Bab 14

1493 Words
Pagi pertama Rama di rumah sakit itu dimulai dengan suasana yang cukup hangat. Begitu ia memasuki area utama rumah sakit, beberapa staf sudah menyambutnya dengan ramah. Senyum, jabat tangan, juga ucapan selamat datang datang silih berganti. Kabar kedatangan Rama rupanya sudah lebih dulu menyebar. Bukan hal yang mengejutkan sebenarnya. Nama Rama sudah cukup dikenal, terutama karena rekam jejak akademisnya yang sangat baik dan pengalaman pendidikannya di luar negeri. Seorang dokter muda dengan prestasi yang menjanjikan. Kepala rumah sakit bahkan menyempatkan diri menemuinya secara langsung di ruangannya. “Dokter Rama, akhirnya kita benar-benar bekerja sama,” ucap pria itu sambil menjabat tangan Rama dengan hangat. “Kami sudah lama berharap Anda bisa bergabung di sini.” Rama tersenyum sopan. “Terima kasih sudah memberi saya kesempatan, Dok.” Mereka berbincang beberapa saat tentang sistem kerja rumah sakit, tim dokter spesialis yang ada, serta beberapa program yang sedang berjalan. Suasananya profesional, namun tetap terasa bersahabat. Bagi Rama, sambutan seperti itu sedikit membuat hatinya lebih tenang. Setidaknya keberadaannya di tempat ini diterima dengan baik. Ia tidak datang sebagai orang asing yang diragukan kemampuannya. Justru sebaliknya. Mereka menunggu kedatangannya. Ketika akhirnya Rama keluar dari ruangan kepala rumah sakit, ia berjalan menyusuri lorong panjang yang dipenuhi aktivitas. Perawat berlalu-lalang, beberapa dokter berbicara serius sambil memegang berkas pasien, suara langkah kaki dan percakapan terdengar bersahut-sahutan. Dunia yang sudah sangat ia kenal. Dunia yang selalu terasa seperti rumah baginya. Rama berhenti sejenak di dekat jendela lorong. Menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak tiba di Jakarta, ia merasa sedikit lega. Setidaknya dalam urusan pekerjaan, semuanya berjalan dengan baik. Namun di sudut pikirannya yang lain, masih ada bayangan yang belum benar-benar pergi. Sebuah unggahan sederhana di media sosial. Satu kata singkat yang terus teringat di kepalanya. “Just me” Rama menggeleng pelan, mencoba kembali fokus pada pekerjaannya. Hari pertamanya baru saja dimulai. Dan ia tahu, cepat atau lambat… Jakarta akan kembali mempertemukannya dengan banyak hal dari masa lalu. Di sela kesibukan hari pertamanya, ponsel Rama bergetar pelan di atas meja ruangannya. Nama Livi muncul di layar. Rama langsung mengangkatnya. “Halo…” Di seberang sana suara Liviana terdengar lembut seperti biasanya. “Sudah sampai rumah sakit?” tanyanya. “Sudah. Hari pertama lumayan sibuk,” jawab Rama sambil bersandar di kursinya. “Aku tadi kepikiran terus,” kata Livi pelan. “Takut kamu belum sempat istirahat setelah perjalanan semalam.” Rama tersenyum tipis, meski wanita itu tidak bisa melihatnya. “Tenang saja. Aku baik-baik saja.” Beberapa detik mereka sama-sama diam, hanya mendengar suara napas satu sama lain melalui sambungan telepon. Ini pertama kalinya sejak menikah mereka benar-benar berjauhan seperti ini. Biasanya mereka selalu berada di kota yang sama, pulang ke rumah yang sama, menjalani rutinitas yang sama. Sekarang jarak memisahkan mereka. Makassar dan Jakarta. “Aku kangen,” ucap Livi tiba-tiba dengan nada jujur. Kalimat sederhana itu membuat Rama terdiam sejenak. “Aku juga,” jawabnya akhirnya. Jawaban yang terdengar hangat, meskipun di dalam dirinya sendiri Rama tahu… rasa itu tidak sepenuhnya sama besar. Livi merindukannya dengan utuh. Dengan hati yang sepenuhnya tertambat pada suaminya. Sementara Rama… Ia memang merindukan Liviana. Wanita itu baik, lembut, penuh perhatian, dan selalu mendukungnya. Namun ada ruang lain di dalam hatinya yang masih belum benar-benar kosong. Ruang yang sudah lama ditempati seseorang. Dan sampai hari ini, orang itu belum benar-benar pergi. “Aku akan segera menyusul kalau urusan bisnis di sini sudah selesai,” lanjut Livi. “Paling lama beberapa minggu lagi.” “Tidak usah terburu-buru. Selesaikan dulu yang di sana,” kata Rama. “Baik.” Percakapan mereka tidak panjang. Beberapa menit kemudian panggilan itu berakhir. Rama meletakkan ponselnya kembali di meja. Ruangan kembali sunyi. Ia menatap keluar jendela, melihat halaman rumah sakit yang dipenuhi aktivitas. Ada sesuatu yang terasa janggal dalam dirinya. Ia menjalani kehidupan yang terlihat sangat benar. Pekerjaan baik. Istri yang baik. Masa depan yang jelas. Namun jauh di dalam hatinya… masih ada bagian kecil yang terasa belum selesai. Satu minggu berlalu tanpa terasa. Hari-hari Rama dipenuhi jadwal yang padat—pasien, rapat medis, diskusi dengan tim dokter, dan beberapa prosedur yang cukup menyita tenaga. Sebagai dokter baru yang langsung mendapatkan perhatian dari banyak pihak, Rama harus membuktikan bahwa reputasinya memang pantas. Namun di sela semua kesibukan itu, ada satu hal yang tidak pernah benar-benar hilang dari pikirannya. Sinta. Rama tidak pernah benar-benar berhenti memikirkan gadis itu. Hanya saja kali ini ia menahannya. Menyimpannya rapat-rapat. Beberapa kali Rama sengaja melewati jalan menuju kantor tempat Sinta bekerja. Ia hanya duduk di dalam mobil, memandangi dari kejauhan. Kadang ia melihat sosok yang terasa begitu familiar berjalan keluar bersama beberapa karyawan lain. Sinta. Wanita itu terlihat sama… tapi juga berbeda. Lebih tenang. Lebih dewasa. Namun juga seperti ada sesuatu yang hilang dari wajahnya. Senyum yang dulu begitu mudah muncul kini terasa lebih tipis. Rama tidak pernah turun dari mobil. Ia hanya memandang dari kejauhan. Tangannya beberapa kali menggenggam erat setir mobil ketika melihat Sinta tertawa bersama rekan kerjanya. Ada rasa lega karena wanita itu tampak baik-baik saja. Namun juga ada rasa yang menyesakkan. Karena ia tahu, dirinya tidak lagi memiliki hak untuk mendekat. Suatu sore, Rama kembali melihat Sinta keluar dari gedung kantor. Kali ini wanita itu tidak sendiri. Di sampingnya berjalan seorang pria. Pria itu tampak rapi dengan kemeja kantor. Mereka berbicara santai sambil berjalan menuju parkiran. Rama mengenali pria itu. Niko. Tangannya langsung menegang di setir. Dari kejauhan Rama melihat Niko membukakan pintu mobil untuk Sinta. Wanita itu terlihat sedikit canggung, tapi tetap masuk ke dalam mobil tersebut. Mobil itu kemudian pergi. Rama masih diam di tempatnya. Matanya mengikuti mobil itu sampai benar-benar menghilang dari pandangan. Dada Rama terasa sesak. Ia sebenarnya sudah tahu tentang perjodohan itu. Ia bahkan sengaja pergi ke luar negeri agar tidak perlu melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri. Namun melihatnya secara langsung, rasanya berbeda. Sangat berbeda. Rama menyandarkan kepalanya di kursi mobil. Menghela napas panjang seolah mencoba menenangkan sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya. “Bagus…” gumamnya pelan. “Memang harusnya begitu.” Ia menyalakan mobilnya lalu pergi dari sana. Sementara itu, di dalam mobil Niko, suasana justru tidak sehangat yang terlihat dari luar. Sinta duduk diam menatap ke luar jendela. Niko sempat meliriknya beberapa kali sebelum akhirnya tersenyum kecil. “Kamu capek?” tanyanya. Sinta sedikit tersadar lalu menggeleng pelan. “Enggak.” Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Niko sebenarnya bukan orang yang kaku. Ia cukup mudah berbicara dengan siapa saja. Namun entah kenapa setiap bersama Sinta, ia selalu merasa ada dinding tak terlihat di antara mereka. Wanita itu sopan. Baik. Bahkan tidak pernah menolak ajakannya bertemu. Tapi juga tidak pernah benar-benar membuka diri. Seolah hatinya berada di tempat lain. “Besok aku ke rumah kamu,” ucap Niko akhirnya. Sinta menoleh. “Kenapa?” “Mama kamu minta kita makan malam bareng.” Sinta terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil. “Iya.” Jawabannya singkat. Niko kembali menatap jalan. Sejak kejadian malam itu, hubungan antara Sinta dan Niko perlahan kembali berjalan seperti biasanya. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada pula pembicaraan panjang yang membahas apa yang hampir terjadi malam itu. Sinta tidak pernah mengungkitnya lagi. Begitu juga dengan Niko. Seolah keduanya sepakat untuk menghapus kejadian itu dari ingatan mereka. Namun meskipun di permukaan semuanya terlihat normal, ada sesuatu yang berubah secara perlahan… dan sangat jelas terasa. Jarak. Sinta semakin menjaga jarak. Jika sebelumnya ia masih mencoba bersikap hangat, kini ia lebih banyak bersikap sopan. Bukan dingin, tetapi juga tidak lagi menunjukkan kedekatan yang pernah Niko rasakan. Senyumnya tetap ada. Namun terasa berbeda. Lebih tipis. Lebih singkat. Seperti seseorang yang hanya menjalankan kewajiban. Niko tentu menyadarinya. Setiap kali ia mencoba mendekat, Sinta selalu punya cara halus untuk menjaga batas. Tidak menolak secara terang-terangan, tetapi juga tidak memberi ruang lebih. Dan yang paling terasa bagi Niko adalah sorot mata Sinta. Dulu wanita itu masih menatapnya dengan kehangatan, meski tidak sepenuhnya cinta. Sekarang… Tatapan itu terasa jauh. Seperti seseorang yang perlahan menarik dirinya dari sebuah hubungan. Perasaan Sinta sendiri sebenarnya jauh lebih rumit. Kejadian malam itu memang tidak pernah ia bicarakan lagi, tetapi bukan berarti ia benar-benar melupakannya. Justru sejak saat itu, sesuatu dalam dirinya perlahan berubah. Rasa percaya yang dulu ia coba bangun… runtuh begitu saja. Sinta tidak membenci Niko, ia juga tidak marah, namun sesuatu di dalam hatinya seolah patah. Perasaan yang sejak awal tidak pernah benar-benar besar kini semakin terkikis, sedikit demi sedikit. Habis. Yang tersisa hanyalah tanggung jawab. Tanggung jawab sebagai anak yang patuh. Sebagai seseorang yang telah menerima keputusan perjodohan itu. Sementara di tempat lain, Rama baru saja sampai di apartemennya di kawasan Kuningan. Ia berdiri cukup lama di balkon apartemen, memandang gemerlap lampu kota Jakarta di malam hari. Pikirannya masih dipenuhi satu wajah. Sinta.. Rama mengeluarkan ponselnya. Jarinyа sempat berhenti di satu nama yang sudah lama tidak dihubungi. Namun beberapa detik kemudian Rama mematikan layar ponselnya. Ia memasukkannya kembali ke saku. “Belum waktunya…” gumamnya pelan. Tanpa Rama sadari, takdir yang sempat tertunda itu perlahan mulai bergerak kembali dan pertemuan mereka mungkin sudah tidak terlalu jauh lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD