Bab 1. Tunangan

1252 Words
“Pergi dari rumah ini. Jangan pernah kembali lagi. Kamu sudah menodai hubungan suci keluarga dengan cinta menjijikan itu.” Kalimat itu masih terngiang seperti gema di lorong-lorong ingat Sinta. Suara Ayahnya, Damar, tak hanya menggetarkan dinding rumah—tetapi juga merobek sesuatu di dalam d**a Sinta. Malam itu hujan turun deras. Angin mengguncang jendela, seolah ikut menjadi saksi perpecahan yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi pada keluarganya. Rama berdiri di ambang pintu, koper kecil di tangannya, mata yang biasanya hangat kini redup oleh luka. Sinta masih ingat bagaimana Rama menoleh untuk terakhir kalinya. Bukan marah yang ia lihat. Bukan pula penyesalan. Hanya cinta… dan kehilangan. Cinta memang tidak pernah salah, pikir Sinta. Yang membuatnya tampak menyimpang hanyalah status. Rama dan dirinya tidak terikat darah. Tidak ada garis merah yang menghubungkan mereka dalam silsilah keluarga. Namun mereka tumbuh di bawah atap yang sama, makan di meja yang sama, dipanggil sebagai kakak dan adik oleh dunia. Dan dunia tidak pernah peduli pada penjelasan. Sejak kecil, Rama adalah tempatnya pulang. Tempat ia bercerita tentang nilai ulangan yang buruk, tentang teman yang menyebalkan, tentang mimpi-mimpi yang kadang terasa terlalu tinggi. Rama selalu ada—dengan senyum yang sabar dan bahu yang kokoh. Entah sejak kapan rasa itu berubah. Bukan lagi sekadar nyaman. Bukan lagi sekadar kagum pada sosok kakak yang melindungi. Ada debar yang berbeda, ada jeda yang terlalu lama saat mata mereka bertemu. Ada keheningan yang terasa penuh. Mereka mencoba mengingkari. Mereka mencoba menjaga jarak. Namun hati sering kali berjalan lebih cepat daripada logika. Dan ketika Ayah mengetahui semuanya, rumah itu tak lagi menjadi tempat berlindung. Ia berubah menjadi ruang penghakiman. Kini, bertahun-tahun setelah malam pengusiran itu, Sinta masih berdiri di kamar lamanya. Debu tipis menyelimuti meja belajar. Foto keluarga masih terpajang di dinding—foto yang diambil sebelum semuanya retak. Ia menyentuh bingkai foto itu perlahan. Apakah cinta harus selalu tunduk pada label? Apakah kedekatan yang tumbuh bersama waktu otomatis menjadi dosa? Sinta menatap layar ponselnya dengan senyum samar, gambar itu masih tersimpan abadi meski saat ini ia dan Rama sudah tidak lagi dekat bahkan mungkin tidak akan pernah dekat sebab keduanya sudah memilih jalan hidup masing-masing. Sinta duduk tegak di kursi rias, punggungnya lurus meski tubuhnya terasa kaku. Lampu-lampu kecil di sekeliling cermin memantulkan wajahnya yang pucat, memperjelas setiap detail yang ingin ia sembunyikan. Ia menggulung sedikit lengan gaun yang dikenakannya, memperlihatkan warna kebiruan yang kontras dengan kulitnya yang cerah. “Tolong tebalkan di bagian sini, ya, Mbak… biar nggak kelihatan.” Ucapnya santai, seolah itu hanya noda biasa. Seolah lebam itu tidak berarti apa-apa. Perias itu terdiam sesaat. Kuas di tangannya menggantung di udara, matanya menatap sekilas ke arah lebam tersebut sebelum kembali menatap wajah Sinta melalui pantulan cermin. “Iya, Mbak,” jawabnya pelan. Sinta memalingkan wajah, pura-pura sibuk memperhatikan meja rias yang penuh dengan botol-botol kosmetik. Padahal dadanya terasa sesak. Ia tahu betul dari mana lebam itu berasal. Ia masih ingat genggaman kasar itu. Masih ingat bagaimana tubuhnya ditarik tanpa diberi kesempatan untuk menolak. Masih ingat nada suara yang dingin dan penuh amarah. Namun Sinta tidak ingin mengingatnya sekarang. Tidak di hari ini. Kuas lembut itu mulai menyentuh kulitnya. Dingin. Menyapu perlahan, menutup warna biru yang menjadi saksi sesuatu yang bahkan tidak berani ia ceritakan pada siapa pun. “Kalau masih kelihatan, tambah lagi, Mbak,” katanya lagi, tetap dengan nada ringan. Bahkan ia sempat tersenyum kecil. Senyum yang dipaksakan. Perias itu mengangguk, meski di dalam hatinya muncul rasa iba yang sulit dijelaskan. Ia sudah sering merias banyak orang, tapi ia tahu… lebam seperti itu bukan lebam biasa. Sinta memperhatikan bayangannya di cermin. Cantik dan rapi. Sangat sempurna untuk menutupi cacat di hatinya. Tidak ada yang tahu dan tidak ada yang akan curiga, Ia menurunkan kembali lengan gaunnya setelah perias selesai. Menutup rapat semua bukti. Menutup rapat semua cerita kelam yang dialaminya. “Udah, kan?” tanyanya. “Iya, Mbak. Sudah nggak kelihatan.” Sinta mengangguk. “Bagus.” Satu kata sederhana. Namun di baliknya, ada kelegaan yang bercampur dengan sesuatu yang lain. Sesuatu yang terasa seperti kalah. Ia berdiri dari kursi, kembali menjadi Sinta yang semua orang kenal, kuat dan baik-baik saja. Meski sebenarnya, ia tahu… Ia tidak pernah benar-benar baik-baik saja. Di ruangan yang sama, tidak jauh dari kursi rias itu, Nindy berdiri bersandar pada dinding. Sejak tadi ia diam, kedua tangannya terlipat di depan d**a. Matanya tidak pernah lepas dari bayangan Sinta di cermin. Ia melihat semuanya. Melihat bagaimana Sinta menggulung lengan gaunnya. Melihat warna lebam itu. Dan melihat bagaimana sahabatnya itu… berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Kening Nindy berkerut. Dadanya terasa perih. Perias masih sibuk menepuk-nepuk concealer di lengan Sinta ketika akhirnya Nindy melangkah mendekat. “Sinta,,” suaranya pelan. Hati-hati. Sinta menoleh sekilas lewat cermin. Lalu tersenyum. “Aku cantik, kan?” tanya Sinta, memamerkan gaun yang dikenakannya juga dengan riasan yang sudah mempercantik dirinya. “Cantik banget sih sahabat gue ini.” Nindy menghampiri, memeluk singkat. Bukan haru di atas bahagia, tapi haru karena sedih sebab Nindy tahu keputusan Sinta bertunangan bukan atas dasar keinginannya dan lebam tadi, lebam yang terlihat adalah hasil perbuatan seorang lelaki yang dalam waktu beberapa jam lagi akan menjadi calon suami Sinta. Niko. “Gua nggak tahu harus bilang selamat atau apa, Ta. Gue beneran sedih.” “Jangan nangis dong… riasan lo luntur nanti.” Sinta tahu, Nindy pasti akan menangis begitu juga dengan dirinya. Tapi Sinta sudah memantapkan hati untuk tidak meratapi nasibnya. “Ayo, kita keluar. Niko dan keluarga besar udah nunggu.” ajak Sinta. Pintu belum benar-benar tertutup ketika suara Nindy kembali terdengar. “Sinta, tunggu.” Langkah Sinta terhenti. Ia memejamkan mata sesaat, seolah sudah tahu apa yang akan dikatakan sahabatnya itu. Namun perlahan ia tetap berbalik. Nindy berdiri di tengah ruangan, wajahnya penuh kecemasan. “Lo masih bisa nolak, Ta.” Kalimat itu membuat ruangan terasa semakin sunyi. Sinta tidak langsung menjawab sementara Nindy melangkah mendekat. “Perjodohan ini belum terjadi. Belum terlambat, Ta. Lo masih punya kesempatan untuk bilang tidak.” Sinta tersenyum tipis, senyum penuh kelelahan. “Lo pikir semudah itu?” “Kalau nggak mau, kenapa harus dipaksakan?” Sinta menatap Nindy lama, ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan, tapi tidak bisa. “Gue harus melakukannya.” “Harus?” Nindy menggeleng. “Nggak ada yang harus, Sinta. Ini hidup Lo.” Sinta tertawa kecil. “Hidupku…” ulangnya lirih, ia menurunkan pandangannya. “Lo tahu siapa gue sebelum keluarga Damar datang dan mengadopsi?” Nindy terdiam, tentu saja ia tahu. Sinta yang dulu bukan siapa-siapa, yang hidupnya berantakan dan tidak punya tempat pulang. “Mereka yang nyelametin gue,” lanjut Sinta. “Mereka yang memberikan gue rumah, pendidikan dan segalanya.” matanya mulai berkaca-kaca, tapi ia menahannya. “Kalau bukan karena mereka, gue mungkin sudah hancur.” Nindy melembutkan suaranya. “Tapi itu bukan berarti lo harus mengorbankan hidup, Ta.” Sinta tersenyum lagi, “Lo nggak mengerti, mereka meminta sesuatu, gue nggak bisa menolak.” “Tapi menerima Niko sebagai calon suami lo terlalu berisiko, Ta. Dia kasar,” Nindy menekankan suaranya. “Lo akan menderita, Ta.” Nindy menegaskan. “Gue nggak peduli. Lagipula hati gue udah mati,” Sinta menatap kosong lurus kedepan. “Hati gue mati sejak Kakak gue menikah.” Lanjutnya. Patah hati terbesar Sinta bukan karena perjodohan antara dirinya dan Niko, tapi karena cinta dalam hatinya sudah lama mati. Mati sejak Rama menikah. Sinta tahu cinta untuk sang kakak adalah kesalahan, mereka adik kakak, tidak mungkin bersama. Tapi Cinta tetap cinta, karena rasa itu masih tetap sama sampai detik ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD