Arvin tidak langsung menyadari kapan semuanya berubah.
Awalnya hanya rasa hangat yang aneh—bukan seperti alkohol biasa. Sensasi itu bergerak pelan di dalam tubuhnya, seperti sesuatu yang terbangun, menggeliat dari balik kesadaran. Dadanya terasa sesak, bukan karena panik, melainkan karena dorongan yang sulit diberi nama. Ada tekanan halus di bawah kulitnya, seolah tubuhnya menuntut sesuatu yang tidak sempat ia pikirkan.
Ia meneguk ludah. Tenggorokannya kering.
Setiap tarikan napas terasa lebih berat. Setiap detak jantung berdentum terlalu keras di telinganya sendiri. Arvin mencoba mengalihkan pandangan, mencoba mengingat siapa dirinya—suami seseorang, pria dengan prinsip—namun pikirannya tak lagi bisa digenggam.
Lalu Zahra bergeser lebih dekat.
Ia melihat perubahan di wajah perempuan itu—warna kulitnya sedikit memucat, matanya kehilangan fokus sejenak. Zahra mengernyit, mengusap pelipisnya, napasnya tidak lagi teratur.
“Aku… agak pusing,” gumam Zahra pelan, nyaris tenggelam oleh musik.
Sebelum Arvin sempat merespons dengan jarak yang seharusnya, tubuh Zahra condong ke arahnya.
Bahunya menyentuh da-da Arvin. Lengan Zahra refleks mencari penyangga—dan menemukannya pada jas yang Arvin kenakan. Kontak itu singkat, seharusnya biasa. Namun tubuh Arvin bereaksi seolah disentuh api.
Sesuatu di dalam dirinya bergerak lebih kuat—dorongan yang sebelumnya hanya berdenyut kini mendesak, menekan, meminta disalurkan. Rasanya seperti kehilangan keseimbangan dari dalam, seolah seluruh kendali bergeser ke tubuh, meninggalkan pikiran tertinggal jauh di belakang.
“Pegangan padaku, Za,” Arvin berkata, suaranya lebih rendah dari niatnya sendiri.
Zahra tidak menjawab. Ia hanya bersandar, keningnya nyaris menyentuh bahu Arvin.
Kehangatan tubuh Zahra menembus lapisan kain, terasa nyata, terlalu nyata. Aroma lembut parfum bercampur anggur membuat kepala Arvin berdenyut.
Zahra pun tidak lebih baik.
Ia merasakan sensasi melayang, dunia terasa sedikit miring. Jantungnya berdetak terlalu cepat, perutnya hangat, dan tubuhnya terasa lemah dengan cara yang memalukan. Namun di saat yang sama, ada rasa aman yang salah ketika Arvin menopangnya.
Arvin berdiri dengan susah payah.
Lantai hotel terasa tidak stabil, seolah sedikit bergelombang di bawah telapak kakinya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan kesadaran yang tercecer. Kepalanya berat, pikirannya berkabut, namun satu naluri muncul paling dominan—harus pergi dari sini. Sekarang.
“Kita… kita pulang,” katanya pelan, lebih seperti perintah untuk dirinya sendiri.
Zahra nyaris tidak membantah. Tubuhnya terlalu ringan, terlalu lemah ketika Arvin meraih lengannya. Saat ia bangkit, keseimbangannya langsung hilang. Refleks, Arvin memeluknya agar tidak jatuh.
Dan di situlah semuanya semakin kacau.
Dorongan itu—yang sebelumnya hanya berdenyut— meledak tanpa peringatan. Sentuhan tubuh Zahra di lengannya, berat kepalanya di da-da Arvin, napas hangatnya yang tersapu ke leher… semuanya terasa terlalu dekat, terlalu salah, namun terlalu kuat untuk ditolak.
Pandangan Arvin mengabur. Aroma parfum Zahra berangsur bercampur dengan kenangan lain—yang lebih lama, lebih dalam. Detak jantungnya beradu cepat, dan pandangannya berubah. Wanita dalam pelukannya bukan lagi Zahra.
Tapi Miranda.
Istrinya.
Langkah Arvin terhenti ketika sebuah suara memotong kabut di kepalanya.
Rendah, sopan, terdengar seperti bantuan yang datang tepat waktu—terlalu tepat.
“Tuan dan nyonya sepertinya butuh tempat untuk beristirahat,” ujar suara itu ramah. “Ayo, saya antar ke atas.”
Arvin mengangkat wajah. Seorang staf hotel berdiri tak jauh dari mereka, seragamnya rapi, senyumnya terlatih. Tatapannya sekilas menyapu kondisi Zahra yang bersandar lemah di da-da Arvin, lalu kembali pada wajah Arvin yang pucat dan berkeringat.
“Kami—” Arvin hendak menolak. Kata tidak sudah hampir keluar, tapi tenggorokannya terasa kering. Lidahnya berat. Kepalanya berdenyut, seolah ada tangan tak kasatmata yang menekan dari dalam.
Zahra bergerak pelan, tubuhnya semakin melemah. Jemarinya mencengkeram jas Arvin, refleks seorang perempuan yang kehilangan pijakan.
“Aku pusing banget…” bisiknya, hampir tak terdengar.
Kalimat itu merobohkan pertahanan terakhir Arvin.
Di balik kelopak mata yang setengah terpejam, wajah Zahra memudar—berubah, berlapis, lalu menjelma sosok yang begitu dikenalnya. Rambut panjang itu kini tampak lebih tegas, tatapan mata lebih tajam, aura dominan yang selama ini selalu ia kejar.
Ini benar istrinya.
Miranda.
Nama itu bergaung di kepalanya, menekan titik-titik kekecewaan yang telah terpendam lama. Tubuh Arvin bereaksi lebih cepat dari pikirannya. Ada kehangatan, ada desakan emosi yang menumpuk sejak malam Miranda meninggalkannya seolah tak berarti di atas ranjang —kekecewaan yang belum sempat ia ucapkan, kerinduan yang selalu ia telan sendiri.
“Kenapa kamu selalu pergi?” bisiknya, suaranya serak, bukan benar-benar ditujukan pada siapa pun—melainkan pada bayangan yang diciptakan pikirannya sendiri.
Pintu kamar hotel yang terbuka lalu menutup di belakang mereka membawa mereka ke situasi yang tak akan bisa mereka perbaiki di masa depan.
Dalam hitungan detik, mereka berdua terseret dalam tarian hasrat primitif manusia.
Di bawah pengaruh zat asing dalam anggur yang tidak mereka sadari, tak ada lagi sisa kendali.
Arvin berpikir Miranda yang sedang berbagi desah dan rintihan di atas ranjang king size itu. Dia terus mengejar puncak yang sudah ia dambakan.
Rintihan kesakitan Zahra tak lagi menyentuh pendengarannya.
Dia terus mengisi ruang hangat yang memeluk dirinya dalam ekstasi. Gerakannya semakin kuat dan cepat, dia ingin meraih puncak tertinggi itu.
"Aahh... Aahh.." desahan Zahra terdengar seperti melodi indah.
*Kamu suka?" Arvin tersenyum penuh kemenangan.
Pikirnya, Miranda sudah menyadari kesalahannya. Perasaannya membuncah oleh rasa senang.
Arvin tenggelam dalam ilusi itu.
Dalam kepalanya, ia tidak sedang melanggar apa pun. Ia hanya seorang suami yang akhirnya mendapat kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya. Ia melampiaskan rindu yang tertahan, ego yang terluka, dan kebutuhan untuk diakui—bukan dengan kata-kata, melainkan dengan kedekatan yang selama ini selalu terpotong waktu dan kesibukan.
Di sela-sela kabut itu, ada bisikan samar—suara Zahra yang lirih, tidak jelas, seolah datang dari jarak yang sangat jauh.
Namun Arvin tidak mampu menangkap perbedaan itu.
Baginya, malam itu adalah tentang Miranda. Tentang istrinya yang selalu berada setengah langkah di depannya, tak pernah benar-benar ia genggam. Tentang rumah tangga yang tampak utuh dari luar, tapi penuh ruang kosong di dalam.
Sementara kenyataan yang sesungguhnya—ranjang hotel, cahaya lampu redup, dan tubuh Zahra yang tak berdaya—terkunci di balik tirai kesadarannya.
Dia makin bersemangat hingga akhirnya puncak kenikmatan itu tiba.
Arvin memeluk tubuh lembut di bawah nya dengan perasaan puas. Setelah sekian lama akhirnya dia bisa merasakan ledakan kenikmatan yang dahsyat lagi.
Kali ini rasanya malah berbeda, jepitan liang hangat di bawah sana begitu kuat, seolah istrinya kembali menjadi gadis perawan.
"Kamu sangat nikmat, Sayang," ujarnya serak.
**
Cahaya matahari menyelinap melalui celah tirai, jatuh tepat ke wajah Arvin. Ia terbangun dengan kepala berat dan d**a sesak, seolah ada tangan tak terlihat yang menekan jantungnya. Beberapa detik pertama ia masih terjebak sisa mimpi—hangat, samar, penuh ilusi.
Lalu kesadaran menghantam.
Bukan Miranda.
Rambut hitam yang tergerai di samping bantal itu bukan milik istrinya. Napas pelan di sisinya bukan napas perempuan yang sah ia cintai. Tubuh yang terbaring rapuh itu adalah Zahra.
Ya, bukan istrinya, tapi sahabat yang sudah dianggap saudara.
Arvin menegang. Seluruh tubuhnya seolah membeku. Pandangannya jatuh di atas seprei di samping Zahra. Ia menangkap noda merah yang mencolok di atas sprei putih itu— jejak bisu yang menjeritkan satu kenyataan pahit.
Darah.
Jantungnya berdegup liar. Tenggorokannya kering. Kepalanya dipenuhi pertanyaan yang tak ingin ia dengar jawabannya.
Zahra… masih perawan? Bukankah dia sudah menikah?
Zahra bergerak kecil, lalu membuka mata. Tatapan mereka bertemu—sekejap yang terasa lebih menyakitkan daripada teriakan. Wajah Zahra pucat. Ada keterkejutan, ketakutan, dan sesuatu yang retak di sana. Tangannya refleks menarik selimut lebih tinggi, seolah kain tipis itu mampu melindunginya dari kenyataan.
Ia menoleh, mengikuti arah pandang Arvin, lalu membeku ketika melihat seprei itu.
Air mata langsung menggenang, tanpa suara.
“Aku…” suaranya pecah sebelum sempat menjadi kalimat. Bibirnya bergetar. Tubuhnya terasa nyeri, bukan hanya secara fisik, tapi di tempat yang lebih dalam—harga diri, kepercayaan, dan rasa aman yang baru saja ia bangun setelah perceraian.
Arvin duduk tegak, rambutnya acak-acakan, wajahnya penuh kepanikan. “Zahra… aku—aku pikir…” Ia terdiam. Tidak ada kalimat yang cukup aman untuk diucapkan.
Ilusi semalam runtuh sepenuhnya, menyisakan reruntuhan yang harus mereka hadapi bersama.
Sunyi menggantung di antara mereka—sunyi yang berat, memalukan, dan tak bisa ditarik kembali.
Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Arvin mengusap wajah kasar, mencoba menata napas yang tiba-tiba terasa sesak. Tidak. Ini tidak masuk akal. Zahra adalah janda—ia tahu itu. Ia sendiri mengikuti kisah perceraiannya, mendengar langsung dari mulut Zahra tentang pernikahan singkat yang berakhir pahit.
Lalu kenapa…?
“Mas…” suara Zahra pelan, bergetar. Wajahnya pucat, matanya sembab, tatapannya kosong namun penuh kepanikan. Tangannya mencengkeram selimut erat-erat, seolah itu satu-satunya pelindung yang ia miliki.
“Apa… apa yang terjadi?” suara Zahra bergetar. “Aku… aku ingat minum anggur. Lalu… kepalaku pusing. Aku—”
Ia terdiam. Arvin tahu, ada yang tidak beres dengan anggur yang dibawa pelayan semalam. Namun, mencari tahu sekarang hanya akan membuat semuanya lebih kacau. Dia akan menyelidikinya nanti.
Untuk saat ini, dia hanya ingin menebus rasa bersalah pada Zahra. Namun, dia sendiri tidak tahu harus memulai dari mana.
“Zahra, aku—” suaranya serak, penuh rasa bersalah yang tiba-tiba menyesakkan. “Aku tidak… aku tidak sadar. Semalam aku—aku pikir—”
Ia berhenti. Kata-kata terasa sia-sia.
Zahra memejamkan mata, bahunya terguncang. “Aku nggak pernah…” suaranya patah. “Aku nggak pernah bersama siapa pun sebelumnya.”
Pengakuan itu menghantam Arvin lebih keras dari apa pun.
Segala ilusi runtuh. Kabut semalam tersapu bersih, menyisakan kenyataan yang telanjang dan kejam. Arvin bukan hanya telah mengkhianati istrinya—ia telah menyeret Zahra ke dalam sesuatu yang bahkan tidak sepenuhnya ia pahami.
*
Zahra melihat kebingungan pria itu. duduk memeluk lututnya, selimut masih melilit tubuhnya seperti benteng terakhir. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menata sesuatu yang sudah terlanjur runtuh. Wajahnya pucat, tetapi matanya justru tenang—tenang yang dipaksakan, seperti seseorang yang sudah memutuskan untuk tidak menangis lagi.
Arvin berdiri di dekat ranjang, gelisah. Tangannya beberapa kali meremas rambut sendiri, langkahnya maju mundur tanpa arah. “Za… aku minta maaf,” ucapnya lagi, suaranya serak. “Aku benar-benar minta maaf. Aku nggak tahu—aku nggak sadar—”
“Mas.” Zahra mengangkat tangan, menghentikannya pelan. Ia menoleh, menatap Arvin dengan tatapan yang membuat d**a pria itu semakin sesak. Tidak ada kemarahan di sana. Tidak ada tuduhan. Justru itu yang paling menyakitkan.
“Jangan terus minta maaf,” katanya lirih. “Aku tahu… ini bukan sepenuhnya salah Mas.”
Arvin menggeleng keras. “Tapi aku yang—aku yang seharusnya jaga kamu. Aku suami orang, Zahra. Aku—” Suaranya patah. Ia menunduk, tak sanggup melanjutkan.
Zahra menutup mata sejenak. Nama itu kembali terlintas di kepalanya. Miranda. Wajah ceria, tawa hangat, kebaikan yang tak pernah setengah-setengah. Sahabat yang membuka pintu hidupnya ketika ia tak punya siapa-siapa. d**a Zahra berdenyut nyeri, bukan karena tubuhnya, tapi karena rasa bersalah yang menggerogoti.
“Aku yang salah karena membiarkan diriku ada di situ,” ucap Zahra pelan. “Aku yang salah karena… lupa batas. Tapi yang paling sakit bukan itu.” Ia membuka mata, menatap lurus ke depan. “Yang paling sakit, aku ngerasa mengkhianati Mbak Miranda.”
Arvin terdiam. Nama istrinya menggantung di udara, berat dan dingin.