Acara pertunangan Sinta dan Niko berlangsung benar-benar mewah, jauh di atas ekspektasi siapa pun yang hadir. Ballroom hotel bintang lima dipenuhi lampu kristal, bunga-bunga segar berjejer rapi di setiap sudut, dan karpet merah membentang dari pintu masuk hingga pelaminan yang dihias bak kerajaan miniatur.
Dua keluarga besar hadir lengkap, masing-masing dengan jajaran pengusaha, dan kerabat dekat yang membawa aura wibawa serta gengsi. Semua orang tampak berpakaian rapi—jas mahal, gaun panjang berkilau, sepatu yang tampak baru berkilau di bawah sorot lampu.
Dari awal, suasana sudah bisa ditebak. Ini bukan sekadar pertunangan karena cinta; ini adalah penyatuan dua kerajaan bisnis. Dua pengusaha besar berbesan, menggabungkan kepentingan ekonomi, jaringan, dan pengaruh mereka. Para tamu yang hadir pun tidak sembarangan; setiap senyuman, setiap ucapan selamat, bahkan setiap gerakan tubuh terlihat seperti bagian dari strategi terselubung.
Sinta berdiri di samping Niko, di mata tamu, mereka tampak serasi, senyum manis Sinta berpadu dengan sikap tenang dan kharismatik Niko.
Tapi siapa yang benar-benar tahu isi hati Sinta? Dalam hatinya, ia sadar bahwa semua ini bukan tentang perasaan, melainkan arah bisnis yang sudah ditentukan. Pertunangan ini, dengan kemegahannya, adalah cerminan kesepakatan strategis, bukan cerita romantis.
Di balik gemerlap dan musik orkestra yang merdu, bisik-bisik tentang kontrak, saham, dan aliansi mengisi udara, seperti bayangan tak kasat mata yang selalu mengikuti langkah kedua keluarga itu. Bahkan senyum hangat yang dilemparkan Sinta ke Niko pun terasa sedikit kaku, karena di baliknya ada kesadaran bahwa mereka berdua hanyalah pion dalam permainan besar yang lebih mengutamakan kepentingan daripada hati.
Semua orang di ballroom itu tampak bersemangat, penuh senyum dan sorak-sorai, tapi bagi Sinta suasana itu terasa hambar. Di tengah gemerlap lampu kristal dan alunan musik yang merdu, hatinya justru berat. Semua orang berpura-pura bahagia, memuji dekorasi, menyapa satu sama lain dengan ramah, tapi hanya Sinta yang merasa ada ruang kosong besar di dadanya.
Saat Niko membungkuk sedikit dan menyematkan cincin di jemari manisnya, senyum Sinta dipaksakan. Tangannya gemetar ringan, jantungnya berdebar tak menentu. Semua mata tertuju padanya, mengagumi momen megah ini, tapi matanya tetap mencari sosok yang seharusnya ada, seseorang yang dulu ia yakini akan hadir di hari spesialnya.
Ia menoleh ke kiri, menoleh ke kanan, berharap melihat wajah itu di antara para tamu. Harapannya muncul sekilas setiap kali seseorang mendekat pintu, tapi selalu sirna. Sosok itu tak muncul.
Cincin itu indah, suasana mewah itu menakjubkan, tapi tanpa kehadiran orang yang ia harapkan, semuanya terasa hampa. Bahkan senyum yang ia lempar ke Niko terasa seperti topeng. Topeng yang menutupi rasa kecewa, rasa kehilangan, dan kerinduan yang tak bisa ia tunjukkan di depan semua orang.
Ketika semua orang bertepuk tangan, Sinta menunduk, jari manisnya menatap cincin yang baru saja tersemat. Ia mencoba mengingat alasan mengapa ia berada di sini, yakni untuk keluarga, untuk kesepakatan bisnis, tapi hatinya menolak menerima kenyataan itu. Sosok yang ia tunggu-tunggu tetap tak muncul, meninggalkan ruang kosong yang terasa begitu dalam di tengah pesta pertunangan yang semestinya menjadi hari bahagia.
Cincin tersemat indah di jari manis Sinta, menandai bahwa ia dan Niko resmi bertunangan. Di mata orang lain, momen itu sempurna. Tapi bagi Sinta, ada rasa campur aduk yang tak bisa ia sembunyikan.
Tiba-tiba, dari pintu masuk, sosok yang dinantikan Sinta muncul. Rama melangkah masuk, didampingi oleh seorang wanita, istri barunya, Livi. Kehadiran mereka langsung menarik perhatian para tamu, beberapa menoleh dengan tatapan penasaran.
Sinta menatap Rama. Hatinya berdesir. Senyum muncul di bibirnya, tapi di balik itu terselip kesedihan yang dalam. Lelaki yang selama ini selalu hadir dalam pikirannya, kini datang bukan untuknya, melainkan untuk menunjukkan kebahagiaannya dengan wanita lain.
Livi tersenyum ramah pada tamu, langkahnya anggun dan percaya diri. Sementara Rama tampak tenang, namun ada kilatan canggung di matanya saat pandangannya bertemu dengan Sinta.
Sinta menghela napas pelan, mencoba menenangkan diri.
“Kak Rama,datang…” gumamnya dalam hati. Senyumnya tetap terjaga, tapi matanya memancarkan rindu dan penyesalan.
Di sisi lain, Niko, yang baru saja menyematkan cincin, memperhatikan reaksi Sinta dengan penuh perhatian. Ia melihat campuran emosi di wajah calon tunangannya, senyum, sedih, bahkan sedikit kekecewaan yang tak tersamarkan. Niko menepuk tangan Sinta perlahan, seolah memberi pengertian bahwa ia ada di sisinya, tapi Sinta tahu hatinya masih melayang pada sosok yang baru saja masuk ke ruangan itu.
“Itu Kak Rama.” ucapnya pelan dan Niko hanya menggumam pelan, sebab tahu lelaki itu Rama, kakak Sinta.
“Dia kakakmu, atau cinta pertamamu?”
Niko menyeringai, menaikan satu alisnya.
“Dia kakakku.” tegas Sinta