Bab 5. Tabiat Niko

1151 Words
Pukul dua dini hari, sunyi menyelimuti kamar Sinta. Lampu tidur redup menjadi satu-satunya penerang, memantulkan bayangan samar di dinding. Di layar ponselnya, akun media sosial Livi—istri Rama—masih terbuka. Jarinya menggulir pelan, menelusuri potret-potret kebahagiaan yang terasa begitu nyata walau hanya dalam bentuk foto. Senyum Rama di sana tampak tulus. Tatapan hangatnya, cara tangannya merangkul Livi, dan keterangan singkat penuh cinta di bawah unggahan itu, semuanya seperti menampar perasaan Sinta tanpa ampun. Dadanya terasa sesak. Ada iri yang tak bisa disangkal, ada perih yang tak mampu ia suarakan. Ia hanya bisa menelan semua rasa itu dalam diam. “Bahagia ya, Kak.” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar, seolah takut perasaannya sendiri mendengar. Ia menghela napas panjang, mencoba mengalihkan pandangan. Namun, layar ponsel itu seakan menariknya kembali. Setiap foto seperti mengingatkan bahwa ia tidak punya hak apa pun untuk cemburu, tidak berhak merasa kehilangan, dan tidak boleh berharap lebih. Rama sudah memiliki hidupnya sendiri. Sementara Sinta, hanya bisa berdiri di pinggir, menjadi penonton setia kebahagiaan orang lain. Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sekali. Dua kali. Lalu terus berdering tanpa henti. Nama Niko muncul di layar. Sinta mengernyit, menatap angka waktu di sudut atas ponsel, pukul dia dini hari. Terlalu malam untuk sebuah panggilan biasa. Dengan ragu, ia menekan tombol tolak. Mungkin Niko salah tekan. Lelaki itu tidak mungkin menghubungi Sinta di waktu seperti ini. Niko tidak seperhatian itu. Namun, ponsel itu kembali berdering. Kali ini lebih lama, seolah tak mau berhenti sebelum diangkat. Sinta memutar tubuhnya, menelungkupkan wajah ke bantal, berharap bunyi itu mereda, tapi tidak. Getaran itu justru semakin sering, memecah kesunyian kamar. “Kenapa sih jam segini?” keluhnya pelan. Rasa khawatir perlahan menyusup, menggantikan perih yang sejak tadi mengendap di dadanya. Akhirnya, dengan hati tak tenang, Sinta menggeser ikon hijau itu. “Halo, Niko?” suaranya terdengar serak karena lelah dan emosi yang belum reda. Namun, yang terdengar di seberang bukanlah suara Niko. “Sin… Sinta?” Suara itu terdengar terburu-buru, nafasnya sedikit terengah. “Rehan?” Sinta kenal suara iru. Rehan, teman baik Niko. “Iya, aku. Maaf nelpon jam segini,” jawab Rehan cepat, seolah takut pembicaraan mereka terputus. “Ini aku pakai ponselnya Niko.” Terdengar keraguan dari seberang sana. Rehan tidak langsung melanjutkan kalimatnya, seolah menimbang kata-kata yang hendak ia ucapkan. Hening beberapa detik itu justru membuat jantung Sinta semakin berdegup kencang. “Han?” panggil Sinta pelan, suaranya nyaris berbisik. “Kenapa kamu diam?” Rehan menghela napas panjang. “Sin… aku nggak tahu gimana cara ngomongnya. Tapi kamu harus tahu yang sebenarnya.” Sinta menelan ludah. Ada firasat tak enak yang tiba-tiba menyusup, merayap perlahan ke dalam dadanya. “Bilang aja, Han.” Di seberang sana, Rehan kembali terdiam. Suara bising khas rumah sakit terdengar samar, sesekali diselingi langkah tergesa dan panggilan perawat. Lalu, dengan nada ragu dan berat, Rehan akhirnya bersuara. “Tadi malam, Niko mabuk berat. Dia ada di sebuah kelab malam.” Sinta memejamkan mata sejenak. Dadanya terasa semakin sesak. “Terus?” desaknya, meski hatinya sudah mulai tidak siap. “Dalam kondisi nggak sadar penuh, Niko… dia melecehkan seorang wanita di sana.” Kata-kata itu menghantam Sinta tanpa ampun. Nafasnya tercekat, telinganya berdengung. Ia butuh beberapa detik untuk mencerna makna kalimat tersebut. “Apa?” suaranya bergetar. “Aku ada di sana, Sin. Aku nyoba narik Niko keluar, tapi sebelum itu terjadi, beberapa pria yang kemungkinan teman wanita itu langsung menghajarnya. Niko dipukul ramai-ramai.” Sinta terduduk di tepi ranjang. “Terus… sekarang dia gimana?” “Setelah kejadian itu, Niko sempat pingsan. Kami langsung bawa dia ke rumah sakit. Ada benturan di kepala dan beberapa luka dalam. Sekarang dia masih di ruang IGD.” Ada campuran rasa kaget, kecewa, marah, dan khawatir yang bercampur menjadi satu. “Sin, aku nggak bermaksud nutupin apa pun. Kamu berhak tahu semuanya,” lanjut Rehan lirih. “Aku juga nggak membenarkan perbuatan Niko. Tapi kondisinya sekarang benar-benar butuh orang terdekat dan nggak mungkin aku menghubungi keluarganya.” Sinta menggigit bibir, dalam hatinya, perasaan itu bertabrakan antara kecewa pada kelakuan Niko dan kasihan. Meski marah, ia tak bisa memungkiri bahwa ada rasa peduli yang masih tersisa. “Kirim alamat rumah sakitnya, Han,” ucap Sinta akhirnya, suaranya tegas. “Aku ke sana sekarang.” Rehan terdiam sejenak sebelum menjawab, “Iya. Aku kirim. Hati-hati di jalan.” Panggilan berakhir, meninggalkan Sinta dalam diam yang panjang. Di kamar yang kembali sunyi, ia menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong. Bukan hal baru bagi Sinta mendengar kabar tentang kelakuan Niko Alvaro. Sejak awal mengenalnya, ia sudah tahu betul sisi gelap lelaki itu, tentang kebiasaannya mabuk, tentang caranya memperlakukan perempuan seenaknya, tentang perilaku tidak senonoh yang kerap ia anggap sebagai candaan. Semua itu bukan lagi rahasia. Bahkan, beberapa kali Sinta sendiri menjadi saksi bagaimana Niko bersikap keterlaluan di depan umum. Karena itu, saat Rehan mengatakan bahwa Niko kembali melecehkan seorang wanita, reaksi Sinta jauh dari kata terkejut. Tidak ada jeritan, tidak ada tangis histeris. Hanya helaan napas pelan yang keluar dari bibirnya, diiringi gelengan kepala kecil. Seolah semua itu hanyalah pengulangan dari sebuah cerita lama yang tak pernah benar-benar berakhir. “Begitu lagi…” gumamnya lirih. Di sudut kamar, Sinta duduk bersandar pada sandaran ranjang. Punggungnya terasa lelah, bukan karena fisik, melainkan karena batin yang terlalu sering dipaksa menerima kenyataan pahit. Ia bahkan nyaris tertawa kecil, getir, saat mengingat betapa banyak orang yang memandang Niko sebagai sosok nyaris sempurna,ramah, perhatian, penuh pesona, dan selalu tahu cara membuat orang lain nyaman. Padahal, di balik semua itu, ada sisi lain yang jauh dari kata indah. Sinta tahu, Niko bukan lelaki baik-baik. Ia egois, impulsif, dan sering kali tak memedulikan batas. Namun, entah mengapa, lelaki itu selalu berhasil tampil seolah tak memiliki cela. Kepada dunia, Niko adalah figur yang menyenangkan. Kepada Sinta, ia adalah luka yang berkali-kali diulang. “Memang itu tabiat kamu, Niko,” bisiknya, pahit. Alih-alih marah, Sinta justru merasa lelah. Terlalu lelah untuk kecewa. Terlalu sering dikecewakan hingga rasa sakit itu menumpuk, berubah menjadi kebas. Ia tidak lagi berharap Niko akan berubah. Tidak lagi bermimpi bahwa suatu hari lelaki itu akan menjadi versi terbaik dari dirinya. Karena sejak lama, Sinta sudah paham, Niko yang asli jauh dari kata sempurna. Ia berdiri, melangkah ke jendela, menatap langit yang masih gelap. Lampu-lampu jalan tampak redup, basah oleh embun dini hari. Ada sunyi yang terasa begitu pekat, menekan dadanya. “Semoga kali ini kamu benar-benar belajar,” ucapnya pelan, lebih sebagai doa daripada harapan. Namun, di lubuk hati terdalam, Sinta tahu, kemungkinan itu sangat kecil. Sebab tabiat tidak akan berubah hanya karena satu kejadian. Dan Niko Alvaro, dengan segala pesona dan keburukannya, akan selalu terjebak dalam lingkaran yang sama, kecuali ia sendiri yang memutuskan untuk keluar. Sinta menghela nafas panjang. Untuk kesekian kalinya, ia harus menerima kenyataan bahwa tidak semua orang bisa diselamatkan, meski telah diberi kesempatan berkali-kali. Dini hari itu, Sinta keluar untuk menemuinya di rumah sakit, bukan karena peduli tapi karet Niko adalah tunangannya, begitulah dunia mengetahuinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD