Bab 8. Pahitnya Masa Lalu

1260 Words
Bab 8. Pahitnya Masa Lalu “Bagaimana ini? Ayo, Vania. Kamu harus fokus. Bukankah ini adalah tugas dan misi untuk negara. Kenapa harus terlibat masalah hati.” Elara/Vania berjalan mondar-mandir seraya menggumam sendirian. Ia memijat pelipisnya. Hati dan otak yang tidak sinkron membuat kepalanya ingin meledak karena sakit. Sementara itu di gudang senjata. Luca yang sudah melihat gelagat Rafael mulai berbeda, sedikit resah. “Apa kau pernah menyesal memilih jalan ini?” Rafael berhenti memeriksa pistolnya. Pertanyaan itu terlepas ke udara seperti kabut dingin yang turun dari atap gudang. Luca berdiri tak jauh darinya, tangan disilangkan, menunggu jawaban yang mungkin tak akan pernah memuaskan siapa pun. Rafael memasukkan magazin ke tempatnya. “Pertanyaan macam apa itu?” “Pertanyaan yang cuma berani aku tanya kalau kita lagi berdua.” Rafael menatap Luca sebentar, lalu kembali fokus pada senjatanya. “Gak. Gak ada gunanya menyesal.” “Kalau gitu kenapa kamu belakangan ini lemah. Kayak pasrah aja kalau usahamu diganggu orang luar. Rafael yang dulu tidak begitu. Apa kau lupa tentang masa itu, hah?” “Belum masanya aku untuk membunuh,” balas Rafael singkat. Gudang tua itu dipenuhi aroma besi dan oli. Lantai yang retak, sarang laba-laba di pojokan, dan lampu kuning temaram yang menggantung seperti siap jatuh kapan saja. Di tempat ini Rafael selalu memeriksa senjatanya. Di tempat ini juga sebagian besar jejak dari masa lalunya. Langkah kaki terdengar dari pintu besar. Salah satu anak buahnya masuk dengan napas terengah-engah. “Bos, mobil sudah siap. Kita bisa berangkat kapan saja.” Rafael mengangguk. “Kalian duluan. Aku nyusul.” Anak buah Rafael telah pergi. Namun Luca masih belum bergerak. “Apa lagi?” Luca menatap sahabat sekaligus bosnya itu cukup lama. “Aku tahu Raf, kamu suka dia.” Rafael mendengus pendek. “Jangan mulai.” “Aku serius. Kamu beda kalau di dekat Elara.” Nama itu saja sudah membuat napas Rafael sedikit berubah. Tidak terlihat, namun cukup terasa oleh dirinya sendiri. “Dia hanyalah penyanyi di kasino kita” ucapnya datar. “Tapi kamu memperlakukan dia khusus. Bukan seperti penyanyi lainnya. Dia selalu berada di sisimu.* Rafael merapikan jas hitamnya, wajahnya tetap tak berubah. “Dia tamu. Jadi kita harus melayani dan bertanggung jawab.” “Kalimat itu klise.” “Pergi, Luca.” Terselip amarah di dalam kalimat pengusiran itu. Luca angkat tangan, menyerah. “Baik. Tapi jangan biarkan dia bikin kamu buta. Ingat Rafael, tujuan kamu. Karena tujuan itulah aku berada di sini.” Rafael menutup koper senjata itu dengan satu hentakan. “Aku tahu, dan justru itu membuatku melihat semuanya lebih jelas.” Luca keluar. Begitu pintu menutup, gudang itu kembali sunyi. Rafael menatap dinding di mana ada bekas lubang peluru lama. Ia mengangkat telapak tangan dan menyentuh bekas noda yang sudah menghitam itu di sana. Suara lelaki lain terngiang di kepalanya. “Jangan percaya siapa pun, Rafa. Termasuk perempuan berwajah lembut sekalipun.” Rafael memejamkan mata sejenak. Ingatan itu datang seperti bayangan liar. *** Malam itu. Di antara kobaran api dan suara tembakan. Tubuh seseorang jatuh ke lantai teras rumah mereka. Bau amis cairan berwarna merah itu menyatu dengan hujan. Tak berapa lama, tubuh wanita dan pasangan paruh baya lainnya juga limbung ke lantai yang sama. Tembakan itu terus berbunyi, seakan-akan tidak puas dengan empat korban yang telah menjadi mangsanya. Rumah mewah itu habis dan luluh lantak karena kobaran api. Histeris beberapa pelayan yang terkurung di dalamnya begitu memilukan. Seolah mereka berkata dan bertanya. “Apa salah kami? Kami hanya bekerja.” Saat itu Rafael dan Luca masih remaja, lutut Rafael gemetar, namun matanya menatap tanpa berkedip. Sedangkan Luca menangis tanpa suara. Ya, Luca adalah anak dari asisten pribadi David Wiratama, ayahnya Rafael. Luca yang awalnya berniat ingin pergi nongkrong dengan Rafael. Terkejut melihat semua itu. Namun, sebelum nyawa pria yang Rafael panggil ayah itu benar-benar melayang, meski dalam keadaan sekarat David berteriak dengan suara yah hampir habis, “Lanjutkan apa yang sudah kubangun. Dan jangan percaya siapa pun. Termasuk perempuan berwajah lembut sekalipun.” Sementara itu Luca pun sama. Ia tersiksa saat melihat kedua orang tua Rafael berteriak dengan kobaran api melekat di tubuh. Hati kedua anak remaja itu begitu hancur dan penuh dendam. Saat Rafael ingin berlari dan mendekati ayahnya. Luca dengan cepat menarik dan menutup mulut Rafael. Keduanya berlari ke belakang gudang dan kabur dengan menggunakan motor sport Luca. Keduanya tiba di rumah Luca Wijaya. Setelah turun dan masuk ke rumah, Rafael terduduk lemas tanpa berkata apa-apa. Luca yang panik, berteriak memanggil kedua orangtuanya. Lukman Wijaya, adalah asisten pribadi ayah Rafael. Mendengar cerita dari Luca, anaknya. Lukman Wijaya bergegas mengurus semuanya, Ia yang terus memotivasi Rafael, hingga terbentuklah Rafael yang sekarang. Nahasnya Lukman dan istrinya pun meregang nyawa karena tembakan dari jauh oleh seseorang. Namun, kali ini mereka meninggalkan jejak, yaitu kartu berlogo JS. Jiwa Rafael Wiratama telah terbentuk dari kobaran api dendam serta janji yang mengikat, dan juga luka yang tidak bisa diobati. *** Rafael kembali membuka mata. “Maaf, Luca. Aku tahu Elara bukanlah sekadar penyanyi. Namun belum cukup bukti. Aku tidak punya pilihan selain mengikuti ritme permainan perempuan itu.” gumam Rafael pelan. --- Di lantai atas kasino, Elara sedang duduk di depan cermin ruang rias. Gaun biru navy memeluk tubuhnya dengan anggun. Rambutnya terurai lembut, bibirnya berwarna rose wine, dan matanya memantulkan cahaya lampu-lampu kecil. Namun dari dekat, hanya orang jeli yang tahu kalau sorot mata itu sedang sibuk menimbang sesuatu. “Aku harus hati-hati malam ini,” batin Elara. “Sepertinya Luca lebih mencurigaiku daripada Rafael.” Ia menyentuh bagian dadanya yang berdebar, kala menyebut nama Rafael. Pria itu tidak terlihat sejak tadi. Debaran itu berbeda, bukan rasa takut ataupun karena misi yang ia jalankan. Elara merasa ada sesuatu yang mulai tumbuh, dan itu tidak boleh dibiarkan. Pintu ruang rias terbuka. “ Nona Elara, Anda siap?” tanya salah satu perias yang bernama Mira. “Siap.” Elara berdiri. Mira mengedarkan pandangan ke wajah gadis itu. “Kamu kelihatan berbeda. Apa lagi mikirin seseorang?” Elara tersenyum tipis. “Gak, ah.” Mira mengangkat alis. “Kamu jangan coba-coba! Gila aja kalau kamu jatuh cinta sama salah satu pria di tempat ini. Semua yang bekerja di dunia Rafael bukan tipe pria baik-baik.” Elara hanya tersenyum. Mereka berjalan keluar ruang rias. Elara menatap lantai hitam mengkilap yang memantulkan cahaya. “Siapa bilang aku mencari pria baik-baik?” jawabnya sambil terkekeh kecil, walaupun dirinya tahu di dalam hati, itu bukan jawaban yang tepat. Saat ia melewati lorong menuju panggung, percikan ingatan muncul: suara komandan di telinganya, beberapa hari sebelum penyamaran dimulai. “Vania, Rafael Wiratama bukan hanya mafia. Ia cerdik. Ia membaca gestur kecil. Dia tidak mudah untuk dibohongi.” “Aku bisa,” jawabnya kala itu. “Kalau hati kamu ikutan dalam permainan ini, kamu kalah.” Elara mengerjapkan mata. “Aku tidak akan kalah.” Kata-kata itu kembali terngiang. Mungkinkah ia akan kalah. Karena saat ini manik matanya terus menyusuri isi kasino mencari di mana keberadaan si pemilik. Hatinya begitu ingin berada di dekat Rafael. “Halo, Vania. Fokus!” perintah batinnya. Ia tiba di dekat panggung. Musik jazz lembut terdengar. Ruangan kasino penuh cahaya mewah. Para pengunjung duduk dengan minuman mahal di tangan. Lampu diarahkan ke tengah panggung, menunggu Elara melangkah masuk. Namun justru sebelum naik, sebuah suara berat membuat langkahnya berhenti. “Elara.” Ia menoleh cepat. Luca berdiri dengan jas hitam, rambutnya sedikit berantakan karena angin malam. Tidak terlihat Rafael di sampingnya. Tatapan pria itu tertuju penuh pada dirinya, seolah cahaya ruangan meredup hanya untuk fokus pada Elara. “Kamu terlihat sedang menelusuri isi ruangan ini. Sedang mengamati situasi atau?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD