Bab 5. Rasa Apa ini?

1561 Words
Bab 5. Rasa apa ini? “Semoga kamu baik-baik saja.” Namun entah mengapa, untuk pertama kalinya sejak misi dimulai, hatinya benar-benar berdebar dan tidak rela jika Rafael terluka. Gadis itu bingung dan juga tiada alasan untuk itu. Tak begitu lama terdengar langkah mendekat. Elara berdebar menanti pasukan yang akan membawanya keluar, atau malah orang-orangnya Rafael yang akan menarik dia lebih jauh ke dalam kehidupan mafia itu. Pintu terbuka. Ternyata Rafael yang datang dengan lengan yang terluka. Elara merasa senang sekaligus kecewa. Ia senang Rafael selamat, namun ia harus menelan pil pahit, itu tandanya misi harus tetap berjalan. “Cepat! Kita harus keluar dari sini!” “Tapi mereka?” Elara bergegas dan meringis karena tangannya ditarik kuat oleh Rafael. “Luca dan yang lainnya sedang menyerang mereka. Sepertinya mereka yang datang itu adalah pasukan polisi.” Rafael turun dari tangga kemudian mendorong pintu besi berat di ujung lorong. Bau besi berkarat bercampur debu mengotori udara yang sudah pengap di lorong itu. Mereka turun ke ruang bawah tanah yang sempit, hanya diterangi cahaya temaram dari lampu kecil di dinding. “Di sini aman?” suara Elara masih bergetar, napasnya belum stabil. “Untuk sementara,” jawab Rafael pendek, menutup pintu dari dalam. Ia menyandarkan diri ke tembok, memeriksa peluru di magazin. Tangannya sedikit berdarah, luka di lengan kirinya mulai merembes. Elara menatapnya dari jauh, ragu untuk mendekat. “Kamu berdarah.” “Bukan pertama kalinya.” Rafael menghela napas seperti menahan sakit. “Kalau kamu mati, aku bakalan rugi. Bayaranku menyanyi belum kamu kasih.” Rafael menatapnya datar. “Kamu masih sempat bercanda?” Elara menarik napas, lalu berjalan pelan ke arah pria itu. “Kalau aku panik, aku malah jadi bego.” Ia mengoyak ujung gaunnya. “Duduk.” Rafael memandangnya tanpa ekspresi, namun akhirnya menuruti. Ia duduk di kursi tua, membiarkan Elara membalut lukanya. Sentuhan jari gadis itu lembut. Anehnya ada desiran hangat yang menjalar di aliran darah Rafael. “Aku gak biasa dirawat,” gumam Rafael yang berusaha menghindar tatapan Elara. “Aku juga gak biasa ngurus penjahat,” jawab Elara pelan. Rafael mendongak, menatap wajah gadis itu dari jarak dekat. “Penjahat?” “Orang-orang yang bilang begitu.” Elara mengedikkan bahu. “Kamu percaya?” Elara terdiam. “ Entahlah. Aku belum tahu.” Ia mengikat sobekan gaun di lengan Rafael, akan tetapi tangan Elara sempat bergetar ketika jari mereka bersentuhan. Detak jantungnya tak terkendali, entah karena takut atau hal lain. Rafael memperhatikan gerakannya tanpa suara. Tatapannya tajam, namun kali ini tak ada ancaman di sana. Hanya sesuatu yang menelusup dengan perlahan serta si ikuti rasa ingin tahu. “Elara.” “Hm?” “Kamu gak takut sama aku?” Elara berhenti, Ia menatap Rafael. “Harusnya iya, kan?” “Jawab aja.” “Kalau aku bilang enggak?” “Berarti kamu bodoh.” Rafael berpaling wajah. Elara tersenyum kecil, menurunkan pandangan. “Atau mungkin aku cuma gak bisa baca bagaimana orang yang jahat itu.” Rafael menyandarkan kepala ke dinding, matanya menatap lampu kecil yang berkedip di atas mereka. “Kamu ngomong kayak kamu ngerti dunia penjahat aja “ “Setiap malam aku nyanyi buat orang yang haus akan hiburan. Mereka semua manusia. Cuma cara rusaknya yang beda-beda. Hingga menjadikan mereka penjahat.” Hening kembali menemani. Tiada lagi terdengar suara adu peluru dari atas sana. Elara duduk di lantai, bersandar di dinding berhadapan dengan Rafael. Keduanya terdiam cukup lama, hanya tatapan yang saling mengamati. Rafael akhirnya membuka percakapan lagi. “Aku tahu kamu bukan cuma penyanyi.” Elara terkejut “Apa maksudmu?” “Kamu terlalu waspada. Tatapanmu bukan tatapan penyanyi panggung. Lebih seperti seseorang yang lagi menunggu langkah berikutnya dari pihak lawan.” Elara mencoba tertawa, meski suaranya terdengar kaku. “Kamu kebanyakan nonton film detektif.” “Bisa jadi.” Rafael menunduk, memutar pistol di tangannya. “Tapi, biasanya naluriku jarang salah.” Elara melirik Rafael secara diam-diam, dadanya sedikit sesak. Ia tahu pria di depannya kini sangat berbahaya, namun entah kenapa sesuatu di dalam dirinya terus menolak untuk menjauh. Ia berdiri, melangkah ke arah Rafael. “Boleh aku tanya sesuatu?” “Tanya aja.” “Kalau semua orang menganggap kamu jahat, apa kamu percaya begitu aja?” Rafael mendongak. “Aku nggak butuh orang lain buat menilai dan mengatakan aku jahat. Aku tahu siapa diriku.” Tatapan lembut Elara berlangsung cukup lama, seolah-olah mencari celah di balik dinginnya kata-kata itu. “Mungkin kamu cuma takut kalau ternyata kamu masih punya sisi baik.” Elara tersenyum. “Terus, kamu mau nyelamatin sisi baik itu?” Elara tersenyum getir r. “Aku gak semulia itu.” Suasana di antara mereka terasa menegang. Elara melangkah satu langkah lebih dekat, dan Rafael tidak menjauh. Tatapan mereka bertemu, lama, diam, seperti dua orang yang tahu seharusnya tidak sedekat itu. Jari Elara hampir menyentuh wajah Rafael saat suara ledakan kecil terdengar dari atas. Mereka berdua tersentak. Rafael segera berdiri, mengambil senjata. “Elara, cepat!” “Apa mereka tahu tempat ini?” “Mungkin.” Rafael menekan tombol di dinding, dan sebuah panel rahasia terbuka di bawah meja. “Masuk!” Elara menatap lubang yang sempit itu. “Kamu yakin?” “Tentu saja. Apa kamu mau kita mati di sini?” Mereka berdua turun ke terowongan itu, sempit dan dingin. Cahaya dari lampu darurat kecil menyorot wajah mereka yang tegang. Setelah berjalan beberapa meter, suara langkah-langkah berat terdengar dari belakang. “Elara,” bisik Rafael. “Kalau sesuatu terjadi padaku, cepat selamatkan diri dan jangan pikirkan aku. Paham?” “Stop! Ucapanmu kayak kamu bakal mati aja” “Aku realistis.” Rafael meneruskan langkahnya. “Dan aku nggak suka membayangkan hal yang belum terjadi.” Tiba-tiba suara peluru menghantam dinding di dekat mereka. Elara menjerit kecil, terjatuh. Rafael langsung memeluk tubuhnya, menutupi kepala gadis itu dengan tubuhnya sendiri. “Diam!” bisiknya keras. Beberapa detik yang terasa seperti selamanya berlalu. Saat suara langkah itu menjauh, Rafael menarik napas dalam-dalam. Elara masih di bawah pelukannya, tubuh mereka begitu dekat sampai ia bisa merasakan detak jantung Rafael di dadanya. “Elara, kamu gak apa-apa?” “Kayaknya tulang rusukku masih utuh.” Rafael menatapnya, lega sekaligus anehnya enggan melepaskan. Elara menatap balik, pandangannya melembut. “Kamu selalu begini ke semua wanita yang kamu lindungi?” “Aku ga pernah berurusan dengan wanita. Baru kamu.” Elara tersenyum tipis Rafael akhirnya membantu Elara berdiri. Dalam sekejap, jarak di antara mereka nyaris hilang. Rafael masih menatap wajahnya, matanya turun ke bibir Elara tanpa sadar. Elara menahan napas, tapi tak bergerak mundur. “Kamu tatap aku kayak gitu terus, nanti aku bisa salah paham.” Ucapan gadis itu membuat udara terasa berat. Elara nyaris lupa semua hal, misi, tugas, dan alasan dia di sini. Semua hilang saat Rafael perlahan menyentuh wajahnya. Sentuhan itu singkat, akan tetapi mampu menbuat jantung keduanya berdebar keras. Rafael menurunkan tangannya cepat, seolah baru tersadar. “Maaf, aku cuma memastikan kamu gak terluka.” “Yakin cuma itu?” Tatapan Elara sedikit menggoda. Rafael memalingkan wajah, menyalakan senter di ponselnya. “Kita harus keluar sebelum subuh.” Elara mengikuti di belakang, menatap punggung pria itu dalam diam. Ada sesuatu yang berubah malam ini. Ia tidak tahu apa itu. --- Pagi menjelang. Mereka keluar di ujung terowongan, di area gudang kosong di pelabuhan utara. Udara laut bercampur angin dingin yang menusuk tulang. Elara berdiri, menatap area sekitar “Kita di mana?” “Tempat yang gak akan bisa ditemukan oleh siapa pun.” “Tempat persembunyianmu?” “Bukan. Ini adalah tempatku merenung.” Rafael duduk di tangga besi, menatap jauh ke laut. Elara berdiri di sebelahnya, menyilangkan tangan. “Apakah Luca mengatakan siapa yang menyerang kasino? Soalnya kamu semalam mengatakan kalau mereka adalah pasukan polisi.” “Tidak. Karena aku tahu dari gerak-gerik mereka.” Elara sedikit resah. Karena di sampingnya berdiri seorang. Pria dingin yang susah ditebak, Tadinya gadis itu berpikir akan menaklukkan Rafael dengan mudah. Ternyata, makin ia tertarik ke dalam, justru Elara makin enggan keluar. Meski begitu, Elara bisa menilai ada kesedihan yang samar di mata pria dingin itu. “Tuan Rafael, Apa kamu pernah kehilangan seseorang?” “Panggil aku Rafael saja.” Rafael menatap Elara sekilas. “Apa aku harus cerita? Atau kamu yang ingin tahu dengan cara mengorek siapa diriku?” “Kamu masih curiga sama aku? Rafael terdiam cukup lama, lalu berkata pelan, “Belum tahu.” Angin laut menerpa rambut Elara. Ia menunduk, lalu perlahan bicara, “Apa bagimu aku setidak tahu dirinya, hingga tidak tahu berterima kasih karena kamu sudah menyelamatkanku.” Rafael menoleh pelan, tatapannya menusuk. “Argumen yang bagus.” Elara menelan saliva, jantungnya berdegup keras. “Sepertinya tiada jalan lain. Aku harus buat pria ini takluk padaku,” batin Elara dengan mantap. “Aku ijin ke sana. Sepertinya pemandangan di sana begitu indah.” Gadis itu melangkah pergi duluan, meninggalkan Rafael berdiri sendiri di tepi dermaga. Namun begitu bayangan Elara menghilang di balik kabut, Rafael merogoh saku jasnya. Di sana, ada serpihan kecil dari gelang perak Elara yang sempat pecah saat tembak-menembak di kasino. Ia menggenggamnya erat. “Aku tahu. Kamu bukan cuma penyanyi,” gumam pria itu. Dari kejauhan, Elara berhenti sejenak. Ia menekan alat kecil di telinganya. Suara samar terdengar dari seberang: “Intel 07, laporan visual diterima. Target tetap bersama. Fase pengumpulan data, mulai hari ini.” Elara menatap laut yang tenang. Ungkapan lirih hampir tak terdengar, “Maaf, Rafael.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD