Di dalam kabin pesawat yang temaram, sebagian besar penumpang sudah terlelap. Lampu kecil di atas kursi hanya menyisakan cahaya redup yang membuat suasana terasa sunyi.
Rama bersandar di kursinya, menatap layar ponsel di tangannya. Pesawat yang membawanya dari Makassar menuju Jakarta sudah berada di udara hampir satu jam.
Malam ini ia kembali ke Jakarta.
Sendiri.
Liviana tidak ikut. Wanita itu masih harus menyelesaikan beberapa urusan bisnisnya di Makassar sebelum menyusul nanti.
Keputusan Rama untuk pindah sebenarnya cukup mendadak. Bahkan bagi dirinya sendiri. Namun setelah beberapa hari memikirkannya, ia merasa langkah itu benar.
Setidaknya… itulah yang terus ia yakinkan pada dirinya.
Jari Rama menggulir layar ponselnya dengan pelan.
Sampai ia berhenti pada satu unggahan.
Unggahan dari Sinta.
Sebuah foto langit malam dengan lampu jalan yang menyala sendirian. Sepi. Hampa.
Dan satu kata singkat di bawahnya.
“Just me”
Rama menatap tulisan itu lama.
Bagi orang lain mungkin tidak berarti apa-apa. Hanya keluhan kecil setelah hari yang melelahkan.
Namun Rama mengenal Sinta.
Terlalu mengenalnya.
Sinta bukan tipe orang yang mengeluh di media sosial. Ia juga bukan orang yang suka menuliskan perasaan secara terbuka.
Jika Sinta sampai menulis sesuatu seperti itu…
maka pasti ada sesuatu yang tidak baik-baik saja.
Pikiran Rama langsung kembali pada beberapa hari lalu.
Pada lebam samar di tangan Sinta saat acara pertunangan itu.
Pada pagi hari di rumah sakit, saat ia melihat Niko keluar dengan wajah penuh luka.
Semua potongan itu tiba-tiba terasa terhubung.
Rama menghela napas panjang, rahangnya mengeras tanpa sadar.
“Masalah apa lagi yang kamu sembunyikan, Sin…” gumamnya pelan.
Ia membuka unggahan itu lagi, menatap foto yang sama, membaca kata yang sama berulang kali.
Kata sederhana yang mengundang banyak tanya, bagi Rama, itu terdengar seperti seseorang yang sedang meminta tolong tanpa berani mengatakannya secara langsung.
Jarinya sempat berhenti di kolom pesan.
Ingin menulis sesuatu, namun ia terdiam.
Apa haknya?
Sinta sekarang sudah memiliki kehidupan sendiri. Tunangan, masa depan yang sedang dibangun.
Sedangkan Rama, ia sudah menikah.
Pesawat sedikit bergetar terkena turbulensi ringan.
Namun pikiran Rama jauh lebih berguncang daripada itu.
Matanya kembali menatap unggahan Sinta sekali lagi sebelum layar ponselnya perlahan meredup.
Dan untuk pertama kalinya sejak memutuskan pindah ke Jakarta,
Rama menyadari satu hal yang tidak ingin ia akui sebelumnya, keputusannya kembali ke kota ini mungkin bukan sepenuhnya karena pekerjaan.
Pesawat terus melaju membelah langit malam.
Di luar jendela hanya ada hamparan gelap dengan titik-titik cahaya kota yang terlihat sangat kecil dari ketinggian.
Rama masih menatap layar ponselnya yang kini sudah mati.
Pikirannya berputar.
Keputusan untuk pindah ke Jakarta memang ia jelaskan pada banyak orang sebagai keputusan profesional—tawaran kerja yang bagus, rumah sakit yang besar, peluang karier yang lebih menjanjikan.
Alasan yang logis dan masuk akal.
Dan mudah diterima semua orang, namun jauh di dalam dirinya, Rama tahu itu bukan satu-satunya alasan.
Ada sesuatu yang lain.
Sesuatu yang bahkan ia sendiri enggan mengakuinya.
Sejak acara pertunangan itu, sejak ia melihat lebam samar di tangan Sinta, sejak pagi di rumah sakit ketika ia melihat Niko keluar dengan wajah penuh luka.
Ada gelagat aneh yang terus mengganggu pikirannya.
Potongan-potongan kecil yang terasa tidak cocok jika disatukan.
Hubungan yang terlihat sempurna di depan banyak orang, namun entah mengapa justru terasa janggal bagi Rama dan sekarang unggahan Sinta malam ini seperti menambah satu potongan lagi dalam teka-teki itu.
Satu kata yang sederhana.
Namun cukup untuk membuat Rama merasa tidak tenang, seolah ada sesuatu yang ingin disampaikan Sinta tanpa benar-benar mengatakannya.
Rama menyandarkan kepalanya ke kursi, menutup mata sebentar.
Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini hanya perasaan berlebihan.
Bahwa Sinta sudah punya kehidupannya sendiri.
Bahwa ia tidak punya hak untuk ikut campur lagi.
Namun ada satu suara kecil di dalam hatinya yang terus berbicara.
Suara yang sangat ia kenal, suara yang selama ini selalu diabaikan.
Hati kecilnya mengatakan bahwa Sinta mungkin sedang tidak baik-baik saja.
Bahwa gadis itu, mungkin sedang membutuhkan seseorang.
Dan entah mengapa, bagian paling dalam dari dirinya merasa orang itu adalah dirinya.
Rama menghela nafas pelan, ia masih mengingkari semuanya.
Masih berpura-pura bahwa ini hanya kekhawatiran biasa, namun satu hal yang tidak bisa dibohongi, hhati manusia tidak pernah benar-benar bisa dibungkam.
Dan hati Rama…
tidak pernah benar-benar meninggalkan Sinta.
Mobil yang membawa Rama akhirnya berhenti di depan sebuah gedung apartemen tinggi di kawasan Kuningan, Jakarta. Langit masih gelap, fajar bahkan belum benar-benar muncul. Kota itu masih setengah tertidur.
Rama turun dari mobil dengan langkah pelan, menarik koper kecilnya.
Gedung apartemen itu bukan tempat baru baginya.
Justru sebaliknya—tempat itu sudah lama menunggunya.
Apartemen itu ia beli beberapa tahun lalu, bahkan sebelum ia menikah. Saat itu alasannya sederhana: investasi. Namun jauh di dalam dirinya, ada perasaan lain yang sulit dijelaskan.
Seolah suatu hari nanti ia akan benar-benar kembali ke Jakarta.
Dan malam ini, hari itu benar-benar datang.
Lift berhenti di lantai tempat unitnya berada. Rama berjalan menyusuri koridor yang sunyi, lalu berhenti di depan pintu apartemennya sendiri.
Beberapa detik ia hanya berdiri di sana.
Kemudian ia membuka pintu.
Ruangan itu masih sama seperti terakhir kali ia tinggalkan. Bersih, rapi, dengan jendela besar yang langsung menghadap pemandangan kota Jakarta.
Rama masuk perlahan.
Koper ia biarkan di dekat pintu.
Ia berjalan menuju jendela, membuka tirai sedikit. Dari sana terlihat lampu-lampu kota yang masih menyala, jalanan yang mulai ramai oleh kendaraan pagi.
Jakarta.
Kota yang dulu pernah ia tinggalkan.
Kota yang sekarang ia datangi kembali.
Besok pagi Rama akan memulai hari barunya.
Ia resmi menjadi salah satu dokter di rumah sakit besar yang cukup terkenal di kota itu. Tempat yang tidak hanya menjanjikan karier yang baik, tetapi juga tantangan besar.
Langkah baru dalam hidupnya.
Namun Rama tahu,kepulangannya ke kota ini bukan hanya tentang pekerjaan.
Ada sesuatu yang lain, sesuatu yang terasa seperti lingkaran yang belum selesai dan takdir yang sempat tertunda.
Rama memejamkan mata sebentar, menarik napas panjang.
Besok ia akan kembali mengenakan jas dokter itu.
Kembali berjalan di lorong rumah sakit.
Kembali menjalani hidup yang terlihat normal.
Namun jauh di dalam hatinya, Rama tahu satu hal, kepulangannya ke Jakarta…
mungkin akan mempertemukannya kembali dengan masa lalu yang selama ini ia coba lupakan.
Dan jika itu benar-benar terjadi,
Rama tidak tahu apakah dirinya sudah siap menghadapinya.