Zahra menggeser kakinya turun dari ranjang. Gerakannya hati-hati, tertahan oleh rasa nyeri di bagian bawah tubuhnya. Tapi ia memaksa dirinya berdiri tegak.
Setelah mengenakan gaunnya, ia menarik napas panjang, lalu mengangkat kepala—seperti seseorang yang sudah mengambil keputusan pahit dan tak ingin goyah.
“Mas Arvin,” katanya, kali ini lebih tenang, lebih tegas. “Ke depan… anggap saja ini tidak pernah terjadi.”
Arvin menatapnya, terkejut. “Zahra—”
“Jangan datang ke kafe lagi,” lanjut Zahra, suaranya lembut tapi tak memberi celah. “Aku nggak mau memperkeruh apa pun. Aku nggak mau ada jarak aneh antara aku dan Mbak Miranda. Aku nggak mau hidup dengan bayangan ini.”
Ia menunduk sebentar, lalu kembali menatap Arvin. “Aku mengikhlaskan apa yang terjadi. Bukan karena itu benar—tapi karena aku ingin melindungi orang yang sudah terlalu baik padaku.”
Arvin merasakan tenggorokannya mengencang. “Za… ini nggak adil buat kamu.”
Zahra tersenyum tipis. Senyum yang rapuh, tapi tulus. “Kadang hidup memang nggak adil, Mas. Dan aku capek bertanya ‘kenapa’. Aku cuma mau semua berhenti sampai di sini.”
Sunyi kembali jatuh di antara mereka—sunyi yang berbeda dari sebelumnya. Zahra akan mengambil tas kecilnya, namun tangannya tiba-tiba tertahan, tangan kokoh Arvin mencekal pergelangannya.
“Za.”
Suara Arvin rendah, nyaris seperti bisikan, tapi cukup membuat langkah Zahra terhenti. Ia berdiri membelakangi pria itu, jari-jarinya mencengkeram tali tas terlalu kuat. Bahunya naik turun, napasnya belum benar-benar stabil.
“Aku antar kamu pulang,” ujar Arvin lagi, lebih tegas kali ini.
Zahra menggeleng pelan. “Nggak perlu, Mas. Aku bisa sendiri.”
“Kamu nggak baik-baik saja.” Arvin melangkah mendekat, tapi tetap menjaga jarak. Tidak menyentuh. Tidak berani. “Aku tahu… ini pertama kalinya buat kamu. Tubuh kamu pasti nggak nyaman.”
Kalimat itu membuat da-da Zahra terasa diremas. Ia menelan ludah, rahangnya mengeras sejenak sebelum akhirnya ia berbalik. Wajahnya pucat, bibirnya sedikit bergetar meski ia berusaha terlihat tegar.
“Aku nggak apa-apa,” katanya lirih, tapi suaranya mengkhianati dirinya sendiri.
Arvin menatapnya lama. Ada rasa bersalah yang begitu nyata di matanya—bukan rasa ingin memiliki, bukan pula hasrat. Hanya penyesalan yang dalam dan kepedulian yang terlambat.
“Jangan bohong,” katanya pelan. “Cara kamu berdiri aja masih kelihatan sakit.”
Zahra memalingkan wajah, menahan emosi yang nyaris tumpah. Ia tidak ingin terlihat lemah. Tidak sekarang. Tidak di hadapan pria yang justru tak bisa ia salahkan.
“Aku cuma mau pulang,” ujarnya akhirnya. “Aku pengin sendirian.”
“Aku ngerti.” Arvin mengangguk pelan. “Tapi biar aku pastiin kamu sampai rumah dengan aman. Setelah itu… aku janji. Aku nggak akan ganggu kamu lagi.”
Kalimat terakhir itu terdengar seperti sumpah—atau hukuman untuk dirinya sendiri.
Namun, Zahra tidak bisa.bertahan lebih lama di sana. Dia menggeleng. "Biar semuanya selesai di sini, Mas." Ujarnya lemah, lalu melangkah ke pintu.
Zahra memutar gagang pintu. Sebelum melangkah keluar, ia menoleh sejenak. "Kita harus menghindari fitnah, Mas."
Suaranya lembut, tapi kata-katanya menohok. Langkah Arvin yang baru saja terayun untuk mengejarnya terhenti di udara.
Arvin hanya bisa melihat pintu kembali tertutup. Zahra sama sekali tidak menunjukkan kemarahan sedikitpun. Sorot matanya saat dia terjaga tadi hanya bingung.
Lalu dia menangis tanpa suara. Air matanya meleleh begitu saja.
Da-da Arvin seperti diremas. Dia lebih bisa menghadapi kemarahan wanita itu ketimbang air matany
Bagaimana bisa dia melakukan itu pada Zahra?
Arvin meremas rambutnya, frustrasi.
**
Di kosannya, tembok pertahanan Zahra jebol. Begitu masuk kamar, tubuhnya lemas seketika.
Dia berbaring di ranjang dengan air mata berlinang. Rasa sakit di tubuhnya masih terasa menyengat setiap kali dia bergerak. Memperburuk suasana hatinya.
'Kenapa aku harus mengalami ini ya, Allah,' keluhnya sedih.
Dan siapa yang bisa disalahkan? Zahra tahu, Arvin juga korban, dan dia tidak mau terus-terusan memikirkan itu. Semua sudah terjadi, dia hanya bisa ikhlas.
Biar semua.berlalu tanpa drama. Dia tidak mau Miranda tahu.
Seolah sejalan dengan pikirannya, ponselnya berdering tiba-tiba, memecah keheningan kamar yang terasa terlalu sunyi. Getarannya nyaring, berulang, seperti tidak memberi ruang untuk diabaikan.
Zahra tersentak, menatap layar menyala dan berkedip-kedip.
Miranda.
Darahnya seakan surut seketika. Jantung Zahra berdegup terlalu kencang, menghantam da-da hingga terasa sakit. Tangannya gemetar, hampir menjatuhkan ponsel itu ke lantai. Napasnya tersendat, pendek-pendek, seolah udara di kamar mendadak menipis.
“Ya Allah…” bisiknya panik.
Ia menelan ludah. Otaknya berpacu, mencari alasan, mencari kebohongan yang tidak terdengar seperti kebohongan.
Ponsel itu terus berdering.
Satu panggilan berlalu, disusul panggilan berikutnya.
Dua.
Tiga.
Miranda tidak pernah menelepon berulang kecuali benar-benar ingin bicara.
Dengan jari gemetar, Zahra akhirnya menekan tombol hijau.
“H-halo?” suaranya keluar pelan, bergetar, nyaris tidak ia kenali sebagai miliknya sendiri.
“Hai, Za!” suara Miranda terdengar ceria, ringan, sama sekali tak menyimpan kecurigaan. “Gimana pestanya semalam? Kalian pulang larut banget, ya?”
Zahra memejamkan mata. Setiap kata Miranda seperti pisau kecil yang menggores pelan tapi pasti.
“Iya…” jawabnya lirih, terlalu cepat. Ia buru-buru mengatur napas. “Lumayan… rame.”
“Pantesan,” lanjut Miranda sambil tertawa kecil. “Aku barusan telepon Mas Arvin, tapi ponselnya masih enggak aktif. Kalian pasti minum sedikit anggur, kan?”
Zahra menggigit bibirnya. Rasa bersalah menjalar dari tengkuk hingga ujung kaki. Ia menunduk, melintas bayangan seprei putih yang kusut —saksi bisu malam yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Semua hanya karena segelas anggur.
"Mas Arvin orangnya gampang mabuk walaupun hanya minum sedikit. Mungkin masih tidur dia ya, Za?"
“Iya, mungkin… masih tidur,” jawab Zahra, suaranya dipaksa terdengar normal meski dadanya sesak.
“Za?” suara Miranda terdengar lagi dari ponsel. “Kamu kenapa? Suaramu kedengaran aneh. Kamu sakit?”
Zahra tersentak, “Enggak, Mbak,” jawab Zahra cepat, . “Cuma… masih agak pusing.”
“Oh, kamu kecapean ya?” Miranda terdengar penuh perhatian. “Makasih ya sudah nemenin Mas Arvin. Aku tahu kamu repot.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari dugaan Zahra.
“Iya…” suaranya nyaris tak terdengar. “Sama-sama.”
Miranda tertawa, terdengar hangat, jauh, dan sama sekali tidak curiga.
“Kamu mau oleh-oleh apa dari Papua, Za?” tanya Miranda ringan, seolah mereka sedang mengobrol santai seperti biasa.
Zahra tergagap. Bibirnya terbuka, lalu menutup lagi. “A-apa aja, Mbak… aku nggak ribet, kok!”
Arvin bisa melihat jemari Zahra mencengkeram ponsel lebih erat. Buku-buku jarinya memutih.
“Halah,” Miranda tertawa kecil. “Nanti aku bawain koteka aja, ya?”
Tawa itu—renyah, lepas—menggema di kamar yang terlalu sunyi.
Zahra ikut tertawa, tapi suaranya terdengar sumbang, nyaris pecah. Ia menunduk, menatap lantai, seolah takut jika sedikit saja mengangkat wajahnya, kebohongan akan runtuh.
Zahra kembali menelan saliva. Serasa ada yang mencengkeram dadanya, campuran rasa bersalah dan perasaan absurd— menyadari bagaimana istri Arvin, sahabatnya sendiri, sedang bercanda riang dengan perempuan yang baru saja berbagi ranjang dengannya.
“Eh,” lanjut Miranda, masih dengan nada ceria, “Kalo Mas Arvin datang ke kafe, bilang ponselnya aktifin, ya.”
Kalimat itu membuat napas Zahra tertahan. Namun, dia tetap menjawab. “Iya, Mbak.”
Panggilan berakhir.
Zahra kembali meringkuk di atas ranjang. Dalam diam itu, ada kesadaran pahit yang menohok: apa pun yang mereka lakukan setelah ini, tidak akan pernah menghapus ingatan akan apa yang sudah terjadi.
***
Srementara Arvin masih dalam perjalanan pulang, yang kali ini terasa lebih panjang dari biasanya.
Arvin mengemudi dengan pandangan kosong, bayangan semalam terus berkelebat di benaknya. Tangannya mencengkeram setir terlalu kuat, seolah kalau ia melepas sedikit saja, semua rasa bersalah itu akan tumpah dan menghantamnya sekaligus. Bau harum tubuh Zahra bahkan seolah masih menempel di ingatannya. Suara Zahra—lirih, tegar dipaksakan—masih bergaung di kepalanya.
Begitu mobil berhenti di garasi rumah, ponselnya bergetar.
Satu getaran. Dua. Lalu layar menyala.
Nama Miranda.
Arvin menarik napas dalam sebelum menggeser layar. Baru ponsel itu aktif, suara protes langsung menyambarnya.
“Mas! Akhirnya hidup juga itu ponsel,” suara Miranda terdengar riang tapi diselipi rengekan manja. “Dari tadi aku hubungi nggak bisa-bisa.”
Arvin memejamkan mata sejenak. “Iya… maaf. Tadi malam ponselnya lowbat dan nggak semoat diisi lagi.”
“Kamu selalu gitu kalau kerja,” Miranda terkekeh. “Tapi ya sudahlah. Aku juga mau cerita kabar baik.”
Arvin berjalan masuk rumah. Sepi. Terlalu rapi. Terlalu sunyi. Ia duduk di tepi sofa, ponsel masih menempel di telinganya.
“Aku pulang besok, Mas,” lanjut Miranda, suaranya terdengar penuh semangat. “Urusanku di sini beres. Dan kamu tahu nggak? Aku berhasil dapat kontrak besar. Dua rumah pejabat sekaligus—rumah pribadi mereka. Bukan cuma renovasi kecil. Total redesign.”
Arvin menatap lantai marmer di depannya, pola-pola dingin yang biasanya tak pernah ia perhatikan. “Hmm,” gumamnya pelan, hampir tak terdengar.
Miranda tidak menyadari. Ia terlalu larut dalam kebahagiaannya sendiri. “Nilainya gede, Mas. Tim aku sampai loncat-loncat. Ini bisa buka jalan buat proyek-proyek lain ke depannya.”
“Iya… selamat,” ucap Arvin akhirnya. Kata itu terasa berat keluar dari mulutnya.
“Nanti kita rayakan, ya,” kata Miranda cepat, seolah takut ide itu terlewat. “Kita udah lama nggak bikin perayaan. Dinner cantik, wine favorit kamu. Kayak dulu.”
Wine.
Jantung Arvin berdegup tidak beraturan.
“Iya,” jawabnya lagi, lebih singkat. Ia mengusap wajahnya dengan telapak tangan, merasa lelah yang bukan berasal dari kurang tidur.
“Kok kamu kedengarannya capek banget, Mas?” tanya Miranda, nada suaranya sedikit melunak. “Kamu sehat, kan?”
Arvin membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Ada begitu banyak hal di kepalanya— yang seharusnya ia katakan—namun semuanya tertahan di tenggorokan.
“Aku cuma… banyak pikiran,” katanya akhirnya.
“Oh,” Miranda terkekeh kecil. “Pengacara sibuk memang begitu. Nanti kalau aku pulang, kita santai. Kamu nggak perlu mikirin apa-apa. Aku yang atur.”
Kata-kata itu seharusnya menghangatkan. Biasanya begitu. Tapi malam ini, semuanya terasa salah tempat. Arvin menatap sekeliling rumah dan untuk pertama kalinya ia merasa seperti orang asing di dalamnya.
“Iya,” ulangnya pelan. “Hati-hati.”
“Kamu juga. Jangan lupa makan,” ujar Miranda ceria. “Aku kangen.”
“Iya,” kata Arvin, hampir berbisik.
Panggilan berakhir. Layar ponsel menggelap.
Arvin menjatuhkan punggungnya ke sandaran sofa. Kepalanya menengadah, menatap langit-langit rumah yang tinggi dan dingin. Kabar bahagia istrinya berputar-putar di udara, tapi tak satu pun benar-benar masuk ke dalam pikirannya.
Yang ada hanya satu kesadaran pahit:
Besok, Miranda akan pulang membawa rencana perayaan.
Dan Arvin tidak yakin lagi dirinya pantas untuk merayakan apa pun.