Bab 6

1634 Words
Arvin menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan seharian penuh, seolah tumpukan berkas dan jadwal sidang yang padat bisa menjadi penawar rasa bersalah yang terus menggerogoti dadanya. Ruang kerjanya berbau kopi dingin dan kertas—aroma yang biasanya menenangkan, kini justru terasa menyesakkan. Ia membaca ulang berkas kasus yang sama untuk ketiga kalinya, namun huruf-huruf itu seperti melompat keluar dari fokusnya. Setiap jeda sunyi selalu diisi bayangan wajah Zahra: pucat, tegar, dan terlalu dewasa untuk luka yang baru saja ia telan. Sore merambat pelan menuju malam. Lampu-lampu gedung di luar jendela kantor menyala satu per satu, memantulkan cahaya dingin di kaca. Arvin menutup map terakhir, menghela napas panjang, lalu meraih kunci mobil. Ia pulang dengan kepala berat—bukan karena lelah, melainkan karena janji yang menggantung seperti tali di lehernya: jangan datang ke kafe lagi. Mesin mobil menyala. Jakarta menyambut dengan hiruk-pikuknya yang tak pernah benar-benar tidur. Klakson bersahutan, lampu merah memantul di aspal basah sisa hujan sore. Arvin mengemudi dalam diam, radio dibiarkan mati. Ia butuh keheningan untuk menata pikirannya. Namun, ketika mobilnya berbelok ke ruas jalan yang sudah sangat ia kenal, da-da Arvin mengencang. Di seberang sana, papan nama Kafe Marigold menyala hangat. Kafe itu ramai seperti biasanya. Tawa kecil pecah di teras dan area terbuka, beberapa karyawan kantor duduk berderet, jas mereka disampirkan di kursi, gelas-gelas kopi mengepulkan uap. Hidup tampak berjalan normal di sana—seakan malam-malam buruk tidak pernah singgah. Kakinya refleks mengendur di pedal gas. Apakah dia baik-baik saja? Pertanyaan itu muncul tanpa izin, menabrak janji yang ia buat sendiri. Arvin membayangkan Zahra di balik bar, rambutnya diikat sederhana, gerakannya cekatan namun tenang. Atau mungkin ia di dapur kecil, mengecek pesanan, tersenyum kepada pegawai. Senyum yang sama yang pagi itu terasa rapuh. Arvin menepikan mobil sebentar, tepat di depan toko bunga di seberang, yang sudah tutup. Ia mematikan mesin. Detik berlalu, lampu hazard berkedip pelan—seperti denyut jantung yang ragu. Tangannya mencengkeram setir. Ada dorongan kuat untuk turun, berjalan lima puluh langkah, dan berdiri di ambang pintu Kafe Marigold hanya untuk memastikan Zahra baik-baik saja. Hanya itu. Tidak lebih. Tapi itu permintaannya. Kalimat Zahra terngiang, lirih namun tegas. Jangan datang ke kafe lagi, Mas. Bukan amarah yang ia dengar waktu itu, melainkan upaya terakhir untuk menjaga sesuatu agar tidak semakin hancur. Arvin menelan ludah. Ia menatap ke arah kafe sekali lagi. Di balik kaca, bayangan orang-orang bergerak cepat. Tidak ada satu pun sosok yang jelas ia kenali. Mungkin Zahra ada, mungkin tidak. Dan ketidaktahuan itu justru menuntut keberanian yang lebih besar: keberanian untuk menahan diri. Ia menyalakan mesin kembali. Mobil melaju perlahan, meninggalkan nama kafe terpantul di kaca spion. Cahaya kuningnya mengecil, lalu larut dalam gelap. Arvin merasakan kekosongan yang aneh—seperti kehilangan sesuatu yang tak pernah benar-benar ia miliki. Janji tetap janji. Ia tahu, melanggarnya malam ini hanya akan membuka pintu yang seharusnya sudah ditutup. Di tengah arus kendaraan, Arvin menarik napas panjang. Baik-baik saja, Zahra, batinnya, nyaris seperti doa. Lalu, ia memilih pulang tanpa menoleh lagi. *** Arvin sudah menyiapkan dirinya untuk malam yang sunyi. Rutinitas yang sama: membuka pintu, menyalakan lampu ruang tamu, menggantung jas, lalu menenggelamkan diri dalam diam. Ia bahkan sudah membayangkan bunyi pendingin ruangan yang monoton dan aroma rumah yang tak berubah—netral, rapi, dan dingin. Namun semua bayangan itu runtuh begitu mobilnya memasuki halaman. Arvin mengerem mendadak. Dua mobil yang sangat ia kenal terparkir rapi di sana—satu sedan hitam milik ayahnya, satu lagi MPV abu-abu milik kakaknya. Lampu teras menyala terang, lebih terang dari biasanya, seolah rumah itu sedang menunggu. Da-da Arvin mengencang oleh campuran rasa kaget dan bingung. Ada apa ini? Ia mematikan mesin, turun dari mobil dengan langkah ragu. Begitu mendekati pintu, suara-suara itu terdengar—tawa, percakapan, dan nada-nada akrab yang langsung dikenali pendengarannya sebelum pikirannya menyusul. Suara ayahnya yang berat, tawa kecil ibunya, dan jeritan riang seorang anak. Arvin mendorong pintu perlahan. “Assalamualaikum—” “Waalaikumsalaaaam!” Suara itu meledak bersamaan, membuat Arvin refleks berhenti di ambang pintu. Ibunya berdiri paling depan, wajahnya berseri seperti menyimpan kabar baik. Ayahnya bangkit dari sofa dengan senyum lebar, sementara kakak perempuannya melambaikan tangan dari sudut ruangan. “Om Arviinnn!” Seorang bocah kecil berambut ikal berlari menghampirinya, memeluk kakinya erat-erat. Arvin tersenyum spontan, refleks yang tak sempat ia tahan. Ia membungkuk, mengangkat keponakannya yang berusia empat tahun itu ke dalam pelukan. “Eh, Princess kecil ngapain di sini?” tanyanya, suaranya melembut tanpa sadar. “Main ke rumah Om!” jawab bocah itu riang, lalu tertawa lepas. Ibunya mendekat, menepuk lengan Arvin dengan gemas. “Kamu kok bengong gitu, Vin? Kayak nggak senang lihat keluarga sendiri.” “Bukan, Ma… cuma kaget,” Arvin tertawa kecil, masih mencoba mencerna situasi. “Ada acara apa?” Ayahnya terkekeh. “Nggak boleh main ke rumah anak sendiri sekarang? Harus ada acara dulu?” Kakaknya ikut menyahut, nada bercandanya khas. “Kami mampir sekalian makan malam. Kata Mama, rumah kamu sepi banget. Kayak rumah kosong.” Kalimat itu menusuk dengan cara yang halus. Arvin hanya tersenyum, meletakkan tas kerjanya di sofa, lalu menatap mereka satu per satu. Kehangatan itu nyata—kontras dengan dingin yang sejak tadi menempel di dadanya. Untuk sesaat, rumah ini terasa hidup kembali. “Miranda mana?” tanya ibunya kemudian, suaranya ringan, tanpa prasangka. Arvin menelan ludah. “Masih di luar kota, Ma. Urusan kerja.” Ibunya mengangguk, tampak maklum, meski ada kilat singkat di matanya—kilat seorang ibu yang terlalu sering mendengar jawaban serupa. “Ya sudah,” katanya sambil tersenyum lagi. “Kita temani kamu malam ini. Masa pulang kerja disambut tembok doang.” Keponakannya menarik kerah kemeja Arvin. “Om, aku mau s**u cokelat.” Keponakannya selalu bermanja-manja padanya. Arvin tertawa kecil. “Siap, Yang Mulia.” Arvin menurunkan keponakaannya. "Tunggu di sini, ya." hatinya terasa sedikit lebih hangat. Kehadiran keluarga ini seperti jeda yang tak terduga—sebuah pengingat bahwa ia tidak sepenuhnya sendirian. Namun di balik kehangatan itu, ada kegelisahan yang pelan-pelan merambat. Jika keluarga datang tanpa rencana, berarti ada sesuatu yang sedang dipikirkan… atau akan dibicarakan. Dan entah kenapa, firasat itu membuat langkah Arvin sedikit lebih berat saat ia berjalan ke dapur untuk menyiapkan s**u cokelat kesukaan keponakan kecilnya tu. Arvin baru saja melangkah melewati pintu penghubung menuju ruang makan ketika suara itu menyusup ke telinganya—pelan, lalu menguat, hangat dan akrab. Happy birthday to you… Langkahnya terhenti. Alisnya berkerut, seolah otaknya butuh satu detik ekstra untuk mengenali momen itu. Lantunan lagu itu berlanjut, kini disertai tepukan tangan kecil yang tidak sinkron—jelas milik keponakannya. Happy birthday dear Arviiiin… Arvin menoleh, kaget. Itu suara istrinya, menyambung alunan lagu yang dinyanyikan keluarganya. Benar, pendengarannya tidak salah. Miranda berdiri di ambang ruang tengah. Istrinya itu masuk dengan senyum lebar. Di tangannya, sebuah kue ulang tahun sederhana dengan lilin angka 33 menyala, cahayanya menari di wajah Miranda dan memantul di mata semua orang yang menatap Arvin penuh harap. Happy birthday toooo youuuu… Koor dadakan itu berhenti. “Tiup lilinnya, Om!” seru keponakannya riang. Ibunya tersenyum lebar. Ayahnya mengangguk pelan. Kakaknya bertepuk tangan sambil mengedipkan mata. Arvin seketika tersadar, melihat senyum cerah di wajah semua orang. Mereka sengaja berkumpul di sini untuk memberinya kejutan. Dan Arvin— menepuk jidatnya sendiri. “Ya ampun…” gumamnya lirih, lebih pada dirinya sendiri. Ia berdiri di sana, terpaku, dengan kemeja kerja berkeringat masih melekat di tubuhnya dan pikiran yang tadi dipenuhi kasus, rasa kecewa, dan kelelahan. Semua itu runtuh seketika oleh satu kenyataan sederhana yang justru ia lupakan. Hari ini ulang tahunnya, dan ia sendiri melupakannya. Miranda melangkah mendekat, menghadapkan kue itu padanya. “Kamu lupa, ya?” tanyanya ringan, nyaris menggoda. Arvin terkekeh pendek, menggaruk tengkuknya. “Kayaknya otakku sudah penuh sama pasal dan sidang. Sampai lupa umur sendiri udah nambah.” Ibunya mendengus gemas. “Anak satu ini, ulang tahun sendiri aja bisa lupa. Untung istrinya nggak.” Kata istri itu menggantung di udara, menggelitik perasaan Arvin dengan cara yang tidak ia duga. Ia menatap Miranda—lebih lama dari yang seharusnya. Ada rasa bersalah yang merayap, tipis tapi tajam. Tentang kekecewaan tadi sore. Tentang dingin yang ia rasakan. Tentang pikiran-pikiran yang tidak seharusnya ia miliki. Miranda mengangkat kue itu lebih dekat. “Ayo, Vin. Tiup lilin dulu. Nanti keburu meleleh.” Arvin mengangguk. Ia menunduk, menarik napas, lalu meniup lilin itu perlahan. Api kecil itu padam, meninggalkan asap tipis yang melayang—seperti sisa hari yang baru saja ia lewati. “Yeaaay!” Keponakannya bertepuk tangan paling keras. “Make a wish?” tanya kakaknya sambil tersenyum. Arvin tersenyum balik, tapi matanya sedikit redup. Harapan apa yang masih pantas aku minta? pikirnya. Ia hanya mengangguk kecil. “Sudah,” jawabnya singkat. Miranda menaruh kue di meja. “Aku sebenarnya mau kasih kejutan ini nanti malam, berdua,” katanya sambil menatap Arvin. “Tapi Mama, Papa sama Mbak Irna keburu datang.” Ibunya langsung menyambar, “Lho, justru bagus. Biar ramai. Rumah ini jarang banget ada suaranya.” Kalimat itu lagi-lagi menyentil. Arvin menelan ludah, lalu tersenyum tipis. “Makasih, semuanya,” ucapnya tulus. Miranda menatapnya sejenak, seperti ingin memastikan sesuatu. “Maaf, aku sebenarnya hampir lupa kamu ulang tahun hari ini,” katanya jujur. “Sorong itu… ribet. Tapi aku nggak mau pulang tanpa bawa kontrak.” Arvin mengangguk. “Aku yang harusnya minta maaf,” balasnya pelan. “Aku sendiri lupa.” Miranda tersenyum, lalu menepuk lengannya ringan. “Ya udah. Yang penting sekarang ingat.” Di balik senyum dan tawa keluarga, Arvin berdiri dengan perasaan campur aduk. Hangat—karena diingat. Perih—karena ia sempat merasa sendirian. Dan bersalah—karena di hari ulang tahunnya sendiri, hatinya justru sempat tersesat ke tempat yang seharusnya tidak ia datangi. Malam itu, lilin sudah padam. Namun di da-da Arvin, ada nyala lain yang belum benar-benar ia pahami— antara harapan, penyesalan, dan awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD