Bab 9. Jatuh Cinta

1352 Words
Bab 9. Jatuh Cinta. “Atau? Atau apa?” “Jangan bermain taktik denganku, Nona. Jangan berpikir hal yang hanya akan membahayakan dirimu.” Luca meninggalkan Elara yang tercengang setelah mendengar ucapan dari Luca. “Kenapa aku merasa Luca justru lebih berbahaya dari Rafael? Apakah dia memang sudah lama mencurigaiku?” “Elara.” Gadis itu tersentak saat dari belakang terdengar seseorang menyebut namanya. “Eh, kamu.” “Emang kamu sangka siapa? Atau kamu sedang menunggu orang lain?” Rafael mendekat. “Jangan suka menggumam sendirian. Atau orang lain akan menyangka kamu sedang mengatur strategi untuk menyerang kami.” Senyum smirk itu kembali terbersit. Bulu roma gadis itu mendadak berdiri. Merinding. Bergegas ia mengatur pernapasan dan wajah. Elara tersenyum simpul “Aku cuma mengulang nada tinggi di lagu pertama, supaya jangan fals.” Rafael tidak merespons, hanya mengamati wajahnya cukup lama sampai Elara merasa jantungnya makin tak karuan. Pria itu mendekat dan memegang pinggang Elara dengan cepat. Ia dekatkan ke pelukannya. Tanpa aba-aba Rafael merangkul bibir Elara dengan bibirnya. Tidak lama, namun mampu membuat Elara membeku tak percaya. “Pembohong yang buruk.” Rafael hedak berlalu meninggalkan gadis itu. “Hei! Kenapa kamu yakin begitu?” Elara mengusap bibirnya dengan perasaan yang tak menentu. “Belajarlah lagi untuk menjadi pembohong yang baik. Agar saat aku menghunusmu dengan belati, aku tak menyesal. Oh ya setelah selesai kau dengan panggungmu, aku ingin bicara.” Rafael melambaikan tangannya tanpa menghadap ke Elara. Perempuan itu tercekat. Kedua tangannya mengepal kuat. Setelah Rafael berbalik pergi. Elara memandang punggung itu, lalu menarik napas panjang. “Gawat. Malam ini aku bisa kacau.” --- Pertunjukan pun dimulai. Elara melangkah ke panggung dengan langkah anggun. Sorot lampu hangat jatuh ke wajahnya. Musik mengalun pelan. Suara Elara mengisi ruangan, lembut namun kuat, membawa semua orang masuk ke dalam suasana penuh rasa. Namun pikirannya tak fokus sepenuhnya. Beberapa kali ia melihat Rafael dari jauh. Pria itu berdiri di balkon atas, tangan yang dimasukkan ke saku, memperhatikan dirinya dengan tatapan yang berbeda. Elara merasa oksigen di sekitarnya menguap entah ke mana. Sesak. Saat lagu ketiga habis, ia menurunkan mikrofonnya dengan perlahan. Musik pun berhenti. Ruangan itu riuh dengan pengunjug yang bertepuk tangan. Namun Elara hanya memikirkan satu hal, yaitu, pertemuan yang menunggunya nanti. --- Usai pertunjukan, Elara berjalan menuju ruangan belakang. Ia membuka pintu dengan pelan, dan Rafael sudah ada di sana. Bersandar di meja kecil. Hening menyelimuti ruangan. “Kamu mau bicara?” tanya Elara, mencoba terdengar ringan. Rafael menatapnya tajam, tapi kali ini sorot itu terasa berbeda. Ada pertarungan batin di sana, seperti ia sedang menahan sesuatu yang ingin meledak keluar. “Aku ingin tahu sesuatu,” katanya pelan. Ketegangan terasa memuncak. Elara hampir membuka mulut, namun suara ketukan pintu membuat keduanya terlonjak. Luca muncul, wajahnya serius. “Bos. Ada sesuatu yang harus kamu lihat.” Rafael menahan napas, lalu menatap Elara sekali lagi. Tatapannya dalam, seperti ada sesuatu yang belum selesai. “Kita lanjut nanti.” Pria tampan itu keluar tergesa-gesa. Elara berdiri mematung. Jantungnya berdetak keras. Ia mulai menyadari bahwa semakin dekat ia pada Rafael, semakin sulit pula ia menjaga garis antara tugas dan perasaan. Yup, Elara jatuh cinta. Di malam ini, garis itu nyaris lenyap, dilumat oleh perasaan yang tak kuasa ia cegah. Di ruangan Rafael, Luca berdeham, memecah keheningan dan ketegangan yang mengikuti. “Katakan, ada apa?” “Dia pasti menyembunyikan sesuatu, Raf.” Rafael duduk di sofa dan mengambil rokok, menyalakan pemantik dengan serius. ““Semua orang pasti menyembunyikan sesuatu. Kau dan aku pun begitu.” “Apa pernah kau melihat bekas di lehernya. Bentuknya agak aneh. Bukan seperti luka karena terjatuh?” Rafael terdiam. Ya, dia pernah melihat luka itu. Luca mendekat, matanya tajam. “Dia datang tanpa latar belakang yang jelas. Bicaranya terkesan hati-hati. Reaksinya lambat saat kau mececarnya dengan pertanyaan. Apa kamu gak merasa ada yang salah?” “Merasa,” jawab Rafael santai. “Lalu?” “Belum ada bukti. Percuma menuduh.” Luca menghela napas kasar. “Aku tidak suka kita berdekatan dengan orang tanpa latar belakang yang jelas. Terutama dirimu. Kau seharusnya lebih waspada.” Rafael menghembuskan asap. “Aku selalu waspada.” “No. Rafa.Terlihatnya gak seperti itu. Kau sepertinya malah terpesona.” Rafael menatap Luca tajam dan cukup menusuk. Ia tak senang dengan perkataan Luca. “Waspadanya aku bukan berarti harus membenci semua orang yang masuk ke dalam hidupku. Jangan lupa, aku yang membawanya kemari.” “Kalau itu yang membuatmu lengah, gimana?” “Aku gak pernah lengah. Kau tahu itu dengan sangat jelas.* Luca menggeleng sambil memijat tengkuk. “Aku cuma bilang. Dia bisa jadi bahaya bagi kita.” Rafael kembali menatap asap yang bermain-main di udara. Luca hanya menggeleng dan tersentak saat ponselnya berdenting. "Bos, lihat. Orang kita menemukan ini." Luca menyodorkan ponselnya Di layar pipih itu terpampang foto seorang wanita sedang berdiri menyamping. Wajahnya tidak begitu jelas, namun postur tubuhnya sangat mirip dengan Elara. Ada satu detail yang membuat Rafael tertegun. "Perbesar dan perhatikan lehernya," bisik Luca. "Ada bekas luka sayatan yang sama dengan Elara. Luka itu terlihat seperti luka lama." Rafael menajamkan pandangannya. Luka itu nyaris tak terlihat, tertutup rambut, dan Rafael memang pernah melihat luka di leher Elara saat gadis itu pingsan. Sama persis. Ck, Luca memang jeli. "Kamu dapat dari mana?” "Orang kita dari kota sebelah. Kata mereka, dia pernah menyamar menjadi anggota salah satu penyeludup di kota itu. Tapi banyak juga yang menduga kalau dia adalah perwira polisi intelejen. Sayangnya mereka belum tahu identitas jelasnya. Cuma ciri-cirinya seperti–” Luca menggantung kalimatnya, memberi kode pada Rafael agar berpikir sendiri dengan jernih. Rafael menggeram rendah. "Hem. Aku tahu maksudmu. Kita akan temukan identitas dia yang sebenarnya" Rafael berdiri dan mengintip dari tirai ruangannya. Ia menatap Elara. Rafael dan Luca masih melihat Elara dari dalam ruangan. Di sana terlihat jelas Elara yang gelisah. Luka di leher? Yup, Itu adalah bekas operasi penyamaran yang hampir merenggut nyawanya beberapa tahun lalu. Informasi itu seharusnya hanya diketahui oleh segelintir orang di kepolisian. Namun Luca tidak terima. "Bos, ini jelas jebakan. Wanita itu punya masa lalu yang mencurigakan. Kita tidak tahu siapa dia sebenarnya." Rafael terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. "Aku tahu risikonya, Luca. Tapi aku gak bisa mundur sekarang." "Tapi Bos—" "Cukup!" bentak Rafael, membuat Luca terdiam. "Aku tahu apa yang kulakukan. Aku bisa mengatasi ini." Luca menggelengkan kepalanya, tampak frustrasi. "Aku tidak yakin, Bos. Ini terlalu berbahaya. Biarkan aku yang bertanya kepadanya lebih dalam. Kita bisa cari tahu apa yang dia sembunyikan." "Tidak," jawab Rafael tegas. "Sudah kukatakan, kita tidak akan menuduh seseorang tanpa bukti yang jelas. Aku akan mencari tahu kebenarannya sendiri." Luca menggerutu, "Kau terlalu percaya pada orang, Raf. Itu bisa jadi kelemahanmu. Atau kamu telah jatuh cin–?” “Pertanyaan apa itu!” Amarah Rafael membuat ruangan itu menggema. “Maaf. Tapi aku merasakan seperti itu.* "Mungkin," balas Rafael. "Andai pun iya, bukankah aku pria normal? Tapi aku lebih percaya pada instingku. Dan instingku mengatakan ada sesuatu yang lebih besar di balik ini." "Lalu apa rencanamu?" tanya Luca, nada suaranya mulai melembut. Rafael menyeringai.. "Aku akan membiarkannya bermain. Aku akan melihat sejauh mana dia berani melangkah. Dan saat dia lengah, aku akan balik menyerang." Luca menatap Rafael dengan khawatir. Ia tahu, jika Rafael sudah mengambil keputusan, tidak ada yang bisa mengubahnya. Ia hanya bisa berharap, kali ini, insting atasan sekaligus teman baiknya itu tidak salah. "Baiklah," kata Luca akhirnya. "Tapi izinkan aku untuk tetap mengawasinya. Aku tidak ingin kau terluka." Rafael menepuk bahu Luca. "Tenang saja. Aku selalu selangkah lebih maju dari mereka." Mereka keluar dari ruangan, Elara masih berdiri di tempat yang sama. Rafael menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca. "Ada urusan mendadak," kata Rafael singkat. "Aku harus pergi. Kita lanjutkan nanti." Elara mengangguk, berusaha menyembunyikan kegugupannya. Ia tahu, permainan baru saja dimulai. Dan ia harus berhati-hati agar tidak ketahuan. Di malam yang sama, Elara menghubungi atasannya. "Saya rasa mereka mulai curiga," lapornya. "Tatapan Rafael kali ini agak berbeda. "Tetaplah pada rencana awal," jawab atasannya. "Jangan biarkan mereka tahu siapa kamu sebenarnya. Kami akan mengirimkan bantuan secepatnya." Namun sebuah panggilan terdengar lagi dari earpiece. “Vania. Kita ubah misi.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD