Bab 10. Tidak punya pilihan

1283 Words
Sinta sampai di rumah hampir pukul sembilan malam, seperti hari-hari sebelumnya. Lelah menempel di bahunya, namun ia justru menyukai rasa itu. Lelah membuatnya tidak perlu berpikir. Lelah membuatnya bisa tidur tanpa mimpi. Setelah membersihkan diri, ia merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Rambutnya masih sedikit basah, aroma sabun memenuhi kamar yang sunyi. Lampu hanya dinyalakan setengah, menciptakan bayangan temaram di dinding. Ponselnya ia ambil. Galeri terbuka. Foto-foto dirinya dan Rafa siang tadi memenuhi layar. Rafa yang tertawa lepas. Rafa yang memeluk lengannya erat. Rafa yang menyuapinya kentang goreng dengan wajah penuh saus. Sinta tanpa sadar tersenyum. Senyum yang jarang muncul jika bukan karena anak itu. Ia memilih beberapa foto. Menggeser kontras, memperhalus pencahayaan. Tidak banyak. Ia tidak suka terlihat terlalu berusaha. Caption diketik singkat: “Rumah itu kadang bukan tempat, tapi seseorang.” Ia mengunggahnya. Beberapa detik kemudian notifikasi mulai berdatangan. Rekan kerja. Klien. Teman lama. Komentar bernada hangat, emoji hati, pujian tentang kedekatan mereka. Sinta membaca sekilas tanpa benar-benar meresapi. Matanya tanpa sadar mencari satu nama. Rama. Belum ada. Ia menunggu satu menit. Dua menit. Lima menit. Tidak ada juga. Sinta mematikan layar ponsel dan meletakkannya di samping bantal. Ia memejamkan mata, mencoba membiarkan rasa lelah mengambil alih. Namun pikirannya justru terjaga. Teringat bercak samar di leher Niko siang tadi. Teringat senyumnya yang terlalu santai saat diselidiki. Teringat tatapan orang tuanya yang penuh harap. Dan di antara semua itu, bayangan Rama melintas begitu saja—tanpa izin. Sinta menghela nafas panjang. “Kenapa harus serumit ini…” gumamnya pelan pada langit-langit kamar. Kedua mata Sinta memang terpejam, tetapi pikirannya belum benar-benar padam. Ia berada di batas antara sadar dan lelah—tempat di mana kenangan paling mudah menyelinap. Notifikasi berbunyi sekali. Ia mengabaikannya. Beberapa detik kemudian, bunyi itu terdengar lagi. Kali ini lebih mengganggu. Sinta menghela napas pelan. Sejujurnya ia tidak terlalu penasaran. Mungkin hanya komentar tambahan dari rekan kerja. Atau balasan basa-basi. Namun tanpa benar-benar ia sadari, tangannya sudah merayap ke samping bantal, mencari ponsel. Layar menyala. Nama itu kembali muncul. Rama. Jantungnya berdetak lebih keras. Ia membuka notifikasi dengan jemari yang tiba-tiba terasa dingin. “Rafa sudah besar ya.” Hanya satu kalimat sederhana. Namun d**a Sinta terasa seperti ditekan sesuatu yang lama ia pendam. Napasnya tercekat. Kantuknya hilang seketika. Ia menatap foto unggahannya lagi. Rafa tersenyum lebar di sampingnya. Rama tidak mengenal Rafa secara langsung namun Sinta yakin lelaki itu memperhatikan Rafa sejak anak kecil itu lahir. Sinta selalu mengunggah gambar Rafa seolah memberi kabar tersirat. Sinta menelan ludah. Jemarinya melayang di atas layar, ingin membalas, tapi ragu. Apa yang harus ia tulis? Iya, sudah besar. Sehat. Kamu apa kabar?. Semua terasa terlalu dekat. Terlalu membuka pintu yang selama ini ia kunci rapat. Beberapa menit berlalu. Titik tiga di bawah nama Rama tidak muncul. Artinya ia tidak sedang mengetik lagi. Ia hanya menunggu. Atau mungkin juga tidak. Sinta akhirnya mengetik singkat. “Iya. Cepat sekali waktu berjalan.” Ia hampir menekan kirim, namun berhenti. Kalimat itu terasa terlalu emosional. Dihapus. Ia mengetik ulang. “Iya.” Sederhana. Aman. Tidak membuka ruang. Pesan terkirim.. Jantungnya justru semakin tidak tenang. Beberapa detik terasa seperti menit. Layar tetap sepi. Sinta mematikan ponsel dan meletakkannya kembali, tapi kali ini ia tidak memejamkan mata. Ia menatap langit-langit kamar dalam gelap. Satu kalimat dari Rama saja sudah cukup untuk membuyarkan pertahanannya. Dan ia mulai bertanya dalam hati— Apakah yang belum sembuh itu benar-benar luka… Atau justru rasa yang tak pernah ia beri kesempatan untuk hidup? Layar kembali menyala. “Dia mirip kamu.” Pesan dari Rama itu sederhana, tapi cukup membuat d**a Sinta bergetar pelan. Ia menatap kalimat itu lama. Mirip kamu. Rafa memang sering dibilang memiliki ekspresi yang sama dengannya ketika tertawa. Cara memiringkan kepala. Cara mengerucutkan bibir saat berpikir. Tanpa banyak pertimbangan, Sinta membalas. “Iya, walaupun kami nggak ada hubungan darah.” Terkirim. Dan detik berikutnya ia menyesal. Kalimat itu seperti membuka kembali pintu yang seharusnya tetap tertutup. Tidak ada hubungan darah. Dulu Rama berdiri di hadapannya, dengan tatapan yang lebih takut daripada tegas. Mengatakan mereka tidak mungkin bersama karena status keluarga. Karena orang-orang akan bicara. Karena hubungan itu tidak pantas. Padahal… memang tidak ada darah yang sama di antara mereka. Hanya ikatan nama. Ikatan rumah. Ikatan kebiasaan. Dan perasaan yang tumbuh tanpa izin. Sinta menutup mata. Jari-jarinya menggenggam ponsel lebih erat. Ia ingin menarik kembali pesan itu. Ingin menghapusnya sebelum dibaca. Terlambat. Titik dua centang berubah biru. Beberapa detik hening. Lalu balasan datang. “Aku tahu.” Hanya itu. Tidak ada penjelasan. Tidak ada pembelaan. Tidak ada penyesalan. Namun dua kata itu justru terasa lebih menyakitkan daripada kalimat panjang. Aku tahu. Artinya sejak dulu ia sadar. Sadar bahwa alasan itu rapuh. Sadar bahwa keputusan itu melukai. Sinta menatap layar yang kini kembali diam. Dadanya sesak, tapi anehnya bukan karena marah. Lebih karena kenyataan bahwa waktu tidak benar-benar menghapus apa pun. Ia hanya membuat orang berpura-pura lebih dewasa. Beberapa menit kemudian, pesan lain muncul. “Maaf.” Satu kata yang datang terlambat beberapa tahun. Sinta tertawa kecil tanpa suara. Air matanya justru jatuh tanpa ia sadari. Ia tidak membalas. Karena untuk pertama kalinya, ia mengerti— Yang membuat luka itu dalam bukan karena mereka tidak memiliki hubungan darah. Melainkan karena mereka memiliki perasaan… dan memilih mengkhianatinya. Sinta menatap kata “Maaf.” itu lama sekali. Seolah satu kata itu mampu merangkum tahun-tahun yang hilang, jarak yang tercipta, dan keputusan yang tak pernah benar-benar ia pahami. Air matanya jatuh tanpa suara. Ia bahkan tidak terisak. Tangisnya selalu seperti itu—diam, rapi, tidak dramatis. Beberapa menit berlalu. Layar tetap menyala di tangannya. Rama tidak mengirim pesan lagi. Sinta menarik napas panjang, lalu akhirnya mengetik. Jemarinya gemetar, tapi kali ini ia tidak menghapusnya. “Untuk apa?” Terkirim. Jantungnya berdebar lebih kencang dibandingkan saat ia menghadapi klien besar atau rapat penting. Balasan datang lebih cepat dari yang ia kira. “Untuk pergi.” Sederhana. Jujur. Sinta memejamkan mata. Kenangan itu kembali seperti film lama yang diputar tanpa izin—hari ketika Rama berdiri di depannya, menghindari tatapannya, berbicara tentang keluarga, tentang nama baik, tentang tidak ingin menyakiti siapa pun. Kecuali dirinya. “Kamu nggak pernah benar-benar menjelaskan,” tulis Sinta lagi. Kali ini ia tidak menahan diri. Beberapa detik hening. Lalu: “Karena kalau aku menjelaskan, aku takut nggak jadi pergi.” Napas Sinta tercekat. Jawaban itu lebih jujur daripada yang pernah ia dapatkan bertahun-tahun lalu. Ia bangkit perlahan, duduk bersandar di kepala tempat tidur. Lampu kamar masih redup, tapi pikirannya kini sepenuhnya terang—dan kacau. “Jadi kamu memilih jadi pengecut?” Pesan itu terkirim sebelum ia sempat menghaluskan kata-katanya. Titik tiga muncul lama. Menghilang. Muncul lagi. Akhirnya balasan datang. “Iya.” Sinta terdiam. Tidak ada pembelaan. Tidak ada alasan panjang. Tidak ada menyalahkan keadaan. Hanya pengakuan. Dan entah kenapa, pengakuan itu justru membuat hatinya lebih sakit. Karena itu berarti selama ini bukan keadaan yang memisahkan mereka. Melainkan pilihan. Beberapa saat kemudian, pesan terakhir dari Rama malam itu muncul. “Aku pikir dengan pergi kamu akan lebih mudah bahagia.” Sinta menatap kalimat itu dengan senyum pahit. Bahagia? Ia bekerja sampai lupa makan. Ia menenggelamkan diri dalam kesibukan agar tidak perlu berpikir. Ia hampir menikah dengan pria yang tidak benar-benar ia cintai. Jika itu definisi bahagia… maka mungkin mereka memang memiliki arti yang berbeda. Sinta akhirnya mengetik pelan. “Benar. Aku jauh lebih bahagia.” balasnya lagi. “Dan juga lebih menderita.” Namun kalimat terakhir tidak dikirim hanya untuk dirinya sendiri saja. Tidak perlu Rama tau bagaimana perjuangannya selama ini, menghadap kehidupan yang tidak lagi berarti untuk Sinta. Kali ini ia tidak menangis lagi. Hanya ada kesadaran yang pelan-pelan mengendap— Bahwa luka itu terlalu dalam bukan karena ia ditinggalkan. Tetapi karena ia tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD