E 12. Siapa Yang Kalah ? ❗️

1198 Words
Ciuman itu berlanjut semakin intens dan intim. Kini Syane sudah berada di atas Ryenata. Mengunci wanita itu di dalam kungkungan. Tangan Syane mengusap lembut tengkuk Ryenata. Ciuman itu terasa begitu manis dan memabukkan. “Ah,” Ryenata terpekik karena Syane menggigit bibirnya. Wanita itu melotot. Alih-alih takut, Syane justru tertawa. Sesaat kemudian, ia kembali menyerang Ryenata. Lumatan Syane semakin berani. Lidahnya bermain-main di dalam mulut Ryenata. Gerakannya begitu lihai, seolah memang sudah menanti momen ini datang. Getar ponsel di atas meja terdengar. Keduanya mengabaikan, hingga akhirnya getar itu kembali berubah senyap. Tak lama getar itu terdengar lagi. Syane melepaskan ciuman sesaat, namun bukan untuk menyudahi, melainkan mengangkat Ryenata ke atas pangkuannya. Syane meraih ponsel, menekan tombol off. Setelah melempar asal ponselnya, Syane memandang lekat wajah Ryenata yang hanya berjarak beberapa senti saja di depannya. “Kau mau kabur?” “Kabur? Ke mana?” Balas Ryenata seolah menantang. Syane menyeringai halus—senang. “Entah ke mana saja.” Ia mengusap punggung Ryenata dengan sensual. “Kembali pada kekasihmu, mungkin?” Ryenata tertawa. “Apa aku terlihat seperti seorang pemain?” “Tidak, tapi kita tidak bisa menilai seseorang dari wajah, kan?” “Ya, kau benar. Seorang Tuan Syane yang terlihat sangat bermartabat ini mungkin saja sudah meniduri lebih dari 1000 wanita.” Tidak tersinggung, Syane malah tersenyum. “Mau mencoba? Jika sudah meniduri lebih dari 1000 wanita, pasti aku sudah ahli kan?” Tangan Syane kembali bergerilya di punggung Ryenata, lalu berlanjut ke tengkuk Ryenata. Kulitnya terasa halus, lembut, dan membuat Syane b*******h. Menyentuh kulit leher Ryenata saja sudah membuat Syane begitu bersemangat. Lalu bagaimana kiranya nikmat dari area-area yang tertutup dengan rapat? “Terima kasih untuk hari ini, Tuan Syane. Aku ada urusan lain yang juga penting.” Ryenata turun dari pangkuan Syane. Ia mengambil dokumen-dokumen di atas meja, tas dan juga ponselnya. “Sampai bertemu lagi.” Ryenata melambaikan tangan satu kali. Kepergian Ryenata sama sekali tak dicegah oleh Syane. Ia biarkan wanita itu berlalu. Syane tertawa halus, menyandarkan seluruhnya tubuh pada sandaran sofa. “Astaga, sejak kapan kau begitu susah mengendalikan diri, Syane?” Pria itu menertawakan dirinya sendiri. Celananya tampak sedikit mengetat pada bagian yang rawan. Syane menarik napas dalam. Syane menyalakan ponsel, melihat ada beberapa pesan masuk. Raut wajahnya langsung berubah seketika. … Rumah Tua. Hari ini hampir seluruh keluarga inti ada di dalam rumah tua. Apa pun tujuan dari pertemuan ini, yang pasti tidak bisa membuat semua orang senang. Beberapa di antara orang-orang yang hadir terlihat tidak begitu suka pada apa yang terjadi. “Aku tidak menyangka kau akan datang.” Sapaan itu tidak membuat ekspresi Syane berubah. Ia meneguk winenya dengan tenang. “Apa menurutmu dia memang yang terbaik? Kakek terlihat begitu menyayangi dan menyanjungnya. Iya, kan?” “Kau mau menggantikannya? Kalau kau merasa lebih baik, kau bisa mengajukan diri.” “Eehhh aku tidak pernah berpikir begitu, kau jangan membuat masalah untukku..” Syane kembali meneguk winennya. Siapa yang tidak tahu bahwa tidak ada yang berani menentang keputusan si Pak Tua di dalam keluarga ini. Keputusannya mutlak dan semua orang tahu siapa yang menjadi cucu favoritnya. Meski acara belum selesai, Syane sudah meninggalkan rumah tua. Ia tidak perlu ada di sana sampai akhir acara. Kehadirannya juga tidak dibutuhkan. Syane tidak tahu bahwa kepergiannya diperhatikan. … Hanya dalam beberapa jam saja, berita tentang pertemuan penting keluarga Jovic langsung menyebar ke seluruh penjuru negeri. Tak terkecuali Ryenata. Alda menatap gadis itu dengan perasaan campur aduk. Ia paham betul bagaimana kondisi Ryenata saat ini. Gadis itu pasti kacau. Orang yang paling ia benci justru semakin berjaya dari hari ke hari. Alda tak bersuara. Sulit. Ia tidak menemukan kalimat yang tepat. Di satu sisi ia ingin menenangkan Ryenata. Namun di sisi lain Alda yakin tak ada kalimat apa pun yang bisa membuat Ryenata tenang. “Rye—“ “Aku ingin cari makan. Kau mau?” “Ah? Oh ya, mau.” Tubuh Ryenata hilang di balik pintu. Alda menghela napas. Ia pandangi kembali layar TV. “Berapa banyak lagi kau harus menahan rasa sakit, Rye?” Mobil itu melaju kencang di jalan raya. Meski tidak begitu ramai, namun cukup untuk membahayakan diri dan orang lain. Ryenata terlalu kalut dan dibalut emosi. Ia tak bisa memikirkan yang lain. Amarahnya ada di puncak kepala. Seekor kucing tiba-tiba berlari kencang melintasi jalanan. Ryenata yang terkejut secara reflek menginjak rem. Mobilnya berhenti dengan paksa hingga suara ban terdengar berdecit. Ryenata beruntung tak ada kendaraan lain di belakangnya. “AGHHHH SIAL!!” Ia memukul kemudi stir. Ryenata benar-benar sangat kacau. … Tidak ada yang bersuara. Ada banyak tanya yang ingin dilontarkan, namun hanya tertahan di kerongkongan. Syane meneguk lagi minumnya, membasahi tenggorokan yang terasa kering. Moodnya kacau. Padahal semua ini sudah jelas, namun tetap saja ia merasa marah. “Aku punya kenalan gadis cantik. Memang tidak perawan tapi masih sangat fresh. Kau mau?” Syane menoleh tak berminat. Sang sahabat jelas hanya ingin menghibur. Tapi agaknya usaha itu tak berhasil. Syane bangkit dari tempat ia duduk. “Aku pergi dulu.” “Ke mana? Sudah mau pergi saja. Hey, Syane. Sya—“ “Sudahlah, biarkan saja dia.” Ada yang mengerti mesti tak dijelaskan. Kadang kesunyian memberikan lebih banyak ketenangan dan kepedulian. Mobil itu melaju dengan ritme santai dan tenang. Hening. Tatapan Syane lurus tertuju pada jalanan kota yang basah pasca diguyur hujan. Sudah hampir pukul 11 malam. Sebagian orang sudah terlelap dalam dekapan hangat. Sebagian lainnya masih sibuk dengan hiruk pikuk kehidupan. Kehidupan ini penuh oleh misteri. Dan di antara banyaknya kejutan, Syane tak menduga akan melihat Ryenata duduk memeluk lutut di depan pintu apartemennya. “Nona Ryenata..” suara itu memanggil pelan, dalam, dan serak. Masih setengah tak percaya. Si pemilik nama mengangkat kepala. Tatapan keduanya bertemu pada satu titik. Terkunci. “Tawaranmu hari itu, apa masih berlaku?” Syane tak langsung menjawab. Tatapan matanya ke dalam manik Ryenata seolah tengah menyelami, mencoba memahami isi kepala wanita itu. “Ya,” jawab Syane tenang namun penuh keyakinan. Ryenata melangkah besar, memeluk leher Syane dan melumat bibir pria itu tanpa aba-aba. Sesaat Syane terdiam beku, masih mencerna. Namun respon tubuhnya terlalu jujur, ia tak akan melewatkan momen ini. Tanpa melepaskan tautan, Syane mengangkat Ryenata dan membawa wanita itu ke dalam apartemennya. Ciuman panas itu berlangsung intens. Suara decapan dua lidah beradu terdengar begitu jelas di dalam ruangan bercahaya temaram. “Jangan, biarkan begini,” ucap Ryenata sembari menahan tangan Syane yang hendak menyalakan lampu. Meski samar, Syane bisa melihat sorot sendu di manik Ryenata. Entahlah. Syane tak bisa mengartikan sorot itu. Ryenata kembali melumat bibir Syane, takut pria itu berubah pikiran. Syane membalas, mendorong Ryenata hingga punggungnya menempel dinding. Satu tangan Syane menangkup pipi Ryenata. Hembusan napasnya menerpa wajah wanita itu. Posisi mereka sangat intim, tak berjarak. Ryenata terkunci di antara tubuh besar Syane. “Apa kau yakin, Ryenata? Setelah ini tak ada lagi kesempatan untuk melarikan diri.” Suara Syane terdengar parau, panas dan sensual. Syane mengusap lembut pipi Ryenata dengan jempolnya. “Tidak ada lagi kesempatan untuk lari dariku. Apa kau yakin?” Manik mata keduanya bertemu. Saling beradu. Saling mendamba. “Aku yakin.” Syane tersenyum penuh kemenangan. “Kau milikku.” Kini Syane yang lebih dulu melumat bibir Ryenata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD