Niko memang tidak sampai dirawat. Dokter hanya membersihkan luka, memberi beberapa jahitan kecil, lalu mengizinkannya pulang. Namun lebam kebiruan di sudut bibirnya masih jelas terlihat. Yang paling mencolok justru bercak merah di lehernya—jejak yang terlalu rapi untuk disebut akibat pukulan.
Sinta melihatnya. Tentu saja ia melihat.
Tapi ia tidak mengatakan apa-apa.
Ia berjalan beberapa langkah di belakang Niko dan Rehan yang saling menopang. Niko tertatih, satu tangan memegang sisi perutnya, sementara Rehan menggandengnya agar tidak oleng. Sinta menjaga jarak, langkahnya pelan dan teratur. Bukan karena tidak peduli—melainkan karena ia sudah terlalu lelah untuk bereaksi.
Lorong rumah sakit pagi itu mulai ramai. Sinar matahari menembus jendela besar, memantulkan cahaya pucat di lantai mengilap. Sinta menunduk sebentar, membenarkan tas di bahunya.
Dan karena itu… ia tidak sadar ada sepasang mata yang sejak tadi mengamatinya dari kejauhan.
Rama.
Lelaki itu berdiri beberapa meter dari mereka, mengenakan kemeja sederhana dengan jas tipis di lengannya. Ia datang pagi itu untuk menemui seorang teman lama yang kebetulan dirawat di rumah sakit yang sama sebelum kembali ke Amsterdam dalam beberapa hari. Sebuah kebetulan yang terasa terlalu kejam untuk disebut biasa.
Langkahnya terhenti saat melihat sosok yang begitu dikenalnya.
Sinta.
Rama hampir tidak percaya pada penglihatannya. Wajah itu lebih tirus. Sorot matanya berbeda—lebih dingin, lebih kosong. Tidak ada senyum yang dulu selalu muncul bahkan saat ia sedang kesal.
Lalu pandangannya bergeser pada Niko.
Lelaki itu berjalan tertatih dengan lebam di wajah dan bercak merah di leher yang terlalu jelas artinya. Rama mengatupkan rahangnya pelan. Ada sesuatu yang mengeras di dadanya—amarah, mungkin. Atau cemburu. Atau penyesalan.
Ia memperhatikan jarak antara Sinta dan Niko. Tidak ada sentuhan. Tidak ada tatapan khawatir. Sinta hanya berjalan di belakang, seperti bayangan yang mengikuti kewajiban.
Dan untuk pertama kalinya sejak pergi ke Amsterdam, Rama merasakan sesuatu yang mengganggu ketenangannya.
Ia pernah berpikir meninggalkan Sinta adalah cara terbaik. Memberi jarak. Memberi masa depan yang lebih jelas untuk masing-masing.
Namun melihatnya pagi itu—bersama lelaki yang jelas tak mampu menjaganya dengan baik—membuat keyakinannya retak.
Sinta tetap berjalan tanpa menyadari tatapan itu.
Tanpa tahu bahwa masa lalu yang ia pikir telah benar-benar pergi… sedang berdiri hanya beberapa langkah darinya.
“Rama… lo yakin nggak mau terima tawaran kerja di rumah sakit ini?” tanya Dika sambil menyodorkan map berisi proposal kontrak.
Mereka berdiri di area parkir rumah sakit. Matahari pagi mulai meninggi, tapi pikiran Rama justru terasa gelap dan penuh.
“Tawarannya nggak main-main, Ram,” lanjut Dika. “Posisi konsultan penyakit dalam, fasilitas lengkap, tim bagus. Apalagi lo lulusan luar negeri. Direksi langsung yang minta nama lo.”
Selama ini Rama selalu tersenyum tipis lalu menggeleng. Ia punya alasan yang terdengar rasional. Ia sudah nyaman bekerja di Kalimantan. Ia sudah punya keluarga. Ia sudah menikah dengan Livi. Hidupnya stabil.
“Gue masih betah di Kalimantan,” begitu jawabannya setiap kali.
Namun pagi ini berbeda.
Bayangan itu terus muncul di kepalanya. Lebam samar di tangan Sinta saat acara pertunangan beberapa waktu lalu—yang dulu ia abaikan dengan memaksa dirinya berpikir itu hanya kebetulan. Lalu pagi tadi… Niko keluar dari IGD dengan wajah penuh lebam dan bercak merah di lehernya. Dan Sinta berjalan di belakangnya, terlalu tenang, terlalu kosong.
Hubungan itu janggal.
Bukan sekadar pertengkaran biasa.
Rama mengenal Sinta. Terlalu mengenalnya. Ia tahu bagaimana perempuan itu menahan sakit. Ia tahu bagaimana Sinta memilih diam bahkan saat hatinya hancur.
“Ram?” Dika menepuk bahunya pelan.
Rama menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya, ia tidak menjawab dengan penolakan otomatis.
Ia menatap kembali gedung rumah sakit itu. Tempat di mana pagi tadi ia melihat perempuan yang pernah menjadi pusat dunianya berjalan seperti bayangan.
Keinginannya untuk kembali—bukan hanya ke kota ini, tapi ke hidup yang pernah ia tinggalkan—tiba-tiba terasa terlalu kuat untuk diabaikan.
“Kontraknya berapa lama?” tanya Rama akhirnya.
Dika terdiam sesaat, lalu tersenyum lebar. “Serius lo?”
Rama tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras. Dalam kepalanya, terlintas wajah Livi. Istrinya. Wanita yang setia menemaninya selama ini. Yang percaya pada setiap keputusan dan kata-katanya.
Ia tahu ini bukan keputusan kecil. Bukan sekadar pindah tempat kerja. Ini memindahkan seluruh hidupnya.
Dan ia belum berbicara dengan Livi.
Namun bayangan lebam di tangan Sinta dan sorot mata kosongnya lebih keras memukul nuraninya.
“Gue terima,” ucap Rama akhirnya. Singkat. Tegas.
Dika hampir tertawa saking senangnya. “Akhirnya! Gue bilang juga apa—rumah sakit bakal seneng banget.”
Rama hanya mengangguk pelan.
Keputusan itu terdengar profesional. Logis. Menguntungkan secara karier.
Tapi jauh di dalam hatinya, ia tahu alasan sebenarnya bukan tentang jabatan atau fasilitas.
Ia ingin berada lebih dekat.
Ingin memastikan sendiri.
Ingin melihat dengan mata kepalanya apakah Sinta benar-benar baik-baik saja… atau hanya berpura-pura kuat seperti dulu.
Dan untuk pertama kalinya sejak menikah dengan Livi, Rama mengambil keputusan besar tanpa meminta persetujuannya.
Langkah yang mungkin akan mengubah bukan hanya hidupnya…
tapi juga kehidupan tiga orang sekaligus.
Hotel itu sunyi menjelang siang. Tirai setengah terbuka, membiarkan cahaya Jakarta masuk ke dalam kamar tempat Rama dan Livi menginap sementara selama empat hari. Mereka memang sengaja datang dari Kalimantan untuk menghadiri pertunangan Sinta dan Niko—acara yang bagi Rama terasa lebih berat daripada yang ia akui.
Livi sedang duduk di tepi ranjang, membuka koper kecilnya ketika Rama masuk. Wajahnya terlihat berbeda. Lebih tegang. Lebih penuh pikiran.
“Aku ingin pindah ke Jakarta,” ucap Rama tanpa basa-basi.
Livi menoleh cepat. “Apa?”
“Aku dapat tawaran kerja di sini. Posisi konsultan penyakit dalam. Fasilitasnya bagus. Gajinya juga jauh lebih besar.”
“Mendadak banget, Ram. Ada apa?” tanya Livi, alisnya berkerut.
Rama sudah menyiapkan jawaban. Setidaknya bagian yang bisa ia katakan.
“Secara finansial ini jauh lebih menguntungkan buat kita. Prospek karierku juga lebih jelas. Rumah sakitnya besar, jaringan luas. Kalau kita mau mikirin masa depan… ini langkah yang bagus.”
Ia berbicara tenang, sistematis, seperti sedang mempresentasikan rencana bisnis. Tidak ada jeda yang mencurigakan. Tidak ada nama yang disebut.
Livi menatapnya lama. “Tapi selama ini kamu selalu bilang nyaman di Kalimantan. Tiba-tiba berubah pikiran cuma karena tawaran?”
Rama menelan pelan. Ia tidak bisa mengatakan bahwa perubahan itu terjadi karena melihat lebam di tangan seorang perempuan yang bukan istrinya. Ia tidak bisa mengaku bahwa dadanya terasa sesak melihat tunangan Sinta keluar dari IGD dengan wajah memar.
“Aku cuma merasa ini waktunya berkembang,” jawabnya akhirnya. “Kesempatan kayak gini nggak datang dua kali.”
Itu tidak sepenuhnya bohong. Tapi juga bukan sepenuhnya jujur.
Livi bangkit, mendekatinya. “Kita pindah itu bukan cuma soal gaji, Ram. Itu soal hidup kita.”
“Aku tahu.”
Dan ia memang tahu.
Tahu bahwa keputusan ini akan mengguncang stabilitas yang selama ini mereka bangun. Tahu bahwa ia baru saja menerima tawaran itu tanpa berdiskusi lebih dulu. Tahu bahwa sebagian dari dorongan ini bukan profesional—melainkan personal. Terlalu personal.
“Aku cuma ingin kita punya masa depan yang lebih baik,” tambahnya, suaranya melembut.
Livi terdiam. Ia percaya pada suaminya. Selama ini Rama selalu rasional, selalu mempertimbangkan segalanya matang-matang.
Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda dalam sorot matanya—sesuatu yang tak bisa sepenuhnya ia baca.
Sementara itu, di dalam hati Rama, satu nama terus bergaung pelan.
Sinta.
Dan ia sadar, keputusan pindah ke Jakarta mungkin bukan hanya tentang karier.
Melainkan tentang masa lalu yang belum pernah benar-benar selesai.