Inilah dirinya yang sesungguhnya.Tak ada lagi senyum palsu, tak ada lagi topeng kebahagiaan. Yang tersisa hanyalah wajah sayu penuh tekanan, mata yang menyimpan terlalu banyak luka, dan hati yang terasa nyaris kosong. Sinta bersandar pada meja rias, menatap pantulan dirinya dengan pandangan hampa. Tangannya terangkat, menyentuh jari manisny dimana cincin pertunangan itu masih melingkar indah, berkilau di bawah cahaya lampu kamar. Namun kilau itu tak sanggup menghangatkan hatinya. Air mata menetes perlahan, jatuh satu per satu, tanpa isak, tanpa suara. Tangis yang terlalu sering ia tahan hingga akhirnya berubah menjadi kebisuan yang menyakitkan. “Beginikah… hidup yang harus aku jalani?” bisiknya lirih pada bayangan di cermin. Malam itu, di kamar yang sunyi, Sinta kembali menjadi dirinya yang rapuh, seorang perempuan yang terlalu sering mengalah, terlalu lama memendam, dan semakin kehilangan arah di tengah hidup yang terus menuntutnya untuk kuat. Terdengar suara ketukan dari arah kuat, pintu kamar Sinta diketuk pelan. “Sin… kamu sudah tidur?” suara Mila terdengar lembut dari balik pintu. Sinta mengusap wajahnya cepat-cepat, menarik napas dalam sebelum menjawab, “Belum, Ma.” Ia bangkit, membuka pintu. Mila berdiri di sana dengan senyum tipis, matanya memancarkan perhatian khas seorang ibu. “Rama sama istrinya mau pamit. Mereka sudah nunggu di ruang keluarga,” ujar Mila. Sinta mengangguk. “Iya, Ma. Sinta keluar sekarang.” Ia melangkah menyusuri lorong menuju ruang keluarga, tanpa menyadari bahwa lengan bajunya sedikit tersingkap, memperlihatkan lebam kebiruan di pergelangan tangannya. Rama dan Livi sudah berdiri. Livi tampak ramah seperti tadi, sementara Rama memperhatikan Sinta dengan sorot mata tenang namun penuh selidik. “Sinta,” sapa Livi lebih dulu sambil tersenyum, “kami mau pamit. Besok kami mau langsung pulang ke Makasar.” “Iya, Kak Livi. Hati-hati,” jawab Sinta pelan. Saat Livi melangkah mendekat untuk memeluknya singkat, matanya tak sengaja menangkap lebam di tangan Sinta. “Eh…” Livi menahan lengan Sinta pelan. “Tangan kamu kenapa?” Sinta refleks menarik tangannya, jantungnya berdegup kencang. Ia tersenyum cepat, berusaha terlihat santai. “Oh, ini? Nggak apa-apa, Kak. Cuma kebentur tadi. Sepele.” Livi menatapnya ragu. “Kok kelihatannya lumayan biru.” “Iya, aku memang gampang lebam,” potong Sinta cepat. Rama yang sejak tadi diam, kini menajamkan pandangan. Tatapannya berpindah dari wajah Sinta ke lebam itu, lalu kembali ke mata Sinta. Ada sesuatu yang terasa tidak pas. “Kebentur di mana?” tanya Rama pelan, nadanya terdengar santai, tapi sorot matanya tajam. Sinta tertegun sesaat. “Di… di kamar mandi,” jawabnya asal. “Kepleset dikit.” Rama mengangguk tipis, namun kerutan halus di keningnya tak menghilang. Ia tahu betul bagaimana bentuk lebam akibat benturan dan bagaimana bekas cengkeraman seseorang. “Itu bukan lebam karena jatuh,” batinnya, namun Rama memilih diam. Livi tersenyum kecil, mencoba mencairkan suasana. “Ya sudah, yang penting sekarang nggak kenapa-kenapa. Lain kali hati-hati, ya.” “Iya, Kak,” balas Sinta, suaranya lirih. Mila yang sejak tadi memperhatikan, ikut menimpali, “Kamu memang ceroboh dari dulu, Sin.” Sinta tersenyum tipis. “Iya, Ma.” Rama melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan Sinta. “Jaga diri baik-baik,” katanya singkat, namun penuh makna. Tatapan mereka bertemu sesaat. Jantung Sinta mencelos. Ada kekhawatiran yang jelas di mata Rama, kekhawatiran yang terlalu jujur untuk disembunyikan. “Iya, Kak,” jawab Sinta pelan. Setelah berpamitan, Rama dan Livi pun melangkah pergi. Namun di sepanjang jalan menuju pintu, Rama masih memikirkan lebam itu. Dan di dalam hatinya, kecurigaan mulai tumbuh, pelan. Mobil melaju perlahan meninggalkan halaman rumah keluarga Damar. Livi duduk di kursi penumpang, di samping Rama sambil menatap kosong ke depan. Wajah Sinta dan lebam di tangannya terus terbayang di benaknya. “Ram.” Rama yang tengah menyetir melirik sekilas. “Hm?” “Lebam di tangan Sinta itu… menurutku bukan karena benturan.” Rama menegang. Jemarinya sedikit mengencang di setir. “Maksud kamu?” Livi menoleh, menatap wajah suaminya dengan raut serius. “Bentuknya melingkar. Terlalu simetris untuk disebut terbentur. Itu lebih mirim bekas cengkeraman.” Rama terdiam. Dadanya terasa seperti diremas kuat. Kecurigaan yang sejak tadi ia pendam kini semakin menyesakkan. “Aku juga mikir begitu.” Livi menghela napas. “Cara dia menutupinya juga aneh. Terburu-buru. Terlihat takut.” Rama menatap lurus ke jalan, rahangnya mengeras. Bayangan Sinta kecil, yang dulu selalu ceria dan banyak bicara, tiba-tiba menyeruak di kepalanya. “Dulu… Sinta nggak pernah seperti itu.” “Maksudnya?” “Dia cerewet. Bandel. Selalu melawan kalau nggak setuju.” Rama mengingat sosok Sinta, sosok yang tidak pernah benar-benar pergi di ingatan. Tapi tadi dia pendiam, tatapannya kosong. Seolah menyimpan banyak hal. Livi mengangguk pelan. “Aku juga merasakannya. Senyumnya terasa dipaksakan.” Rama terdiam lama. Hatinya terasa perih. Sejak ia memutuskan keluar dari kediaman keluarga Damar, memilih hidup mandiri dan menjadi dokter, jaraknya dengan Sinta memang semakin jauh. Waktu dan keadaan perlahan mengubah banyak hal, termasuk adik kecil yang dulu selalu berlindung di belakang punggungnya. “Aku terlalu lama pergi dari hidupnya.” “Kamu nggak salah memilih jalan hidup. Tapi mungkin, Sinta terlalu banyak memikul beban sendirian.” Rama menghela napas berat. “Dia selalu begitu. Mengalah. Menuruti. Demi orang lain.” Livi menatap Rama penuh arti. “Dan sekarang, sepertinya dia menanggung sesuatu yang lebih besar dari yang bisa ia hadapi.” Rama terdiam. Bayangan lebam itu kembali muncul jelas di matanya. Ada amarah, ada khawatir, ada rasa bersalah yang bercampur menjadi satu. “Kalau benar itu bekas cengkeraman, berarti ada yang menyakitinya.” Mobil terus melaju membelah jalan malam. Di dalam d**a Rama, satu tekad perlahan menguat, apa pun yang terjadi, ia tak akan membiarkan Sinta terus hidup dalam luka dan ketakutan, meski itu berarti ia harus kembali masuk ke dunia yang dulu ia tinggalkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD