Bab 11. Tidak aman

1366 Words
Mobil Niko berhenti tepat di depan rumah Sinta. Malam minggu. Jadwal yang hampir selalu sama sejak mereka resmi bertunangan—makan malam, berbincang, kadang menonton film, lalu pulang sebelum terlalu larut. Rutinitas yang terlihat normal. Terlihat sehat. Sinta keluar dengan gaun sederhana warna gelap. Rambutnya terurai rapi. Wajahnya tenang, seperti biasa. “Kamu cantik,” ujar Niko sambil membuka pintu mobil untuknya. “Terima kasih.” Jawaban yang sopan. Sepanjang perjalanan, Niko lebih banyak bercerita tentang proyek, tentang rencana bisnis baru, tentang peluang investasi. Sinta mendengarkan. Sesekali menanggapi. Tidak ada yang aneh. Tidak ada yang istimewa. Hingga mobil itu masuk ke area parkir sebuah gedung tinggi yang asing bagi Sinta. “Kita mau ke mana?” tanyanya. “Apartemenku,” jawab Niko santai. “Sekali-sekali kamu harus lihat tempatku.” Sinta terdiam sebentar. Selama ini mereka lebih sering bertemu di luar atau di rumah orang tuanya. Ia belum pernah benar-benar diajak ke ruang pribadi Niko. Lift naik dalam keheningan yang lebih berat dari biasanya. Begitu pintu apartemen terbuka, aroma maskulin bercampur wangi ruangan langsung menyambut. Tempat itu luas, modern, tertata rapi—terlalu rapi untuk ukuran lelaki yang sibuk proyek luar kota. “Kamu sering di sini?” tanya Sinta pelan, menelusuri ruangan dengan pandangan tenang. “Kalau lagi nggak di lokasi.” Jawaban yang menggantung. Niko melepas jasnya, meletakkannya sembarangan di sofa. Ia berjalan mendekat pada Sinta yang berdiri di dekat jendela besar dengan pemandangan lampu kota. “Kita butuh waktu berdua,” ucapnya lebih rendah. Sinta menoleh. “Kita sering berdua.” “Maksudku… benar-benar berdua.” Cara Niko menatapnya malam itu berbeda. Lebih intens. Lebih menuntut. Sinta tidak mundur, tapi juga tidak mendekat. Ia hanya berdiri di tempat, mencoba membaca arah pembicaraan. “Kamu aneh akhir-akhir ini,” lanjut Niko. “Dingin. Jauh.” Sinta tersenyum tipis. “Aku memang seperti ini.” “Nggak.” Niko menggeleng pelan. “Kamu berubah.” Kalimat itu kembali terdengar. Sama seperti beberapa hari lalu. Sinta mengingat pesan-pesan dengan Rama. Pengakuan pengecut. Kata maaf yang datang terlambat. Luka yang kembali terasa nyata. Dan sekarang ia berdiri di apartemen calon suaminya, bersama pria yang seharusnya menjadi masa depannya. Niko melangkah lebih dekat. Tangannya terangkat, menyentuh pinggang Sinta. “Kita akan menikah,” bisiknya. “Kamu tahu kan artinya?” Sinta menatap lurus ke matanya. Ia tahu artinya. Tanggung jawab. Status. Harapan keluarga. Tapi bukan cinta. Tangannya perlahan menahan pergelangan Niko sebelum sentuhan itu menjadi lebih jauh. “Aku tahu,” jawabnya pelan. “Tapi menikah bukan berarti terburu-buru.” Niko terdiam beberapa detik. Tatapannya berubah, ada campuran kecewa dan kesal yang tipis namun jelas. “Kamu masih mikirin dia?” Pertanyaan itu jatuh begitu saja di antara mereka. Sinta tidak langsung menjawab. Karena untuk pertama kalinya, ia sendiri tidak tahu apakah jawabannya ya atau tidak. “Dia siapa yang kamu maksud?” Sinta pura-pura tidak mengerti, meski jantungnya mulai berdetak tidak nyaman. “Rama.” Nama itu keluar dari bibir Niko dengan nada mengejek. “Cinta pertama sekaligus cinta terlarang.” Sinta yang berdiri di dekat jendela langsung waspada ketika Niko melangkah semakin dekat. Ada sesuatu dalam tatapannya yang berbeda malam ini—bukan cemburu biasa, tapi kecurigaan yang berbahaya. “Niko…” Sinta mendorong pelan dadanya, menjaga jarak. “Apa yang sudah Rama lakukan padamu?” desaknya. “Apa kalian sudah tidur bersama?” “Niko!” sentak Sinta, suaranya tegas dan bergetar menahan marah. “Jangan asal bicara. Kamu nggak tahu apa-apa.” “Aku tahu,” balas Niko tajam. “Kalian masih berhubungan, kan? Jangan pikir aku bodoh. Bahkan bukan nggak mungkin kalian sering ketemu tanpa sepengetahuanku.” Ia semakin mendekat. Sinta mundur satu langkah, lalu satu lagi, hingga punggungnya menyentuh dinding. “Niko, cukup.” Namun lelaki itu tidak berhenti. Tangannya menekan di kedua sisi bahu Sinta, mengurungnya. Napasnya berat. Tatapannya liar. “Jawab aku!” Sinta mendorongnya dengan lebih keras. “Lepas!” Niko mencengkeram pergelangan tangannya. Detik itu juga alarm di kepala Sinta benar-benar berbunyi. Bukan tentang Rama. Bukan tentang masa lalu. Tapi tentang dirinya. Tentang batas yang dilanggar. “Jangan sentuh aku seperti ini,” suaranya rendah, dingin—berbeda dari nada marahnya tadi. Namun Niko justru mencoba mendekatkan wajahnya, seolah ingin memaksakan d******i. Refleks. Sinta mengangkat lututnya cepat, menghantam kaki Niko cukup keras untuk membuatnya terhuyung. Genggaman itu terlepas. “Niko, sadar!” Ia mencoba meraih lagi, tapi Sinta lebih sigap. Tangannya mendorong d**a Niko sekuat tenaga hingga pria itu mundur dua langkah. “Aku tunangan kamu!” teriak Niko frustrasi. “Dan itu bukan berarti kamu boleh memperlakukanku seenaknya!” balas Sinta tanpa gentar. Dadanya naik turun. Matanya tidak lagi sekadar dingin—melainkan tajam dan tegas. “Kalau kamu tidak bisa percaya padaku, itu masalahmu. Tapi jangan pernah sentuh aku seperti tadi.” Ruangan itu mendadak sunyi, hanya napas mereka yang terdengar kasar. Niko menatapnya, antara malu dan marah. Sinta merapikan gaunnya, meraih tasnya tanpa ragu. “Malam ini cukup.” “Sinta—” “Aku pulang.” Tarikan itu datang begitu cepat hingga Sinta kehilangan keseimbangan. Tubuhnya membentur sisi lemari. Nyeri menjalar, tapi yang lebih kuat justru rasa familiar yang membuat perutnya mual. Ekspresi Niko berubah. Rahangnya mengeras. Tatapannya tidak lagi sekadar marah—melainkan kehilangan kendali. Dan Sinta mengenali itu. Ia pernah melihat wajah itu sebelumnya. Minggu lalu. Lebam di wajah Niko yang ia kira akibat perkelahian proyek. Bukan. Bukan karena proyek. “Niko, lepaskan aku.” Suaranya rendah, bukan memohon—memperingatkan. Namun genggaman di pergelangan tangannya justru semakin kuat. Di kepalanya bukan lagi nama Rama yang terngiang. Bukan lagi luka lama. Melainkan satu kesadaran yang sangat jernih: Jika ia tetap di sini, ini tidak akan berhenti. “Aku bukan milikmu,” ucapnya tegas, menatap lurus ke mata Niko. “Dan aku bukan pelampiasan amarahmu.” Kalimat itu seperti tamparan yang tak terlihat. Niko terdiam sesaat. Hanya sesaat. Sinta memanfaatkan celah itu. Ia menghentakkan tangannya, mundur, menjaga jarak. Kali ini bukan sekadar defensif—ia bersiap benar-benar pergi. “Kamu nyakitin aku,” lanjutnya, suara tetap stabil meski dadanya bergemuruh. “Dan yang lebih parah, kamu merasa berhak melakukannya.” Ruangan itu mendadak sunyi. Lampu kota di balik jendela terlihat jauh. Terlalu jauh. Sinta meraih tasnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Namun langkahnya mantap. “Niko,” katanya sebelum membuka pintu, “kalau kamu berpikir cemburu itu alasan untuk menguasai dan melukai, maka kamu bukan orang yang bisa aku nikahi.” Pintu terbuka. Kali ini, ia tidak menoleh lagi. Lift bergerak turun perlahan. Sinta bersandar pada dinding logamnya yang dingin. Tangannya meraba punggungnya yang masih terasa nyeri akibat benturan tadi. Ia meringis pelan. Rasa sakit itu tidak seberapa. Tidak sebanding dengan yang pernah terjadi sebelumnya. Dan justru kesadaran itulah yang membuat dadanya terasa lebih sesak. Karena jika rasa sakit seperti ini dianggap tidak seberapa, berarti ada standar yang sudah bergeser dalam dirinya. Standar tentang apa yang boleh ia terima. Tentang apa yang bisa ia toleransi. Pantulan wajahnya terlihat pucat di cermin lift. Ia menatap dirinya sendiri. Lama. Bukan hanya punggungnya yang terasa sakit. Ada bagian lain yang lebih dalam—yang perlahan terkikis setiap kali Niko kehilangan kendali. Kepercayaan. Harga diri. Rasa aman. Sinta memejamkan mata sejenak. Ia teringat setiap permintaan maaf Niko setelahnya. Setiap janji bahwa itu terakhir kali. Setiap alasan yang dibungkus dengan kata cemburu, khawatir, takut kehilangan. Dan ia selalu mencoba memahami. Selalu mencoba memaklumi. Selalu mencoba menjadi lebih sabar. Lift berbunyi pelan menandakan lantai dasar telah tiba. Pintu terbuka. Sinta melangkah keluar dengan nafas yang lebih teratur, meski hatinya belum sepenuhnya tenang. Angin malam menyentuh wajahnya. Ia memeluk tubuhnya sendiri, bukan karena dingin—tapi karena baru sadar betapa sering ia merasa tidak aman bersama lelaki yang seharusnya melindunginya. Trauma tidak selalu datang dalam bentuk luka yang terlihat. Kadang ia tumbuh diam-diam. Dalam cara seseorang jadi mudah terkejut. Dalam kebiasaan membaca perubahan nada suara. Dalam refleks tubuh yang otomatis waspada saat seseorang mendekat terlalu cepat. Sinta baru menyadari—radar waspada yang selalu ia miliki bukan hanya karena masa lalu dengan Rama. Tapi karena masa kini bersama Niko. Ia menarik nafas panjang. Jika ia terus bertahan, luka itu tidak akan berhenti mengikisnya. Dan kali ini, untuk pertama kalinya, ia bertanya bukan tentang cinta. Melainkan tentang keselamatan dirinya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD