Bab 6. Mati rasa

1263 Words
Udara dini hari terasa dingin menusuk ketika Sinta melangkah masuk ke ruang IGD. Lampu-lampu putih menyala terang, memantulkan bayangan pucat di wajahnya yang sudah lama kehilangan ekspresi. Pukul tiga dini hari, suasana rumah sakit lengang, hanya suara langkah perawat dan bunyi alat medis yang terdengar samar. Di bangku tunggu, Rehan duduk dengan siku bertumpu di lutut, wajahnya kusut dan lelah. Begitu melihat Sinta mendekat, ia hanya mengangkat kepala pelan. Tidak ada sapaan hangat, tidak ada raut heran. Seolah kehadiran Sinta memang sudah ia duga. “Niko di dalam,” ucap Rehan singkat. Sinta mengangguk pelan. Hatinya tidak lagi terkejut mendengar kabar seperti ini. Mabuk. Berkelahi. Masuk IGD. Siklus yang sama, berulang tanpa pernah benar-benar berubah. Ia bahkan tidak lagi merasa marah. Yang ada hanya lelah. Lelah karena selalu dipanggil saat keadaan kacau. Lelah karena harus menjadi penenang, penanggung jawab, seolah itu memang tugasnya. Ia duduk di samping Rehan tanpa banyak bicara. Tangannya terlipat di pangkuan, punggungnya tegak, wajahnya tenang—terlalu tenang. Padahal di dalamnya, ada sesuatu yang terus retak. “Maaf ganggu kamu jam segini,” gumam Rehan pelan. Sinta menggeleng tipis. “Sudah biasa.” Jawaban itu terdengar datar, hampir tanpa emosi. Rehan sempat menatapnya sekilas, mungkin menyadari ada sesuatu yang berbeda. Sinta yang dulu akan mengomel panjang pada Niko, atau setidaknya menunjukkan kekhawatiran, kini hanya seperti bayangan. Datang. Duduk. Menunggu. Tanpa ekspresi. Beberapa menit kemudian, pintu IGD terbuka. Seorang perawat keluar memberi tahu bahwa luka Niko tidak parah—hanya perlu jahitan dan observasi. Sinta mengangguk lagi, berdiri dengan langkah pelan. Tidak ada desahan lega. Tidak ada air mata. Di lorong rumah sakit itu, Sinta tiba-tiba merasa aneh. Bukan karena Niko. Bukan karena perkelahian. Tapi karena ia sadar… ia tidak merasakan apa-apa. Tidak cemas. Tidak marah. Tidak sedih. Dan untuk pertama kalinya, kehampaan itu terasa lebih menakutkan daripada luka mana pun. Kalau mau, aku bisa lanjutkan saat Sinta akhirnya bertemu Niko di dalam ruangan—apakah ia tetap sedingin itu, atau justru ada sesuatu yang memecah dinding emosinya. Rehan mengangkat wajahnya perlahan saat mendengar pertanyaan itu. Nada suara Sinta terdengar ringan, bahkan diakhiri dengan kekehan kecil—tapi bukan tawa yang hangat. Itu tawa kosong, tipis, hampir seperti sindiran yang terlalu lelah untuk disebut marah. “Berkelahi karena apa?” ulang Sinta pelan. “Rebutan wanita lagi? Atau ada variasi baru kali ini? Soalnya setahuku… masalah dalam hidup Niko cuma satu.” Ia menoleh, menatap Rehan dengan mata yang tenang namun dingin. “Wanita, kan?” Rehan terdiam beberapa detik. Ia menghela napas panjang. “Bukan cuma itu, Sin,” jawabnya akhirnya. “Dia lagi banyak tekanan.” Sinta terkekeh lagi, lebih pelan. “Tekanan?” gumamnya. “Tekanan seperti apa? Diputusin? Cemburu? Atau nggak dibalas chat?” Kata-kata itu meluncur begitu saja. Ironisnya, kalimat terakhir seperti menampar dirinya sendiri—teringat pada pesan-pesannya pada Rama yang hanya dibaca tanpa balasan. Tapi wajahnya tetap datar, tidak menunjukkan retakan sedikit pun. Rehan menatapnya lebih dalam sekarang. “Kamu berubah, Sinta.” Sinta tidak langsung menjawab. Ia hanya menyandarkan punggung ke kursi besi ruang tunggu, menatap langit-langit putih yang terasa dingin. “Semua orang berubah, Han,” ucapnya pelan. “Termasuk Niko. Cuma bedanya… dia melampiaskan dengan mabuk dan berkelahi. Aku…” Kalimatnya menggantung. “Aku cuma diam.” Keheningan kembali menguasai mereka. Di ujung lorong, suara roda brankar terdengar samar. Rehan seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi urung. Ia mungkin baru menyadari bahwa di balik ketenangan Sinta, ada luka yang jauh lebih dalam daripada luka jahitan di wajah Niko. Sinta menunduk sejenak, lalu berdiri. “Aku masuk lihat dia.” Langkahnya ringan, tapi bukan karena beban hilang—melainkan karena ia sudah terlalu lama terbiasa memikulnya. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Rehan mulai bertanya-tanya… siapa sebenarnya yang lebih terluka? Niko yang penuh jahitan, atau Sinta yang tak lagi bisa merasakan apa-apa? Di dalam ruangan IGD yang berbau antiseptik, Sinta melangkah masuk tanpa ragu. Tirai putih tersingkap pelan, memperlihatkan Niko yang berbaring dengan beberapa jahitan di pelipis dan memar di sudut bibirnya. Infus tergantung di samping ranjang, cairannya menetes pelan—teratur, seperti detik jam yang tak pernah peduli pada siapa pun. Niko dalam keadaan sadar. Begitu melihat Sinta, matanya langsung bergerak. “Sinta…” panggilnya lirih, ada nada lega di sana. Sinta berhenti beberapa langkah dari ranjang. Ia menghela napas pendek, bukan karena terharu, tapi lebih seperti seseorang yang sedang menyelesaikan kewajiban. Tatapannya turun sebentar ke luka di wajah Niko, lalu kembali datar seperti biasa. “Mau pulang jam berapa?” tanyanya tenang. “Aku antar.” Tidak ada nada cemas. Tidak ada sentuhan lembut. Tidak ada kalimat, “Kamu nggak apa-apa?” atau “Sakit nggak?” Niko mengerjap, mungkin mengharapkan sesuatu yang lain—kekhawatiran, omelan, atau setidaknya tatapan yang menunjukkan ia berarti. Tapi yang ia dapatkan hanya wajah Sinta yang dingin dan suara yang terdengar seperti sedang membicarakan jadwal rapat. “Kamu… nggak marah?” tanya Niko pelan. Sinta mengangkat bahu tipis. “Harusnya?” Pertanyaan itu membuat ruangan terasa makin sunyi. Biasanya, Sinta akan memarahinya panjang lebar. Mengatakan ia lelah dengan kebiasaan mabuk dan berkelahinya. Mengancam akan pergi jika Niko tak berubah. Tapi malam ini tidak ada ancaman. Tidak ada drama. Tidak ada emosi. Justru itu yang terasa lebih mengerikan. Niko menelan ludah. “Sin… kamu beda.” Sinta menatapnya beberapa detik. Dalam tatapan itu tidak ada benci, tidak ada cinta, bahkan tidak ada kecewa. Hanya kosong. “Aku cuma capek,” jawabnya akhirnya. “Capek bereaksi.” Kalimat itu terdengar sederhana, tapi mengandung sesuatu yang jauh lebih dalam. Bukan hanya tentang Niko. Bukan hanya tentang perkelahian. Tapi tentang Rama yang tak pernah membalas pesannya. Tentang Papa yang menuntutnya jadi anak sempurna. Tentang dirinya sendiri yang lupa bagaimana rasanya tersenyum atau menangis. Sinta melirik jam di dinding. “Kalau sudah boleh pulang, kabari. Aku tunggu di luar.” Ia berbalik tanpa menunggu jawaban. Dan untuk pertama kalinya, Niko merasa lebih takut pada ketenangan Sinta daripada pada luka di wajahnya sendiri. Sinta kembali duduk di samping Rehan. Kursi besi itu terasa dingin, sama seperti hatinya. Ia menghela napas lemah, lalu memejamkan mata sejenak. Bukan untuk beristirahat, tapi untuk menenangkan pikirannya yang tiba-tiba dipenuhi bayangan masa depan. Ia bisa membayangkannya dengan jelas. Pernikahan tanpa cinta. Rumah yang sunyi bukan karena damai, tapi karena masing-masing terlalu lelah untuk peduli. Niko dengan kebiasaan mabuknya, emosinya yang mudah meledak, perkelahian yang mungkin tak akan pernah berhenti. Dan dirinya… duduk di ruang tamu dengan wajah datar, menunggu tengah malam, menunggu pintu dibuka dengan suara keras. Tidak ada cinta. Tidak ada hangat. Yang ada mungkin hanya tanggung jawab. Status. Kewajiban. Dan perlahan-lahan, hati yang sudah mati. Sinta membuka mata. Pandangannya kosong menatap lantai rumah sakit yang mengilap. Ia bahkan tidak merasa takut. Itu yang membuatnya ngeri. Seharusnya ia takut membayangkan hidup seperti itu. Seharusnya ia marah. Seharusnya ia menolak. Tapi yang ia rasakan hanya penerimaan yang sunyi. “Kalau memang itu jalannya…” gumamnya dalam hati. Bukankah sejak awal ia sudah terbiasa menjalani hidup bukan untuk dirinya sendiri? Untuk Papa yang ingin anak sempurna. Untuk keluarga yang harus dihargai. Untuk balas budi yang tak pernah selesai. Rehan meliriknya. “Kamu nggak apa-apa?” tanyanya pelan. Sinta menoleh sedikit, lalu mengangguk tipis. “Aku baik-baik saja.” Jawaban yang paling sering ia ucapkan. Padahal jauh di dalam dirinya, ada suara kecil yang hampir tak terdengar—suara yang bertanya, apa benar ini hidup yang kamu mau, Sinta? Namun seperti biasa, ia mengabaikannya. Karena menjadi anak baik berarti tidak banyak bertanya. Tidak banyak menuntut. Dan malam itu, di ruang tunggu yang sepi, Sinta sadar satu hal—ia mungkin masih hidup, tapi perlahan ia berhenti merasakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD