Hembusan napas saling memburu terdengar seperti nyanyian gila di tengah malam. Suara decapan dan lenguhan saling bersautan. Ryenata sudah setengah telanjang. Bra merah yang ia kenakan sudah melorot jauh mendekati pusar. Bagian payudaranya terekspose dengan begitu gamblang di depan mata Syane. Pria itu jelas sangat menikmati pemandangan indah di depannya.
Perlahan Syane turun, menyusuri d**a hingga batas pinggang Ryenata. Setiap inci dipandanginya dengan khidmat. Syane mabuk. Ia begitu memuja tubuh yang sedang ditindihnya. Sementara si pemilik tubuh memilih memejamkan mata. Entahlah, apa mungkin Ryenata malu. Atau mungkin ia tengah menyesali kebodohannya mendatangi kandang singa bengis macam Syane. Bahkan kata bengis sulit untuk disematkan pada pria itu. Ryenata tak tahu banyak tentang Syane. Ia begitu sederhana dan misterius. Di satu sisi tampak biasa saja. Namun di sisi lain seperti menyimpan rahasia yang mungkin bisa membuat orang lain ternganga.
Jari panjang Syane menyelinap ke balik celana dalam Ryenata. Menyapa bagian paling sensitif dari tubuh seorang wanita. Tebal, halus, dan begitu sesuai di tangan Syane. Astaga, Syane benar-benar dibuat mabuk.
“Eungghh..” suara indah itu, Syane sanggup mendengarnya sepanjang malam. Jika ia tak kasihan, mungkin Ryenata tak akan sanggup turun dari kasur besok pagi.
Lenguhan Ryenata terdengar berkali-kali. Jari Syane bekerja dengan baik. Ritme yang ia mainkan berhasil membuat Ryenata hilang arah. Perlahan tubuh Ryenata menegang, lalu…
Ryenata terdiam bisu, kemudian membuka mata. Hal pertama yang ia lihat adalah senyum manis milik Syane. Pria itu membuka ikat pinggangnya, kemudian membuka celana.
“Kau sangat hebat,” puji pria itu berbisik di telinga Ryenata. Ia menunjukkan jarinya pada Ryenata.
Bola mata membesar dan pipinya merona merah. Ryenata malu setengah mati begitu tahu apa yang sedang Syane tunjukkan padanya.
Pria itu tersenyum lebih lebar. “Astaga, rasanya aku ingin segera melahapmu, Ryenata. Andai kau tahu secantik apa wajahmu saat ini..”
Membisu, Ryenata tak mengucapkan sepatah kata pun. Agaknya ia memang sudah tak bisa lari. Lagipula siapa yang memikirkan lari pada saat seperti ini?
“Eunghhh…”
“Sebutkan namaku, Ryenata. Hanya namaku,” bisik Syane sembari menggigit telinga Ryenata sensual. Wanita itu mendesah untuk ke sekian kali.
Syane melepaskan bahan terakhir yang membalit tubuhnya dan Ryenata. Surga itu terpampang di depan Syane. Sorot mata yang berkilau membuat ia terlihat seperti harimau yang tengah kelaparan.
Syane tak bisa lagi menahan lebih lama. Juniornya ia arahkan ke titik sensitif Ryenata. Sudah cukup basah, jadi Syane yakin Ryenata tidak akan kesakitan. Syane mendorong tubuhnya.
“Aghk..”
Gerak Syane langsung terhenti. Dahinya mengerut karena terkejut.
“Kau tidak perawan kan, Ryenata?” Syane bertanya setengah tak percaya.
“Tentu saja tidak,” jawab Ryenata langsung. “Aku-aku hanya sudah lama tidak melakukannya.”
Syane menyeringai. “Baiklah, aku minta maaf. Aku terlalu bersemangat. Aku akan melakukannya lebih pelan.”
Syane kembali melakukan foreplay agar Ryenata lebih rileks. Tangannya beraksi, merangsang Ryenata pada titik-titik tertentu. Ini jelas pertama kali Syane menyentuh Ryenata, tapi seolah ia sudah begitu paham dengan tubuh wanita itu.
“Kau sangat cantik,” bisik Syane lagi bersamaan dengan juniornya melesak memasuki tubuh Ryenata. Setelah diam sebentar, Syane mulai bergerak. Suara desahan terus menggema tanpa henti. Seluruh tubuh Syane bergerak menyiksa setiap titik sensitif Ryenata. Hingga wanita itu menjerit, tak mampu lagi menahan diri.
“Namaku Rye, namaku..”
“Syanee!!”
“Ryenata!!” Keduanya mencapai puncak mereka bersamaan. Panas, nikmat, dan menantang. Syane puas.
“Semoga kau punya cukup banyak tenaga..” ucap Syane kembali melumat bibir Ryenata. Ini akan menjadi malam yang sangat panjang.
…
“Sarapan sudah aku siapkan. Ayo..”
Ryenata yang baru saja keluar dari kamar mandi sempat terpaku, tak menduga Syane akan menyambutnya penuh senyuman. Selesai mengenakan baju Ryenata menyusul Syane ke ruang makan. Pria itu benar-benar duduk di kursi, tersenyum, seolah memang sedang menunggu kedatangan Ryenata.
“Duduklah..”
“Kau tidak membuatnya sendiri, kan?”
Syane menarik sudut bibirnya. “Tidak. Ada Bibi An yang datang ke sini setiap pagi untuk membersihkan rumah dan kadang membuatkan sarapan jika aku minta.”
Ryenata manggut-manggut. Sejujurnya ia tak berniat menghabiskan waktu lebih banyak dengan Syane. Awalnya ia ingin langsung pergi setelah urusan mereka tadi malam selesai. Tapi siapa sangka Syane membuatnya hampir pingsan, tak bisa bergerak hingga pagi.
Ryenata lalu mulai makan. Ia tidak pernah pilih-pilih makanan. Apa pun ia telan selagi bisa melewati tenggorokannya. Sementara itu, Syane tak sekali pun melepaskan pandangannya dari Ryenata.
“Apa aku terlihat seperti barang antik?”
“Hah?”
“Ya, kau melihatku seolah aku adalah barang antik yang jarang ada di dunia.”
Sontak tawa Syane pecah. Sejujurnya Syane memang sangat tampan. Apalagi dengan pemandangan yang disuguhkan pada Ryenata sejak tadi malam. Kini pun Ryenata bisa memandangi tubuh berotot Syane dengan puas. Ah, pria macam Syane ini memang suka sekali pamer, kan?
“Kau jauh lebih berharga daripada barang antik. Jadi sudah pasti aku tidak akan melewatkan satu detik pun tanpa memandangimu.”
Ryenata memutar bola matanya. Memang mulut seorang buaya.
“Sungguh, aku tidak sedang membual. Kau memang cantik.. dan berharga.”
Ryenata menghembuskan napas perlahan. Ia meletakkan sendok dan garpu miliknya.
“Jadi apa yang kau inginkan?”
Alis Syane terangkat.
“Pasti ada yang kau inginkan dariku. Tubuhku? Tidak mungkin hanya tubuhku saja, kan?”
“Aku tidak melakukan transaksi dengan tubuhmu.”
Dahi Ryenata mengerut.
“Lalu apa yang kau inginkan dariku? Uang? Sepertinya kau punya lebih banyak.”
Syane menghela napas, meletakkan sendoknya. Ia menautkan jari-jari.
“Aku akan membantumu untuk apa pun yang kau butuhkan. Akses ke setiap private club di kota Loure, atau apa pun itu, aku bisa membantumu mendapatkannya.” Syane menjeda. “Dan aku hanya minta kau jadi kekasihku.”
“Kekasih?” Apa Ryenata tak salah dengar. Kata kekasih terdengar sangat ‘aneh’ di telinganya.
“Ya, kekasih. Berkencan, makan, menghabiskan waktu bersama, dan… sex.”
Ya, itu intinya. Syane ingin tubuhnya. Hanya saja bahasa yang ia gunakan sedikit lebih halus.
“Mungkin kau berpikir apa yang aku katakan tidak ada bedanya dengan yang tadi kau katakan. Tapi sungguh, ini berbeda.”
Ryenata tak ambil pusing. Apa pun maksud Syane, biarkan saja. Yang terpenting Ryenata dapatkan apa yang ia butuhkan.. untuk saat ini.
Setelah selesai sarapan, Ryenata meninggalkan apartemen Syane. Ia akan hubungi Syane lagi nanti. Pria itu mengatakan bahwa Ryenata bisa kapan pun meminta dan dia bisa langsung mengabulkan keinginan Ryenata saat itu juga.
…
“Kau dari mana? Sungai Nezu lagi? Kau tidur di sana?”
Ryenata menghempaskan tubuhnya ke sofa. Ia lelah. Syane seperti vampir yang menghisap energinya.
“Kau benar-benar tidur di sungai Nezu semalaman?”
Dahi Ryenata mengerut.
“Itu, banyak bekas gigitan nyamuk di lehermu.”
Bola mata Ryenata membesar. Ia baru sadar. Astaga. Ryenata berdehem lalu bangkit. Ia tak mengatakan apa-apa lagi sedangkan Alda hanya geleng-geleng.
“Nyamuknya pasti sangat besar.”
Ryenata merebahkan tubuhnya di kasur. Ia pandangi langit-langit kamar. Wanita itu terdiam sesaat. Tapi beberapa detik kemudian ia bangkit lalu ganti baju.
“Kau mau ke mana lagi?”
“Keluar..”
Hanya satu tempat yang ingin Ryenata tuju saat ini. Tempat di mana ia bisa memejamkan matanya untuk sesaat. Bukan karena tempat itu nyaman dan aman, tapi karena ia butuh sedikit terpejam untuk bisa merasakan keberadaan orang-orang yang ia cintai.
Tak ada kata yang terucap. Tidak kata rindu atau pun keluh kesah. Sejak ia sampai hingga akhirnya ia kembali pergi, Ryenata menutup rapat mulutnya. Hanya angin yang menjadi saksi betapa semua terasa begitu sunyi dan dingin.
Mobil Ryenata melaju kencang meninggalkan area pemakaman.
Sementara itu di tempat lain.
“Kemarin aku lihat wajahnya sangat kusut. Tapi hari ini dia terlihat begitu cerah. Apa yang terjadi padamu, Syane?”
“Apa proyekmu menghasilkan uang milyaran lagi?”
Syane tertawa pelan. Ia memang sangat suka uang. Lagipula siapa yang tak suka uang, kan?
“Jika dilihat dari senyumnya, sepertinya ini lebih dari uang milyaran.”
“Coba tebak,” pancing Syane.
Sahabat-sahabatnya saling pandang.
“Yang pasti tidak mungkin seorang wanita..”
Syane menyeringai. Seringai itu membuat sahabat-sahabatnya melotot.
“Jangan bilang… apa benar wanita?!”
Syane tak menjawab. Tapi senyumnya bertambah lebar saat ponselnya berdering. Tak menunggu Syane langsung menjawab telfon itu.
“Astaga, sejak kapan seorang Syane menjadi begitu murah?!” Pekik salah satu sahabat pria itu.