Bab 4. Di Balik Lampu Kasino

1544 Words
Bab 4. Di Balik Lampu Kasino “Alat? Alat apa? Apa kamu gak lelah, terus-menerus menuduhku.” Elara berjalan tegas mendekati Rafael. Berusaha mengubur rasa takut yang mendera. “Karena sinyal dari kamar ini menggangu sistem keamanan di rumah ini. Mendingan kamu jujur, sebelum aku tahu kebenarannya!” “Aduh Tuan Rafael. Aku gak menggunakan alat apapun. Kamu boleh geledah saja isi kamar ini. Toh, ini rumahmu.” Jantung gadis itu makin berdetak kencang, Seandainya Rafael benar-benar menggeledah isi kamar. Ia selesai. Pria dingin, namun penuh pesona itu perlahan memangkas jarak dengan Elara. “Katakan dengan jujur! Kamu sedang berbicara dengan siapa? Bukankah kamu nggak punya ponsel? Atau jangan-jangan?” Nada bicara Rafael sangat tenang, akan tetapi setiap kata-kata yang keluar tajam laksana pisau. Tabung lipstik kecil yang tadinya reflek tergeletak di meja masih terbuka. Langsung Elara ambil dan ia tutup rapat. Untung lampunya saja sudah tidak berkedip. Elara berdiri di hadapan pria tegap dan tampan itu, tubuh Elara sedikit tegang. Namun, ia berusaha memancarkan tatapan santai dan tenang. “Maksud kamu apa? Perasaan, daritadi aku cuma menyanyi kecil. Salahnya di mana?” Rafael tidak menggubris. “Jangan mencoba untuk bermain kata-kata denganku, Nona.” Rafael masih menatap dan menelisik isi ruangan. “Kemarikan benda yang kamu pegang! Jangan sampai aku bertindak kasar.” “Maksud kamu lipstik ini? Bukankah ini kalian yang menyediakan kemarin. Nih, lihat saja sendiri.” Elara menyodorkan lipstik tersebut dengan senyuman manis, padahal dadanya sedang berdebar hebat. Otaknya sedang berpikir keras. Rafael bergeming. “Dengar, ya, Tuan Rafael yang terhormat. Dari tadi aku tuh cuma nyanyi, dan lipstik ini aku anggap sebagai mikrofon. Masa iya aku ngomong sendirian.” Keheningan menyelimuti ruangan itu.Entah kenapa beberapa hari ini, Jakarta selalu dilanda hujan. Gemercik airnya terdengar samar dari luar. Tempiasnya mengenai kaca jendela besar yang terpasang di kamar itu. “Kalau kamu menyanyi, aku pasti dengar nadanya meski tanpa musik. Tapi ini bukan nyanyian.” Elara menatap lurus ke arahnya. “Lalu gimana kalau kamu yang salah dengar?” Debaran itu mulai berkurang. Setidaknya Elara selamat, karena Rafael tidak mengambil lipstik dan juga tidak menggeledah kamar itu. Perkataan gadis itu membuat Rafael berhenti. Hanya ada jarak sejengkal di antara mereka. Beberapa detik terlewat tanpa kata. Kemudian Rafael bicara pelan, nyaris seperti gumaman, “Mulai malam ini, kamu nyanyi di kasino. Di bawah pengawasanku langsung.” Elara menegakkan tubuh. “Kamu mau mengawasi aku... atau mau menikmati aku?” Lirikan nakal Elara mulai menggoda, diikuti bahasa tubuh yang sedikit bermain. Rafael tidak tersenyum, namun menjawab sambil melangkah keluar “Keduanya.” --- Sable Noir berdiri di tengah hiruk pikuk malamnya kota, di bawah cahaya lampu merah dan suara musik yang menggema dari balik pintu kaca. Elara berdiri di depan cermin ruang rias, menatap bayangan dirinya dalam balutan gaun maroon berkilau. Ia menghela napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Di balik kilau dan parfum mahal itu, jantungnya kembali berdetak cepat. Karena malam ini, ia akan menyanyi, sekaligus menembus benteng pertama Rafael Wiratama. Pintu diketuk. Luca masuk dengan jas rapi diikuti tatapannya yang menghunus. “Bos ingin kamu naik panggung jam sembilan. Ingat, jangan bikin masalah!” Elara menatap pantulan Luca dari cermin. “Kamu ngomong begitu, seperti aku ini suka buat masalah aja.”. Luca mengangkat bahu. “Kalau dilihat dari caramu berbicara, bisa jadi itu benar. Karena terlihat jelas dari tiap kata yang keluar dari mulutmu sudah di atur.” Luca berbalik pergi, akan tetapi sebelum keluar, ia sempat menambahkan pesan dengan pelan dan tegas. “Jangan coba-coba cari sesuatu di luar panggung. Kamera di sini lebih banyak dari yang kamu kira.” Begitu pintu tertutup, Elara tersenyum tipis. “Kamera mungkin bisa melihat dan merekam. Sayangnya kamera gak bisa membaca niat yang terselip.” Lampu panggung menyorot lembut saat gadis itu naik. Musik mengalun, pelan dan menggoda. Dari balkon atas, Rafael berdiri dengan tangan di saku, matanya tidak lepas dari Elara. Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dalam tatapan pria itu. Seperti rasa ingin tahu, curiga, dan juga kekaguman. Elara menyanyi dengan indah dan penuh perasaan. Setiap lirik seperti ditarik dari luka lama yang tak pernah sembuh. Kali ini untuk pertama kalinya, Rafael tidak berpikir soal bisnis, atau bahaya. Ia hanya melihat seorang wanita cantik dan menarik. Hem, apakah pria dingin itu mulai tertarik? Saat lagu berakhir, tepuk tangan menggema. Elara menunduk, dan tersenyum lebar, lalu turun dari panggung. Ia melangkah menuju bar, menatap gelas-gelas yang berkilau di bawah cahaya biru. Rafael menghampirinya. “Suara kamu indah. Mampu menghipnotis orang yang mendengarnya.” Elara menatap ke arahnya. “Bagus dong. Dunia yang tegang ini butuh hal-hal yang bisa bikin orang terhibur, kan?” Keduanya saling beradu pandang. Dunia di sekitar terasa berputar begitu lambat, hanya dentuman musik yang menjadi latar. Rafael memalingkan wajah, menyandarkan diri ke sandaran kursi. “Aku nggak tahu. Karena aku lupa apa rasanya terhibur.” Beberapa detik kemudian, Rafael kembali mencondongkan tubuh, jarinya menyentuh gelang perak di pergelangan tangan Elara. Darah gadis itu berdesir. Mendadak suhu tubuhnya menghangat. “Cantik. Gelang ini begitu menarik perhatian.” Elara membeku sesaat, namun ia bergegas mengatur napas dan juga kata. “Ini peninggalan dari mendiang ibuku.” Rafael memutar gelang itu dengan perlahan. “Canggih juga seleranya. Bisa nyala?” Lampu kecil di dalam gelang berkedip singkat, mengeluarkan bunyi lirih seperti sinyal. Rafael menatapnya, ekspresinya datar namun penuh kewaspadaan dan tentu saja kecurigaan. “Ini gelang yang dirancang khusus untuk menghitung detak jantung si pemakai.” Elara mengerling nakal “Apa kamu gak lelah selalu diliputi rasa curiga, Tuan Rafael?” Sebelum Rafael sempat menjawab, lampu di seluruh kasino mendadak padam. Musik pun berhenti. Teriakan kecil terdengar dari beberapa meja. Disusul suara tembakan dan kaca pecah. Luca berlari dari arah belakang. “Bos! Kita diserang!” Rafael berdiri cepat, tangannya refleks menarik Elara ke belakang. Peluru kembali melesat menembus kaca bar, botol-botol pecah, cairannya berceceran di lantai. “Turun!” teriak Rafael, menundukkan kepala Elara. Beberapa penjaga muncul membawa senjata. Suara tembakan membalas dari arah pintu. Rafael menoleh cepat ke arah Luca. “Siapa mereka?” “Belum tahu. Tapi mereka tahu ada pintu belakang!” Luca melempar granat asap agar mereka bisa melarikan diri. Asap putih mulai memenuhi ruangan. Elara berusaha menahan napas, tubuhnya gemetar. Rafael menarik tangannya, membawa ke lorong kecil di belakang bar. “Lewat sini!” “Aku bisa lari sendiri!” “Diam dan ikut!” Rafael menarik paksa gadis itu. Padahal Elara juga ingin melepaskan diri dan keluar dari kasino tersebut. Ternyata semua di luar prediksi. Lorong itu begitu gelap, hanya cahaya dari sirene merah yang berkedip di ujung jalan. Napas yang begitu terasa berat, langkah keduanya bergerak cepat. Saat hampir mencapai pintu keluar, suara keras terdengar dari atas kepala. Nahasnya bagian langit-langit runtuh, menghantam lantai dan menutup jalan. Rafael menoleh cepat. “Sini!” Ia menarik Elara ke ruangan kecil di samping tangga darurat. Begitu pintu tertutup, mereka terperangkap di ruang sempit yang hanya diterangi lampu darurat. Napas Elara masih memburu, tubuhnya gemetar di antara rasa takut dan adrenalin. Rafael menatapnya, memastikan ia tidak terluka. “Kau baik-baik aja?” Elara mengangguk pelan. “Sial. Mereka membuat rencanaku berantakan,” batin Elara mengumpat kesal. Suara langkah kaki terdengar dari luar, semakin dekat. Rafael menegakkan tubuh, mengokang pistol. Elara menatap gelangnya, lampu kecil di sana menyala merah, bergetar cepat. Gadis itu tercekat. Sungguh ia takut akan tamat begitu cepat. Rafael melihatnya. “Tanda apa lagi itu?” Elara menjawab pelan, “Kan, sudah kukatakan. Lampu ini berkedip sesuai detak jantungku.” Suara berat dari luar pintu terdengar, disusul dentuman peluru menembus dinding. Rafael menunduk, menarik Elara ke belakang lemari besi. “Diam di sini.” Elara menggenggam tangannya. “Apakah mereka, orang-orang dari kapal itu? Apa mereka tahu aku di sini—” Elara berpura-pura ketakutan dan khawatir. “Bukan! Kali ini aku sasarannya adalah aku, bukan kamu.” Keheningan terjadi beberapa detik. Lalu dari alat di gelang Elara, kembali berkedip. Rafael menatap tajam. Elara menarik gelang itu dengan memasang wajah kesal. “Bisakah di saat genting seperti ini, kamu gak usah curigaan terus. Sudah kukatakan, kedipan ini sesuai detak jantungku.” Rafael meraih tangan Elara.“Feeling-ku mengatakan kalau kamu punya banyak rahasia, Elara, dan aku juga mulai muak dengan semua ini.” Elara menatap Rafael dengan sendu. Ia bersikap seolah-olah telah putus asa. “Lalu kamu mau apa sekarang?” Rafael membalas tatapan gadis itu. “Aku akan cari tahu sendiri.” Sementara itu di luar, suara tembakan kembali terdengar. Dinding bergetar. Lampu darurat berkelip-kelip. Rafael yang kesal bersiap untuk membalas serangan. Elara menggenggam tangan Rafael dengan erat. “Kalau kamu keluar sekarang, kamu bisa mati.” Rafael menatapnya sebentar, lalu menyalakan senjata. “Kalau aku gak keluar, aku gak akan tahu siapa musuhku.” Ia membuka pintu sedikit, memeriksa situasi, lalu menoleh lagi ke Elara. “Tinggal di sini. Jangan bergerak!” Elara menatap punggung Rafael yang perlahan menjauh. Lampu merah dari gelang yang ia pegang kembali menyala pelan, memantul di wajahnya sendiri yang pias. “Misi fase dua,” bisiknya nyaris tanpa suara, “berjalan.” Namun sebelum ia sempat menutup pintu, suara dari interkom kasino yang sedikit rusak menggema. “Sasaran utama bergerak. Ulang, Rafael Wiratama sudah keluar dari zona aman.” Elara menatap ke arah pintu yang baru saja ditutup oleh Rafael. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD