Bab. Saudara tidak sedarah

1284 Words
Sinta berdiri di ruang rapat dengan postur tegak dan tatapan tajam yang sulit ditebak. Suaranya tenang, terukur, tanpa emosi berlebihan. Setiap kalimat yang keluar darinya jelas dan langsung pada inti persoalan. Di perusahaan itu, ia dikenal sebagai wakil pemimpin yang tegas, berwibawa, dan… dingin. Beberapa karyawan menjulukinya princess ice. Julukan yang awalnya terdengar seperti candaan, tapi perlahan menjadi identitas. Ia memang secantik itu—rapi, elegan, nyaris tanpa cela. Setelan kerjanya selalu pas. Rambutnya tertata sempurna. Make-up tipis namun presisi. Tidak ada detail yang terlewat. Namun bukan hanya penampilannya yang terlihat sempurna. Kinerjanya pun demikian. Sinta sangat teliti. Laporan keuangan yang tidak balance satu digit saja akan langsung ia tandai. Presentasi yang kurang data akan ia minta revisi tanpa ragu. Ia tidak meninggikan suara, tapi ketenangannya justru membuat orang segan. Tidak ada yang berani datang ke ruangannya dengan persiapan setengah matang. Ia bekerja seolah tidak pernah lelah. Datang paling pagi, pulang paling akhir. Target tercapai. Evaluasi detail. Strategi matang. Nyaris tanpa cela. Namun di balik semua itu, ada alasan yang tak pernah diketahui siapa pun. Kesempurnaan adalah caranya mengontrol hidup. Ketika hatinya berantakan, ia memperbaiki angka-angka di laporan. Ketika pikirannya kacau, ia merapikan jadwal dan strategi. Ketika emosinya mati rasa, ia menggantinya dengan performa tanpa cela. Menjadi “princess ice” jauh lebih mudah daripada menjadi Sinta yang rapuh. Di ruang kerja pribadinya, dengan dinding kaca tinggi yang menghadap kota, ia sering berdiri menatap lalu lintas di bawah sana. Wajahnya tetap dingin, profesional. Tak ada yang tahu bahwa di balik citra wakil pemimpin yang sempurna itu… ada perempuan yang dulu pernah menunggu balasan pesan hingga dini hari. Dan mungkin, justru karena ia pernah selemah itu, kini ia memilih menjadi setegas es. Makan siang hampir selalu terlewat dari jadwal Sinta. Di atas meja kerjanya, biasanya hanya ada secangkir kopi yang mulai dingin dan selembar roti tawar yang digigit separuh. Baginya itu sudah cukup—sekadar mengganjal perut agar tidak terlalu perih. Waktu terasa lebih berharga untuk laporan, rapat, dan evaluasi dibanding duduk tenang menikmati makanan hangat. Saat kantor sedang sibuk atau ia harus dinas luar kota, pola makannya semakin kacau. Ia bisa bekerja seharian hanya dengan kafein dan tekad. Berat badannya perlahan turun, pipinya sedikit lebih tirus, lingkar bawah matanya makin jelas meski tertutup riasan tipis yang selalu sempurna. Beberapa karyawan pernah berbisik khawatir, tapi tak ada yang berani menegur langsung. Princess ice terlihat terlalu kuat untuk diingatkan hal sederhana seperti makan. Padahal tubuhnya tidak sekuat citra yang ia bangun. Beberapa bulan lalu, sakit lambung yang selama ini ia abaikan akhirnya memaksanya menyerah. Nyeri hebat di ulu hati membuatnya terpaksa dilarikan ke rumah sakit dan dirawat hampir seminggu. Dokter menyebutnya gastritis akut akibat pola makan buruk dan stres berlebihan. Ia berbaring di ranjang rumah sakit dengan infus terpasang, menatap langit-langit putih yang terasa asing sekaligus familiar. Tempat yang sama di mana ia pernah berdiri dingin melihat Niko. Kini ia sendiri yang terbaring. Namun bahkan setelah keluar dari sana, Sinta tidak benar-benar berubah. Ia memang sedikit lebih berhati-hati, tapi kesibukan selalu menjadi alasan. Baginya, rasa perih di lambung jauh lebih mudah ditangani daripada rasa perih di hati. Jika sakit fisik datang, ia bisa minum obat. Jika tubuhnya lelah, ia bisa istirahat sebentar. Tapi untuk luka yang tak terlihat—tentang Rama, tentang Niko, tentang hidup yang tak pernah ia pilih sendiri—ia tidak pernah tahu obatnya apa. Dan seperti biasa, ia memilih kembali berdiri tegak di ruang rapat, dengan kopi di tangan dan senyum tipis yang nyaris tak pernah benar-benar hangat. Siang itu suasana kantor sedikit berbeda. Biasanya Sinta akan tetap duduk di ruangannya hingga sore, ditemani kopi dan layar laptop. Namun kali ini sekretarisnya mengetuk pintu dengan senyum kecil. “Bu, Papa dan Mama Anda datang. Bersama Rafa.” Langkah Sinta terhenti. Beberapa menit kemudian ia sudah berdiri di lobi kantor. Damar tampak rapi seperti biasa, sementara Mama berdiri di sampingnya dengan wajah lembut penuh bangga. Di antara mereka, Rafandra—yang kini sudah berusia sepuluh tahun—melambai ceria begitu melihat Sinta. “Kak Sinta!” serunya, berlari kecil menghampiri. Sinta yang dikenal karyawan sebagai princess ice itu refleks berlutut sedikit dan membuka tangan. Rafa memeluknya erat tanpa ragu. Tubuh bocah itu sedikit berisi, pipinya bulat karena terlalu gemar cemilan manis. “Kakak kurusan lagi,” protes Rafa polos sambil memegang lengan Sinta. Damar berdeham pelan. “Makanya Papa bilang, jangan cuma minum kopi.” Untuk pertama kalinya hari itu, sudut bibir Sinta benar-benar terangkat. Bukan senyum profesional. Bukan senyum formal. Tapi senyum kakak yang hangat. Karena mereka datang, Sinta tak punya alasan untuk melewatkan makan siang. Ia mengajak mereka ke restoran di gedung yang sama. Rafa duduk di sampingnya, sibuk bercerita tentang sekolah, tentang teman yang menyebalkan, tentang nilai matematikanya yang naik. Sinta mendengarkan dengan sabar. Bahkan menyuapi Rafa sesekali, memintanya mengurangi minuman manis. Damar memperhatikan putrinya diam-diam. Di kantor ini, Sinta adalah wakil pemimpin yang tegas dan dingin. Tapi di hadapan Rafa, ia hanya seorang kakak. “Kamu jangan terlalu keras sama diri sendiri, Nak,” ucap Mama pelan saat Rafa sibuk dengan dessert-nya. Sinta terdiam sebentar. “Aku baik-baik saja, Ma.” Jawaban otomatisnya kembali keluar. Namun kali ini Rafa menyela, “Kakak bohong. Kakak kelihatan capek.” Ucapan polos itu membuat suasana hening sesaat. Sinta menatap adiknya. Bocah itu mungkin belum mengerti rumitnya hidup orang dewasa, tapi ia cukup peka untuk membaca kelelahan di wajah kakaknya. Sinta mengusap rambut Rafa pelan. “Kakak cuma banyak kerjaan.” Tapi di dalam hatinya, ada rasa hangat yang sulit dijelaskan. Di tengah dunia yang menuntutnya sempurna, Rafa tidak peduli pada jabatan, pada performa, pada citra. Ia hanya peduli apakah kakaknya makan atau tidak. Dan siang itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Sinta menghabiskan makanannya sampai habis. Bukan karena dipaksa. Tapi karena ada seseorang yang memperhatikannya bukan sebagai wakil pemimpin… melainkan sebagai kakak yang berharga. Rafandra adalah jeda paling lembut dalam hidup Sinta. Di tengah tekanan kantor, tuntutan Papa, dan hubungan yang terasa hambar, Rafa hadir seperti tawa yang tidak dibuat-buat. Sinta benar-benar menyayanginya. Ia mengantar Rafa belajar, mendengarkan keluhannya tentang PR matematika, memarahinya dengan lembut saat terlalu banyak makan permen. Tidak ada hubungan darah di antara mereka. Rafa adalah anak kandung Mila dan Damar, tidak seperti Sinta dan Rama, juga dipertemukan oleh takdir keluarga, bukan oleh garis keturunan. Namun anehnya, justru karena itu, ikatan mereka terasa dipilih—bukan sekadar diwariskan. Cinta Sinta pada Rafa sederhana. Jernih. Tanpa ambisi. Tanpa hasrat. Tanpa luka. Ia tidak mungkin jatuh cinta pada sosok kecil itu—tentu saja tidak. Perasaannya adalah kasih seorang kakak yang tulus, protektif, dan hangat. Rafa adalah adik yang ingin ia jaga dari dunia yang keras. Berbeda dengan Rama. Rama bukan sekadar keluarga. Bukan sekadar kakak yang tumbuh bersamanya. Perasaannya pada Rama dulu jauh lebih rumit, lebih dalam, dan lebih berbahaya. Ada kekaguman. Ada ketergantungan. Ada rasa memiliki yang tak pernah berani ia ucapkan keras-keras. Dan mungkin di situlah perbedaannya. Jika bersama Rafa, Sinta ingin melindungi. Jika bersama Rama… dulu ia merasa ingin dilindungi. Rafa mengisi ruang kosong di hatinya dengan tawa dan pelukan polos. Rama meninggalkan ruang kosong yang sampai sekarang tak pernah benar-benar terisi. Sinta sadar, kasih sayangnya pada Rafa adalah bentuk cinta yang sehat—memberi tanpa mengharap kembali. Sedangkan perasaannya pada Rama dulu… terlalu dalam untuk disebut sekadar kasih keluarga, tapi terlalu tabu untuk diperjuangkan. Mungkin karena itulah Sinta memilih membekukan hatinya. Karena ia pernah merasakan cinta yang tidak seharusnya tumbuh, dan sejak itu ia takut pada perasaan yang terlalu hangat. Namun setiap kali Rafa memeluknya dan berkata, “Kak Sinta jangan sedih ya,” dinding es itu selalu retak sedikit. Dan di situlah Sinta belajar—bahwa tidak semua cinta menyakitkan. Ada cinta yang hanya ingin melihatmu makan siang tepat waktu dan pulang lebih cepat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD